Gowes Hingga ke Pantai Surga

Ini adalah pertama kalinya saya menulis tentang perjalanan gowes. Maklum, sebelumnya tidak punya sepeda, dan hanya bisa ngiler melihat orang-orang gowes dengan gagah. Selain untuk olahraga, perjalanan gowes juga menghadirkan sensasi bertualang. Beberapa kali mendengar cerita gowes berhari-hari yang membuat mereka nge-camp di tengah perjalanan, bahkan hingga melintasi berbagai negara. Baru-baru ini ada berita beberapa lansia yang gowes dari Indonesia melewati negara-negara Asia Tenggara. Tentu saja saya belum punya kapasitas untuk petualangan seperti itu. Selain kendala waktu dan biaya, kondisi fisik sendiri masih cupu, heheheh :p.

Keinginan untuk memiliki sepeda pun tercapai setelah menerima gaji dokter internship. Kendaraan yang akan menjadi teman hidup ini adalah Polygon tipe Monarch 27 inci. Sebuah toko yang cukup besar dan terkenal di kawasan Selong, Lombok Timur, menghargainya 2,3 juta. Untuk alasan safety, helm tidak bisa diabaikan, terutama jika ingin gowes jarak jauh. Demi pengaman kepala merk Nuke Head—tipe ini saya pilih karena selain untuk sepeda, helm ini juga bisa digunakan untuk ORAD atau panjat tebing—duit 220 ribu pun harus direlakan. Jangan lupa gembok pengaman, karena walaupun pencurian sepeda di tempat ini bukanlah hal umum—memang orang Indonesia tidak seperti orang Belanda yang senang mencuri sepeda—namun mengunci kendaraan adalah bagian dari tawakal, begitu menurut hadis Rasulullah saw. Ada dua tipe gembok merk polygon, yang kata sang penjual keduanya sama-sama tidak akan bisa digergaji atau dipoting pakai tang. Beralasan penghematan, gembok seharga 50 ribu pun akhirnya masuk kantong.

Peralatan sudah ada, kini tinggal menentukan waktu dan tempat perjalanan. Kostan yang tengah didiami terletak di kecamatan Selong, tepat seberang RSUD Dr. Soedjono, Kab. Lombok Timur. Memang di kabupaten ini tidak ada hiburan anak kota seperti mall atau warkop tempat nongkrong, namun ia tidak terlalu jauh dari pantai. Ada banyak pantai yang bagus di daerah selatan, yang paling terkenal adalah pantai pink. Ke sana menggunakan kendaraan mobil memerlukan waktu 2-3 jam, yang bila menggunakan sepeda sepertinya bisa memakan waktu 5-6 jam. Opsi ini pun di-skip, karena kalau bolak-balik bisa hingga 12 jam. Tidak masalah kalau setelahnya bisa full day recovery, namun apalah daya libur hanya sekali dalam seminggu.

Screenshot_2014-12-14-08-43-17

Lokasi Titik Start

 

20141214_090510

Kendaraan Tempur yang Digunakan, Polygon Monarch 27 inch

Pilihan lainnya adalah pantai-pantai yang menurut warga lokal lumayan bagus, yaitu pantai Cemara, Surga, dan Kaliantan. Sebenarnya 2 minggu sebelumnya saya pernah gowes ke pantai Cemara—pinjam sepeda teman—namun sayangnya tidak banyak melakukan dokumentasi sehingga tidak bisa dibuat catatan perjalanannya. Akhirnya, yang menjadi tujuan adalah pantai Surga. Kata-nya, pantai Surga tidak kalah bagus dengan pantai pink, namun jalan ke sananya sangat jelek dan hanya bisa dilalui mobil ukuran besar atau sepeda motor. Kalau bisa dilalui motor, tentu sepeda juga bisa, bukan? Penasaran, pedal pun kemudian kugowes dengan semangat.

Jam menunjukkan pk 09.00 WITA ketika memulai keberangkatan. Tak lupa perbekalan secukupnya disiapkan, seperti air minum, bekal makan siang, dan snack, begitu pula jaket hujan berhubung December is a rainy month. Di bawah matahari terik, sepeda pun meluncur menuju daerah Labuhan Haji.

Pantai Surga terletak di selatan Lombok Timur, tepatnya di Desa Ekas, kecamatan Jerowaru. Jalur yang dilewati adalah Selong-Labuhan Haji-Sakra Timur-Keruak-Jerowaru. Estimasi waktu tempuh sekali jalan adalah 3,5 jam plus istirahat 1 jam.

20141214_090809

Meluncur Turun di Pelabuhan Haji

20141214_091813

Saat Downhill, Gear Max pun Tak Masalah

Bagaikan angin, Monju (begitu nama sepeda saya) mengalir menuruni jalanan landai (jalur turun ini sangat landai, yang terasa signifikansinya ketika jalan pulang). Jalanan naik-turun mula terasa saat mencapai Sakra Timur. Ketika gowes naik, terasa semua otot di badan berkontraksi. Semua kelelahan itu terbalaskan saat downhill, momen yang sangat tepat untuk melemaskan otot-otot tadi.

20141214_092749

Berbelok Ke Arah Sakra Timur

Saat di Sakra Timur, garis pantai memanjang di sebelah timur. Sejenak pun disisihkan untuk menepi, melipir dari jalan raya menuju pantai Rambang. Di hari Minggu, beberapa warga kampung sekitar sering ke pantai tersebut. Pasir di lokasi ini agak hitam, tapi lumayan untuk foto-foto, dan tentu saja, selfie :)

20141214_094327

Mengintip Pantai Rambang

Screenshot_2014-12-14-09-49-40

Lokasi Pantai Rambang

20141214_094557

Monju Lagi Berpose

20141214_094454

Ada Ular Mati

20141214_094824

Maafkan Kalau Saya Tidak Jago Selfie :p

20141214_095616

Menyusuri Jalanan Pasir Pinggir Pantai Rambang

20141214_095916

Nemu Lagi Benda Aneh: Bangkai Bayi Kuda

Kembali ke jalan raya, jalanan naik-turun kembali mesti dilalui. Di sebelah kiri kanan terlihat sawah-sawah, walaupun tidak banyak. Pengairan masih menggunakan tadah hujan—tidak ada irigasi—sehingga memang kurang begitu produktif.

