Menjadi Kartini

Anda tahu Piccolo? Sebagai orang dengan masa kecil yang bahagia tentu takkan melewatkan kisah Dragon Ball. Makhluk berwarna hijau ini berasal dari Planet Namec. Hal yang unik dari makhluk planet namec ialah caranya bereproduksi, yaitu dengan memuntahkan telor, yang kemudian telor tersebut akan menetas menjadi manusia Planet Namec baru.

Bayangkan jika manusia bumi bereproduksi dengan cara demikian (baca: tanpa proses perkawinan)! Tentu hidup terasa kurang menyenangkan, bukan?

Adalah anugerah Allah, tercipta manusia dalam dua jenis yang berbeda, yaitu laki-laki dan perempuan. Masing-masing jenis memiliki ciri khas dan karakteristik berbeda. Fungsinya sebagai manusia pun tidak sama: sifat khas pada masing-masing genderlah yang membuatnya optimal dalam menjalankan perannya.

Meskipun demikian, bukan hal yang mustahil jika laki-laki mengambil fungsi perempuan dan perempuan mengambil fungsi laki-laki. Namun, sy pribadi melihat, hampir semua (atau semua?) fungsi laki-laki diambil alih oleh perempuan.

Sebagai pencari nafkah? Bukan hal yang aneh di telinga jika seorang istri memiliki penghasilan lebih besar daripada suaminya. Bahkan mungkin kita juga pernah mendengar penghidupan keluarga yang bergantung kepada penghasilan sang istri.

Sebagai pekerja kasar? Pekerja kasar perempuan bisa kita jumpai.

Sebagai pemimpin imperium? Kita mengenal Ratu Victoria, yang pada masa pemerintahannya Inggris begitu digdaya melakukan ekspansi ke berbagai belahan dunia.

Sebagai tukang jotos? Preman? Bodyguard? Ahli beladiri?

Di sisi lain, ada fungsi perempuan yang tidak akan pernah tergantikan oleh laki-laki, yaitu sebagai seorang IBU. Takkan pernah bisa laki-laki mengandung dan menyusu anak. Begitu pula dengan kasih sayang. Adalah fitrah bila anak memiliki kecenderungan dan keterikatan yang lebih kepada ibu. Atau, jika dibandingkan, anak lebih membutuhkan kasih sayang ibu ketimbang ayah—sekali lagi, jika dibadingkan.

Di masa modern ini, sudah lama terjadi pergeseran fungsi seorang ibu. Tidak ada lagi sosok di keluarga yang memberi perhatian penuh dan pendidikan di rumah secara intensif kepada anak. Seringkali fungsi tersebut digantikan oleh PRT.

Tidak sedikit kaum ibu lebih sibuk dengan pekerjaannya ketimbang mengurus anak. Mencari materi dianggap sebagai prioritas utama dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. Dari pagi sampai sore, biarlah anak dipegang oleh PRT, malam harinya baru berinteraksi dengan orang tua—itu pun kalau pulang kerjanya ga kemaleman. Saat beranjak tumbuh, anak sudah mulai bisa mengatur dirinya sendiri. Biarlah ia mengurus urusannya sedangkan sang ibu bekerja makin keras, interaksi baru terjadi jika sang anak membutuhkan uang.

Lebih parah, ada—banyak malahan—ibu yang tidak mau merasakan rasa sakit ketika melahirkan, padahal itu adalah pengorbanan alami seorang ibu. Demi menghindarinya, operasi cesar pun diajukan kepada dokter kandungan. Masyarakat haruslah paham bahwa operasi cesar harus dilakukan berdasarkan indikasi yang benar, semisal gawat janin atau eklamsi (hipertensi & kejang pada ibu hamil). Jika operasi dilakukan tanpa indikasi, maka tindakan tersebut adalah malpraktek.

Semua itu dilakukan atas nama emansipasi dengan tokoh panutannya Raden Adjeng Kartini.

Benarkah Kartini memperjuangkan emansipasi demikian?

Mungkin kita pernah membaca tulisan-tulisan yang mengatakan bahwa pengangkatan Kartini sebagai pahlawan kaum wanita adalah kontroversi. Apa yang sudah Kartini lakukan dibandingkan dengan Cut Nyak Dien—yang turun ke medan perang mengusir penjajah? Di beberapa media bahkan Kartini disebut sebagai propaganda Orde Lama, disukai oleh penjajah Belanda, konspirasi Wahyudi, bla bla bla bla….

Memang betul tokoh-tokoh perempuan seperti Cut Nyak Dien, Keumalahayati, Rohana Kudus, dll sangat pantas diangkat sebagai pahlawan wanita Indonesia. Tapi kenapa hanya Kartini yang dikenang? Hingga sejak bangku SD kita didoktrin tentang tanggal 21 April dan lagu Ibu Kita Kartini.

Terlepas dari alasan pihak pemerintah saat itu, bagi sy pribadi, Kartini ialah tokoh yang sangat pantas mendapat respek besar. Di tahun-tahun sebelumnya memang sy pun berpendapat Kartini tidak pantas menjadi tokoh yang dipanuti negeri ini, hingga beberapa menit lalu membaca surat-suratnya.

Sosok kritis yang mengagumkan! Itulah kesan sy ketika membaca beberapa tulisan-tulisannya. Sy pribadi pun sekarang lebih mengenal beliau sebagai “penguntai kata-kata yang begitu indah”.

Latar belakang kondisi saat itu membuat RA Kartini tidak banyak pilihan. Gelar ningrat membuatnya menikmati pendidikan sekolah, namun itu semua harus putus ketika berusia 12 tahun. “Kelak ketika engkau dewasa Nil, kamu akan menjadi Raden Ayu yang akan disunting atau dinikahi oleh laki-laki keturunan bangsawan yang sederajat dengan kakek atau pun ayahanda kita,” begitu kata kakak laki-lakinya.

Trinil, panggilan akrab Kartini, pun harus mendekam di dalam rumah tanpa merasakan kebebasan dunia luar. Di saat inilah kegelisahan begitu bergejolak, yang akhirnya termuntahkan dalam untaian kata-kata yang begitu indah.

Kesempatan mengenyam pendidikan dasar membuatnya mampu berbahasa Belanda dan bergaul dengan orang-orang Eropa (Belanda) yang sekolah di Jepara. Di tengah pengurungannya, bercarik-carik kertas korespondensi pun mengalir.

“Gadis itu kini telah berusia 12,5 tahun. Waktu telah tiba baginya untuk mengucap selamat tinggal pada masa kanak-kanak. Dan meninggalkan bangku sekolah, tempat dimana ia ingin terus tinggal. Meninggalkan sahabat-sahabat Eropah-nya, di tengah mana ia selalu ingin terus berada.

Ia tahu, sangat tahu bahkan, pintu sekolah yang memberinya kesenangan yang tak berkeputusan telah tertutup baginya. Berpisah dengan gurunya yang telah mengucap kata perpisahan yang begitu manis. Berpisah dengan teman-teman yang menjabat tangannya erat-erat dengan air mata berlinangan.

