Sepi Pangeran Sandri

Burung itu terus bernyanyi. Seolah teriringi, para tamu mengayun-ayunkan tangan dan tubuh mereka, kemudian berputar, terus demikian. Raja pun merapatkan mata dalam tahtanya, terbuai dalam alunan. Semua yang di sana, di balairung kastil mewah itu, menari dan menggerakkan kaki, tersenyum memamerkan gigi. Sepekan sekali atau dua kali balairung terisi dengan pesta keluarga raja dan para bangsawan. Di sana tak ada yang berwajah muram, bermuka sedih, dan mengernyitkan dahi, karena adalah bahagia. Hingga larut malam para manusia pesta terhanyut, dan burung itu terus bernyanyi.

Kecuali seorang yang hanya duduk tanpa ekspresi. Ia bertelekan di tahta menawan, tepat di samping kiri raja. Tapi raja dan ratu sedang tak berada di tahta mereka, karena aroma malam serta rasa alcohol membuat mereka turun ke tengah untuk meletakkan sedikit kehormatan. Tapi seorang itu tetap saja diam. Matanya yang persis ayahnya dan rambutnya yang keriting persis ibunya hanya memandang melamun. Tanpa arti, sebagaimana hatinya yang sepi.

***

Raja dan ratu belum terbangun—percuma mengharapkan mereka, meski matahari mulai menaiki bukit. Samar-samar cahaya pagi yang malu memasuki celah-celah jendela, hingga Sandri mampu melihat wajahnya di cermin tanpa lilin. Tak pernah ada yang dirasakannya di kastil, karena tak pernah ada kehidupan yang berbeda. Sedikit ia melirik dua orang berbadan tegap yang menjaga pintu kamarnya dengan tombak panjang—namun dua orang itu diperintahkan tak bergerak seinci pun saat berjaga—kemudian berpapasan dengan bendaharawan kerajaan. Tak seperti semalam, kini mukanya yang tak bahagia menatap Sandri penuh harap. “Percuma”—begitu mata Sandri berkata. Tanpa kuasa untuk mengetuk pintu raja, kembali sang bendaharawan menekan kacamata tebalnya dan berputar dengan gelisah.

Lapangan tengah kastil selalu indah pada pagi cerah. Kebun yang dipangkas sedemikian rupa oleh para tukang dan air mancur tepat di tengahnya, dilengkapi kursi-kursi berjajar yang dihinggapi para bangsawan. Seorang pustakawan berkaca mata dan jenggot tebal sekilas menengadah, memandang Sandri yang menjadi gelisah. Tapi tak ada alasan baginya untuk gelisah karena sepekan sekali Sandri tak perlu dikurung di kamar baca sang pustakawan, dan itu adalah hari ini.

Layaknya anak-anak penduduk miskin yang diizinkan memasuki halaman kastil pada hari libur, Sandri mondar-mandir dan para penjaga tidak mengacuhkannya—sebagaimana sesuai harapan. Hingga ia tepat di sudut yang sudah sangat familiar. Sudut yang tak pernah berubah. Mengherankan memang kerajaan yang mengklaim kaya raya tak pernah memerhatikan bagian sudut kastil yang sedikit retak. Dan sandri kemudian sedikit membungkuk.

***

Padang rumput yang membentang luas ditemani bukit-bukit. Bukan bukit yang tinggi sehingga seorang bocah seperti Sandri tak perlu khawatir kelelahan. Juga pohon rindang di atas, semak-semak yang sedikit, dan petak-petak ladang. Adalah sempurna ciptaan Sang Maha yang menciptakannya tanpa ada cacat. Perlu waktu jutaan tahun? Ratusan juta tahun? Atau kah lebih untuk menciptakan kesempurnaan ini? Setidaknya tidak masuk akal perkataan sang pustakawan kalau ini semua terjadi begitu saja secara kebetulan—begitulah pikir Sandri setiap melintas padang rumput di luar kastil.

Tak lama, sebuah lembah beralaskan padang rumput membiarkan anak-anak desa berenang di danaunya. Tiga, empat, lima anak saling bersahut dan tertawa girang, yang kemudian diputus oleh suara nyaring bagaikan kicauan di tepian. Ia adalah anak yang lebih besar, mungkin sebaya dengan Sandri. Kemudian tangannya ditepukkan satu sama lain, yang membuat anak-anak danau menepi, memakai pakaian, kemudian berlari.

“Kamu tinggal di komplek kastil, bukan begitu?” si anak lelaki itu pun secepat kilat menghampiri Sandri. “Ah,” Sandri melihat pakaian lawan bicaranya, khas pakaian penduduk desa yang lusuh. “Ya,” pandangan Sandri beralih ke pakaiannya sendiri. Agaknya aneh bahwa si anak yang berpakaian baguslah yang merasa malu. “Bukan hal yang wajar anak penghuni komplek kastil berjalan tanpa pengawal di luar. Tapi kamu tidak perlu resah.”

“Ah, ya. Suasana kastil menyesakkan. Tak kutemukan ketenangan hati selain di sini, alam lestari.”

“Kalau begitu,” si anak lusuh membentangkan tangan lusuhnya. “Untuk ketenanganmu, maukah kau mendengarkanku bernyanyi?”

“Tentu menyenangkan sekali mendengar nyanyian di tepi danau ini. Aku akan mendengarkanmu.”

“Walaupun suaraku takkan sebagus para penyanyi di kastil,” ia menengadahkan kepala ke langit, seolah baitnya berada di awan. “Tapi dengarkanlah,” mulutnya membuka lebar, nada nyanyian dalam suara nyaring bagaikan kicauan pun keluar perlahan-lahan.

Padang pasir nan gersang dan terik, tak berbelas kasih kepada manusia

Walau ia kelaparan di hari ke tujuh, hingga tak ada lagi air tersisa di hari ke sepuluh

Tak sehembus nafas pun di sana, selain miliknya yang tersengal-sengal

Bahkan tak pula kudanya, yang terjatuh mati kehausan

Malang nasibnya, laki-laki gagah dari taman indah yang pergi berjelajah

Kulitnya kering, bibirnya pecah, dan halusinasi menggerogoti nyawanya.

Tak ada yang mampu menolongnya, hingga nyanyian merdu membangunkan jiwanya

Menggerakkan tangannya, memacu jantungnya, membuka matanya

Tak pernah semerdu ia mendengar nyanyian, tak pula di taman-taman istananya

Dan seeokor burung pun berbicara, bahwa ia utusan Sang Maha

Menyampaikan pesan bahwa tanah legenda hanya bisa dimasuki jiwa yang tenang

Maka masuklah ia ke tanah di balik padang pasir, tanah legenda yang memberi harapan

Bukit mentari, hingga sang laki-laki mendirikan kerajaan di sana, Kerajaan Kebahagiaan

“Aku tahu lagu itu,” Sandri memberikan senyuman penghargaan kepada sang penyanyi. “Tentu saja. Seluruh penduduk Bukit Mentari tahu lagu itu. Legenda Raja Tanriy. Asal mula berdirinya kerajaan ini,” balas si anak lusuh.”

“Dengan begini telahlah kita menjadi teman.”

“Teman?” Sandri terheran seolah pertama kali ia mendengar kata itu.