20141214_101122

Kembali Menyusuri Jalan Naik-Turun

20141214_101527

Muara Sungai

20141214_101543

Batu Besar di Pinggir Muara Sungai. Konon Jika Batu Ini Digelindingkan, Ia akan Kembali ke Atas Besoknya, yang Kemudian Si Penggelinding akan Terjatuh Menggantikannya

20141214_173650

Sapi-Sapi sedang Bersantai. NTB Memang Provinsi dengan Sapi yang Melimpah

Baju lumayan basah oleh keringat—hasil menggowes, namun yang terutama adalah hadiah dari matahari—dan akhinrya sekitar jam 10.45 sampai di pasar Keruak, di pertigaan. Jika belok kanan, akan segera menemukan tempat saya internship saat ini, yaitu puskesmas Keruak. Setelah istirahat secukupnya, Monju meluncur kembali, ke arah Jerowaru.

20141214_104400

Pertigaan Pasar Keruak

 

Screenshot_2014-12-14-10-56-05

Lokasi Pasar Keruak

Langit memang seolah enggan berbelas kasih. Mungkin karena kita sebagai manusia terlalu sombong terhadap alam, yang membuat awan-awan tidak mau melindungi para manusia dari panasnya siang hari. Lombok Timur memang cenderung panas, terutama area selatan yang dekat pantai. Jika umumnya hujan turun di bulan Oktober-November, namun ia membasahi daerah ini di bulan Desember. Dan menurut warga, musim hujan akan berakhir di bulan Februari. Ya, panas dan keringat, adalah teman perjalanan kali ini.

Kondisi minimnya hujan membuat dunia persawahan kurang subur, yang mendorong warga di sini beralih ke tanaman lain: tembakau. Surga tembakau, luasnya hamparan ladang penghasil asap ini agaknya sedikit memperbaiki kesejahteraan warga. Tak perlu ke warung, cukup linting tembakau hasil panen, dan duit hasil penjualannya pun bisa dipakai untuk naik haji.

20141214_110819

Bunga Flamboyan yang Berguguran di Tepi Jalan (y)

20141214_112742

Surga Tembakau

20141214_114110

Belok Kanan Menuju Pantai Surga. Jika Ingin Menuju Pantai Pink, Jalur yang Diambil adalah Lurus

Sekitar jam 11.55, Monju ingin beristirahat sejenak, lalu ia pun meringkuk di saung petani yang berada di tepian jalan. Kebetulan si petani tidak ada, saya pun berteduh sambil meregangkan otot-otot yang memendek. “Di mana pun kalian berada, berhenti jam 12 untuk istirahat siang,” agaknya instruksi itu masih terngiang-ngiang, yang membuat saya memilih istirahat di pinggir jalan—yang entah di mana, di sekitarnya pun tidak ada rumah penduduk.

Satu kesalahan mendasar pun baru disadari, yaitu membungkus bekal berminyak tanpa memisahkan nasi dengan lauknya. Alhasil, isi tas pun basah oleh minyak lauk. Ah, tapi itu semua bukanlah halangan untuk menikmati salah satu masakan khas Lombok: nasi puyung :D.

20141214_115742

Istirahat Siang di Saung Pinggir Jalan

Screenshot_2014-12-14-12-02-23

Lokasi Istirahat Siang

20141214_121158

Khas Lombok, Nasi Puyung: Nasi, Ayam Suwir Pedas, Kentang Kering, Kacang, dan Sambal yang Pedasnya Mantap. Foto Ini Mungkin Tidak Terlihat Menarik karena Hasil Dibungkus, tapi Rasanya Maknyus! :)

Jalanan yang seperti biasa, yaitu turun-naik kembali dihadapi Monju, setelah meyelesaikan istirahatnya jam 12.45. Kemudian, desa terakhir pun akhirnya dijumpai, yaitu Desa Ekas. Tak lama setelah melewati kantor desa, ada pertigaan dengan belokan ke kanan berupa jalan pasir berbatu. Ke sana lah arah pantai surga.

20141214_114354

Mengalir ke Desa Ekas

20141214_125126

Kantor Desa Ekas. Pantai Surga Sudah Tidak Terlalu Jauh Lagi

20141214_130055

Pertigaan. Belok Kanan untuk Menuju Pantai Surga. Terlihat Jalannya Berpasir Batu nan Jelek

Semoga saja ban Monju tidak langsung kempes dan tipis. Menurut penjual, ban sepeda bisa bertahan hingga 2 tahun, kalau jarang digunakan bisa sampai 3 tahun.

20141214_130424

Jalanan yang Mengikis Ban

Tak lama, muncul turunan yang cukup terjal—saya menyebutnya turunan planet, atau tanjakan planet kalau perjalanan pulang—tepat sebelum penginapan Heaven on The Planet. Memang ada beberapa penginapan bagi turis, terutama turis asing, di sepanjang jalan berbatu ini. Tapi saya sedikit penasaran dengan fasilitasnya. Tidak seperti Senggigi, pantai Selatan sangatlah minim sarana dan fasilitas. Jangankan penginapan, mencari warung pun agak sulit. Jalanan jelek tak perlu ditanya lagi. Tapi kabarnya pantai Surga banyak dikunjungi orang-orang bule yang ingin surfing, jadi mungkin karena itu lah di daerah ini ada banyak penginapan.