Dengan menangis-nangis ia memohon kepada ayahnya agar diijinkan untuk turut bersama abang-abangnya meneruskan sekolah ke HBS di Semarang. Ia berjanji akan belajar sekuat tenaga agar tidak mengecewakan orang tuanya. Ia berlutut dan menatap wajah ayahnya. Dengan berdebar-debar ia menanti jawab ayahnya yang kemudian dengan penuh kasih sayang membelai rambutnya yang hitam.

‘Tidak!’ jawab ayahnya lirih dan tegas.

Ia terperanjat. Ia tahu apa arti ‘tidak’ dari ayahnya.

Ia berlari. Ia bersembunyi di kolong tempat tidur. Ia hanya ingin sendiri dengan kesedihannya.

Dan menangis tak berkeputusan.

Telah berlalu! Semuanya telah berlalu! Pintu sekolah telah tertutup di belakangnya dan rumah ayah menerimanya dengan penuh kasih sayang. Rumah itu besar. Halamannya pun luas sekali. Tetapi begitu tebal dan tinggi tembok yang mengelilinginya.”

(Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 1899)

 

“Sahabat-sahabat ayah yang berbangsa Eropah – ini saya ketahui lama kemudian – telah dengan susah payah mencoba mempengaruhi orang tuaku agar mengubah keputusannya untuk memingit aku yang begitu muda dan begitu penuh gairah hidup ini. Tapi orang tuaku tetap teguh dengan keputusannya. Dan aku tetap dalam kurunganku. Empat tahun yang panjang telah kutempuh dalam kungkungan empat tembok yang tebal tanpa sedikit pun melihat dunia luar. Bagaimana aku dapat melaluinya, aku tak tahu lagi. Aku hanya tahu bahwa itu MENGERIKAN.”

“Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis2 keluar rumah. Ketika saya berusia 12 tahun lalu saya ditahan di rumah; saya mesti masuk tutupan, saya dikurung di dalam rumah seorang diri sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tiada boleh keluar ke dunia itu lagi bila tiada serta dengan seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya tiada setahu kami.” (Surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar, 25 Mei 1899)

 

“Mengapa kami ditindas? Itu membuat kami memberontak. Mengapa kami harus mundur? Mengapa sayap kami harus dipotong? Tak lain karena tuduhan dan fitnah orang-orang kerdil yang berpandangan picik. Untuk memuaskan orang-orang macam itulah kami harus melepaskan cita-cita kami. Andaikan betul-betul perlu, benar-benar tidak dapat dielakkan, kami akan tunduk. Namun kenyataannya tidak demikian. Segala-galanya berkisar pada pendapat umum. Semua harus dikorbankan untuk itu. Dikatakan: Orang akan bilang ini atau bilang itu, kalau kami lakukan apa yang kami lakukan dengan seluruh jiwa kami. Dan siapakah orang-orang itu? Dan untuk orang-orang macam itu kami harus menekan keinginan kami, harus membunuh cita-cita kami, dan mundur kembali ke alam gelap.” (Kartini, 1901).

 

Ialah kegelisahan sosok kritis yang berontak dengan kebudayaan Jawa saat itu yang membatasi pendidikan bagi kaum hawa. Seolah bernyanyi meskipun tembok yang tinggi menghalangiku, tak satupun yang mempu menghalangiku, tokoh yang dipingit ini pun membaca buku-buku dan surat kabar. Melalui buku-buku itulah Kartini tertarik dengan kemajuan berpikir wanita Eropa. Ia pun mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk ia ajari baca dan tulis.

Kemudian Kartini pun mempelajari istilah emansipasi.

“Bukan hanya suara dari luar saja, suara yang datang dari Eropah yang beradab, yang hidup kembali itu, yang datang masuk ke dalam hati saya, yang jadi sebab saya ingin supaya keadaan yang sekarang ini berubah. Pada masa saya masih kanak-kanak, ketika kata EMANSIPATIE belum ada bunyinya, belum ada artinya bagi telinga saya, serta karangan dan kitab tentang pasal itu masih jauh dari jangkauan saya, telah hidup dalam hati saya suatu keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri. Keadaan sekeliling saya memilukan hati, menerbitkan air mata karena sedih yang tidak terkatakan, keadaan itulah yang membangunkan keinginan hati saya itu. Dan karena suara yang datang dari luar yang tiada putus-putusnya sampai kepada saya, keras makin keras jua, maka bibit yang ada dalam hati saya, yaitu perasaan yang merasakan duka nestapa orang lain yang amat saya kasihi, tumbuhlah, sampai berurat berakar, hidup subur serta dengan rindangnya.” (s.d.a, 25 Mei 1899)

Emansipasi apakah yang diperjuangkan oleh Kartini? Apakah kesetaraan gender, seperti yang sering digembar-gemborkan kaum feminisme?

Berikut adalah surat yang ditujukan kepada Prof. Anton dan Nyonya, 1901

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”

 Kartini juga menulis:

 “Siapakah yang akan menyangkal bahwa wanita memegang peranan penting dalam hal pendidikan moral pada masyarakat. Dialah orang yang sangat tepat pada tempatnya. Ia dapat menyumbang banyak (atau boleh dikatakan terbanyak) untuk meninggikan taraf moral masyarakat. Alam sendirilah yang memberikan tugas itu padanya.

Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anak

Dan bagaimanakah ibu Jawa dapat mendidik anak kalau ia sendiri tidak berpendidikan?”(Kartini, 1903)

 

Di sinilah letak gagal pahamnya (atau sengaja gagal?) kebanyakan orang akan yang diperjuangkan oleh Kartini. Adalah benar kebebasan berpendidikan yang ia keluhkan dalam surat-suratnya, namun, menurutnya, kenapa kaum perempuan harus berpendidikan? Agar menjadi seorang ibu yang memberikan pendidikan moral kepada anak-anaknya.

Kini, pendidikan sudah bebas dikunyah oleh tiap gender. Namun, ada satu poin perjuangan yang kini malah ditinggalkan, yaitu berperan sebagai ibu yang mendidik anaknya.

Mungkin kebanyakan beranggapan, untuk apa sekolah tinggi kalau pada akhirnya hanya kebanyakan di rumah seperti PRT? Kartini sendiri pun menyatakan, bagaimana seorang ibu dapat mendidik anak kalau ia sendiri tidak berpendidikan?

Seorang dosen Teknik Fisika ITB pernah bilang yang kurang lebih isinya, “Buat mahasiswa perempuan, walaupun ada yang berencana menjadi ibu rumah tangga, tetap penting untuk berpendidikan tinggi. Kalau nanti gendong anak, ‘Lucunya kamu, anakku. Senyummu mirip lambang integral.’”

Ibu sy pun sering mengulang pernyataan ini, “Yang menentukan anak pintar itu ibunya. Makanya, kamu carilah jodoh yang pintar sekolahnya.”