“Ya. Teman adalah orang yang mau mendengarkan kita bernyanyi, meskipun sumbang, meskipun sudah tahu lagunya.”

“Ah, ya. Baiklah, teman,” Sandri yang sedari tadi duduk tegak mulai melonggarkan posisinya. “Apa yang bisa kuberikan sebagai balas budi atas nyanyianmu, teman?”

“Ceritakan kepadaku mengenai kastil. Kami anak-anak desa hanya bisa melihat kegagahannya dari jauh. Terkadang kembang api meluncur tinggi pada hari Rabu atau Sabtu. Lagipula, bagaimana kau bisa ke sini tanpa pengawasan penjaga, teman?”

“Ada bagian dinding yang retak di sisi utara. Memang di sana adalah lapisan paling tipis. Para pekerja kastil yang dibuai oleh alkohol membuatnya selama bertahun-tahun dibiarkan. Komplek kastil sangatlah luas, kau tahu, teman? Bahkan di bawah tanah ada lorong dan jalan-jalan rahasia. Akan kuceritakan padamu besok bersama peta kastil.”

Si anak desa tersenyum memamerkan lebar bibirnya yang kotor. “Terima kasih, teman. Besok, di jam yang sama, mari saling bertukar cerita di tepi danau ini.”

***

Tidak biasanya pagi sudah berisik di gedung utama kastil. Seorang wanita kerabat Raja berteriak marah dan menangis, setelah semalam melihat cairan kekuningan dari kemaluan suaminya. Skandal perselingkuhan bukanlah yang pertama dan tidak lagi sebagai kejadian luar biasa. Gosip di antara penghuni kastil mengalir ke berbagai arah hingga ke setiap sudut sempit.

Tapi bukan itu keributan terbesar. Raja sakit. Burung bersuara merdu di sangkar yang sebelumnya mampu mengobati semua penyakit raja tak lagi dapat menyembuhkan. Berkali-kali Raja meminta sang burung bernyanyi, tapi tetaplah sama.

Keributan bukan hal yang menyenangkan bagi Sandri. Hingga ia tepat di sudut yang sudah sangat familiar. Sudut yang tak pernah berubah. Mengherankan memang kerajaan yang mengklaim kaya raya tak pernah memerhatikan bagian sudut kastil yang sedikit retak. Dan sandri kemudian sedikit membungkuk.

***

“Ada apa teman?” Sandri menghampiri teman barunya yang bermuka sedih.

“Ayah temanku di desa baru saja memejamkan mata untuk selamanya.”

“Ah, turut berduka, teman.”

“Masyarakat desa sangat miskin, kau tahu itu, temanku yang tinggal di komplek kastil?” ujar teman Sandri. “Ironis, bukan? Walau memiliki nama Kerajaan Kebahagiaan, seluruh rakyatnya kelaparan. Hampir setiap hari selalu ada warga yang meninggal, seolah nyawa mereka begitu murah.

“Tapi itu tak terjadi padamu bukan, teman penghuni kastil?” Sandri sedikit menundukkan kepala mendengarnya. “Walau pun, sering kami didatangi burung bulbul bersuara merdu. Ia adalah utusan Sang Maha, berkeliling negeri semenjak subuh. Adalah kesaksian atas penderitaan rakyat yang kan ia sampaikan, juga tugasnya melantukan melodi yang dapat menyembuhkan.”

“Burung bulbul?” Sandri teringat dengan apa yang menggantung di samping tahta ayahnya. “Ya. Kini ia sudah ditangkap oleh Raja, dan kabarnya burung mulia itu terus dipaksa bernyanyi hanya demi kepuasan Raja. Betapa malangnya dia.

“Tapi itu semua adalah skenario Sang Maha. Tak lama lagi, tugas burung bulbul kan segera selesai,” tetiba teman Sandri tersenyum lebar, pandangannya menusuk tajam langit. “Ah, teman, mari penuhi janji kita kemarin. Di tepian danau ini, mungkin saja kelak kan ada penyair yang menuliskan lagu tentang pertemanan anak desa dan anak penghuni kastil.”

“Ah. Aku ingin sekali mendengarnya, jika kan ada,” ujar Sandri.

“Aku yakin kelak kan ada. Sekarang, kau bawa peta kastilmu?”

***

Kaki Raja menghitam dan berbau busuk. Di tahtanya, Raja mencak-mencak kepada burung yang bertengger di sangkar mewah di samping tahtanya. Kemudian, burung itu tak terlihat lagi di sangkar, dan Sandri mendengar bahwa Raja akan menyantap hidangan khusus malam tersebut: daging burung.

Tapi keributan belum berhenti. Sepertinya para penasihat Raja, terutama panglima pasukan kerajaan, terlihat panik dan berkeringat deras. Sedikit Sandri mendengar pertemuan yang berisik itu. Bahwa ribuan pasukan berbaju besi dan ketapel api dan menara perang siap memberikan kunjungan. Tersiar juga desas desus masyarakat desa yang memberikan bantuan perbekalan—yang sangat sedikit itu—kepada mereka. Sebagai gantinya mereka diberi tombak, pedang, dan perisai: siap bergabung untuk menjatuhkan kastil.

Tapi Raja seolah tak peduli. Baru saja kakinya yang membusuk dipotong. Ia hanya berbaring dalam air mata dalam peraduannya, tak percaya dirinya yang begitu mulia menjadi manusia tanpa kaki. Akhirnya, dalam keadaan kehilangan pemimpin, panglima bergerak sendiri menyiapkan pasukan. Tapi kapan terakhir kali mereka berlatih perang? Pesta pora telah melemahkan pegangan mereka, meruntuhkan mental mereka.

Tak lama pun, di hari bersejarah itu—mungkin saja akan ada penyair yang menggubah lagu Tembok Rapuh Kerajaan Kebahagiaan—benteng dihancurkan dengan mudah. Di sana, di sudut yang tak pernah berubah. Mengherankan memang kerajaan yang mengklaim kaya raya tak pernah memerhatikan bagian sudut kastil yang sedikit retak. Pasukan musuh pun dengan mudah melewatinya, layak tamu yang sopan.

Raja dan Ratu entah di mana. Mereka sudah kabur melalui lorong rahasia, tapi tak lama. Entah bagaimana caranya namun sepertinya musuh sudah mengetahui detil seluruh lorong dan jalan rahasia. Raja dan seluruh keluarganya tak ada yang lolos dari hukuman pancung.

Sandri pun sendiri. Tak ada yang memedulikan kehadiran anak kecil di tengah perang. Tak ragu sedikit pun bahwa ia akan ditinggal kabur oleh orang tuanya. Seharian ia duduk di padang rumput di bukit mentari, memandangi kastil yang dulu didiaminya diporak-porandakan musuh.

Kemudian, bertepatan dengan terbitnya matahari di ufuk timur, perang usai. Bendera baru berkibar. Seluruh rakyat yang dahulunya bagian dari Kerajaan Kebahagiaan bersorak bahagia, meyambut harapan baru. Tapi Sandri hanya seorang diri, berjalan perlahan menuju reruntuhan kastilnya. Ia memandang keramaian selebrasi dalam lamunan. Tanpa arti, sebagaimana hatinya yang sepi.

