Uji Kompetensi Dokter Ilegal?

Pernahkah terbayangkan, jika orang tua kita mendadak jatuh ke lantai dengan bunyi “Duaakk!!” keras, lalu ia kehilangan kesadarannya? Dipanggil tak menyahut, digoyang-goyangkan badannya pun sama saja. Apa yang selanjutnya dilakukan? Ya, tentu saja akan terbirit-birit membawanya ke dokter atau memanggil ambulans agar segera ditangani oleh dokter. Harus cepat! Karena mungkin terlambat sedikit saja, nyawa orang yang kita sayangi akan melayang.

Bekerja dalam hitungan detik yang menentukan nyawa, dokter harus paham setiap keputusan dan tindakan yang diambil. Tidak hanya cepat, tapi juga harus benar! Salah prosedur secara tidak sengaja karena terburu-buru malah bisa mencelakakan pasien.

Di tengah kondisi ini, apa yang keluarga pasien lakukan?

Diam. Hanya melihat para dokter dan tenaga medis bekerja. Mungkin disertai doa penuh harap dan linangan air mata. Karena hanya itu yang bisa dilakukan oleh mereka. Selain memasrahkan kepada Allah, kondisi orang yang tercinta pun diserahkan sepenuhnya kepada dokter yang menanganinya.

Melalui gambaran kondisi ini, bisakan kita membayangkan betapa besarnya tanggung jawab yang dipikul oleh dokter? Yang ditangani secara langsung olehnya ialah nyawa, yang mungkin istilah “nyawa” sendiri masih merupakan misteri. Adalah hak Allah SWT yang menentukan hidup dan mati, namun melalui tangan dokterlah tersampaikan ayat Allah yang berbunyi, “…sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri…” (Ar Ra’d: 11).

Karena itu pula pendidikan kedokteran dikenal oleh masyarakat luar sebagai “pendidikan yang sangat susah” atau “lamanya sekolah kedokteran 6 tahun” (sekarang sekolah kedokteran umum ada yang 5 atau 6 tahun) atau “bukunya tebal-tebal” atau “anak-anak kedokteran kerjaannya belajar melulu”. Tidak bermaksud mebanding-bandingkan profesi karena semuanya ialah mulia jika diniatkan sebagai ibadah kepada Allah. Namun, dokter adalah manusia yang bertanggung jawab mewakili Allah menangani kondisi kesehatan hingga nyawa seseorang.

Pada akhirnya, ilmu kedokteran sangatlah fragile. Di buku-buku teks kedokteran buatan barat yang tebal itu seringkali ditemukan kalimat “The process is not fully understood”. Adalah haram bagi dokter menjanjikan kesembuhan kepada pasien, seperti “Bapak/Ibu, jika mendapat pengobatan ini nanti Bapak/Ibu akan sembuh” melainkan “Bapak/Ibu, saya usahakan yang terbaik untuk kesembuhan Bapak/ibu”. Dokter sekelas professor pun manusia, dan apalah artinya manusia yang ilmunya sangat terbatas di hadapanNya?

Dokter seperti apa yang masyarakat percaya? Tentu yang berkualitas. Apakah semua dokter di Indonesia memiliki kualitas yang cukup untuk menangani pasien? Saya sendiri sebagai dokter harus menjawab bahwa ya, kami semua berkualitas…jika melewati seluruh proses pendidikan kedokteran dengan baik dan benar.

Jumlah fakultas kedokteran (FK) di Indonesia saat ini mencapai angka 73. Berarti kita harus bersyukur dong, karena jumlah dokter di Indonesia akan meningkat? Semakin banyak dokter berarti semakin banyak pasien yang tertangani, bukan? Sayangnya, pertambahan jumlah FK tidak diikuti dengan penjaminan kualitas. Dari 73, sebanyak 35 FK berakreditasi C (di bawah standar). Kita belum berbicara fasilitas yang memadai untuk mencetak dokter.

Kenapa bisa ada banyak FK bermunculan? Benarkah lahirnya FK dilandasi dengan kebutuhan masyarakat Indonesia akan dokter? Saya tidak suka anggapan bahwa didirikannya FK sebagai cara universitas cari uang. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa FK seringkali jadi sapi perahan di berbagai institusi. Berapa biaya masuk dan semesteran FK saat ini?

Untuk menjamin kesetaraan kualitas dokter di Indonesia, dibuatlah Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). Ujian ini pertama kali dilaksanakan April 2007. Soal ujian disamaratakan—dari paling timur hingga paling barat Indonesia—dengan standar soal mengacu pada Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). Jangan samakan UKDI dengan UN—yang dikeluhkan bahwa UN tidak bisa disamaratakan untuk setiap wilayah—standar soal ujian dokter HARUS SAMA karena akan berhadapan dengan nyawa manusia.

Awalnya UKDI memiliki nilai batas lulus 40-an. Kemudian batas kelulusan UKDI semakin naik—sekarang, batas lulus ialah 66. Ditambah lagi di tahun 2013, UKDI tidak sekedar ujian pilihan ganda (Computerized Based Test = CBT), tapi juga disertai dengan ujian praktek (Objective Structured Clinical Examination = OSCE). Baik ujian CBT maupun OSCE harus lulus jika ingin menjadi dokter di Indonesia.

Berat? Tapi memang begitulah proses yang harus ditempuh jika ingin menjadi orang yang dipercaya untuk memegang nyawa manusia.

Siapa panitia UKDI? Belum ada dasar hukum yang menjelaskan. Undang-Undang Praktek Kedokteran (UU Pradok) tahun 2004 hanya menyebutkan tentang ujian kompetensi sebagai syarat, tidak menyebutkan siapa penyelenggaranya. Kemudian, dibuatlah kesepakatan antara Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI, organisasi profesi dokter), Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia atau AIPKI (AIPKI bisa disebut juga sebagai persatuan FK se-Indonesia), perwakilan FK se-Indonesia, dan Dirjen Dikti. Nota kesepakatan ini tertulis berakhir di tahun 2013, atau di tahun UU Pendidikan Kedokteran (UU Dikdok) terbit.

Namun muncul masalah. UU Dikdok menyebutkan bahwa pelaksana UKDI ialah FK bekerja sama dengan AIPKI dan berkoordinasi dengan IDI. Lalu disebutkan bahwa ketentuan tentang pelaksaannya diatur oleh Peraturan Menteri (Permendikbud). Tahun 2013 telah berakhir tetapi Permendikbud belum keluar juga. Lalu bagaimana dengan ujian tahun 2014?