Tentu bukanlah hal yang salah jika perempuan bekerja. Bila memiliki manfaat yang bisa diberikan untuk masyarakat, sekaligus menambah penghasilan keluarga, kenapa tidak? Namun, inilah hikmah dalam Islam kenapa kaum laki-laki wajib mencari nafkah sedangkan perempuan tidak wajib. Penghasilan seorang suami wajib diberikan untuk kebutuhan keluarga, sedangkan penghasilan istri adalah hak sepenuhnya untuk digunakan secara pribadi. Mengapa wanita tidak wajib bekerja? Agar memiliki waktu yang cukup untuk mendidik anak. Jika wanita bekerja, mendidik anak tetap merupakan prioritas yang tidak boleh dilupakan.

Di mana-mana dapat ditemukan penyimpangan nilai-nilai kekartinian. Disebutkan para pendaki gunung wanita yang gagah perkasa disebut “Pendaki Kartini” (memang Kartini pernah naik gunung ya?). Begitu juga dengan wanita yang memiliki sederet prestasi yang luar biasa, disebut dengan “Kartini Masa Kini”, padahal belum tentu memiliki kemampuan mendidik anak.

Kemudian, ada satu lagi poin perjuangan Kartini yang hampir tidak pernah disampaikan ke masyarakat luas. Tanggal 21 Juli 1902, Kartini menulis kepada Ny. Van Kol:

Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.”

Mengapa kumpulan surat Kartini diberi judul ”Habis Gelap Terbilah Terang”? Judul ini merupakan gagasan Kartini sendiri. Mr. J.H. Abendanon ialah orang yang membukukan surat-surat Kartini, dan buku itu berjudul ”Dor Duisternis Toot Licht, yang dalam Bahasa Indonesia artinya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.

Penjajah Belanda melarang penerjamahan Al-Quran ke bahasa jawa karena dikhawatirkan akan menumbuhkan pemberontakan. Kondisi ini membuat Kartini tidak memahami agamanya, dan pikirannya yang kritis berontak, “Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca”. Agustus 1902, Kartini pun menulisAku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.”

Hingga Kartini bertemu Kyai Soleh Darat yang mengajarkan tafsir Al-Fatihah. Seketika itu pula, ia kagum dengan keindahan Al-Quran. “Selama ini Al-Fatihah GELAP bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi TERANG-BENDERANG sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”

Kartini mati muda. Empat hari setelah melahirkan anaknya, tepatnya tanggal 17 September 1904, 25 tahun menjadi usia terakhirnya. Sudah sampai mana perkembangan Kartini belajar Islam? Tidak ada keterangan sejarah yang menjelaskan. Pun terjemah Al-Quran yang ditulis oleh Kyai Soleh Darat untuk Kartini hanya sampai surat Ibrahim karena dibatasi oleh usia.

Tanggal 21 April, selain memakai pakaian kebaya dan foto selfie, ada baiknya kaum wanita memperingati tidak hanya jasad, tapi juga hal-hal yang ia perjuangkan. Jika kebebasan berpendidikan sudah tercapai, maka masih ada sisa perjuangan Kartini yang belum tuntas, yaitu mendidik moral anak bangsa dan berupaya memperbaiki citra Islam.

Tiada hal yang lebih menyenangkan ketika berada di kegelapan, selain mendapatkan cahaya. Dan, hanya Allah-lah yang mengeluarkan seorang dari kegelapan menuju cahaya.

”Allah pelindung orang yang beriman. Ia mengeluarkan mereka DARI KEGELAPAN MENUJU CAHAYA…” (Al-Baqarah: 257)

Categories: merenung | Leave a comment

Apa yang Membuat Tulisan Diminati untuk Dibaca?

tulis

Mungkin itu adalah pertanyaan yang berada di setiap benak yang hendak menulis. Memang tujuan merangkai kata tidaklah selalu untuk dibaca oleh orang lain: bisa saja sekedar mengekspresikan diri. Namun sebuah tulisan akan lebih berarti jika dibaca oleh orang—terlebih banyak orang—bukan?

Saat ini saya sedang diamanahi sebagai bidang publikasi tim Ekspedisi Arus Deras Wanadri yang akan menggelar petualangannya di Sungai Kluet, Aceh Selatan. Tugas utama bukanlah mendesain sarana-sarana publikasi semacam spanduk atau baligo—itu dipegang oleh bidang lain—melainkan menulis!

Yak, jika kita akan melakukan sebuah kegiatan besar, sebegitu besarnya hingga membutuhkan kerja besar dan waktu lama, sepertinya akan lebih elok kalau dipublikasikan. Bukan sekedar untuk berbangga diri, namun untuk menyampaikan pesan kepada orang luar tentang esensi sebuah ekspedisi dan petualangan. Lagipula, kegiatan semacam ini merupakan ‘ruh utama’ Wanadri: banyak masyarakat mengenal perhimpunan tentu dari kegiatan petualangan seperti ini.

Mencatat aktivitas tim sehari-hari, mendokumentasikan proses menuju ekspedisi, dan tentu saja menulis catatan perjalanan di setiap latihan adalah tugas utama si kunyuk publikasi ini. Namun ada misi besar buat si kunyuk, yaitu membuat sebuah buku!

Umumnya, menulis buku merupakan sebuah karya yang amat dibanggakan. Betapa banyak orang yang berusaha berkarya dengan merangkaikan tulisan dalam bentuk buku. Sekarang membuat buku pun dipermudah: banyak tumbuh percetakan yang mau menerbitkan buku-buku self-published. Untuk mensosialisasikannya ke masyarakat caranya juga amat variatif. Melalui self-published, penulis tidak harus terikat kontrak dengan penerbit, cukup mencetak sendiri sejumlah yang diinginkan, kemudian melakukan self-marketing. Tawarkan saja ke beberapa toko buku, uang pun masuk jika ada yang berminat dengan buku indie tersebut. Atau cara marketing sekarang amat banyak: mengiklankan buku melalui berbagai media dan menawarkannya ke orang-orang terdekat hingga terjauh.

Wah, terbayang jika buku ekspedisi ini berhasil terbit. Tidak hanya itu, tapi juga tersampaikan ke masyarakat, atau bahkan nongol di toko buku! Terlebih lagi menulis belumlah menjadi budaya di Wanadri. Hanya sedikit perjalanan yang berhasil didokumentasikan ke dalam bentuk buku: bahkan ekspedisi 7 Summit yang membentangkan merah-putih di luar negeri saja belum ada bukunya! Sebuah cita-cita bagi si kunyuk, yang diiyakan oleh seluruh personel. Iya iya saja, tapi tetap tugas ini hanya dibebankan ke satu orang kunyuk ini. Akan menjadi kebanggaan, bukan hanya pribadi, tapi juga tim ekspedisi.

Membuat sebuah buku ekspedisi tentu bisa macam-macam jenisnya. Bisa saja seperti sebuah laporan kegiatan, atau semacam galeri foto dengan sedikit kata-kata keterangan. Hmm, tapi apakah yang bisa membuat orang-orang tertarik untuk membaca buku ekspedisi ini?

Yah, apakah yang membuat orang-orang rela meengorbankan waktu mereka yang berharga hanya demi membaca tulisan?