Dua tiga manusia berbaju besi nan gagah pun menghampirinya, menaikkan tangan mereka untuk mengusirnya, namun diputus oleh suara nyaring bagaikan kicauan.

“Suatu saat, aku yakin akan ada yang menyanyikan lagu mengenai kita, teman.” Teman Sandri kini tak lagi lusuh, namun memakai baju megah dengan emblem kerajaan di dadanya. “Jika kita bertemu kembali nanti, maukah kau menyanyikan lagu itu untukku, teman?”

Sandri diam. Memandang temannya tanpa arti, sebagaimana kini fisiknya pun merasa sepi. “Ya, teman. Walaupun kelak kita bertemu dalam keadaan saling berhadapan, aku akan menyanyikannya. Hari ini adalah terakhir kalinya aku memanggilmu ‘teman’, tapi aku yakin, walau suaraku sumbang, walau kau sudah tahu lagunya, kau akan tetap mendengarkannya.” Sandri menatap tajam lawan bicaranya, tak memedulikan pasukan berbadan besar dan berwajah keras di sekitarnya. “ Aku akan sangat menunggu waktu itu, Sandri.”

“Ah, aku pun begitu, Pundra. Selamat tinggal.”

Bertepatan dengan terbitnya matahari di ufuk timur, Raja baru berdiri tegak di Bukit Mentari. Namun alam di sana masih sama. Padang rumput yang membentang luas ditemani bukit-bukit. Bukan bukit yang tinggi sehingga seorang bocah seperti Sandri tak perlu khawatir kelelahan. Juga pohon rindang di atas, semak-semak yang sedikit, dan petak-petak ladang. Namun, di balik semua keindahan itu, terdapat padang pasir yang tak berbelas kasihan kepada manusia. Enam ratus tahun lalu terdapat nyanyian mengenai raja pertama yang melintasi keganasan tersebut. Kini, seolah ingin mengulangi sejarahnya, seorang anak melangkahkan kakinya di sana dengan mantap.

Langkah anak tersebut penuh arti, walaupun hatinya selalu sepi.

Categories: narasi | 1 Comment

Halaman Terakhir

lastpageKapankah suatu cerita berakhir? Dalam novel-novel picisan yang suka kita baca, akhir suatu perjalanan dapat diketahui di halaman terakhir. Setebal apa pun buku itu, sepanjang bagaimana pun perjalanannya, selalu akan ada halaman terakhir untuk menutup kisah.

Apakah halaman terakhir adalah begitu ditunggu-tunggu? Mungkin kita telah berubah menjadi generasi instan. Kemudahan mendapat informasi dan kecanggihan fasilitas yang ada membuat manusia modern ingin serba praktis. Tidak perlu seseorang menulis panjang lebar di koran, majalah, atau website untuk mengutarakan pendapat. Kicauan-kicauan singkat di twitter dan status yang selalu diperbarui di facebook cukup untuk merangkum semua. Kita telah mempelajari di bangku sekolah mengenai komponen tulisan, tujuan-tujuannya, dan kesimpulan penutup. Namun tulisan singkat di media sosial tak pernah membutuhkan itu.

Kebiasaan menulis dengan singkat juga menumbuhkan budaya membaca dengan singkat. Dulu ada teknik membaca cepat dengan beragam caranya, tapi kini metodenya berubah: cara membaca singkat yaitu hanya baca tulisan yang singkat. Jika suatu tulisan terlalu panjang, segera ditutup dengan alasan agar tidak mebuang waktu—padahal seringnya waktu kita digunakan untuk hal yang tidak bisa dijelaskan.

Melompat langsung ke halaman belakang agar tahu kisah akhir dalam waktu pendek—itukah tujuan membaca suatu cerita? Tentu banyak pesan yang hendak disampaikan, tapi hal tersebut jarang sekali berada di halaman terakhir.

Suatu perjalanan bernilai berharga dan mendebarkan ketika berada di tengah, bukan di akhir. Apakah itu perjalanan yang menyedihkan ataupun membahagiakan, terkadang sang pelaku sendiri tidak ingin tahu bagaimana endingnya. Kesulitan, kesedihan, dan kesenangan membuatnya begitu sibuk dan asyik, tak peduli dengan halaman terakhir. Begitu pula seseorang yang begitu bekerja keras untuk mendapatkan kekayaan—pada akhirnya ia akan memahami bahwa petualangan keras untuk meraihnya jauh lebih berharga ketimbang harta itu sendiri.

Mungkin tidakhlah perlu berimajinasi bagaimana halaman terakhir berkisah, karena akhiran ditentukan oleh proses. Tentu seringkali ada hal yang tidak terduga, apakah musibah atau mukjizat, yang bisa sangat mengubah jalan cerita. Tapi tidak perlu khawatir, karena narasi memang tidak pernah menarik jika tidak ada hal yang mengejutkan di tengah-tengah.

Ketika menuliskan cerita, komponen konflik harus selalu ada: itulah yang membuatnya menarik. Tanpa konflik maka tidak ada cerita. Itu pula yang membuat sang pembaca tenggelam dalam keasyikan. Sang tokoh utama pun mungkin merasakan demikian. Di akhir narasi, kita pun sadar bahwa konflik adalah sesuatu yang sebaiknya disyukuri.

Akhir dari kehidupan selalu kematian. Ngeri, menyeramkan setiap kali dibayangkan. Katanya tak ada yang menandingi rasa sakit saat menuju kematian. Kemudian hal-hal sesudahnya, lebih merinding lagi untuk dipikirkan. Tapi tentu bukan akhiran tersebut yang menjadi cerita utama. Tidak ada tempat untuk menceritakan kematian, karena orang yang sudah mati tak pernah kembali. Sebaliknya, petualangan-petualangan di dalamnya seringkali menjadi sang penentu kualitas kematian. Apa yang dikenang oleh orang-orang pun bukanlah bagaimana akhir hidup atau proses kematian, melainkan cerita perjalanan hidupnya.

Tidak perlu tergesa membuka halaman terakhir, karena ia sesuatu yang mutlak. Jalan cerita yang dipaparkan oleh penulis di halaman awal dan akhir menentukan penutup cerita. Setiap manusia yang hidup adalah penulis bukunya masing-masing. Tinta yang ia torehkan di halaman awal dan tengah akan menentukan akhir hidupnya. Tentu saja, pembelokan plot cerita di tengah sangat mungkin dilakukan setiap penulis dan hal tersebutlah yang membuat cerita menjadi layak dibaca.

Namun kisah tidak selalu berakhir dalam satu buku. Pun ternyata kematian bukanlah penutup yang absolut, melainkan hanya istilah lain dari kata “bersambung”. Akan ada buku kedua atau sekuel. Cerita seperti apa yang akan ada di buku lanjutan? Seperti pada novel-novel picisan yang suka kita baca, bahwa isi cerita di buku kedua ditentukan oleh jalan cerita di buku pertama.