20141214_130844

Turunan/Tanjakan Planet. Saat Turun, Seolah Sedang Naik Roller Coster, Asyik namun Menegangkan karena Rentan Jatuh. Ketika Jalan Pulang, Saya Memilih Melewati Medan Ini dengan Menenteng Sepeda Ketimbang Menggowes :p

20141214_130916

Penginapan Heaven on The Planet, Penginapan Ini Cukup Dikenal oleh Warga Sekitar

Terus menelusuri jalan berbatu, kemudian menemukan belokan ke kanan yang jalannya berupa tanah. Di pertigaan itu ada papan penunjuk berukuran kecil, agak tidak terlihat jelas. Jalur ini tidak bisa dilewati oleh dua mobil secara parallel. Jalannya yang bertanah, yang akan menjadi lumpur jika hujan, menyarankan para pengunjung untuk menggunakan mobil ukuran besar. Sebaiknya juga kendaraan manual karena kondisinya yang naik turun. Sepeda motor pun bisa melewatinya, namun akan menjadi mimpi buruk jika tanahnya digenangi hujan.

20141214_131359

Belok Kanan Menuju Jalan Tanah

20141214_131438

Papan Petunjuk yang Ukurannya Kecil

20141214_131657

Jalur Tanah seperti Jalut Off Road. Ketika Hujan, Jalan Ini Berubah Menjadi Genangan Lumpur

20141214_132043

Memasuki Jalur Hutan Pinggir Pantai

Tak jauh, ada palang dan beberapa petugas yang siap menarik bayaran. Yahh, bukan petugas resmi, alias “preman”.

“Pantai surga, bos?” tanya saya penuh harap. “Ya,” jawabnya.

“Los?”

“Ya dah, lewat aja”

Begitulah keuntungan bagi para goweser.

Akhirnya setelah 3,5 jam gowes di bawah matahari serta 1 jam istirahat, pantai Surga terlihat juga. Saat itu waktu menunjukkan pk. 14.30. Untuk ke sana, mesti melewati pintu belakang suatu penginapan. Entah baru dibangun, atau ditinggalkan, atau hanya buka di musim libur, penginapan tersebut sepertinya tidak terurus, dan tidak ada penjaganya. Namun, terlihat adanya pembangunan fasilitas seperti ubin, kebun, dan banyak saung/gazebo.

20141214_132216

Foto Ini Membuktikan Bahwa Kendaraan Ini Mampu Melewati Medan Tadi

20141214_132429

Voila! Pantai Surga! :)

Screenshot_2014-12-14-13-33-15

Lokasi Pantai Surga

20141214_132455

Penginapan yang Tidak Ada Pengurusnya

20141214_132444

20141214_132505

Terlihat Adanya Ubin yang Dibuat, Mungkin Oleh Pihak Penginapan

20141214_132632

Terlihat di Atas Tebing Terdapat Saung

20141214_132707

Dikelilingi Tebing

20141214_132814

Monju Berpose

20141214_132917

20141214_133022

Pantai Ini Memiliki Ombak yang Deras


20141214_133124
20141214_133136
20141214_133202

Tidak banyak orang di jam saat itu…para pengungjung sudah banyak yang pulang. Mungkin sebelum jam 12 adalah waktu pantai ini ditemani oleh banyak manusia. Meskipun begitu, mengingat jalurnya yang agak sulit dan jelek, sepertinya lokasi wisata ini tidak seramai pantai pink. Mana lagi kondisi tempat yang begitu menyenangkan selain pantai indah dengan ombak perkasa, dan sepi pula?

Seperti yang tadi disebutkan, adanya pembuatan fasilitas di pinggir pantai ini membuat saya ingin meluruskan kaki di salah satu dari sekian banyak saung yang ada. Langit mendung dan gerimis pun turun, menambah keheningan yang sepi, yang dipecahkan oleh suara ombak. Sejenak menutup mata, melepas lelah sambil menikmati segala suasana yang ada. Mendarat di pantai dengan menggowes seperti ini memang berbeda: rasanya lebih puas.

20141214_135026

Istirahat Sambil Menikmati Pemandangan di Saung :)

Tapi, begitulah resiko menggowes, jika mencapainya harus dalam kelelahan, begitu pula pulangnya. Pikiran harus kembali menggowes berjam-jam agaknya sedikit mengganggu kekhidmatan deburan ombak pantai surga.

 

#catatan:

Kendaraan yang paling direkomendasikan ke pantai surga adalah yang tinggi dan beroda besar. Saat perjalanan pulang yang diguyur hujan, Monju begitu babak belur oleh jalanan yang telah berubah menjadi kolam lumpur, terlebih pengendaranya :D. Atau jika sayang kendaraan Anda, datanglah di waktu musim kering atau sebelum hujan turun.

20141214_155327

Dalam Perjalanan Pulang, Monju Babak Belur oleh Jalanan Berlumpur XD

 

Categories: catatan perjalanan | Tags: , , , | Leave a comment

Pulau Tanpa Air, Gili Maringkik

Pulang Maringkik di Timur-Selatan Pulau Lombok

Pulang Maringkik di Timur-Selatan Pulau Lombok

Apa jadinya menjadi penghuni pulau? Istilah “orang pulau” biasanya menunjukkan orang yang terbelakang dan jauh dari peradaban. Tinggal di pulau kecil, terpisah dengan pulau utama oleh laut, tentu fasilitas yang ada pun sangat terbatas. Termasuk kualitas pendidikan dan kesehatan orang-orang yang terpisah dari peradaban utama. Jika tiang listrik sudah ditegakkan, maka ia sudah beruntung.

Pulau Maringkik termasuk yang beruntung itu. Gili/pulau mini ini terletak di daerah selatan pulau Lombok, masuk ke kawasan kabupaten Lombok Timur. Jika mendengar kata pulau Lombok, mungkin yang terlintas adalah liburan, tempat berbulan madu, pantai yang indah, dan sebagainya. Memang bayangan indah itu bisa dilukiskan di pulau ini, tapi hanya di sebelah barat. Daerah tempat saya berteduh sekarang, yaitu Lombok Timur, bisa disebut sebagai “kampung”. Tidak ada apa-apa, tidak ada hiburan, wajar saja teman-temanku rela mengorbankan waktu berharga mereka untuk nongkrong di Mataram, setidaknya seminggu sekali.