“Secara teori, ada beberapa faktor, misalkan faktor kedekatan. Kalau kamu menulis kegiatan di Aceh, tentu akan menarik minat orang-orang Aceh,” kata kang Nondi. Akang tua ini bukanlah anggota Wanadri, namun cukup dekat dengan para anggota—terutama para senior—dan banyak memberikan kontribusi bagi perhimpunan.

“Selain itu, kalau ingin memasarkan buku, kamu juga harus menentukan segmen pasar. Apakah cukup terbatas kepada para penggiat alam terbuka, atau untuk umum? Nah, dengan menentukan segmen seperti ini, kamu bisa menentukan tulisan semacam apa yang akan diangkat,” lanjut beliau.

Kalau ingin menjangkau orang-orang umum, tulisan macam apa yang akan menarik minat mereka?

Berdasarkan pengamatan pribadi, orang kebayakan pada masa ini cenderung senang membaca hal-hal yang bersifat inspiratif. Tengok saja apa yang sering diviralkan di berbagai medsos. Selain berita, yang sering dishare berulang kali ialah hal-hal yang menumbuhkan inspirasi.

Apakah hal yang bisa menginspirasi?

“Menurut saya, Kang, tulisan yang umumnya menginspirasi ialah yang berupa cerita. Kisah pengalaman pribadi atau seseorang yang dapat menyentuh sisi emosi pembaca, atau bahkan cerita rekaan yang bisa diambil hikmahnya.”

“Nah, itu! Orang-orang saat ini membutuhkan cerita. Terlebih kalau inspirasi itu dapat diterapkan dalam kehidupan harian,” sambar kang Nondi sambil mengacungkan telunjuknya. “Rekamlah kegiatan ekspedisi kalian dalam bentuk cerita. Jangan hanya sekedar laporan—itu membosankan. Kalian bisa menceritakan hal-hal teknis, tapi angkatlah dalam bahasa yang populer.”

Mengapakah orang pada umumnya membutuh kisah inspiratif? Apakah dari setiap keseharian yang dijalani tidak ada inspirasi yang diambil? Sedang matikah radar mereka—begitu kang Nondi menyebutnya—yang berfungsi menangkap segala fenomena yang ada untuk diambil pelajarannya? Atau, memang saat ini rutinitas telah menjadi jebakan yang begitu menjenuhkan?

Mungkin itulah yang membuat novel-novel—baik kisah nyata atau rekaan—begitu laris di pasaran. Sedang dibutuhkan kisah yang mampu membangkitkan gairah, mendebarkan jantung begitu asyiknya, hingga menitikkan air mata sentimentil. Inspirasi adalah hal begitu dibutuhkan, dan lebih terasa renyah untuk dicerna jika dalam bentuk cerita. Baik itu fiksi atau nyata, sang penutur ceritalah yang memberi warna hitam-putihnya rutinitas.

Apalah manfaat sebuah perjalanan, jika tidak menghasilkan kisah untuk didongengkan? Jika hanya untuk disimpan, yang membuat diri sendiri tertawa geli ketika mengingatnya, tentu sangatlah disayangkan. Mereka butuh cerita-cerita yang begitu mengasyikkan dan mendebarkan, hingga mampu mengurangi waktu tidur mereka hanya untuk menyimak. Perjalanan tanpa sebuah cerita itu percuma, begitu kata seorang senior Wanadri.

Menceritakan perjalanan ekspedisi layaknya dongeng adalah sebuah tugas yang cukup menantang. Menantang? Ya, karena ekspedisi merupakan bentangan yang luas, dan tidak mungkin pengamatan si kunyuk seorang mampu menjangkau seluruhnya. Mampu menceritakan kembali apa yang diceritakan orang, kata kang Nondi, adalah hal yang sangat dituntut bagi pencerita.

Tapi, apakah cerita ekspedisi ini adalah hal yang sangat ingin didengar? Entah, karena manusia sendiri terkadang tidak mengetahui apa yang diinginkan hingga hal tersebut muncul di hadapan. Yang jelas, akan sangat berharga jika perjalanan yang memakan waktu hampir 2 bulan dan membutuhkan persiapan 6 bulan ini diangkat menjadi sebuah cerita.

Categories: merenung, pembelajaran, wanadri | 2 Comments

Titik Belok

Hidup adalah sebuah perjalanan. Begitu kata banyak orang.

Sebuah perjalanan yang terus berlangsung selama kita hidup. Abah Iwan pernah bilang, “Hidup adalah pengembaraan dari satu waktu ke waktu menuju mati.” Perjalanan ini hanya akan berakhir bila memang telah menemui ajal. Rasulullah saw. pun bersabda, “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari)

Bagaimanakah seseorang ketika akan melakukan perjalanan? Tentu ada banyak yang perlu dipersiapkan dan butuh perencanaan yang benar-benar matang. Mau ke mana? Mau pakai apa? Mau lewat mana? Jalurnya bagaimana? Berapa lama? Kondisi jalan yang akan dilalui bagaimana? Apa saja yang perlu dibawa? Dengan siapa saja kita akan berangkat?

Di akhir-akhir ini, penulis berkesempatan untuk mempelajari kembali tentang manajemen perjalanan. Tentu harus ditentukan dulu tempat apa yang akan dituju. Lalu, kenapa ke sana? Tujuan apa yang hendak dicapai? Apakah kondisi di sana sesuai untuk tujuan saya melakukan perjalanan? Misalkan saya ingin belajar navigasi di medan terbuka, tentu jangan sampai memilihi area yang vegetasinya rapat, tapi pilihlah padang rumput atau sabana atau kebun teh.

Setelah dipertimbangkan betul daerah yang akan dituju, yang perlu dicari selanjutnya adalah peta. Persisnya, lokasi mana yang akan dituju berdasasarkan peta? Secara lebh akurat, berapa koordinatnya? Kemudian, perlu ditentukan jalur mana saja yang akan dijadikan lintasan perjalanan. Melalui peta jugalah bisa tergambarkan kondisi medan yang dilalui. Apakah naik, apakah turun, apakah ada sungai?

Namun ternyata tidak cukup peta. Alat komunikasi pun perlu dioptimalkan untuk mendapatkan data informasi lebih mendetil. Di era informasi yang begitu mudah diakses seperti saat ini, adalah aneh jika data-data tidak digali terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan.

Dari data informasi, akan bisa diperoleh apakah jalur jalan kita tersebut sudah ada jalannya atau belum, apakah ada permukiman di sekitarnya, juga dari lokasi kita saat ini transportasi apa yang bisa digunakan untuk mencapainya dan melalui jalan raya apa.

Setelah perencanaan seperti ini selesai, lanjut ke perencanaan lainnya yaitu ke perbekalan, peralatan, transportasi, dan lain-lain, dan lain-lain.

Memang untuk sebuah perjalanan dibutuhkan perencanaan yang benar-benar terkaji. Tidak mengherankan jika perencanaan jauh lebih lama dbandingkan perjalanan itu sendiri. Namun, terkadang—lebih tepatnya sering—walaupun telah disusun sedemikian rupa, banyak hal-hal yang tidak terduga ketika tengah berada perjalanan sehingga tidak sesuai perencanaa. Atau bahkan harus mengubah rencana di saat itu juga.