Categories: merenung | Leave a comment

Bukan Hanya Tentang Jas Putih

white coat

white coat

Tak perlu diragukan lagi bahwa profesi dokter adalah terhormat. Di mana-mana, baik di kota maupun di desa, begitu pula di luar negeri, dokter dianggap sebagai profesi berprestise tinggi. Seorang dosen ilmu kesehatan masyarakat pernah bercerita, bahwa di desa seorang dokter pun akan ditanyakan pendapatnya mengenai persawahan. Memang tidak banyak orang pintar alias berpendidikan tinggi yang mau membaktikan diri di desa atau tempat terpencil, kecuali dokter yang sedang dalam penempatan atau sengaja menetap. Pun di kota besar. Seorang yang mengenakan jas putih terkesan memiliki harta penghasilan yang besar karena pekerjaannya. Walau sebenarnya, tidak sedikit dokter yang hidupnya cukup sederhana.

Bila anak-anak kecil ditanyakan, “kalau gede mau jadi apa?” jawabannya biasanya antara “mau jadi presiden” dan “mau jadi dokter”. Gambaran status tinggi yang melekat pada diri dokter telah melekat pada benak masyarakat semenjak kecil. Setidaknya teman-teman dari fakultas lain pun berkomentar hal yang kurang lebih sama. Seolah dokter adalah orang yang paling pintar, terjamin kesuksesannya, dan berkedudukan tinggi. Memang isu bahwa banyak dokter yang kondisi ekonominya menengah ke atas—terutama dokter spesialis—adalah fakta.

Mungkin inilah salah satu alasan banyak yang berlomba-lomba kuliah kedokteran. Universitas-universitas swasta pun menyambutnya dengan berlomba pula membuka program studi tersebut. Tentu alasan menjadi dokter amatlah bervariatif, namun satu alasan ini bisa jadi irisan yang sama di antara alasan-alasan yang lain.

Saat tengah menjadi mahasiswa, rasanya adalah mimpi dapat mengenakan jas putih seperti para konsulen, diiringi tanda pengenal dengan titel “dr.” di belakang. Terkadang, berbekal jas laboratorium atau jas koas, serta stetoskop dikalungkan, sudah bisa menjadi foto yang bagus untuk dipajang di medsos.

Setelah pendidikan kedokteran yang panjang dan melelahkan selama 5 tahun atau lebih, akhirnya mimpi itu tercapai. Satu hal yang tidak boleh dilewatkan ialah berfoto sambil mengenakan jas dokter sungguhan dan kalung stetoskop. Ya, kebanggaan yang pantas setelah usaha yang keras dan lama untuk meraihnya.

Tapi sepertinya euphoria itu tidak berlangsung lama. Secara umum pendidikan kedokteran terkenal lama karena minimal ditempuh selama 5 atau 6 tahun. Walau demikian, pendidikan sekian tahun tersebut kemudian kan disadari serasa “tidak cukup”. Cakupan ilmu yang sangat luas ditambah tanggung jawab yang besar karena menangani kehidupan manusia tidak kan pernah membuat seorang dokter merasa cukup.

Lima atau enam tahun pendidikan dokter umum hanya menghasilkan pengetahuan yang sepotong-sepotong dan terbatas. Kasus-kasus yang butuh penanganan mendalam di rumah sakit ataupun pelayanan primer harus dikonsultasikan ke dokter spesialis. Seorang dokter untuk menjadi spesialis mesti sekolah kembali selama 4-5 tahun—ada pula yang 6 tahun. Terkadang—dan tidak jarang—seorang dokter spesialis berkonsultasi ke dokter subspesialis atau spesialis konsultan untuk kasus-kasus khusus. Begitu pula untuk menjadi subspesialis atau spesialis konsultan, diperlukan pendidikan formal alias sekolah kembali selama 2-3 tahun.

Ternyata tidak berhenti sampai di sana. Dokter yang memutuskan untuk menjadi dokter primer, begitu juga para spesialis, harus selalu mengikuti perkembangan ilmu kedokteran dengan mengikuti berbagai seminar dan workshop ilmiah—yang rata-rata biayanya tidak murah. Setiap 5 tahun sekali ada kewajiban memperbaharui regitrasi dokter. Untuk registrasi ulang tersebut membutuhkan nilai kredit tertentu, dan pundi-pundi kredit hanya bisa didapat dengan mengikuti simposium ilmiah tersebut.

Seminar akan memaparkan ilmu dan penatalaksanaan mutakhir. Penelitian terbaru mencabut penelitian sebelumnya, akibatnya prosedur tetap penanangan suatu penyakit berubah dari begini menjadi begitu. Juga penggunaan obat ini yang selama ini dipakai untuk penyakit itu, setelah diteliti, ternyata memiliki efek demikian, sehingga bla bla bla. Karena itu penanganan darah tinggi tidak lagi menggunakan guideline 2003 melainkan 2013. Dan sebagainya, dan sebagainya.

 

Artinya apa?

 

Ilmu mengenai kesehatan dan penyakit makhluk komplikatif yang disebut manusia sangatlah luas dan terus berubah. Masih banyak teori dan guideline yang dapat terus berubah seiring berkembangnya penelitian dan penelitian. Adalah merupakan tanggung jawab dokter untuk terus mempelajarinya agar dapat memberikan pelayanan optimal. Hal ini dikarenakan setiap orang yang bertitel “dr.” telah melantunkan sumpah profesi. Satu di antara 13 sumpah itu adalah “saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita”. Bagaimana mungkin dapat mengutamakan kesehatan penderita bila pengetahuan dan keterampilan tidak terus diasah dan diperbaharui?

Tapi ternyata bukan hanya ilmu kedokteran yang terus perlu ditempa. Dokter yang telah menjalankan tugasnya sesuai prosedur, namun tidak mampu mengkomunikasikannya ke pasien dan keluarga, dapat berakhir di penjara. Entah memang komunikasinya yang buruk, atau karena ada pengacara yang “berjaga” di rumah sakit.

Pada akhirnya, jas putih, kalung stetoskop, dan titel “dr.” tidak berarti apa-apa bila tidak diimbangi dengan ilmu yang harus terus diasah. Sebaliknya, hakikatnya mereka adalah beban yang direkatkan di pundak, untuk kelak dipertanggungjawabkan yang bukan hanya kepada manusia. Dan tetap, sejak zaman hipocrates hingga sekarang, dokter adalah profesi terhormat. Setiap dokter berkewajiban untuk menjaganya, sesuai yang telah diikrarkan, “saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhu jabatan kedokteran”.

Euforia memang tidak kan bertahan lama. Seorang dokter spesialis yang cukup populer di jagat maya pernah berujar di medsosnya, bahwa mahasiswa kedokteran atau dokter baru akan begitu bangga bekerja mengenakan jas putih, namun dokter yang sudah senior akan jarang memakainya. Mungkin alasannya beragam, bisa karena gerah, atau baginya jas putih bukanlah barang spesial lagi, melainkan yang terpenting adalah keilmuan dan kemampuannya menangani pasien dengan baik.

Profesi kedokteran adalah sama seperti yang lainnya. Terpenting bukanlah saling membangga-banggakan atas satu sama lain. Setiap profesi memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing, dan kesemuanya diperlukan untuk menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.

 

White coat doesn’t make you a doctor; knowledge, skill, and attitude do

Categories: merenung, pembelajaran | Tags: , , | Leave a comment

Idul Adha Ikut Tanah Suci atau Pemerintah?