IDI meminta UKDI ditunda hingga Permendikbud keluar. Tapi mau menunggu sampai kapan? FK dan AIPKI tidak bisa menunggu karena kasihan sekali para calon dokter—yang telah menyelesaikan pendidikannya dan tinggal ujian—harus menganggur menunggu ketidakpastian. Para calon dokter ini akan tetap tercatat sebagao mahasiswa sehingga harus membayar semesteran. Selain itu, para pengangguran ini akan menghambat datangnya mahasiswa baru. Tapi IDI tidak mau tahu, pokoknya harus menunggu.

Di kondisi ketidakpastian inilah, AIPKI tetap menyelenggarakan ujian tanpa melibatkan IDI. Semenjak awal pelaksanaan ujian, memang AIPKI-lah sebagai penyelenggara utama. Mereka yang membuat standarisasi, membuat soalnya, dan menentukan standar kelulusan. Dilangsungkanlah UKDI Februari 2014, tapi PB IDI tidak mau menerima.

IDI pun melayangkan edaran bahwa UKDI yang diselenggarakan AIPKI adalah ILEGAL, dengan alasan tidak sesuai hukum. Akibatnya, Kolegium Dokter Primer Indonesia (KDPI), lembaga di bawah IDI, tidak mau mengeluarkan sertifikat kompetensi (serkom) bagi lulusan Februari 2014. Padahal biasanya setelah lulus UKDI langsung dapat serkom. Serkom adalah sertifikat bagi dokter agar bisa praktek.

image

Menariknya, KDPI di bawah IDI pun membuat ujian tersendiri di bulan Mei. Lulusan UKDI Februari 2014 harus mengikuti ujian kembali buatan KDPI ini jika ingin mendapat serkon. Dasar hukum apa yang membolehkan KDPI membuat ujian? Mereka bilang UU Pradok. Saya baca berkali-kali UU Pradok tapi tidak ditemukan pernyataan bahwa pelaksana UKDI ialah KDPI. IDI menganggap AIPKI melanggar hukum lalu meresponnya dengan pelanggaran hukum pula?

Arogansi. Saya menyebut ini sebagai langkah “pamer kekuasaan”. Tidak apalah tidak ada dasar hukumnya, toh sertifikat kompetensi kami yang punya—mungkin inilah yang ada di kepala mereka.

Ujian seperti apa yang dibuat oleh KDPI? Saya tidak ingin bercerita tentang ujian tersebut yang sangat menggelikan. Yang jelas IDI dan KDPI tidak memiliki kompetensi untuk membuat standar dan soal yang sesuai dengan SKDI. Lagipula, apakah mereka punya panitia yang bisa mengecek jawaban dari sekian banyak peserta? Awalnya dijanjikan pengumuman hasil ujian di tanggal 5 Juni, tapi tiba-tiba diundur menjadi seminggu kemudian. Ah, sudahlah.

Siapa yang salah? AIPKI? Ya, karena ujian bauatannya tidak sah untuk mendapatkan serkom. Namun, AIPKI berhak melaksanakan ujian untuk meluluskan mahasiswa hingga mendapatkan ijazah dokter. Mendikbud? Ya, karena lamban dalam mengeluarkan permen. IDI? Ya! Karena membuat ujian yang jelas-jelas tidak ada dasar hukum dan sikapnya yang arogan.

Lagipula saya ingin bertanya kepada IDI, apa yang membuat mereka menolak UKDI Februari 2014? Hukum? Permendikbud keluar sangat lambat dan saat itu tidak diketahui kapan akan keluarnya. Jika memang demikian, kenapa tidak kembali membuat nota kesepahaman bersama? Apa IDI rela membiarkan sekian banyak para calon dokter menganggur? Apa motivasi mereka? Apakah karena suatu kepentingan politis, sehingga IDI menginginkan standar kelulusan UKDI diturunkan?

IDI memiliki riwayat yang tidak sedap tentang UKDI ini. Ada istilah Uji Kompetensi Retaker Khusus (UKRK), ditujukan bagi mereka yang belum lulus UKDI. UKRK ini diselenggarakan oleh IDI, dengan nilai batas kelulusan di bawah standar UKDI. Pada UKRK I masih sangat banyak yang belum lulus. Dibuatlah UKRK II dengan standar kelulusan yang diturunkan lagi, baru kemudian banyak yang lulus. Inikah kualitas dokter yang diharapkan oleh negeri?

Polemik pun berlanjut. UKDI Mei 2014 yang baru saja diselenggarakan oleh AIPKI kembali tidak diakui oleh IDI. Kemudian, IDI pun hendak membuat ujian tersendiri di bulan Juni yang menjadi penentu keluarnya serkom. Yang mengejutkan, persyaratan ujian Juni ini bukanlah peserta yang telah lulus UKDI Mei, melainkan yang telah mendapat ijazah dokter. Tidak perlu ditutupi, ada beberapa FK yang mau mengeluarkan ijazah dokter meskipun anak didiknya belum lulus UKDI. Artinya, seorang yang belum teruji di UKDI namun diberi hadiah ijazah oleh kampusnya bisa saja mengikuti ujian ini lalu mendapat serkom.

Pertanyaannya, bisakah kualitas ujian IDI ini terjamin? Apakah mereka memiliki standar soalnya? Lalu, bagaimana batas kelulusannya? Bisakah kualitasnya dipertanggungjawabkan?

Jumlah calon dokter yang masih belum lulus UKDI sangatlah banyak. Bahkan ada yang telah belasan kali ikut UKDI namun belum lulus juga! Lalu, dari sini muncullah mafia. Berbagai cara ditempuh agar mendapatkan sertifikat kompetensi, meski kualitas belum teruji. Ada info berseliweran tentang cara mendapatkan serkom tanpa harus ikut UKDI, dengan membayar sekian rupiah. Padahal, UKDI-lah yang mampu menjamin kualitas kompetensi dokter!

Mau dibawa ke mana kualitas dokter Indonesia? Terlebih, tahun 2015 kita akan menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN. Kelak yang mudah masuk ke negara kita bukan hanya barang, tapi juga tenaga kerja!

Saya tidak ingin bicara tentang masalah hukum yang dilanggar oleh AIPKI dan IDI, melainkan tentang esensi menjadi dokter itu sendiri.

Tegakah seorang mengaku dokter namun kompetensinya belum teruji? Jika merasa kompeten, kenapa tidak hadapi saja ujian kompetensi dengan penuh percaya diri?