Di sisi selatan Lombok Timur, terdapat kecamatan yang ruhnya merupakan pelabuhan, yaitu Tanjung Luar. Saya pernah menulis mengenai “Jika Ingin Mencari Penyakit, maka Pergilah ke Pelabuhan’. Anekdot ini untuk menggambarkan kondisi pelabuhan Tanjung Luar yang sumpek, kumuh, bau, jorok, dan padatnya minta ampun. Penyakit menular seperti campak dan TBC sangat mudah ditemukan. Namun, daerah ini merupakan tempat para nelayan mencari nafkah. Ada warga yang bilang bahwa penduduk lokal hanya bekerja sebagai buruh nelayan, sedangkan kebanyakan sang pemilik kapal—alias orang berduit—kebanyakan adalah pendatang. Entah bagaimana sejarahnya, tapi konon mudah untuk menemukan orang bugis di sudut ini—juga orang-orang dari daerah luar Lombok.

Pelabuhan Tanjung Luar

Pelabuhan Tanjung Luar

Nelayan Tanjung Luar

Nelayan Tanjung Luar

Pelabuhan Tanjung Luar

Pelabuhan Tanjung Luar

Mancing

Mancing

Tapi setidaknya pelabuhan ini masih merupakan bagian dari mainland. Jika melihat ke seberang laut, terdapat outerland yang dihuni oleh manusia. Nasibnya tak jauh beda: kumuh, kotor, padat, dll. Tapi apa jadinya penghuni pulau? Manusia di sana jika ingin mandi, mencuci, maupun memasak air, mesti membeli air bersih seharga 5000 per galon, dengan satu galon sekitar 33 liter. Saking tidak ada airnya, orang-orang menyarankan lebih baik meminta makanan daripada memohon air ke penduduk sana. Sebentar, jika tidak ada air, berarti ga ada toilet dong? Bagaimana jika ingin buang air? “Ke laut!” timpal seorang ibu Maringkik dengan suara keras.

Itu baru tentang air, mengenai fasilitas-fasilitas lain pun kita tidak bisa berharap banyak. Bagaimana dengan sarana transportasinya? Ada banyak kapal yang sudah bermotor—tidak perlu khawatir harus mendayung untuk menyeberang—namun seperti kata warga di atas, kebanyakan pemiliknya adalah orang-orang berduit. Konon harga satu kapal bisa mencapai ratusan juta rupiah—setara dengan harga mobil. Orang biasa jika ingin menyeberang mesti menggunakan kapal angkutan umum, yang beroperasi dari pagi hanya sampai jam 10 siang saja. Jika lebih dari jam tersebut, penyeberang harus menggelontorkan uang untuk sewa kapal. Akibatnya, jika ada orang pulau yang ingin berobat, tak jarang harus menginap di rumah kerabatnya di mainland.

20141203_100441

Sewa Kapal Meyeberang Menuju Maringkik

20141203_100456

Entah Berapa Harga Sewa Menyeberang. Kegiatan Sekarang Dibiayai oleh Puskesmas :P

20141203_101915

Ada Beberapa Gili/Pulau yang Tidak Berpenghuni

20141203_102419

Di Tengah Perjalanan Ada Daerah yang Dangkal. Terlihat Terumbu Karang yang Sepertinya Masih Bagus

20141203_103237

Maringkik Terlihat. Tiang-Tiang Listrik Didirikan di Perairan Dangkal/Berpasir. Listrik Membuat Hidup Jadi Lebih Baik ~PLN

20141203_103524

Dermaga Maringkik

Oh ya, bicara tentang transportasi kapal di Tanjung Luar, sebagian di antara kita mungkin pernah mendengar hikayat pantai pink nan indah di Lombok Timur. Pantai tersebut terletak lebih ke sebelah selatan. Bagi yang pernah jalan-jalan ke Lombok, mungkin pernah dapat tawaran tur ke pantai pink. Terkadang, ada beberapa travel yang enggan ke sana dikarenakan jalannya rusak. Sebenarnya, kadar kerusakan ga parah-parah amat, tapi ya tetap aja tidak menyenangkan. Wisatawan yang tidak ingin diganggu oleh jalan bergelombang dan berkawah bisa mencapai pantai pink dengan naik kapal di Tanjung Luar. Biasanya agen di sana menawarkan harga sekitar 500 ribu (atau lebih) untuk sewa kapal seharian. Selain ke pantai pink, penyewa bisa minta mampir untuk ke gili (pulau) kecil. Bisa juga snorkeling, namun ada biaya tambahan.

Kembali ke Gili Maringkik. Memang tidak bisa berekspektasi besar di sana, karena memang bukan lokasi wisata (jika ingin berwisata, ada beberapa wahana yang bagus di Lombok Timur, seperti Gili Kondo yang sedikit ke utara). Pulau tersebut telah menjadi desa semenjak tahun 2012 dan terbagi menjadi tiga dusun. Jika perumahan di pelabuhan begitu rapatnya, maka di pulau ini lebih lagi. Tidak ada aspal dan jalan—lantai pulau murni pasir—sehingga percuma membawa sepeda motor. Pulau yang mulanya datar terbuka telah berubah menjadi gang-gang kecil. Rumah di sana kebanyakan terbuat dari kayu dan bambu; ada yang menyentuh tanah, ada juga berupa rumah panggung. Tersesat di pulau kecil ini tidaklah mustahil, mengingat banyaknya gang yang kompleks diapet rumah-rumah. Duh, ingin kencing….wah, pilihannya antara harus tahan sampai kembali ke mainland atau langsung ke laut.

Hajat saya dan teman-teman ke pulau ini ialah menyertai rombongan puskesmas memberikan pelayanan KB. Kegiatan berlokasi di kantor kepala desa, dan sesuai dugaan, di kantor ini tidak ada toilet.