Pada tahun 2015 atau 1435 Hijriyah ini, negara Arab Saudi menetapan 10 Dzulhijah pada hari Sabtu, 4 Oktober. Hari raya penyembelihan kurban di sana pun akan dilaksanakan pada hari Sabtu dan para jamaah haji akan melaksanakan wukuf Arafah pada hari Jumat, 3 Oktober.

http://news.detik.com/read/2014/09/25/013121/2700346/10/arab-saudi-tetapkan-wukuf-3-oktober-sambut-haji-akbar

Di sisi lain, pemerintah melalui siding itsbat Kementerian Agama menetapkan 10 Dzulhijah atau hari raya Idul Adha pada Ahad, 5 Oktober (http://www.tribunnews.com/nasional/2014/09/25/sidang-itsbat-kemenag-menetapkan-idul-adha-1435-h-5-oktober-2014). Akhirya muncul pertanyaan, ikut yang mana, tanah suci atau pemerintah? Kalau mengikuti pemerintah, berarti puasa Arafah dilakukan hari Sabtu, 4 Oktober, padahal di tanah suci hari tersebut sudah memasuki waktu haram berpuasa!

Keutamaan puasa Arafah yang dilaksanakan pada 9 Dzulhijah tidak diragukan. Rasulullah saw. berkata, “Puasa satu hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Puasa hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim, no 1162, dari Abu Qatadah). An-Nawawiy ra. Berpedapat bahwa jenis dosa yang diampuni ialah dosa kecil bukan dosa besar (Al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab, 6/382). Mengenai pengampunan dosa yang akan datang (belum dilakukan), ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan jika nanti berbuat dosa, puasa Arafah yang telah dilakukan menjadi penghapus dosanya. Sebagian lagi berpendapat maksud dari hadis tersebut ialah Allah menjaga dirinya dari berbuat dosa (Al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab, 6/381).

Jadi ikut yang mana?

Sebagaimana pada penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal, yang terbaik ialah mengikuti mayoritas kaum muslim di wilayah masing-masing. Rasulullah saw. berkata, ““Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani).

Begitu pula cerita seorang sahabat ketika ia sedang berkunjung ke Syam. Di sana, ia telah melihat hilal, sehingga pendudukdi Syam memasuki hari raya berbuka (idul fithri). Ketika kembali ke Madinah, Ibnu Abbas mengatakan bahwa penduduk Madinah belum melihat hilal, sehingga menggenapkan puasa menjadi 30 hari. Ketika sang sahabat bertanya mengapa tidak mengikuti daerah yang sudah melihat hilal, dijawab, “Tidak, seperti ini yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim no. 1087)

Yusuf Qardhawi dalam bukunya “Fiqh Puasa” telah menjelaskan panjang lebar bahwa bersatu dalam hal seperti ini harus lebih diprioritaskan ketimbang bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Begitu pula dengan masalah penetapan hari raya pada satu negara. Beliau berpendapat adalah hal yang sangat disayangkan bila dalam satu negara—apalagi negara mayoritas muslim—ada perbedaan waktu hari raya. Kebersamaan umat Islam dalam satu waktu hari raya akan lebih indah dan mempersatukan umat.

Banyak yang berkilah “hargai perbedaan pendapat” atau “perbedaan itu indah”. Betul sekali bahwa berbeda dalam hal-hal prinsip bukalah masalah, tapi seharusnya penetapan hari raya umat Islam tidak termasuk dalam kategori ini. BIsa dibayangkan dalam satu kota, atau satu kecamatan, atau satu kelurahan/desa—atau malah satu rumah *geleng-geleng kepala*—sebagian ada yang sudah berhari raya (baca: makan-makan) dan sebagian masih berpuasa? Kita bersyukur perbedaan ini tidak menyebabkan konflik, namun tetap saja bersama-sama berhari raya akan lebih menumbuhkan persadaraan/ukhuwwah.

Berlapang dada atau mengalah dalam perbedaan pendapat di masalah cabang/nonprinsip demi kebersamaan dan persatuan insyaAllah lebih diutamakan. Karena itu, sangatlah dianjurkan umat Islam di Indonesia mengikuti jadwal hari raya yang ditetapkan oleh kebanyakan, atau dalam hal ini adalah pemerintah.

Wallahu a’lam

Eid-ul-Adha-9

Categories: pembelajaran | Leave a comment

Tanggapan Terhadap Tuduhan “PKSvsPKI”

Sy akan mencoba untuk mengklarifikasi ttg kultwit “PKIvsPKS” oleh akun yg diyakini sbg Prof Sahetapy. Rasa untuk perlu melakukannya, selain agar benderang, juga krn isinya yang benar-benar mencengangkan (sy baru selesai membaca seluruh 340 twit itu) atas fitnah yg sangat tidak berdasar dan penuh rasa benci.

Berikut link tulisan PKS versus PKI.

Ini klarifikasi berdasar pengetahuan sy. Bismillah

1. Pengertian komunisme, menurut orang ini, adalah egois dan menganggap pahamnya saja yg benar. Sy heran, pengertian ini dari mana? Setelah membaca pengertian komunisme dari berbagai sumber, tdk ada yg menunjukkan pengertian atau sifat yg disebutkan ini. Mungkin orang2 yg memiliki minat terhadap ilmu politik bisa menjawab ini? Ini pengertian komunisme yg sy dapat:

“communism, the political and economic doctrine that aims to replace private property and a profit-based economy with public ownership and communal control of at least the major means of production (e.g., mines, mills, and factories) and the natural resources of a society.” (encyclopedia britannica)

“1.a theory or system of social organization based on the holding of all property in common, actual ownership being ascribed to the community as a whole or to the state.2.( often initial capital letter ) a system of social organization in which all economic and social activity is controlled by a totalitarian state dominated by a single and self-perpetuating political party. (Dictionary.com)

2. “Bagi para politikus, agama adalah bisnis” Twit ini jelas2 menunjukkan bahwa dia menganggap semua parpol yg berbasis agama berpolitik dgn menjadikan agama sebagai bisnis. Kita tau parpol berbasis agama tdk hanya pks. Apakah ia menganggap semua parpol itu menjadikan agama sebagai bisnis?

3. Bahasan mengenai islam, politik, dan negara sangatlah panjang. Mempelajari dan memahaminya sendiri mungkin butuh waktu bertahun-tahun. Namun, dlm Islam, agama, politik, negara, bahkan ekonomi bukalah hal yg terpisah. Islam mengatur berekonomi sebagaimana ia mengatur solat. Islam mengatur bernegara sebagaimana ia mengatur berhaji. Dalam kitab fiqh, selalu ada pembahasan mengenai bernegara.

4. Ia bilang, jika Islam diterapkan dalam pemerintahan,tidak semuanya kan menerima. Namun sayangnya, sejarah menorehkan tinta emas mengenai pemerintahan Islam. Kita sering dengar pemerintahan yg berbasiskan Islam, selain sangat menjamin kerukunan beragama, juga membawa ke kemajuan dan kesejahteraan. Salah satu contoh ialah Andalusia. Cordoba saat itu dikenal sbg pusat ilmu pengetahuan. Di Granada, ada jembatan batu yg sangat megah, yg menghubungkan dgn La Mesquita. Saat Ratu Isabella dan kawan2nya menginvasi ke sana, mereka heran, bagaimana mungkin bisa membangun jembatan yg begitu megah di zaman itu? Kedamaian pun berakhir ketika ratu itu mengambil alih Andalusia. Di spanyol, ada lembah yg diberi nama “Anjing Terjatuh”, karena lembah itu merupakan tempat orang-orang muslim dijatuhkan ke jurang pasca invasi Isabella….(kisah ini diceritakan sendiri oleh orang Spanyol).