Hanya berbekal ijazah yang dihadiahi oleh fakultasnya, kemudian mengikuti ujian yang belum jelas kualitasnya lalu diberi hak praktek–itukah esensi menjadi dokter? Bila satu dokter tidak kompeten ketahuan malpraktek, yang tercoreng namanya bukan cuma dokter itu atau asal sekolahnya, tapi seluruh dokter di Indonesia! Lalu, media pun memberitakannya–kita sudah cukup lelah dengan berita dr. Ayu–hingga muncullah pandangan-pandangan negatif terhadap dokter Indonesia.

Relakah dokter-dokter di negara ini tidak berkualitas?

Categories: merenung | Tags: , | 13 Comments

Menjadi Kartini

Anda tahu Piccolo? Sebagai orang dengan masa kecil yang bahagia tentu takkan melewatkan kisah Dragon Ball. Makhluk berwarna hijau ini berasal dari Planet Namec. Hal yang unik dari makhluk planet namec ialah caranya bereproduksi, yaitu dengan memuntahkan telor, yang kemudian telor tersebut akan menetas menjadi manusia Planet Namec baru.

Bayangkan jika manusia bumi bereproduksi dengan cara demikian (baca: tanpa proses perkawinan)! Tentu hidup terasa kurang menyenangkan, bukan?

Adalah anugerah Allah, tercipta manusia dalam dua jenis yang berbeda, yaitu laki-laki dan perempuan. Masing-masing jenis memiliki ciri khas dan karakteristik berbeda. Fungsinya sebagai manusia pun tidak sama: sifat khas pada masing-masing genderlah yang membuatnya optimal dalam menjalankan perannya.

Meskipun demikian, bukan hal yang mustahil jika laki-laki mengambil fungsi perempuan dan perempuan mengambil fungsi laki-laki. Namun, sy pribadi melihat, hampir semua (atau semua?) fungsi laki-laki diambil alih oleh perempuan.

Sebagai pencari nafkah? Bukan hal yang aneh di telinga jika seorang istri memiliki penghasilan lebih besar daripada suaminya. Bahkan mungkin kita juga pernah mendengar penghidupan keluarga yang bergantung kepada penghasilan sang istri.

Sebagai pekerja kasar? Pekerja kasar perempuan bisa kita jumpai.

Sebagai pemimpin imperium? Kita mengenal Ratu Victoria, yang pada masa pemerintahannya Inggris begitu digdaya melakukan ekspansi ke berbagai belahan dunia.

Sebagai tukang jotos? Preman? Bodyguard? Ahli beladiri?

Di sisi lain, ada fungsi perempuan yang tidak akan pernah tergantikan oleh laki-laki, yaitu sebagai seorang IBU. Takkan pernah bisa laki-laki mengandung dan menyusu anak. Begitu pula dengan kasih sayang. Adalah fitrah bila anak memiliki kecenderungan dan keterikatan yang lebih kepada ibu. Atau, jika dibandingkan, anak lebih membutuhkan kasih sayang ibu ketimbang ayah—sekali lagi, jika dibadingkan.

Di masa modern ini, sudah lama terjadi pergeseran fungsi seorang ibu. Tidak ada lagi sosok di keluarga yang memberi perhatian penuh dan pendidikan di rumah secara intensif kepada anak. Seringkali fungsi tersebut digantikan oleh PRT.

Tidak sedikit kaum ibu lebih sibuk dengan pekerjaannya ketimbang mengurus anak. Mencari materi dianggap sebagai prioritas utama dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. Dari pagi sampai sore, biarlah anak dipegang oleh PRT, malam harinya baru berinteraksi dengan orang tua—itu pun kalau pulang kerjanya ga kemaleman. Saat beranjak tumbuh, anak sudah mulai bisa mengatur dirinya sendiri. Biarlah ia mengurus urusannya sedangkan sang ibu bekerja makin keras, interaksi baru terjadi jika sang anak membutuhkan uang.

Lebih parah, ada—banyak malahan—ibu yang tidak mau merasakan rasa sakit ketika melahirkan, padahal itu adalah pengorbanan alami seorang ibu. Demi menghindarinya, operasi cesar pun diajukan kepada dokter kandungan. Masyarakat haruslah paham bahwa operasi cesar harus dilakukan berdasarkan indikasi yang benar, semisal gawat janin atau eklamsi (hipertensi & kejang pada ibu hamil). Jika operasi dilakukan tanpa indikasi, maka tindakan tersebut adalah malpraktek.

Semua itu dilakukan atas nama emansipasi dengan tokoh panutannya Raden Adjeng Kartini.

Benarkah Kartini memperjuangkan emansipasi demikian?

Mungkin kita pernah membaca tulisan-tulisan yang mengatakan bahwa pengangkatan Kartini sebagai pahlawan kaum wanita adalah kontroversi. Apa yang sudah Kartini lakukan dibandingkan dengan Cut Nyak Dien—yang turun ke medan perang mengusir penjajah? Di beberapa media bahkan Kartini disebut sebagai propaganda Orde Lama, disukai oleh penjajah Belanda, konspirasi Wahyudi, bla bla bla bla….

Memang betul tokoh-tokoh perempuan seperti Cut Nyak Dien, Keumalahayati, Rohana Kudus, dll sangat pantas diangkat sebagai pahlawan wanita Indonesia. Tapi kenapa hanya Kartini yang dikenang? Hingga sejak bangku SD kita didoktrin tentang tanggal 21 April dan lagu Ibu Kita Kartini.

Terlepas dari alasan pihak pemerintah saat itu, bagi sy pribadi, Kartini ialah tokoh yang sangat pantas mendapat respek besar. Di tahun-tahun sebelumnya memang sy pun berpendapat Kartini tidak pantas menjadi tokoh yang dipanuti negeri ini, hingga beberapa menit lalu membaca surat-suratnya.

Sosok kritis yang mengagumkan! Itulah kesan sy ketika membaca beberapa tulisan-tulisannya. Sy pribadi pun sekarang lebih mengenal beliau sebagai “penguntai kata-kata yang begitu indah”.

Latar belakang kondisi saat itu membuat RA Kartini tidak banyak pilihan. Gelar ningrat membuatnya menikmati pendidikan sekolah, namun itu semua harus putus ketika berusia 12 tahun. “Kelak ketika engkau dewasa Nil, kamu akan menjadi Raden Ayu yang akan disunting atau dinikahi oleh laki-laki keturunan bangsawan yang sederajat dengan kakek atau pun ayahanda kita,” begitu kata kakak laki-lakinya.

Trinil, panggilan akrab Kartini, pun harus mendekam di dalam rumah tanpa merasakan kebebasan dunia luar. Di saat inilah kegelisahan begitu bergejolak, yang akhirnya termuntahkan dalam untaian kata-kata yang begitu indah.