Karena perjalanan adalah sesuatu yang “hidup”, tidak seperti seorang programmer yang memasukkan algoritma pemograman ke dalam komputer. Karena itulah otak manusia tidak bisa dibandingkan dengan komputer: ia tidak diciptakan untuk berimprovisasi, hanya menjalankan kode yang dimasukkan ke dalam dirinya.

Salah satu hal yang sangat perlu diperhatikan ketika tengah melakukan perjalanan ialah orientasi. Adalah penting memastikan bahwa kita tengah berada di jalur yang benar, adalah kondisi medan yang tengah dilewati saat ini sesuai dengan yang direncanakan. Caranya orientasi ialah dengan melihat ke kiri dan kanan lalu menyocokkannya dengan gambaran medan yang seharusnya dilewati dalam perencanaan.

Memang terkesan sederhana, tapi percayalah, orientasi merupakan hal yang sering dilewatkan. Ketika tengah berjalan, seseorang kan cenderung terus berjalan tanpa sadar daerah mana yang sedang ia lewati. Dikiranya ia telah berada di jalur yang benar, tanpa sadar mungkin ia telah berbelok di tempat saya salah, atau pergerakannya yang salah, atau jangan-jangan dari titik awal saja sudah salah.

Orientasi sangatlah penting ketika berada di titik belok. Di titik ini orang-orang yang melakukan perjalanan harus benar-benar mampu berorientasi dan yakin bahwa benar mereka telah berada di jalur yang sesuai rencana. Jika gagal berorientasi di titik belok, maka dipastikan perjalanan selanjutnya akan nyasar entah ke mana. Salah belok, sudah tentu tidak akan sampai ke tujuan. Hal yang lebih parah lagi jika tiba di tujuan yang salah namun masih gagal orientasi.

Untuk sebuah perjalanan yang beberapa hari saja membutuhkan perencanaan dan eksekusi yang begitu rinci dan teliti. Sekarang bisa dibayangkan mengenai perjalanan yang begitu besar berupa kehidupan.

Tentu perjalanan kehidupan dibagi menjadi beberapa etape. Kita sering melihat bahwa orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah orang-orang yang berhasil merencanakan hidupnya. Kita juga bisa melihat bahwa orang-orang yang berhasil mencapai tujuan yang diinginkannya ialah—selain kerja keras untuk mencapainya—orang-orang yang sering orientasi bahwa ia berada di jalan yang benar.

Di tengah-tengah perjalanan tentu ada banyak hal yang begitu menggoyahkan hati untuk berbelok. Dan, sepertinya tidak sedikit yang akhirnya berbelok sebelum waktunya.

Orientasilah. Dengan memikirkan kembali tujuan yang hendak dicapai, dan memang tengah berada di jalan yang benar, maka tinggal membutuhkan kesabaran untuk mencapainya. Agar orientasi tidak terlewatkan, hal ini harus sering-sering dilakukan. Memang menambah beban, namun apalah artinya demi sebuah tujuan?

Bagaimana melakukan orientasi? Sama seperti ketika melakukan perjalanan di lapangan. Berhentilah sejenak. Lepas beban seperti ransel kemudian simpan. Lihat rencana yang telah disusun dan lihat sekitar. Dan tentu saja bertanya ke orang-orang sekitar adalah cara yang sangat efektif.

 

Categories: merenung, pembelajaran | Leave a comment

Berorientasi Proses

Image

Apa yang ada di dalam pikiran ketika mendengar kata “belajar”? Kesan yang timbul mungkin bukanlah yang menyenangkan.

Hal tersebut telah tertanam sejak kecil, bukan? Bagi masa kanak-kanak, yang menjadi orientasi adalah “bermain”. Dan saat mendengar kata bermain, yang terbayangkan adalah segala hal menyenangkan, mengasyikkan, yang bila dialakukan membuat kita lupa akan waktu, membuat pikiran menjadi lepas dan tenang. Tentu, kesan yang timbul adalah menyenangkan.

Kata “belajar” dan “bermain” seolah saling menegasikan. Belajar adalah kegiatan yang membosankan, menjenuhkan, perlu perjuangan keras, dan kalau bisa diselesaikan sesegera mungkin supaya bisa segera bermain kembali. Telah tertanam bahwa yang disebut dengan belajar adalah duduk di meja belajar, membaca buku tebal, dan menulis di buku catatan.

KBBI sendiri mengartikan belajar adalah berusaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu. Tidak heran pada umumnya orang-orang belajar hanya ketika di bangku sekolah atau pendidikan tinggi saja. Kuliah, baik sarjana, magister, atau doktor, pun terkadang dikejar hanya untuk memperoleh pekerjaan atau status sosial yang tinggi.

Belajar dan bermain adalah sama-sama kata kerja, yang artinya menunjukkan suatu proses. Perbedaannya adalah tujuan dari proses tersebut. Tujuan dari belajar adalah untuk memperoleh ilmu, wawasan, hal baru, atau pengalaman, sedangkan belajar—masih menurut KBBI—adalah untuk menyenangkan hati. Apakah memperoleh ilmu, wawasan, hal baru, pengalaman, tidak bisa diiriskan dengan menyenangkan hati?

Terkadang kita sering melihat sesuatu dari sudut pandang sempit. Seperti mengintip dari lubang kunci, apa yang terlihat hanya sebesar lubang tersebut. Tidak mustahil sedikitnya yang dapat dilihat membuat salah persepsi.

Agar memperoleh sudut pandang yang luas, ada baiknya kita terbang ke atas, atau mendaki gunung yang tinggi. Apa yang terlihat dari atas adalah bentangan yang luas. Akan terkagum, takjub, terpana saat kita melihat sesuatu yang begitu luas dan tidak terbatasi bidang-bidang sempit.

Suka atau tidak, proses hidup sangatlah identik dengan belajar. Setiap harinya selalu ada hal baru. Bahkan dalam rutinitas keseharian pun, apa yang terjadi pada satu hari tidak mungkin identik dengan hari-hari lainnya.  Karena ada hal baru, kita akan berusaha adaptasi dengan hal tersebut. Proses adaptasi ini adalah proses belajar yang sangat sederhana. Besar kecilnya output yang diperoleh mungkin tergantung seberapa besar fokus kita terhadap usaha adaptasi tersebut.

Setiap bertambahnya usia, semakin banyak proses belajar yang dilakukan sebagai proses adaptasi. Saat berusia 3 bulan, kita belajar merangkak. Pada 6 bulan, kita pun belajar untuk duduk. Saat merayakan ulang tahun pertama kali, kita pun belajar berdiri.

Begitu masuk sekolah, di luar mata pelajaran sekolah, dimulai proses belajar menerima eksistensi orang-orang di luar keluarga atau bersosialisasi. Ketika menginjak usia remaja, proses belajar untuk menentukan pilihan. Saat berada di bangku perguruan tiggi, kita pun belajar untuk mulai merencanakan masa depan. Lalu muncullah proses belajar untuk berpenghasilan, berbagi hidup dengan pasangan, dan sebagainya, dan sebagainya.