5. Kita perlu memahami “politisasi agama”, yg berarti benar-benar menjadikan agama sbg senjata politik. Sy beri contoh seorang yg sebelumnya ga pake jilbab, namun pake jilbab saat ada agenda politik, lalu dilepas setelah agendanya selesai. Siapa dia? Ga perlu disebut, krn bukan untuk mencari kambing hitam. Yg dikritisi bukanlah pelakunya, melainkan kelakuannya. Hal ini berbeda dgn “Islamisasi politik”, yg berarti mencelupkan warna islami ke dlm pemerintahan.

6. Di twit ini, sangat sangat sangat banyak pernyataan bahwa pks “memaksakan ajaran mereka”. PKS disebut memaksakan “keadilan distributif ala Islam”. Pertanyaannya, sejak kapan pks memaksa? Apakah pks di parlemen pernah memaksakan pemberlakuan syariat Islam? Pernah memaksa utk memotong tangan bagi pencuri? Apakah gubernur jawa barat Ahmad Heryawan atau gubernur sumatera utara Gatot Pujo pernah memaksakan syariat islam di peraturan pemerintahnya?Bagaimana mungkin pks memaksakan kehendak mereka, padahal masuk ke dalam Islam saja ga ada paksaan, karena Allah berfirman, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (Al Baqarah: 256) (atas dasar ayat Al Quran ini pula kita tidak bisa membenarkan tindakan ISIS)

7. Ada apa dengan “keadilan distributif ala islam”? Pernahkah orang ini mempelajari ttg keadilan distributif tersebut? Distribusi di sini sangat berbeda dengan distribusi komunis. Islam mengenal hak kepemilikan. Setiap orang berhak atas harta yang diperoleh dengan jerih payahnya. Distributif ala Islam memastikan bahwa harta kekayaan tidak menumpuk di orang-orang tertentu saja. Karena itulah Islam mewajibkan umatnya berzakat, agar harta juga beredar di orang-orang yang membutuhkan. Islam juga melarang harta ditumpuk tanpa ada pemanfaatan, melainkan harta harus terus berputar, supaya terus termanfaatkan. Adakah yang salah dengan keadilan distributif ini? Mengapa orang ini mempermasalahkan? Apakah orang ini menentang “keadilan distributif” karena mendukung ekonomi kapitalis ala negara liberal? Entahlah.

8. PKS juga dianggap menyebarkan paham universal internasionalis. Dia pun mengatakan Indonesia tidak bisa disamakan dengan dunia luar. Pernahkan pks menginginkan Indonesia sama dengan dunia luar? Dalam acara-acara resmi pks, tidak jarang menampilkan tarian dan budaya tradisional. Apakah pernah ada usaha pks menghilangkan budaya-budaya tradisional dan menggantinya dengan budaya arab? Para kader dan politisi pks jarang (atau mungkin ada yg ga pernah) memakai baju gamis ketika berkegiatan. Selain menggunakan kata-kata seperti “ana, antum” dalam kondisi terbatas, kader partai juga tidak canggung memakai kata “gua, elu”. Apa maksud dari pernyataan orang ini “menyamakan Indonesia dengan dunia luar”?

9. Dia menyatakan bahwa paham yang menginginkan Indonesia menjadi Negara Islam harus dibersihkan. Mendiskusikan Negara Islam sangatlah panjang. Namun, negara Islam bukanlah berarti mengganti identitas Indonesia menjadi “Negara Islam Indonesia”, melainkan tetap sebagai “Negara Kesatuan Republik Indonesia” yang diberkahi oleh Allah melalui penerapan ajaran-ajaran Islam yang sama sekali tidak merugikan siapa pun termasuk nonmuslim. M. Natsir, dalam pidatonya di sidang konstituante, menerangkan bahwa Islam sama sekali tidak merusak apa yang telah tertulis dalam Pancasila, malah melengkapinya. Jika diterapkan, M. Natsir menambahkan, tidak akan sedikit pun merugikan dan mengurangi hak kaum minoritas, sebaliknya malah menguntungkan. Perlu dicatat, parpol yang berazaskan Islam tidaklah melanggar konstitusi. Usaha parpol atau pihak untuk mewarnai pemerintahan dengan nilai-nilai Islam selama tidak melanggar konstitusi negara (sebenarnya tidak akan pernah melanggar karena tidak bertentangan) adalah dibolehkan. Karena itu, jika ada pihak yang ingin membersihkan paham ini maka itu menunjukkan mereka sebenarnya tidak siap berdemokrasi.

10. Prof Sahetapy menjelaskan bahwa “siapa pun yang menentang pemahaman pks, maka oleh kader pks disebut sebagai antiIslam”. Wah, ini tuduhan yang sangat serius. Pernahkah ada kader pks yang demikian? Apakah orang-orang muslim yang tidak memilih pks berarti antiIslam? Tidak setuju dengan apa yang disampaikan pks disebut antiIslam? Benar-benar ide yang sangat konyol. Tidak pernah sekalipun ada ajaran semacam ini. Gerakan-gerakan dakwah yang tidak sepaham bahkan menentang pks ada banyak. Namun tidak pernah pks mencaci dan menyebut mereka musuh, melainkan mereka dipanggil sebagai “saudara seiman yang berbeda jalan”.

11. Orang yang memberikan klarifikasi atas tuduhan yang diberikan kepada pks maka akan disebut “membela mati-matian pks”. Yahh, hal ini sudah sangat umum. Setiap kader partai yang membela dan mengklarifikasi partainya akan disebut ”membela mati-matian” dan “fanatik buta”. Hal yang sama juga pernah diarahkan ketika para dokter turun aksi ke jalan menuntut keadilan atas dokter Ayu. Sy menulis klarifikasi ini pun mungkin akan disebut “membela mati-matian pks”, heheh.

12. Di twit no. 63, disebut partai lain yang melawan pks sesungguhnya melawan ideologi komunis. Ideologi islam yang dibawa pks disamakan dengan komunis. Padahal, tidak sedikitpun apa yang dibawa pks seperti ajaran komunis yang telah disebutkan di atas. Setiap kader berhak atas harta yg diperolehnya. Komunis secara politik berarti hanya mengakui satu partai, yaitu partai komunis. PKS sendiri berkoalisi. Adakah pks tidak mengakui eksistensi partai lain dan menganggap HANYA partainya yang benar sendiri? Bukankah pks berkoalisi? Orang ini jg bilang pks adalah komunis agamis. Padahal tokoh komunis, Stalin, mengatakan agama hanyalah takhayul yg menghambat produktivitas. Tokoh komunis Cina jg membuat pernyataan terkenal “religion is a poison”.