Di tepi-tepi rumah banyak ditemukan baskom; sekarang sedang musim hujan: berkah bagi penduduk pulau. Ketika air tumpah dari langit, baskom-baskom tersebut dijajarkan, anak-anak menyambut gembira air yang menggenang, dan baju-baju kotor dikeluarkan—waktu yang baik untuk mencuci, mumpung banyak air.

20141203_103957

Dari Dermaga Menuju Pemukiman Maringkik

20141203_104158

Rumah-Rumah Maringkik yang Begitu Rapat Seakan Berangkulan, Tak Ingin Kesepian

20141203_104226

Gang Sempit, Gang Sempit Everywhere

20141203_104355

Mungkin Anak-Anak di Sini Tidak Pernah Merasakan Selfie

20141203_104517

Lantai Maringkik Murni Hanya Pasir: Tak Ada Paving Block, Tak Ada Aspal

20141203_104523

Domba Dibiarkan Berkeliaran. Katanya Domba di Pulau Tidak Makan Rumput, Melainkan Kertas dan Batu, Katanya ya

20141203_105318

Anak Sekolah Baru Pulang dari UAS, Malu untuk Difoto. Di Pulau Hanya Ada Satu Atap Sekolah yang Menaungi SD dan SMP. Jika Ingin Lanjut SMA, Mereka Mesti Menyeberang

20141203_105418

Kantor Kepala Desa. Tidak Ada Toilet

20141203_131108

Baskom-Baskom Penampung Air

20141203_130035

Baskom Menampung Air. Terlihat di Belakang Beberapa Baskom Dijajarkan. Hujan adalah Berkah Bagi Maringkik

20141203_130733

Kambing pun Turut Berteduh Terhadap hujan x-D

Ketika tiba waktu pulang, hujan belum mau berhenti. Akhirnya pakaian pun direlakan untuk basah, karena tampaknya awan mendung belum mau menyingkir hingga sore hari.

Mengapa tak menunggu saja?

Maklum, mungkin sulit menemukan anak kota yang betah berlama-lama di pulau ini. Yahh, sulit membayangkan bagaimana mereka mampu hidup bertahun-tahun dalam kondisi sangat minim fasilitas. Hal seperti ini, selain menunjukkan kualitas kesejahteraan masyarakat negeri kita, pun seharusnya membuat kita lebih mampu bersyukur atas nikmat yang masih dikaruniai-Nya.

Categories: pembelajaran | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Jangan Bagi-Bagi Kondom, tapi Mari Peringati #hariAIDS dengan Mengkampanyekan #nofreesex #nodrugs dan #stopstigma

1. Selamat #hariAIDS. Jangan peringati dengan bagi-bagi kondom, tapi mari kampanyekan dgn #nofreesex #nodrugs dan #stopstigma

 

2. #hariAIDS penyebaran terbesar HIV/AIDS adalah melalui kontak seksual, kaum homoseksual lebih beresiko ketimbang heteroseksual #nofreesex

 

3. #hariAIDS kalangan yg paling besar terkena HIV/AIDS adalah IRT, korban dari suaminya yg suka ‘jajan’ #nofreesex

 

4. #hariAIDS Suatu studi dari Harvard di Afrika menunjukkan bahwa negara dgn populasi muslim besar memiliki angka HIV/AIDS yg rendah #nofreesex

 

5. #hariAIDS ada hubungan antara beragama Islam dgn angka HIV/AIDS, semakin besar penduduk muslim, semakin rendah angka HIV/AIDS #nofreesex

 

6. #hariAIDS mengapa demikian? Jelas, Islam sama sekali ga memberi celah utk penyakit menular seksual #nofreesex

 

7. #hariAIDS berhubungan sex hanya dgn istri/dlm pernikahan adalah cara efektif menekan angka HIV/AIDS #nofreesex

 

8. #hariAIDS selain melalui cairan kelamin (sperma, cairan vagina), virus HIV jg menular melalui darah #nodrugs

 

9. #hariAIDS korban terbesar dari penularan ini pemakai narkoba suntik,yg mereka memakai jarum suntik secara bersama #nodrugs

 

10. #hariAIDS narkoba, free sex, dan alkohol adalah 3 hal yg identik, dan ketiganya merupakan faktor resiko utk HIV/AIDS #nodrugs

 

11. #hariAIDS alkohol membuat orang tidak berpikir panjang, sehingga memperbesar resiko perilaku sex tidak aman #nodrugs

 

12. #hariAIDS satu yg menjadi masalah di negri ini adlh fenomena gunung es,kasus seolah ga bgtu banyak,tp itu krn pelaporan yg buruk #stopstigma

 

13. #hariAIDS pelaporan yg buruk krn rendahnya kesadaran org yg beresiko (pelaku freesex dan pengguna narkoba) utk memeriksakan diri #stopstigma

 

14. #hariAIDS knp enggan lapor? bisa krn merasa ga terkena AIDS krn tidak merasakan apa2 #stopstigma

 

15. #hariAIDS dibutuhkan waktu lama antara setelah terpapar dgn muncul gejala AIDS, yaitu sepuluh hingga belasan tahun #stopstigma

 

16. #hariAIDS gejala AIDS pun ga spesifik,krn HIV menyerang sistem imun,membuat penderita mudah terkena penyakit dan sulit sembuh #stopstigma

 

17. #hariAIDS gejala yg sering adalah batuk lama (TBC),diare lama,mulut & lidah kotor krn jamuran (kandidiasis),BB turun,herpes, dll #stopstigma

 

18. #hariAIDS faktor lain yg membuat orang beresiko enggan utk memeriksakan diri adalah rasa malu, terlebih adanya stigma dari masyarakat #stopstigma

 

19. #hariAIDS seorang yg (+) HIV/AIDS lantas dijauhi,dikucilkan,dianggap hina,atau takut tertular #stopstigma

 

20. #hariAIDS perlu diketahui HIV ga menular melalui kontak fisik dan kulit,jadi ga akan tertular bagi yg bergaul dgn penderita #stopstigma