Keberhasilan seseorang dalam melaksanakan tiap fase hidup mungkin bergantung bagaimana ia menyadari bahwa itu semua adalah proses belajar. Bagi yang menafikan bahwa ia sedang belajar, solusi dari proses yang dijalani tidak akan memuaskan atau bahkan tidak didapatkan sama sekali. Jika sadar kemudian fokus terhadap, hasil yang diperoleh akan semakin maksimal.

Kebanyakan lingkungan menuntut kita berorientasi pada hasil. Sebagaimana kita banyak melihatnya pada iklan-iklan lowongan kerja, bahwa yang dibutuhkan adalah calon karyawan yang berorinteasi pada hasil. Tidak ada satu pun yang membutuhkan orang yang berorientasi pada proses. Tentu, dunia tidak mau peduli bagaiamana pun proses yang dijalani—atau seberapa sulit proses tersebut—yang penting hasilnya memuaskan perusahaan, atasan, dosen, atau mereka.

Kondisi ini membuat kita hilang fokus terhadap proses. Kegiatan belajar pun hanya dianggap sebagai cara untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Akibatnya, setelah tujuan tercapai, proses belajar tidak diperlukan lagi.

Proses belajar di sini bukanlah sekedar menuntut ilmu di sekolah tinggi. Apa yang terjadi sehari-hari pun dirasa tidak perlu diambil pelajaran lagi. Hal-hal sederhana seperti belajar untuk bersabar, belajar untuk melapangkan dada, belajar untuk tetap antusias, belajar untuk mendengarkan, belajar menahan emosi, adalah proses belajar yang tidak mengenal istilah selesai.

Apa yang membuat orang begitu senang? Pikiran lepas? Bebas dari beban? Tertawa terbahak-bahak? Tidak ada tugas yang menunggu?

Saya berpendapat, salah satu yang membuat kita senang adalah ketika menemukan sesuatu yang menantang. Tantangan tidak saja membuat senang, tapi kan menjadikan kita antusias. Ada sedikit peningkatan detak jantung, ada sedikit peningkatan aliran darah, dan juga ada pengembangan senyuman. Tantangan ini bagi sebagian orang sama menyenangkannya dengan bermain.

Belajar merupakan ruh kehidupan itu sendiri. Ruh ini akan memberi energi yang menggerakkan otot-otot tubuh yang malas bergerak.

Jika berhenti berproses, dengan alasan sudah bosan, merasa sudah cukup, atau tujuan pribadi telah tercapai, mungkin beban-beban yang mengisi pikiran telah terangkat. Namun, tumbuhnya gairah dan antusiasme seperti pada anak-anak yang sedang menemukan hal baru tidak lagi terasa, Mungkin pikiran menjadi tenang dan lepas, tapi tidak adanya tantangan untuk berproses, maka yang hinggap adalah kehambaran.

Atau enggan berproses karena sepenuhnya berorientasi pada hasil. Jika hasil sudah memuaskan harapan, untuk apa lagi berproses? Itulah yang ada pada penilaian di sekitar kita. Tapi tentu kita tidak bisa melupakan, bahwa kelak mereka hidup tak lama. Begitu juga diri sendiri, akan habis eksistensinya. Sebentar lagi, hanya menunggu waktu. Jika waktu itu tiba, kita akan menuju penilaian yang tidak ada yang mampu menandingi keadilannya. Tuhan tidaklah menilai sesuatu hanya dari hasil, tapi Ia begitu menghargai proses. Bahkan belum berproses, baru sebatas niat, pun sudah dihargai.

Tidak perlu khawatir jika berorientasi pada proses dan tidak ada satu pun orang yang menghargai. Yakin bahwa proses yang maksimal akan dihargai langsung oleh Tuhan akan membuat kita tenang.

Categories: pembelajaran | 1 Comment

RAWA KEPUTUSASAAN

Setelah sekian lama tak menulis, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengenang kembali salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup. Saya sudah lama tidak terlibat dalam segala kegiatan Wanadri. Selepas PDW, ada program pendidikan lanjutan yang disebut dengan mamud (masa bimbingan anggota muda) kurang lebih selama 2 tahun.

Sekitar 3 bulan pertama kegiatan mamud saya ikuti. Pendidikan Gunung Hutan 2 dan 3 (saya absen Gunung Hutan 1 karena agenda akademik) masih ingat dalam ingatan. Bagaimana membaca topografi, menghitung sudut, menentukan titik-titik cek poin di peta, hingga membuat ROP (Rencana Operasi) dalam sebuah proposal perjalanan. Apa daya memori manusia tidaklah bersifat kekal, dan perlahan-lahan itu semua memudar. Yah, pilihan adalah pilihan. Tidak ada pilihan bodoh, kecuali pilihan yang disesali.

PDW berlangsung kurang lebih sebulan. Dua minggu pertama merupakan tahap basic di tanah pendidikan Situ Lembang. Setelah itu memasuki tahap medan operasi, yaitu ORAD-tebing terjal selama 2 hari, longmarch kereta api 1 hari, rawa laut 2 hari, longmarch jalan raya 2 hari 1 malam, dan sisanya tahap gunung hutan termasuk survival. Sekilas tahap survival pernah saya kenangkan dalam tulisan di blog ini. Sangat berkesan. Namun, menurut saya pribadi, tahap rawa laut merupakan tahap terberat dan tersulit.

PDW 2012 bukanlah PDW yang pertama kali saya ikut. Tahun 2010 saya juga pernah mengikutinya, namun gugur di tahap ini, rawa laut. Sambil mengorek ingatan yang semakin kabur, keinginan untuk menulis pun ingin saya tumbuhkan lagi.

***

Siang itu terik. Panas, dan juga kering. Namun tidak sempat lagi untuk memikirkannya. Karena kami harus terus berjalan, menelusuri pematang, sambil memanggul ransel yang begitu beratnya.

Tempat itu begitu terbuka. Tampak cakrawala seelurus area pandangan. Beberapa warna hijau terlihat di sisi, namun tidak tinggi, kebanyakan hanya berupa semak-semak. Warna yang dominan saat itu adalah coklat. Tanah bercampur lumpur coklat terlihat di mana-mana, di pematang, di pakaian, di tangan, juga di wajah. Begitu pula tambak-tambak petak yang membentang seluas mata memandang.

Kami berada di medan latihan rawa laut. Latihan ini merupakan bagian dari tahapan medan operasi, setelah sebelumnya melewati tahap basic selama 2 minggu. Tahap ini adalah tahap “terberat”: pakaian dan sepatu menjadi berat karena lumpur, terlebih ransel.

Walau telah melewati 2 minggu pertama PDW, tapi itu tidaklah menjadi penambah semangat bagiku. Tahun 2010 itu, langkah yang ada adalah langkah gontai, pandangan yang ada adalah pandangan yang buram, semangat yang ada adalah keputusasaan, pikiran yang ada adalah ingin pulang.