13. “PKS lebih peduli palestina ketimbang TKI”. Prof Sahetapy udah pernah baca berita ini belum ya? Monggo bagi yg belum baca jg bisa diintip:

Kampanye di Semarang, PKS kumpulkan dana untuk TKI Satinah

PKS Usulkan Pembenahan Perlindungan TKI

PKS dan TKW-TKI di Malaysia

14. Palestina bukan hanya isu milik umat Islam, terlebih hanya milik pks. Dikatakan oleh prof ini bahwa tindakan membenci AS merupakan warisan ajaran Uni Sovyet kepada para partai komunis semenjak perang dingin. Apa hubungannya isu palestina dengan Uni Sovyet dan partai komunis? Memangnya rusia menentang Israel dan terang-terangan membantiu palestina? Dihubung-hubungkan bahwa pki dan pks sama-sama menjadikan AS sebagai musuh bersama Sejak kapan pks menjadikan AS musuh bersama? Bukankah banyak sekali kader pks yang belajar menuntut ilmu ke negeri paman sam sana? Seorang petinggi partai, Nur Mahmudi Ismail (kini walikota Depok), meraih gelah Phd Science Food and Science Technology di Texas A & M University, Amriki. Tidak pernah AS dijadikan sebagai musuh, melainkan kebijakan-kebijakan politik luar negerinya yg merugikan umat. Bukan rahasia lagi bahwa AS merupakan negara penyumbang terbesar ke Israel. Saat PBB mengajukan voting utk pengusutan kejahatan kemanusiaan di Gaza, AS malah menolak. Karena ini, bukan hanya pks yg membenci kebijakan tersebut, melainkan juga para pejuang kemanusiaan di seantero dunia.

15. Demo menentang kekerasan Israel bukan hanya di Indonesia. Kawan-kawan kita di eropa sana akan bisa bercerita panjang lebar tentang aksi  turun ke jalan dan boikot besar-besaran produk Israel. Ini bukan di Indonesia, tp di eropa. Malah dokter-dokter di belgia menolak pasien yahudi (semoga dokter-dokter di Indonesia tidak meniru langkah ini karena dokter telah disumpah untuk menangani pasien tanpa membedakan ras dan agama). Tapi oleh prof ini seolah-olah pks ikut-ikutan pki memusuhi AS dan Israel. Benar-benar pendapat yang aneh. Apa prof ini juga mau mengatakan orang-orang yg peduli dengan palestina di seluruh dunia sebagai kader pks?

16. PKS lebih mementingkan internasional ketimbang nasional. Prof, apa anda pernah melihat kader-kader pks yg turun di bencana Aceh, Padang, dll? Kisah aksi kemanusiaan kader di bencana Aceh sekilas diceritakan di buku “Sepanjang Jalan Dakwah”. Silakan intip kalau penasaran. Terlebih kader yang turun sebagai relawan di berbagai organisasi kemanusiaan. Ga terhitung jumlahnya. Mereka turun tangan walau tidak atas nama pks atau berlabel partai. Masih ingin menyebut mereka turun ke aksi kemanusiaan hanya untuk tujuan kekuasaan? Tidak lain untuk mengaplikasikan ajaran Rasulullah saw. yang sering disampaikan di pengajian rutin mereka: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, Thabrani).

17. Di twit no. 106, disebutkan bahwa zionisme merupakan kekuasaan yang ingin diciptakan AS. Lalu di twit no. 107, “Sayangnya, negara/gerakan yg tdk sepaham dengan imperialis hanyalah komunis…hanya kedua paham ini yg ada”. Twit ini merupakan yang paling mengejutkan. Apa maksudnya? Benarkah twit ini tulisan orang sekelas professor? Orang yg menentang imperialisme AS berarti orang yg berpaham komunis??? Berarti, jika tidak ingin menjadi komunis, kita harus mendukung paham liberalisme dan kapitalisme AS? Apakah semangat gotong royong negara kita sejalan dengan liberalisme dan kapitalisme, yang hanya mengutamakan kepentingan individual? Twit ini menyiratkan bahwa orang ini merupakan pendukung dan pro AS.

18. Twit no. 111 & 112 menuliskan pki tuding pebajabat hidup mewah sebagai orang liberal. Demikian juga pks. Ini dari mana informasinya ya? Kader pks ada banyak macamnya, mulai dari orang-orang kaya, yang didapat dari wirausahanya maupun profesinya, hingga orang yang serba kekurangan. Kader yg hidup dengan fasilitas mewah jumlahnya tidak sedikit. Dalam satu kelompok pengajian rutin, bukan hal yg aneh anggotanya terdiri dari orang yg kaya dan orang yg kesulitan keuangan. Meskipun beda status ekonomi, namun tetap mereka duduk bersebelahan. Malah guru ngajinya yg kekurangan ketimbang anggotanya jg hal yang biasa saja. Cerita anggota kelompok pengajian rutin membantu teman sekelompoknya yg membutuhkan sudah bukan berita asing. InsyaAllah mereka yg hartanya lebih menyadari kewajibannya untuk menyucikan hartanya melalui zakat dan sedekah. Lalu prof ini menuding pks menyebut orang yg hidup mewah sebagai orang liberal?

19. Twit no. 115-117 menuliskan bahwa kebencian terhadap AS merupakan ajaran Uni Sovyet. He! Hehehe! Aneh-aneh aja professor ini. Argumen ini seperti yang dibuat-buat.

20. No. 120: berdasarkan sejarah musuh Indonesia adalah Jepang, Belanda, dan NICA Inggris (maksudnya prof ini mengajak Indonesia—saat ini—memusuhi jepang dan belanda?). No. 123-124: AS yg membebaskan Indonesia dari penjajahan Jepang melalui bom atom (wah, prof, tau ga kalau cerita bom atom bagi rakyat AS sendiri adalah hal yang sangat memalukan? Native speaker asal amriki sendiri yg ngomong begitu. Sekarang prof ingin memasukkan dalam pelajaran sejarah bahwa seolah AS berjasa terhadap kemerdekaan Indonesia?). No. 125-126: pks mengajak memusuhi musuh komunis yaitu AS (apa hubungannya memusuhi kebijakan AS yg ga manusiawi dgn komunis?). No. 128-129: Israel blm pernah berkonfrontsi dgn Indonesia, tp secara misterius Indonesia memusuhi Israel karena agama (prof, suka baca berita? Yg mengecam Israel bukan cmn umat Islam. Bahkan PBB pun turut “mengecam”. Berapa jumlah masyarakat eropa dan negara-negara lain yg mengecam aksi kejahatan Israel? Ah, itu tanyakan aja ke teman prof yg di sana, punya kan?)

21. No. 139: PKS mencap kafir, dajjal, tukang fitnah, togut, musyrik kpd musuh-musuhnya. Musuh-musuh di sini maksudnya Israel dan kebjikan luar negeri AS? Yahh, kalau itu sih bukan cmn pks pak yg ngomong begitu.

22. Di twit selanjutnya dikatakan kemiripan pki dan pks adalah kemampuannya mengorganisasi massa dalam aksi turun ke jalan. Hoo, jadi ente mau nyebut para buruh, guru, dan mahasiswa yg lebih sering turun ke jalan secara terorganisasi sebagai pki?