 

21. #hariAIDS HIV HANYA menular melalui darah, cairan kelamin, dari ibu ke kandungannya, dan ASI, selain itu tidak #stopstigma

 

22. #hariAIDS #stopstigma penting,krn penderita punya hak hidup jg,penderita yg berobat dgn patuh dan teratur punya harapan hidup yg cukup baik

 

23. #hariAIDS selain itu,org beresiko mesti memberanikan diri utk memeriksakan dirinya,krn jika tdk,ia berpotensi menularkan #stopstigma

 

24. #hariAIDS penderita yg (+) HARUS mendapat support, dukungan moral, juga agama agar kembali kpd Tuhannya #stopstigma

 

25. #hariAIDS ampunan Allah begitu luas, insyaAllah Ia membuka pintu tobat selebar-lebarnya, termasuk kpd penderita AIDS #stopstigma

 

26. #hariAIDS sekali lagi,penderita AIDS yg berobat patuh & teratur punya harapan hidup yg cukup baik dan dpt beraktivitas spt org normal #stopstigma

 

27. Krn itu,mari peringati #hariAIDS dgn mengkampanyekan #nofreesex #nodrugs dan #stopstigma

 

28. #hariAIDS semoga Allah menurunka kasih sayang dan keberkahanNya kpd negeri ini. Aamiinn #nofreesex #nodrugs #stopstigma

Categories: esai, pembelajaran | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Perlukah Lokalisasi Prostitusi?

Siapa yang menyangka kalau angka HIV/AIDS begitu tinggi di “Pulau 1000 Masjid” ini? Mungkin hal ini bukan aneh lagi, karena kita sering menyaksikan gap yang begitu besar antara ajaran Islam dengan ketaatan pemeluknya. Golongan yang paling beresiko terkena penyakit ini adalah muda-mudi yang bekerja di pantai barat Lombok, atau di Bali, atau TKW luar negeri. Namun, yang paling mengherankan adalah ketika seorang relawan suatu LSM menuturkan angka homoseksualitas di daerah ini meningkat.

Relawan memang pekerjaan yang mengagumkan. Kebetulan saja sy mengekor para relawan itu karena mereka tengah melakukan penjaringan di kecamatan Keruak. Tidak ada kerjaan, ajakan untuk screening di suatu kampung cukup efektif untuk membunuh waktu, pikir saya. Angka HIV di perkampungan memang sulit terdeteksi. Walaupun nyata melakukan aktivitas yang beresiko, kesadaran untuk memeriksakan diri begitu rendah. Jangankan untuk sukarela periksa HIV, pergi berobat pun enggan, hingga lebih memilih dukun. Para relawan pun harus memacu motornya memasuki jalan-jalan sempit berdebu, meneriaki para warga agar mau meneteskan darahnya ke alat pemeriksa.

“Memang susah mendeteksi HIV di sini. Angka laporan kasus yang rendah dikarenakan sulitnya melakukan screening,” seorang relawan bercerita dengan logat sasak. “Tidak seperti di Mataram. Di sana ada lokalisasi (prostitusi), sehingga mudah bagi kami untuk mendeteksi.”

Peryataan itu mengingatkan tentang peristiwa penutupan lokalisasi dolly di Surabaya. Banyak yang mendukung, namun banyak juga yang menentang. Mereka yang tidak setuju bukan cuma para PSK atau mucikari atau laki-laki bangsat, tapi juga para intelektualis. Tentu kita ingat lagunya Titiek Puspa yang berjudul “Kupu-Kupu Malam” (sy menafsirkan lagu itu memberikan pembelaan kepada PSK, maaf kalau salah tafsir/tidak sepakat). Pun dalam diskusi di televisi, seorang perempuan berbahasa cerdas mengatakan bahwa menutup lokalisasi sama saja dengan memelaratkan hidup mereka. Ada juga narasumber yang menunjukkan keyakinannya sambil tersenyum, bahwa “menutup bisnis prostitusi adalah tidak mungkin”. Juga argumen sama yang disampaikan oleh sang relawan, bahwa adanya lokalisasi mempermudah proses screening HIV (dan penyakit menular seksual lainnya).

Benar bahwa jual-beli kelamin tidak akan pernah bisa dihentikan? Dan, apakah adanya lokalisasi akan bermanfaat untuk program penanggulangan HIV?

Untuk mencegah penyebaran HIV, dilakukan berbagai edukasi dan penyuluhan. Empat poin populer dari edukasi ini adalah A: Anda jauhi hubungan sex berganti pasangan tanpa kondom, B: Bersikap saling setia, C: Cegah dengan kondom, D: Dihindari narkoba suntik. Saya sempat heran, kenapa penyuluhannya tidak “Jangan berbuat zina (sex bebas) dan menggunakan narkoba” saja? Mungkin kita masih ingat, ada kegiatan bagi-bagi kondom yang mengatasnamakan program pencegahan HIV/AIDS (ada yang mengatakan itu program Kemenkes, namun Menkes Nafsiah Mboi membantahnya). Apakah tidak ada tempat bagi pendidikan moral dan pendekatan religi untuk urusan ini? Penyuluhan yang massif mengenai penggunaan kondom secara tak langsung mengizinkan prostitusi, bukan?

Saya lupa siapa orang yang dengan yakinnya mengatakan prostitusi takkan bisa dihentikan, namun ternyata ada fakta sebaliknya, dan itu terjadi di negara Eropa.

Usaha Swedia dengan membuat Undang-Undang yang mengatur ini semenjak 1999 berbuah manis. Di Stockholm, ibukota Swedia, 2/3 prostitusi jalanan berhasil dibersihkan; di kota-kota lain bahkan ada yang benar-benar steril. Rumah bordil dan lokalisasi semua ditutup, dan ini terjadi di negara barat, negara eropa, negara sejahtera.