Berat! Ransel ini begitu berat! Sepertinya banyak sekali air yang masuk ke ransel, dampak dari packing yang asal-asalan. Dapat dirasakan lilitan saraf di bahu terjepit. Di medan ini, siswa diwajibkan memakai pelampung. Namun, mengenakan ransel di atas pelampung sangat sangat tidak nyaman, dan seolah menambah beban saraf bahu.

Perlahan, sensasi di ujung-ujung jari menghilang. Lengan terasa lemas untuk diayunkan.

“Tuan! Cepat jalannya, Tuan!”

Kapan berhenti untuk istirahat? Rasanya ingin duduk, melepas ransel, dan mengayun-ayunkan tangan.

“Tuan! Hei, Tuan! Rapatkan barisan dengan yang depan, Tuan!”

Jauh. Pematang masih jauh membentang. Tidak kuat lagi memanggul ransel sialan ini. Ingin kubuang! Benda brengsek ini kubuang saja!

“TUAANNN!!!”

Aku oleng. Bergoyang ke kanan, kemudian ke kiri. Pelatih itu cuman menggampar sekali, namun begitu kerasnya. Beberapa detik kemudian, setelah berdiri dengan stabil, terdengar suaraku sendiri yang berteriak, “Pelatih, saya ingin pulang, Pelatih…!”

***

“Tuan Sayyid, kamu mau pulang lagi, Tuan!!?”

Tahun itu 2012. Aku berjalan, pelan. Di dalam kolam tambak yang penuh lumpur bagaikan rawa, semua siswa hanya bisa berjalan pelan. Tidaklah mungkin berjalan tegap gagah, karena hanya akan membuatmu terhisap ke kegelapan. Terlihat, seluruh siswa, termasuk pelatih, melaju menggunakan kedua lututnya.

Lutut kanan kubawa ke depan. Badan menjadi sedikit oleng karena terbawa oleh ransel yang berat. Kemudian, lutut kiri menyusul ke depan. Lalu lutut kanan, kemudian lutut kiri lagi.

Seperempat hari pertama rawa laut digunakan untuk navigasi rawa. Awalnya aku berpikir, bagaimana mungkin bernavigasi di rawa yang sama sekali tidak ada titik ekstrem seperti puncak gunung atau bukit? Yang ada di sini hanyalah bentangan kolam tambak dan pematang, membentuk petak-petak rawa yang terjemur oleh terik matahari. Mungkin ada teori khususnya untuk bernavigasi di tanah yang datar, tapi itu tidak diajarkan di pendidikan dasar. Di hari itu, pelatih langsung memberi koordinat titik awal dan titik akhir, sehingga tugas siswa hanya memplotting di peta dan membidikkan kompas ke sudut tujuan.

Medan rawa laut hari pertama kebanyakan kolam yang dalam. Para siswa cukup melepas ransel, meletakkannya di depan untuk dijadikan pelampung, dan menggerakkan kaki seperti menggowes sepeda. Kami pun berenang.

“Nanti kalian kalau lulus PDW, ikut Klub Gowes Wanadri,” ujar seorang pelatih.

“Kalau lulus, hahahah,” timpal pelatih lain.

Akhir dari hari pertama, sekitar jam 2 siang, ialah “langkah kesabaran”, begitu aku menyebutnya. Sekitar 2 jam siswa berjalan mengikuti pelatih menyusuri pematang, entah ke mana. Mungkin terdengar seperti mudah, namun kondisi saat itu ialah kelelahan setelah menyeberangi rawa yang luas. Itu tidak seberapa, yang paling parah adalah bahu yang kesakitan karena harus memanggul ransel yang berat.

Sebelum berangkat ke medan rawa, pelatih memberi arahan cara packing yang benar agar tidak bocor kemasukan air rawa. Kalau biasanya isi ransel cukup dibungkus dengan satu lapis plastik ikan, kali ini dengan dua lapis, bahkan ada yang tiga. Namun, tetap saja, terasa ada air yang masuk ke dalam. Bahkan bercak lumpur yang menumpuk di luar ransel sudah cukup membuatnya menjadi lebih berat berkali lipat.

Aku sedikit membungkukkan badan, menggoyang-goyangkan bahu, dan menggerak-gerakkan ransel agar dinamis. Membiarkan bahu memanggul ransel dengan statis selama berjam-jam hanya akan membuat diri tersiksa.

Kala itu tidaklah saraf bahuku terjepit. Namun, terlihat dua siswa yang terlihat tersiksa. Yang satu mengernyit, menahan sakit di bahunya. Yang satu lagi membuka mulutnya, terengah-engah, dan air matanya mengucur.

Tersiksa. Itulah gambaran kondisi “langkah kesabaran” selama 2-3 jam itu. Rasanya ingin berhenti, duduk, menyandarkan ransel, bahkan melepasnya. Aku memandang ke barisan depan, lalu belakang. Para siswa membungkuk dan menggoyang-goyangkan bahunya, sambil melakukan “zikir”, “Wanadri…Wanadri…Wanadri” dengan suara pelan.

Tiba-tiba, seorang teman reguku di depan terjatuh di atas jembatan bambu. Kakinya tersangkut. Ia mengeran. Aku berusaha mengangkat bambu yang mengait kakinya, namun gagal. Akhirnya ia terbebas setelah dibantu seorang pelatih. Namun, setelah itu ada yang aneh dengannya. Bola matanya ke atas, mulutnya membuka, lidahnya menjulur, dan ia terus berucap, “Wanadri…Wanadri…Wanadri…”

Seorang pelatih berteriak keras di hadapannya, namun terus saja ia berujar, “Wanadri…Wanadri…Wanadri”, seolah tak sadar dengan lingkungannya. Kemudian pelatih itu menyiram wajah siswa itu dengan air. Ucapan “zikir”nya berhenti, bola matanya tak lagi ke atas. Akhirnya, ia pun menjawab dengan keras teriakan pelatih di hadapannya.

 

Hari ke-2 itu neraka sesungguhnya. Itu adalah ancaman pelatih di malam sebelumnya. Memang, tak butuh waktu lama untuk membuktikannya.

Tidak seperti rawa hari pertama yang kebanyakan kolam penuh air, medan yang para siswa lewati hari itu benar-benar lumpur. Ketika mendaratkan lutut, tampak lumpur itu menghisap tubuh kami perlahan. Kalau tidak segera maju, bisa-bisa tertanam. Karena terhisap, berat sekali untuk mengangkat lutut ke depan, ditambah beban ransel yang semakin berat. Tak jarang aku harus merangkak sambil menendang-nendangkan kaki dengan liar agar bisa menyeberang.

Ransel yang berat mendorong tubuh saat mendaratkan lutut. Bila gagal menjaga keseimbangan, yang terjadi adalah jatuh tengkurap, ditindih oleh ransel yang beratnya 20 kg lebih. Itulah yang terjadi pada seorang siswa di sebelah.

“Tolong…tolong…,” rintih siswa tersebut dalam nada putus asa. Ia tidak bisa bangun. Saat itu sebenarnya tiap siswa sangat sibuk untuk membebaskan diri sendiri dari hisapan lumpur. Aku pun hanya mampu memberi saran, “Lepas ranselmu….” Siswa itu melepasnya, dan berhasil bangun. Ia merangkak ke depan sambil menarik-narik ranselnya kesusahan. Aku pun sedikit membantu menariknya.