Kesempatan mengenyam pendidikan dasar membuatnya mampu berbahasa Belanda dan bergaul dengan orang-orang Eropa (Belanda) yang sekolah di Jepara. Di tengah pengurungannya, bercarik-carik kertas korespondensi pun mengalir.

“Gadis itu kini telah berusia 12,5 tahun. Waktu telah tiba baginya untuk mengucap selamat tinggal pada masa kanak-kanak. Dan meninggalkan bangku sekolah, tempat dimana ia ingin terus tinggal. Meninggalkan sahabat-sahabat Eropah-nya, di tengah mana ia selalu ingin terus berada.

Ia tahu, sangat tahu bahkan, pintu sekolah yang memberinya kesenangan yang tak berkeputusan telah tertutup baginya. Berpisah dengan gurunya yang telah mengucap kata perpisahan yang begitu manis. Berpisah dengan teman-teman yang menjabat tangannya erat-erat dengan air mata berlinangan.

Dengan menangis-nangis ia memohon kepada ayahnya agar diijinkan untuk turut bersama abang-abangnya meneruskan sekolah ke HBS di Semarang. Ia berjanji akan belajar sekuat tenaga agar tidak mengecewakan orang tuanya. Ia berlutut dan menatap wajah ayahnya. Dengan berdebar-debar ia menanti jawab ayahnya yang kemudian dengan penuh kasih sayang membelai rambutnya yang hitam.

‘Tidak!’ jawab ayahnya lirih dan tegas.

Ia terperanjat. Ia tahu apa arti ‘tidak’ dari ayahnya.

Ia berlari. Ia bersembunyi di kolong tempat tidur. Ia hanya ingin sendiri dengan kesedihannya.

Dan menangis tak berkeputusan.

Telah berlalu! Semuanya telah berlalu! Pintu sekolah telah tertutup di belakangnya dan rumah ayah menerimanya dengan penuh kasih sayang. Rumah itu besar. Halamannya pun luas sekali. Tetapi begitu tebal dan tinggi tembok yang mengelilinginya.”

(Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 1899)

 

“Sahabat-sahabat ayah yang berbangsa Eropah – ini saya ketahui lama kemudian – telah dengan susah payah mencoba mempengaruhi orang tuaku agar mengubah keputusannya untuk memingit aku yang begitu muda dan begitu penuh gairah hidup ini. Tapi orang tuaku tetap teguh dengan keputusannya. Dan aku tetap dalam kurunganku. Empat tahun yang panjang telah kutempuh dalam kungkungan empat tembok yang tebal tanpa sedikit pun melihat dunia luar. Bagaimana aku dapat melaluinya, aku tak tahu lagi. Aku hanya tahu bahwa itu MENGERIKAN.”

“Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis2 keluar rumah. Ketika saya berusia 12 tahun lalu saya ditahan di rumah; saya mesti masuk tutupan, saya dikurung di dalam rumah seorang diri sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tiada boleh keluar ke dunia itu lagi bila tiada serta dengan seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya tiada setahu kami.” (Surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar, 25 Mei 1899)

 

“Mengapa kami ditindas? Itu membuat kami memberontak. Mengapa kami harus mundur? Mengapa sayap kami harus dipotong? Tak lain karena tuduhan dan fitnah orang-orang kerdil yang berpandangan picik. Untuk memuaskan orang-orang macam itulah kami harus melepaskan cita-cita kami. Andaikan betul-betul perlu, benar-benar tidak dapat dielakkan, kami akan tunduk. Namun kenyataannya tidak demikian. Segala-galanya berkisar pada pendapat umum. Semua harus dikorbankan untuk itu. Dikatakan: Orang akan bilang ini atau bilang itu, kalau kami lakukan apa yang kami lakukan dengan seluruh jiwa kami. Dan siapakah orang-orang itu? Dan untuk orang-orang macam itu kami harus menekan keinginan kami, harus membunuh cita-cita kami, dan mundur kembali ke alam gelap.” (Kartini, 1901).

 

Ialah kegelisahan sosok kritis yang berontak dengan kebudayaan Jawa saat itu yang membatasi pendidikan bagi kaum hawa. Seolah bernyanyi meskipun tembok yang tinggi menghalangiku, tak satupun yang mempu menghalangiku, tokoh yang dipingit ini pun membaca buku-buku dan surat kabar. Melalui buku-buku itulah Kartini tertarik dengan kemajuan berpikir wanita Eropa. Ia pun mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk ia ajari baca dan tulis.

Kemudian Kartini pun mempelajari istilah emansipasi.

“Bukan hanya suara dari luar saja, suara yang datang dari Eropah yang beradab, yang hidup kembali itu, yang datang masuk ke dalam hati saya, yang jadi sebab saya ingin supaya keadaan yang sekarang ini berubah. Pada masa saya masih kanak-kanak, ketika kata EMANSIPATIE belum ada bunyinya, belum ada artinya bagi telinga saya, serta karangan dan kitab tentang pasal itu masih jauh dari jangkauan saya, telah hidup dalam hati saya suatu keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri. Keadaan sekeliling saya memilukan hati, menerbitkan air mata karena sedih yang tidak terkatakan, keadaan itulah yang membangunkan keinginan hati saya itu. Dan karena suara yang datang dari luar yang tiada putus-putusnya sampai kepada saya, keras makin keras jua, maka bibit yang ada dalam hati saya, yaitu perasaan yang merasakan duka nestapa orang lain yang amat saya kasihi, tumbuhlah, sampai berurat berakar, hidup subur serta dengan rindangnya.” (s.d.a, 25 Mei 1899)

Emansipasi apakah yang diperjuangkan oleh Kartini? Apakah kesetaraan gender, seperti yang sering digembar-gemborkan kaum feminisme?

Berikut adalah surat yang ditujukan kepada Prof. Anton dan Nyonya, 1901

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”

 Kartini juga menulis:

 “Siapakah yang akan menyangkal bahwa wanita memegang peranan penting dalam hal pendidikan moral pada masyarakat. Dialah orang yang sangat tepat pada tempatnya. Ia dapat menyumbang banyak (atau boleh dikatakan terbanyak) untuk meninggikan taraf moral masyarakat. Alam sendirilah yang memberikan tugas itu padanya.

Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anak

Dan bagaimanakah ibu Jawa dapat mendidik anak kalau ia sendiri tidak berpendidikan?”(Kartini, 1903)

 

Di sinilah letak gagal pahamnya (atau sengaja gagal?) kebanyakan orang akan yang diperjuangkan oleh Kartini. Adalah benar kebebasan berpendidikan yang ia keluhkan dalam surat-suratnya, namun, menurutnya, kenapa kaum perempuan harus berpendidikan? Agar menjadi seorang ibu yang memberikan pendidikan moral kepada anak-anaknya.