Hukum di sana menyebutkan bahwa menggunakan jasa prostitusi dianggap sebagai kejahatan kepada wanita dan anak-anak, sehingga sang pelanggan harus dihukum. Pihak wanita atau yang menjajakan dirinya dianggap sebagai korban, sehingga diberikan perlindungan. Tentu program ini didukung oleh komitmen pemerintah yang kuat—para prostitusi tersebut diberikan kompensasi dan diusahakan kesejahteraannya agar keluar dari bisnis kotor tersebut.

Mengapa kita tidak mengikuti langkah Swedia?

Semestinya tidak ada lagi pihak yang beralasan bahwa mereka menjadi PSK demi sesuap nasi. Adalah hak dan kewajiban setiap warga untuk berpenghasilan, namun tentu harus dengan cara yang benar. Melegalkan pelacuran sebagai usaha mencari nafkah sama saja mengizinkan pencurian—jika pencuri merampas hal material, maka pelacur merampas moral. Tentu pemerintah harus memiliki political will yang kokoh untuk memberantasnya dengan memikirkan kesejahteraan PSK yang keluar dari binis prostitusi.

Pemerintah Skotlandia menyusun penelitian mengenai dampak dari dilegalkannya prostitusi. Penelitian dilakukan di negara Australia, Irlandia, dan Belanda. Hasilnya, bahwa legalisasi prostitusi, memberikan dampak:

  • Peningkatan dramatis industri sex
  • Peningkatan dramais kejahatan terorganisasi di industri sex
  • Peningkatan dramaris prostitusi anak-anak
  • Peningkatan foreign women and girls trafficking
  • Indikasi peningkatan kekerasan terhadap wanita

Jadi, benarkah prostitusi tidak bisa dihentikan?

Lalu, apakah benar lokalisasi itu penting eksistensinya untuk penanggulangan HIV?

Lemabaga survey kesehatan AS, CDC, menyebutkan bahwa kondom sangat efektif untuk mencegah transmisi HIV. Namun, mereka mengakui bahwa pencegahan yang absolut adalah dengan abstinen (abses dari sex). Meminta manusia dewasa tidak berhubungan sex sama sekali tentu tidak terbayangkan. Hubungan seksual merupakan kondisi biologis manusia yang secara normal semestinya disalurkan. Karena itu, adakah hubungan sex yang lebih aman ketimbang hubungan dalam pernikahan?

Penelitian oleh Harvard ada tahun 2004 menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara menjadi seorang muslim dengan resiko HIV/AIDS, yaitu hubungan terbalik. Studi di subsahara Afrika menggambarkan negara yang populasinya muslim memiliki angka HIV yang sangat rendah dibandingkan negara yang populasi muslimnya minim.

Grafik Hubungan Prevalensi HIV dengan Populasi Muslim (sumber: http://www.academia.edu/676556/HIV_and_Islam_is_HIV_prevalence_lower_among_Muslims)

Grafik Hubungan Prevalensi HIV dengan Populasi Muslim
(sumber: http://www.academia.edu/676556/HIV_and_Islam_is_HIV_prevalence_lower_among_Muslims)

Mengapa demikian? Jelas, hal ini dikarenakan ajaran Islam, jika dipratekkan dengan benar, tidak membuka peluang sedikit pun terjadinya penyakit menular seksual. Hubungan seksual yang dibenarkan dalam Islam hanyalah pernikahan, sehingga tidak mengizinkan adanya prostitusi. Haramnya alcohol juga mencegah orang untuk berbuat sex beresiko. Selain itu, sunat/sirkumsisi juga dapat mengurangi resiko penularan.

Jika demikian, mengapa penyuluhan HIV/AIDS tidak dengan “No Free Sex & Drugs” saja? Penyebarluasan kondom akan meningkatkan sex bebas dan prostitusi, yang notabene meningkatkan resiko HIV. Yang lebih menyedihkan, ada poster penyuluhan (dari Kementerian Kesehatan) yang menggambarkan bahwa tidak mengapa homoseksual, asalkah memakai kondom (angka HIV lebih tinggi berkali lipat pada homoseksual).

Menghapus Stigma

Besarnya angka umat muslim di suatu negara memang tidak menjamin tidak tingginya angka HIV. Sepertinya beberapa umat muslim, seperti di Indonesia, lebih menyukai nilai dan perilaku barat ketimbang menaati agamanya. Yang juga menjadi salah satu PR terbesar ialah masalah stigma. Seorang yang terkena HIV cenderung dikutuk, dijauhi, dan dikucilkan. Padahal, tidak semua orang yang positif HIV melakukan sex bebas atau pecandu narkoba. Bisa saja ia petugas kesehatan yang kebetulan kurang telaten menangani alat medis. Atau, seorang anak yang tanpa dosa namun tertular melalui ibunya.

Pun ia positif karena cerita kelamnya, semestinya difasilitasi untuk kembali ke jalan yang benar. Masyarakat perlu tahu bahwa HIV tidak menular melalui kontak fisik; ia hanya menular melalui cairan sperma/vagina, darah, dan ASI. Karena itu, pergaulan yang baik kepada penderita pun adalah hal penting. Tidak adanya stigma akan mendorong orang yang beresiko untuk memeriksakan dirinya secara sukarela. Poin ini sangat penting, agar pencatatan dan pelaporan kasus berdasarkan fakta yang valid di lapangan. Masalah yang kini menghinggapi negara-negara muslim adalah minimnya kasus yang terdeteksi karena masalah stigma tersebut.

Selain itu, sebanyak apa pun lumpur kotor menggenangi seseorang, pintu penyucian diri selalu dibuka lebar olehNya. Pantaskah manusia membenci seorang penderita yang ingin kembali, padahal ampunanNya amatlah luas?