Setelah berjam-jam kepayahan melewati kesuraman, kami pun dibawa ke suatu tempat yang sepertinya adalah ujung dari padang tambak. Di sebelah utara, terlihat laut yang bergulung saling mengejar. Biasanya, jika menghirup aroma garam dan mendengar desir ombak, yang terbayang adalah pasir pantai. Tapi tidak ada yang semacam itu di sana.

Kami berdiri di atas pematang, memandang ombak. Tak lama, seorang pelatih memberi instruksi, dan kami bergerak mengikuti pelatih yang memimpin rombongan. Seorang pelatih yang berdiri di pinggir pematang tersenyum aneh, dan berkata pelan, “Selamat datang di rawa laut, Tuan.”

Para siswa di barisan depan diminta turun. Di sana, aku bisa melihat para siswa yang sepenuhnya berwarna coklat merangkak pelan, sangat pelan. Ransel dilepas dan diletakkan di depan. Mereka berjalan dengan cara mendorong ransel, kemudian menendang-nendang.

Giliranku pun tiba. Kuletakkan ransel di depan, kudorong, lalu dalam posisi merangkak kakiku menendang-nendang. Berhasil maju, beberapa senti. Kudorong lagi ranselku, kumerangkak, dan menendang-nendang. Kembali berhasil maju, sekian senti.

Terengah-tengah, aku mengintip pemandangan di depan melalui kacamataku yang penuh lumpur.

Terkesima.

Itu adalah luas. Rawa hitam yang luas. Ujung depan tidak terlihat, sedangkan ujung belakangnya dekat sekali, tempatku tadi start. Sambil mengedan, aku maju kembali. Mengangkat lutut kanan sambil menimpa ransel. Mengangkat lutut kiri dan kembali menimpa ransel. Berhasil meluncur, beberapa senti saja. Pinggangku sakit. Kaki pegal. Nafas memendek. Pikiran berandai-andai apakah kalori makan siang tadi masih tersisa.

Itu adalah rawa keputusasaan. Tidak tahu rawa ini berujung di mana. Tidak tahu ke mana. Namun, kami harus terus maju, tak ada lagi hal lain yang bisa dilakukan. Percuma minta pertolongan. Setiap siswa sibuk berjuang melewati rawa hitam ini. Bahkan ada juga yang tidak maju-maju.

Tidak tahu berapa lama. Tidak peduli berhasil atau tidak. Hanya satu yang perlu dipikirkan, yaitu melangkah. Dan melangkah. Dan melangkah.

***

Pernahkah kita berada di medan yang begitu luas? Begitu luas. Begitu luas. Begitu luas. Tidak terlihat ujungnya di mana. Tidak terbayangkan tujuannya seperti apa. Namun kita telah berada di tengah-tengah jalannya. Harus ke manakah kita? Apakah kembali? Benar, kembali? Benarkah harus menyesal di tengah jalan? Lalu pulang, sebagai pecundang?

Apakah kita merasa terjebak? Seperti berada di tengah-tengah kemacetan jalan raya? Mau berteriak sekeras apa pun, mau mengumpat-ngumpat sekasar apa pun, tetap tak ada yang bisa dilakukan, kecuali maju. Maju, walau perlahan, begitu pelan. Jika sabar, kelak akan tiba di tujuan juga. Benar begitu, bukan?

Untuk tiba di tujuan, yang dibutuhkan bukanlah kecepatan. Tapi kesabaran.

***

Kenapakah aku ada sini? Di suatu tempat yang entah di mana? Apa pula yang kulakukan? Seharusnya aku berada di sana, Di suatu titik di utara kota Bandung. Sedang belajar, bersama teman-teman kelompok. Membaca materi-materi. Mengikuti bimbingan. Membacakan presentasi kasus.

Tapi nyatanya aku berada di tengah rawa. Sedang merangkak.

Menyesal?

“Tuan Sayyid! Kamu mau pulang lagi di sini, Tuan!!?” teriak seorang pelatih.

Pecundang.

“Pulang saja kamu! 2 tahun lalu kamu pulang di sini kan, Tuan!”

Tahukah rasanya menjadi seorang pecundang?

“Kamu ini! Meninggalkan teman-teman kamu 2 tahun lalu!”

Penuh penyesalan. Saat pulang, tidak ada satu pun yang menyambut. Hanya tertawaan, hinaan, dan sindiran. Memang itulah yang pantas didapat bagi seorang pecundang.

Apa yang dirasakan saat melihat teman-teman yang kau tinggal di tengah latihan pada akhirnya menyanyikan lagu kemenangan? Apa yang dirasakan ketika melihat wajah temanmu pulang dengan wajah penuh kepuasan?

Mimpi apa yang selalu muncul di dalam lelap tidurmu?

Pecundang, mungkin adalah orang terlalu banyak berpikir saat seharusnya hanya fokus memikirkan satu hal. Tidak perlu memikirkan hal yang lain. Fokus saja ke hal yang harus dilakukan saat ini. Ketika berada di tengah-tengah jalan, hanya satu yang perlu dipikirkan: melangkah.

Penyesalan sejati itu adalah ketika memutuskan untuk menyerah dan kemudian menjadi pecundang.

***

Akhirnya memang aku pun tidak sampai garis akhir. Ketika berada di tengah-tengah, seorang pelatih meniup peluit, dan serentak para pelatih lain menginstruksikan kami untuk menepi. “Tuan, cepat menepi, Tuan! Air laut mau pasang, Tuan!” Meskipun sebagian besar menepi, tapi beredar kabar ada 4 atau 5 siswa berhasil mencapai garis finish.

Para siswa dibariskan di pematang, kemudian diinstruksikan mengikuti pelatih. Waktu itu sudah amat sore, mungkin sekitar jam 5. Tujuan dari perjalanan saat itu adalah “pulang” menuju truk angkutan.

Medan rawa laut sudah selesai. Ya. Yang perlu dilewati tinggal “langkah kesabaran”. Memang selama langkah itu kami begitu kelalahan. Berjalan dari ujung rawa menuju ujung satunya lagi setelah merangkak berjam-jam kembali menguji kesabaran.

Pada akhirnya, tujuan pun terlihat. Sebelum diangkut ke truk, kami “mandi” terlebih dahulu. Berendam di kolam air tawar, menggosok-gosok baju, celana, tangan, dan wajah agar terbebas dari lumpur.

Medan rawa laut telah terlewati. Tidak tahu bagi siswa yang lain, tapi bagiku medan ini dilewati bukan dengan kekuatan, tapi dengan ketabahan.

Ada seorang pemimpin negara yang berujar ketika negaranya sedang perang dengan tetangga. Pasukannya banyak menderita kekalahan, namun dengan percaya diri ia membuat pernyataan yang pantas diabadikan. Bahwa yang akan memenangkan perang bukanlah yang membunuh musuh paling banyak, tapi yang paling bertahan hingga akhir.

Categories: narasi, wanadri | 5 Comments

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,949 other followers