Kini, pendidikan sudah bebas dikunyah oleh tiap gender. Namun, ada satu poin perjuangan yang kini malah ditinggalkan, yaitu berperan sebagai ibu yang mendidik anaknya.

Mungkin kebanyakan beranggapan, untuk apa sekolah tinggi kalau pada akhirnya hanya kebanyakan di rumah seperti PRT? Kartini sendiri pun menyatakan, bagaimana seorang ibu dapat mendidik anak kalau ia sendiri tidak berpendidikan?

Seorang dosen Teknik Fisika ITB pernah bilang yang kurang lebih isinya, “Buat mahasiswa perempuan, walaupun ada yang berencana menjadi ibu rumah tangga, tetap penting untuk berpendidikan tinggi. Kalau nanti gendong anak, ‘Lucunya kamu, anakku. Senyummu mirip lambang integral.’”

Ibu sy pun sering mengulang pernyataan ini, “Yang menentukan anak pintar itu ibunya. Makanya, kamu carilah jodoh yang pintar sekolahnya.”

Tentu bukanlah hal yang salah jika perempuan bekerja. Bila memiliki manfaat yang bisa diberikan untuk masyarakat, sekaligus menambah penghasilan keluarga, kenapa tidak? Namun, inilah hikmah dalam Islam kenapa kaum laki-laki wajib mencari nafkah sedangkan perempuan tidak wajib. Penghasilan seorang suami wajib diberikan untuk kebutuhan keluarga, sedangkan penghasilan istri adalah hak sepenuhnya untuk digunakan secara pribadi. Mengapa wanita tidak wajib bekerja? Agar memiliki waktu yang cukup untuk mendidik anak. Jika wanita bekerja, mendidik anak tetap merupakan prioritas yang tidak boleh dilupakan.

Di mana-mana dapat ditemukan penyimpangan nilai-nilai kekartinian. Disebutkan para pendaki gunung wanita yang gagah perkasa disebut “Pendaki Kartini” (memang Kartini pernah naik gunung ya?). Begitu juga dengan wanita yang memiliki sederet prestasi yang luar biasa, disebut dengan “Kartini Masa Kini”, padahal belum tentu memiliki kemampuan mendidik anak.

Kemudian, ada satu lagi poin perjuangan Kartini yang hampir tidak pernah disampaikan ke masyarakat luas. Tanggal 21 Juli 1902, Kartini menulis kepada Ny. Van Kol:

Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.”

Mengapa kumpulan surat Kartini diberi judul ”Habis Gelap Terbilah Terang”? Judul ini merupakan gagasan Kartini sendiri. Mr. J.H. Abendanon ialah orang yang membukukan surat-surat Kartini, dan buku itu berjudul ”Dor Duisternis Toot Licht, yang dalam Bahasa Indonesia artinya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.

Penjajah Belanda melarang penerjamahan Al-Quran ke bahasa jawa karena dikhawatirkan akan menumbuhkan pemberontakan. Kondisi ini membuat Kartini tidak memahami agamanya, dan pikirannya yang kritis berontak, “Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca”. Agustus 1902, Kartini pun menulisAku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.”

Hingga Kartini bertemu Kyai Soleh Darat yang mengajarkan tafsir Al-Fatihah. Seketika itu pula, ia kagum dengan keindahan Al-Quran. “Selama ini Al-Fatihah GELAP bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi TERANG-BENDERANG sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”

Kartini mati muda. Empat hari setelah melahirkan anaknya, tepatnya tanggal 17 September 1904, 25 tahun menjadi usia terakhirnya. Sudah sampai mana perkembangan Kartini belajar Islam? Tidak ada keterangan sejarah yang menjelaskan. Pun terjemah Al-Quran yang ditulis oleh Kyai Soleh Darat untuk Kartini hanya sampai surat Ibrahim karena dibatasi oleh usia.

Tanggal 21 April, selain memakai pakaian kebaya dan foto selfie, ada baiknya kaum wanita memperingati tidak hanya jasad, tapi juga hal-hal yang ia perjuangkan. Jika kebebasan berpendidikan sudah tercapai, maka masih ada sisa perjuangan Kartini yang belum tuntas, yaitu mendidik moral anak bangsa dan berupaya memperbaiki citra Islam.

Tiada hal yang lebih menyenangkan ketika berada di kegelapan, selain mendapatkan cahaya. Dan, hanya Allah-lah yang mengeluarkan seorang dari kegelapan menuju cahaya.

”Allah pelindung orang yang beriman. Ia mengeluarkan mereka DARI KEGELAPAN MENUJU CAHAYA…” (Al-Baqarah: 257)

Categories: merenung | Leave a comment

Apa yang Membuat Tulisan Diminati untuk Dibaca?

tulis

Mungkin itu adalah pertanyaan yang berada di setiap benak yang hendak menulis. Memang tujuan merangkai kata tidaklah selalu untuk dibaca oleh orang lain: bisa saja sekedar mengekspresikan diri. Namun sebuah tulisan akan lebih berarti jika dibaca oleh orang—terlebih banyak orang—bukan?

Saat ini saya sedang diamanahi sebagai bidang publikasi tim Ekspedisi Arus Deras Wanadri yang akan menggelar petualangannya di Sungai Kluet, Aceh Selatan. Tugas utama bukanlah mendesain sarana-sarana publikasi semacam spanduk atau baligo—itu dipegang oleh bidang lain—melainkan menulis!

Yak, jika kita akan melakukan sebuah kegiatan besar, sebegitu besarnya hingga membutuhkan kerja besar dan waktu lama, sepertinya akan lebih elok kalau dipublikasikan. Bukan sekedar untuk berbangga diri, namun untuk menyampaikan pesan kepada orang luar tentang esensi sebuah ekspedisi dan petualangan. Lagipula, kegiatan semacam ini merupakan ‘ruh utama’ Wanadri: banyak masyarakat mengenal perhimpunan tentu dari kegiatan petualangan seperti ini.

Mencatat aktivitas tim sehari-hari, mendokumentasikan proses menuju ekspedisi, dan tentu saja menulis catatan perjalanan di setiap latihan adalah tugas utama si kunyuk publikasi ini. Namun ada misi besar buat si kunyuk, yaitu membuat sebuah buku!