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Az-Zumar 39: 53)

 

Referensi:

  1. Kebijakan Swedia mengenai prostitusi: http://matadornetwork.com/bnt/swedens-prostitution-solution-hasnt-anyone-tried/
  2. Penelitian hubungan antara populasi muslim dan HIV: http://www.academia.edu/676556/HIV_and_Islam_is_HIV_prevalence_lower_among_Muslims
Categories: esai, pembelajaran | Tags: , , , , | Leave a comment

Cacingan

Seorang guru besar ilmu kesehatan anak di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Prof. Ponpon S. Idjradinata, dr., SpA (K), pernah berkomentar menganai kualitas pemain timnas sepak bola Indonesia. Mungkin kita pernah atau beberapa kali melihat pemain-pemain negara kita sering terlambat merespon bila mendapat serangan dari negara lawan. Akibatnya gampang sekali gawang timnas dijebol. “Itu gara-gara pemain kita masa kecilnya kekurangan zat besi, makanya mereka telat responnya.” Kurang lebih begitu komentar sang professor konsultan hematologi anak.

Dokter pendamping internship sy bercerita tentang suatu penelitian yang dilakukan oleh Universitas Mataram ke suatu sekolah dasar di Lombok Timur. Hasilnya, didapatkan 100% murid SD tersebut mengalami cacingan. Hasil tersebut sebenarnya tidaklah mengherankan. Tidak hanya di Lombok Timur, cacingan merupakan masalah kesehatan yang sangat umum ditemukan, terutama di daerah terpencil.

Sekolah yang alasnya berupa tanah kemudian murid-muridnya berlarian tanpa alas kaki sudah sangat biasa. Begitu pun di ujung sana, rumah-rumah kecil yang sangat jorok. Tidak ada satu pun orang dewasa yang mengingatkan anak mereka yang bermain-main tanpa sandal. Alhasil, cacing tambang mengorek kulit kakinya dan bersemayam di usus anak-anak tanpa dosa itu, menghisap darah mereka bagaikan drakula. Ketika suatu sekolah dilakukan penjaringan kadar sel darah merah (hemoglobin), tidak perlu terkejut kalau hampir semua anaknya mengalami kurang darah (anemia). Bisa dibayangka performa sekolah mereka yang mengalami nasib demikian? Ah, tak perlu bicara performa sekolah—kita tidak bicara tentang sarana sekolah di daerah-daerah terpinggirkan, termasuk kualitas dan kuantitas guru.

salah satu jenis cacing tambang: Ancylostoma duodenale (sumber gambar: http://belajarterusbiologi.blogspot.com/2011/03/nemathelminthes.html)

salah satu jenis cacing tambang: Ancylostoma duodenale (sumber gambar: http://belajarterusbiologi.blogspot.com/2011/03/nemathelminthes.html)

siklus hidup cacing tambang (sumber gambar: http://eol.org/pages/2921231/overview)

siklus hidup cacing tambang (sumber gambar: http://eol.org/pages/2921231/overview)

Anak adalah asset bangsa. Masa depan peradaban suatu negeri ditentukan oleh kondisi anak-anaknya, termasuk kesehatannya. Sulit sekali melahirkan generasi cerdas apabila masa kecilnya kekurangan faktor pendukung kualitas pendidikan (baca: gizi).

Masalah kesehatan takkan pernah bisa diselesaikan dengan “pengobatan gratis”. Sebenarnya menyedihkan jika ada seorang pemimpin yang menyatakan bahwa visi kesehatannya adalah bagi-bagi kartu pengobatan gratis. Adanya pengobatan gratis hanya membuat orang yang tidak sakit menjadi sakit. Tak perlu memperhatikan pola hidup bersih dan sehat, toh tinggal ke RS, kan gratis? Mungkin berobat gratis dapat menyembuhkan penyakit pasien yang berobat—ini adalah hal yang harus kita syukuri—tapi apakah akan membuat mereka sehat? Apa yang dapat mencegah mereka agar tidak sakit dan berobat kembali? Apa yang bisa membuat mereka hidupnya semakin sehat sehingga tidak perlu bolak-balik ke RS?

Beruntung menteri kesehatan kita memasukkan program pencegahan dan promosi kesehatan dalam kartu sakti yang sekarang tengah dibagi-bagi. Namun kesehatan ialah hal yang sangat kompleks dan membutuhkan peran lintas sektoral. Salah satu program pencegahan dan promosi adalah penyuluhan kepada masyaraka, tapi adakah mereka mau mendengarkan? Pahamkah mereka dengan apa yang diucapkan oleh petugas puskesmas yang sudah capek-capek berkeliling untuk memberikan penyuluhan? Salah satu topik yang banyak diberikan adalah mengenai kebersihan, tapi apakah kualitas kebersihan akan benar-benar membaik setelah diberi pencerdasan, padahal jamban bersih saja mereka tidak punya? Bisakah kita hitung signifikansi penyuluhan mengenai anemia defisiensi besi jika rumah atau sekolah masih berlantaikan tanah?

Investasi jangka panjang untuk membangun negara sehat adalah pendidikan. Tingkat pendidikan yang baik akan mendorong setiap orang untuk berinisiatif sendiri meningkatkan dan menjaga kesehatan mereka. Pasien yang datang berobat pun tidak melulu harus dalam keadaan sakit, tapi mereka adalah sehat yang membutuhkan konsultasi dan kontrol dari tenaga kesehatan. Kualitas kesejahteraan yang baik pun memiliki peran besar. Rumah yang bersih, lantai yang layak, jamban yang terkontrol sanitasinya, kualitas air minum yang bebas kuman, dan menu makanan yang bergizi sangat berperan dalam membangun kesehatan.

Saat ini negara kita sedang berada dalam utopia akan para pemimpin baru. Wajah baru akan selalu melahirkan harapan baru. Namun bangsa bukanlah hanya presiden dan para menteri. Sy ingat perkataan Abah Iwan di saat konser beliau yang memukau, “Adalah sebuah kehormatan terlahir di negara yang belum baik, karena kita memiliki kesempatan untuk membuat sejarah memperbaiki bangsa ini.”

Categories: merenung, pembelajaran | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,991 other followers