23. No. 164: GAM mirip Ikhwanul Muslimin (IM), yaitu pergerakan dari senjata ke partai politik. Profesor yg terhormat, pernahkah anda membaca kisah IM di Mesir? Tidak pernah sekalipun IM menggunakan senjata. Mulanya ia adalah organisasi keagamaan yg berkembang menjadi organisasi politik, kemanusiaan, klub olahraga, dll. Yang ada malah kader-kader IM ditembak dan dibantai pemerintah Mesir. Pernah baca berita aksi kader IM dan masyarakat Mesir yg mendemo kudeta penggulingan Mursi, presiden yg terpilih sah secara demokratis? Ada berita mereka berdemo sambil menembakkan senjata? Kok yg sy baca malah mereka yg ga bersenjata ditembaki oleh para tentara ketika solat subuh ya?

24. No. 174-175: terjadi pelonjakan suara luar biasa karena politik identitas pks tahun 1999-2004. Wah prof, kalau hanya mengandalkan identitas berjualan agama, knp hal yg sama ga terjadi di partai Islam lain seperti PPP, PAN, PKB, dan PBNU ya?

25. No. 180-181: yg berseberangan dgn pks siap-siap disebut musuh Islam dan antek asing. Astagfirullah prof! Kapan ada orang pks yg bilang begitu? Organisasi Islam yg berseberangan dan malah ga suka dgn pks ada banyak, tp kok pks ga menyebut mereka antiIslam ya? Mereka malah menyebutnya tetap sebagai saudara. Pernah ada kader pks yg bilang bahwa orang yg ga sepaham dan ga milih pks sebagai antiIslam? Siapa? Kapan? Di mana? Tuduhan anda sangat serius prof!

26. No. 183: ketika Qurasih Shihab (QS) mengatakan blablabla tentang nabi Muhammad saw., pks langsung mengeroyok. Setau sy, prof ini adalah nonmuslim. Mohon maaf prof, dengan segala hormat, jika anda memang bukan muslim, sebaiknya tidak usah ikut berkomentar tentang hal ini. Pernah membaca hadis-hadis Rasulullah saw.? Jelas sekali bahwa beliau saw. dalam banyak hadis telah dijamin oleh Allah masuk surga karena rahmat Allah. Dalam video ceramah QS, kita bisa mendengar—dengan sangat jelas—dia mengatakan bahwa Muhammad saw. tidak dijamin masuk surga. Dan dari apa yg sy liat dan dengar, yg memprotes ini bukan hanya kader pks, tp umat muslim secara umum. Terang saja kita memprotes hal ini karena ini berkaitan dengan aqidah yg merupakan fondasi agama. Ucapan QS ini jg didengar oleh banyak masyarakat, sehingga harus segera diluruskan. Alhamdulillah, QS melalui websitenya pun akhirnya mengakui bahwa Rasulullah saw. telah dijamin masuk surga oleh Allah.

27. No. 186: pks membuat agama politik, agama baru (kami berlindung dari fitnah seperti ini. Syahadat kami sama, ajaran kami pun sama, yaitu dari Al Quran dan sunnah, ga ada yang baru. Politik bukan hal yg baru bagi Islam, sebagaimana yg telah dijelaskan). No. 198: musuh AS cmn komunis doang (oh, begitu ya prof? kok kyknya anda membela mati-matian AS?). No. 203: pki dan pks berprinsip berpihak ke yg peluang menang paling besar (loh, kok yg sy dapati itu adalah prinsip semua parpol ya? Kalau pks berprinsip kyk gtu, knp pas pilkada Jakarta kemarin ga dukung Jokowi aja? Pas pemilu jateng, yg merupakan basis merah, dukung Ganjar Pranowo aja? Pas pilpres kemaren jg dukung jokowi aja?). No. 214: pks masuk ke TNI melalui Wiranto dan keluarga Cendana melalui Titiek Soeharto (DUUAAARRR!!!). No. 230: nentang pks secara gamblang, besok dianggap musuh Islam (kami berlindung dari fitnah keji seperti ini). No. 271: media pks salah satunya VoA Islam (VoA Islam media pks? Ga salah prof? Wong pernah ada artikel voa Islam yang mencaci pks. Atau, anda bilang voa Islam sbg media pks krn di media itu banyak tulisan provokatifnya, sehingga ingin menghubungkan pks dgn gerakan teroris? Hmm!)

28. No. 190 dan 291: pks lebih perhatian kepada palestina ketimbang papua. Pernahkah bertemu kader pks di papua? Pernah dengar cerita pengabdian dan dakwah mereka bagaimana? Pernah juga bertemu kader pks yang bekerja sebagai dokter ptt di sana? (sy sendiri jika berkesempatan ingin sekali ptt di papua, insyaAllah)

29. No. 289: salahnya AS ke Indonesia ialah berlawanan dgn paham komunis. Sekali lagi kami tergaskan prof, yg kami musuhi ialah kebijakannya yg merugikan umat Islam, seperti di Irak dan Gaza. Dan yg menentang kebijakan seperti ini bukan cuman pks, tapi jg manusia yg berpkiran jernih. Jadi anda ga perlu membela mati-matian amriki.

30. No. 297: hidup sama rasa sama rata ala pki dijiplak pks. Hal ini sudah dijelaskan, bahwa kondisi kader pks sangat beragam. Tidak pernah ada aturan batasan kekayaan dan hak kepemilikan. Yang ada hanyalah kewajiban berzakat dan bersedekah.

31. No. 308: pks bibit pemberontakan. No. 312: potensi kekerasan tertanam dalam ajaran pks. No. 314: utk melawan musuh, pks menghalalkan jalan kekerasan. Pernah dengar kader pks membuat kerusuhan? Ketika aksi turun ke jalan dan kampanye, penah pks berbuat rusuh dan kekerasan? Sy pernah dengar kampanye parpol yg berakhir rusuh dan tindak kekerasan, tp sepertinya itu bukan pks. Sudah, tidak perlu disebut di sini siapa pelakunya. Yang perlu kita kritisi adalah perilakunya. Mengenai ajaran kekerasan, silakan prof mengikuti pengajian pekanan kami, untuk mengetahui apa saja yg diajarkan. Silakan mengunjungi DPC atau DPD terdekat. Partai membuka pintu bagi nonmuslim sekalipun, karena memang ada pengurus partai yg nonmuslim.

32. Di twit ini berkali-kali sang prof mengklaim dirinya bukan antiIslam. Ya, mungkin dia tidak anti jika umat muslim melakukan ibadah-ibadah ritualnya, seperti solat, puasa, dan haji. Namun, ketika nilai-nilai Islam sudah masuk ke tatanan sosial, resah pun mulai muncul. Terlebih jika Islam masuk ke dunia politik. Jelas sekali orang ini ingin membersihkan pemikiran Islam mewarnai politik. Dan yang ingin memberangus gerakan Islam dalam dunia politik bukanlah hanya seorang ini, melainkan ada banyak. Sangat banyak. Hal ini persis seperti perkataan Muhammad Natsir bertahun-tahun lalu:

Islam beribadah itu akan dibiarkan. Islam berekonomi akan diawasi. Islam berpolitik itu akan dicabut seakar-akarnya

Demikian klarifikasi ini sy buat. Semoga bermanfaat.

Salam hangat.

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,988 other followers