Umumnya, menulis buku merupakan sebuah karya yang amat dibanggakan. Betapa banyak orang yang berusaha berkarya dengan merangkaikan tulisan dalam bentuk buku. Sekarang membuat buku pun dipermudah: banyak tumbuh percetakan yang mau menerbitkan buku-buku self-published. Untuk mensosialisasikannya ke masyarakat caranya juga amat variatif. Melalui self-published, penulis tidak harus terikat kontrak dengan penerbit, cukup mencetak sendiri sejumlah yang diinginkan, kemudian melakukan self-marketing. Tawarkan saja ke beberapa toko buku, uang pun masuk jika ada yang berminat dengan buku indie tersebut. Atau cara marketing sekarang amat banyak: mengiklankan buku melalui berbagai media dan menawarkannya ke orang-orang terdekat hingga terjauh.

Wah, terbayang jika buku ekspedisi ini berhasil terbit. Tidak hanya itu, tapi juga tersampaikan ke masyarakat, atau bahkan nongol di toko buku! Terlebih lagi menulis belumlah menjadi budaya di Wanadri. Hanya sedikit perjalanan yang berhasil didokumentasikan ke dalam bentuk buku: bahkan ekspedisi 7 Summit yang membentangkan merah-putih di luar negeri saja belum ada bukunya! Sebuah cita-cita bagi si kunyuk, yang diiyakan oleh seluruh personel. Iya iya saja, tapi tetap tugas ini hanya dibebankan ke satu orang kunyuk ini. Akan menjadi kebanggaan, bukan hanya pribadi, tapi juga tim ekspedisi.

Membuat sebuah buku ekspedisi tentu bisa macam-macam jenisnya. Bisa saja seperti sebuah laporan kegiatan, atau semacam galeri foto dengan sedikit kata-kata keterangan. Hmm, tapi apakah yang bisa membuat orang-orang tertarik untuk membaca buku ekspedisi ini?

Yah, apakah yang membuat orang-orang rela meengorbankan waktu mereka yang berharga hanya demi membaca tulisan?

“Secara teori, ada beberapa faktor, misalkan faktor kedekatan. Kalau kamu menulis kegiatan di Aceh, tentu akan menarik minat orang-orang Aceh,” kata kang Nondi. Akang tua ini bukanlah anggota Wanadri, namun cukup dekat dengan para anggota—terutama para senior—dan banyak memberikan kontribusi bagi perhimpunan.

“Selain itu, kalau ingin memasarkan buku, kamu juga harus menentukan segmen pasar. Apakah cukup terbatas kepada para penggiat alam terbuka, atau untuk umum? Nah, dengan menentukan segmen seperti ini, kamu bisa menentukan tulisan semacam apa yang akan diangkat,” lanjut beliau.

Kalau ingin menjangkau orang-orang umum, tulisan macam apa yang akan menarik minat mereka?

Berdasarkan pengamatan pribadi, orang kebayakan pada masa ini cenderung senang membaca hal-hal yang bersifat inspiratif. Tengok saja apa yang sering diviralkan di berbagai medsos. Selain berita, yang sering dishare berulang kali ialah hal-hal yang menumbuhkan inspirasi.

Apakah hal yang bisa menginspirasi?

“Menurut saya, Kang, tulisan yang umumnya menginspirasi ialah yang berupa cerita. Kisah pengalaman pribadi atau seseorang yang dapat menyentuh sisi emosi pembaca, atau bahkan cerita rekaan yang bisa diambil hikmahnya.”

“Nah, itu! Orang-orang saat ini membutuhkan cerita. Terlebih kalau inspirasi itu dapat diterapkan dalam kehidupan harian,” sambar kang Nondi sambil mengacungkan telunjuknya. “Rekamlah kegiatan ekspedisi kalian dalam bentuk cerita. Jangan hanya sekedar laporan—itu membosankan. Kalian bisa menceritakan hal-hal teknis, tapi angkatlah dalam bahasa yang populer.”

Mengapakah orang pada umumnya membutuh kisah inspiratif? Apakah dari setiap keseharian yang dijalani tidak ada inspirasi yang diambil? Sedang matikah radar mereka—begitu kang Nondi menyebutnya—yang berfungsi menangkap segala fenomena yang ada untuk diambil pelajarannya? Atau, memang saat ini rutinitas telah menjadi jebakan yang begitu menjenuhkan?

Mungkin itulah yang membuat novel-novel—baik kisah nyata atau rekaan—begitu laris di pasaran. Sedang dibutuhkan kisah yang mampu membangkitkan gairah, mendebarkan jantung begitu asyiknya, hingga menitikkan air mata sentimentil. Inspirasi adalah hal begitu dibutuhkan, dan lebih terasa renyah untuk dicerna jika dalam bentuk cerita. Baik itu fiksi atau nyata, sang penutur ceritalah yang memberi warna hitam-putihnya rutinitas.

Apalah manfaat sebuah perjalanan, jika tidak menghasilkan kisah untuk didongengkan? Jika hanya untuk disimpan, yang membuat diri sendiri tertawa geli ketika mengingatnya, tentu sangatlah disayangkan. Mereka butuh cerita-cerita yang begitu mengasyikkan dan mendebarkan, hingga mampu mengurangi waktu tidur mereka hanya untuk menyimak. Perjalanan tanpa sebuah cerita itu percuma, begitu kata seorang senior Wanadri.

Menceritakan perjalanan ekspedisi layaknya dongeng adalah sebuah tugas yang cukup menantang. Menantang? Ya, karena ekspedisi merupakan bentangan yang luas, dan tidak mungkin pengamatan si kunyuk seorang mampu menjangkau seluruhnya. Mampu menceritakan kembali apa yang diceritakan orang, kata kang Nondi, adalah hal yang sangat dituntut bagi pencerita.

Tapi, apakah cerita ekspedisi ini adalah hal yang sangat ingin didengar? Entah, karena manusia sendiri terkadang tidak mengetahui apa yang diinginkan hingga hal tersebut muncul di hadapan. Yang jelas, akan sangat berharga jika perjalanan yang memakan waktu hampir 2 bulan dan membutuhkan persiapan 6 bulan ini diangkat menjadi sebuah cerita.

Categories: merenung, pembelajaran, wanadri | 2 Comments

Titik Belok

Hidup adalah sebuah perjalanan. Begitu kata banyak orang.

Sebuah perjalanan yang terus berlangsung selama kita hidup. Abah Iwan pernah bilang, “Hidup adalah pengembaraan dari satu waktu ke waktu menuju mati.” Perjalanan ini hanya akan berakhir bila memang telah menemui ajal. Rasulullah saw. pun bersabda, “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari)

Bagaimanakah seseorang ketika akan melakukan perjalanan? Tentu ada banyak yang perlu dipersiapkan dan butuh perencanaan yang benar-benar matang. Mau ke mana? Mau pakai apa? Mau lewat mana? Jalurnya bagaimana? Berapa lama? Kondisi jalan yang akan dilalui bagaimana? Apa saja yang perlu dibawa? Dengan siapa saja kita akan berangkat?

Di akhir-akhir ini, penulis berkesempatan untuk mempelajari kembali tentang manajemen perjalanan. Tentu harus ditentukan dulu tempat apa yang akan dituju. Lalu, kenapa ke sana? Tujuan apa yang hendak dicapai? Apakah kondisi di sana sesuai untuk tujuan saya melakukan perjalanan? Misalkan saya ingin belajar navigasi di medan terbuka, tentu jangan sampai memilihi area yang vegetasinya rapat, tapi pilihlah padang rumput atau sabana atau kebun teh.

Setelah dipertimbangkan betul daerah yang akan dituju, yang perlu dicari selanjutnya adalah peta. Persisnya, lokasi mana yang akan dituju berdasasarkan peta? Secara lebh akurat, berapa koordinatnya? Kemudian, perlu ditentukan jalur mana saja yang akan dijadikan lintasan perjalanan. Melalui peta jugalah bisa tergambarkan kondisi medan yang dilalui. Apakah naik, apakah turun, apakah ada sungai?

Namun ternyata tidak cukup peta. Alat komunikasi pun perlu dioptimalkan untuk mendapatkan data informasi lebih mendetil. Di era informasi yang begitu mudah diakses seperti saat ini, adalah aneh jika data-data tidak digali terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan.

Dari data informasi, akan bisa diperoleh apakah jalur jalan kita tersebut sudah ada jalannya atau belum, apakah ada permukiman di sekitarnya, juga dari lokasi kita saat ini transportasi apa yang bisa digunakan untuk mencapainya dan melalui jalan raya apa.

Setelah perencanaan seperti ini selesai, lanjut ke perencanaan lainnya yaitu ke perbekalan, peralatan, transportasi, dan lain-lain, dan lain-lain.

Memang untuk sebuah perjalanan dibutuhkan perencanaan yang benar-benar terkaji. Tidak mengherankan jika perencanaan jauh lebih lama dbandingkan perjalanan itu sendiri. Namun, terkadang—lebih tepatnya sering—walaupun telah disusun sedemikian rupa, banyak hal-hal yang tidak terduga ketika tengah berada perjalanan sehingga tidak sesuai perencanaa. Atau bahkan harus mengubah rencana di saat itu juga.

Karena perjalanan adalah sesuatu yang “hidup”, tidak seperti seorang programmer yang memasukkan algoritma pemograman ke dalam komputer. Karena itulah otak manusia tidak bisa dibandingkan dengan komputer: ia tidak diciptakan untuk berimprovisasi, hanya menjalankan kode yang dimasukkan ke dalam dirinya.

Salah satu hal yang sangat perlu diperhatikan ketika tengah melakukan perjalanan ialah orientasi. Adalah penting memastikan bahwa kita tengah berada di jalur yang benar, adalah kondisi medan yang tengah dilewati saat ini sesuai dengan yang direncanakan. Caranya orientasi ialah dengan melihat ke kiri dan kanan lalu menyocokkannya dengan gambaran medan yang seharusnya dilewati dalam perencanaan.

Memang terkesan sederhana, tapi percayalah, orientasi merupakan hal yang sering dilewatkan. Ketika tengah berjalan, seseorang kan cenderung terus berjalan tanpa sadar daerah mana yang sedang ia lewati. Dikiranya ia telah berada di jalur yang benar, tanpa sadar mungkin ia telah berbelok di tempat saya salah, atau pergerakannya yang salah, atau jangan-jangan dari titik awal saja sudah salah.

Orientasi sangatlah penting ketika berada di titik belok. Di titik ini orang-orang yang melakukan perjalanan harus benar-benar mampu berorientasi dan yakin bahwa benar mereka telah berada di jalur yang sesuai rencana. Jika gagal berorientasi di titik belok, maka dipastikan perjalanan selanjutnya akan nyasar entah ke mana. Salah belok, sudah tentu tidak akan sampai ke tujuan. Hal yang lebih parah lagi jika tiba di tujuan yang salah namun masih gagal orientasi.

Untuk sebuah perjalanan yang beberapa hari saja membutuhkan perencanaan dan eksekusi yang begitu rinci dan teliti. Sekarang bisa dibayangkan mengenai perjalanan yang begitu besar berupa kehidupan.

Tentu perjalanan kehidupan dibagi menjadi beberapa etape. Kita sering melihat bahwa orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah orang-orang yang berhasil merencanakan hidupnya. Kita juga bisa melihat bahwa orang-orang yang berhasil mencapai tujuan yang diinginkannya ialah—selain kerja keras untuk mencapainya—orang-orang yang sering orientasi bahwa ia berada di jalan yang benar.

Di tengah-tengah perjalanan tentu ada banyak hal yang begitu menggoyahkan hati untuk berbelok. Dan, sepertinya tidak sedikit yang akhirnya berbelok sebelum waktunya.

Orientasilah. Dengan memikirkan kembali tujuan yang hendak dicapai, dan memang tengah berada di jalan yang benar, maka tinggal membutuhkan kesabaran untuk mencapainya. Agar orientasi tidak terlewatkan, hal ini harus sering-sering dilakukan. Memang menambah beban, namun apalah artinya demi sebuah tujuan?

Bagaimana melakukan orientasi? Sama seperti ketika melakukan perjalanan di lapangan. Berhentilah sejenak. Lepas beban seperti ransel kemudian simpan. Lihat rencana yang telah disusun dan lihat sekitar. Dan tentu saja bertanya ke orang-orang sekitar adalah cara yang sangat efektif.

 

Categories: merenung, pembelajaran | Leave a comment

Berorientasi Proses

Image

Apa yang ada di dalam pikiran ketika mendengar kata “belajar”? Kesan yang timbul mungkin bukanlah yang menyenangkan.

Hal tersebut telah tertanam sejak kecil, bukan? Bagi masa kanak-kanak, yang menjadi orientasi adalah “bermain”. Dan saat mendengar kata bermain, yang terbayangkan adalah segala hal menyenangkan, mengasyikkan, yang bila dialakukan membuat kita lupa akan waktu, membuat pikiran menjadi lepas dan tenang. Tentu, kesan yang timbul adalah menyenangkan.

Kata “belajar” dan “bermain” seolah saling menegasikan. Belajar adalah kegiatan yang membosankan, menjenuhkan, perlu perjuangan keras, dan kalau bisa diselesaikan sesegera mungkin supaya bisa segera bermain kembali. Telah tertanam bahwa yang disebut dengan belajar adalah duduk di meja belajar, membaca buku tebal, dan menulis di buku catatan.

KBBI sendiri mengartikan belajar adalah berusaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu. Tidak heran pada umumnya orang-orang belajar hanya ketika di bangku sekolah atau pendidikan tinggi saja. Kuliah, baik sarjana, magister, atau doktor, pun terkadang dikejar hanya untuk memperoleh pekerjaan atau status sosial yang tinggi.

Belajar dan bermain adalah sama-sama kata kerja, yang artinya menunjukkan suatu proses. Perbedaannya adalah tujuan dari proses tersebut. Tujuan dari belajar adalah untuk memperoleh ilmu, wawasan, hal baru, atau pengalaman, sedangkan belajar—masih menurut KBBI—adalah untuk menyenangkan hati. Apakah memperoleh ilmu, wawasan, hal baru, pengalaman, tidak bisa diiriskan dengan menyenangkan hati?

Terkadang kita sering melihat sesuatu dari sudut pandang sempit. Seperti mengintip dari lubang kunci, apa yang terlihat hanya sebesar lubang tersebut. Tidak mustahil sedikitnya yang dapat dilihat membuat salah persepsi.

Agar memperoleh sudut pandang yang luas, ada baiknya kita terbang ke atas, atau mendaki gunung yang tinggi. Apa yang terlihat dari atas adalah bentangan yang luas. Akan terkagum, takjub, terpana saat kita melihat sesuatu yang begitu luas dan tidak terbatasi bidang-bidang sempit.

Suka atau tidak, proses hidup sangatlah identik dengan belajar. Setiap harinya selalu ada hal baru. Bahkan dalam rutinitas keseharian pun, apa yang terjadi pada satu hari tidak mungkin identik dengan hari-hari lainnya.  Karena ada hal baru, kita akan berusaha adaptasi dengan hal tersebut. Proses adaptasi ini adalah proses belajar yang sangat sederhana. Besar kecilnya output yang diperoleh mungkin tergantung seberapa besar fokus kita terhadap usaha adaptasi tersebut.

Setiap bertambahnya usia, semakin banyak proses belajar yang dilakukan sebagai proses adaptasi. Saat berusia 3 bulan, kita belajar merangkak. Pada 6 bulan, kita pun belajar untuk duduk. Saat merayakan ulang tahun pertama kali, kita pun belajar berdiri.

Begitu masuk sekolah, di luar mata pelajaran sekolah, dimulai proses belajar menerima eksistensi orang-orang di luar keluarga atau bersosialisasi. Ketika menginjak usia remaja, proses belajar untuk menentukan pilihan. Saat berada di bangku perguruan tiggi, kita pun belajar untuk mulai merencanakan masa depan. Lalu muncullah proses belajar untuk berpenghasilan, berbagi hidup dengan pasangan, dan sebagainya, dan sebagainya.

Keberhasilan seseorang dalam melaksanakan tiap fase hidup mungkin bergantung bagaimana ia menyadari bahwa itu semua adalah proses belajar. Bagi yang menafikan bahwa ia sedang belajar, solusi dari proses yang dijalani tidak akan memuaskan atau bahkan tidak didapatkan sama sekali. Jika sadar kemudian fokus terhadap, hasil yang diperoleh akan semakin maksimal.

Kebanyakan lingkungan menuntut kita berorientasi pada hasil. Sebagaimana kita banyak melihatnya pada iklan-iklan lowongan kerja, bahwa yang dibutuhkan adalah calon karyawan yang berorinteasi pada hasil. Tidak ada satu pun yang membutuhkan orang yang berorientasi pada proses. Tentu, dunia tidak mau peduli bagaiamana pun proses yang dijalani—atau seberapa sulit proses tersebut—yang penting hasilnya memuaskan perusahaan, atasan, dosen, atau mereka.

Kondisi ini membuat kita hilang fokus terhadap proses. Kegiatan belajar pun hanya dianggap sebagai cara untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Akibatnya, setelah tujuan tercapai, proses belajar tidak diperlukan lagi.

Proses belajar di sini bukanlah sekedar menuntut ilmu di sekolah tinggi. Apa yang terjadi sehari-hari pun dirasa tidak perlu diambil pelajaran lagi. Hal-hal sederhana seperti belajar untuk bersabar, belajar untuk melapangkan dada, belajar untuk tetap antusias, belajar untuk mendengarkan, belajar menahan emosi, adalah proses belajar yang tidak mengenal istilah selesai.

Apa yang membuat orang begitu senang? Pikiran lepas? Bebas dari beban? Tertawa terbahak-bahak? Tidak ada tugas yang menunggu?

Saya berpendapat, salah satu yang membuat kita senang adalah ketika menemukan sesuatu yang menantang. Tantangan tidak saja membuat senang, tapi kan menjadikan kita antusias. Ada sedikit peningkatan detak jantung, ada sedikit peningkatan aliran darah, dan juga ada pengembangan senyuman. Tantangan ini bagi sebagian orang sama menyenangkannya dengan bermain.

Belajar merupakan ruh kehidupan itu sendiri. Ruh ini akan memberi energi yang menggerakkan otot-otot tubuh yang malas bergerak.

Jika berhenti berproses, dengan alasan sudah bosan, merasa sudah cukup, atau tujuan pribadi telah tercapai, mungkin beban-beban yang mengisi pikiran telah terangkat. Namun, tumbuhnya gairah dan antusiasme seperti pada anak-anak yang sedang menemukan hal baru tidak lagi terasa, Mungkin pikiran menjadi tenang dan lepas, tapi tidak adanya tantangan untuk berproses, maka yang hinggap adalah kehambaran.

Atau enggan berproses karena sepenuhnya berorientasi pada hasil. Jika hasil sudah memuaskan harapan, untuk apa lagi berproses? Itulah yang ada pada penilaian di sekitar kita. Tapi tentu kita tidak bisa melupakan, bahwa kelak mereka hidup tak lama. Begitu juga diri sendiri, akan habis eksistensinya. Sebentar lagi, hanya menunggu waktu. Jika waktu itu tiba, kita akan menuju penilaian yang tidak ada yang mampu menandingi keadilannya. Tuhan tidaklah menilai sesuatu hanya dari hasil, tapi Ia begitu menghargai proses. Bahkan belum berproses, baru sebatas niat, pun sudah dihargai.

Tidak perlu khawatir jika berorientasi pada proses dan tidak ada satu pun orang yang menghargai. Yakin bahwa proses yang maksimal akan dihargai langsung oleh Tuhan akan membuat kita tenang.

Categories: pembelajaran | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,967 other followers