Tanggapan Terhadap Tuduhan “PKSvsPKI”

Sy akan mencoba untuk mengklarifikasi ttg kultwit “PKIvsPKS” oleh akun yg diyakini sbg Prof Sahetapy. Rasa untuk perlu melakukannya, selain agar benderang, juga krn isinya yang benar-benar mencengangkan (sy baru selesai membaca seluruh 340 twit itu) atas fitnah yg sangat tidak berdasar dan penuh rasa benci.

Berikut link tulisan PKS versus PKI.

Ini klarifikasi berdasar pengetahuan sy. Bismillah

1. Pengertian komunisme, menurut orang ini, adalah egois dan menganggap pahamnya saja yg benar. Sy heran, pengertian ini dari mana? Setelah membaca pengertian komunisme dari berbagai sumber, tdk ada yg menunjukkan pengertian atau sifat yg disebutkan ini. Mungkin orang2 yg memiliki minat terhadap ilmu politik bisa menjawab ini? Ini pengertian komunisme yg sy dapat:

“communism, the political and economic doctrine that aims to replace private property and a profit-based economy with public ownership and communal control of at least the major means of production (e.g., mines, mills, and factories) and the natural resources of a society.” (encyclopedia britannica)

“1.a theory or system of social organization based on the holding of all property in common, actual ownership being ascribed to the community as a whole or to the state.2.( often initial capital letter ) a system of social organization in which all economic and social activity is controlled by a totalitarian state dominated by a single and self-perpetuating political party. (Dictionary.com)

2. “Bagi para politikus, agama adalah bisnis” Twit ini jelas2 menunjukkan bahwa dia menganggap semua parpol yg berbasis agama berpolitik dgn menjadikan agama sebagai bisnis. Kita tau parpol berbasis agama tdk hanya pks. Apakah ia menganggap semua parpol itu menjadikan agama sebagai bisnis?

3. Bahasan mengenai islam, politik, dan negara sangatlah panjang. Mempelajari dan memahaminya sendiri mungkin butuh waktu bertahun-tahun. Namun, dlm Islam, agama, politik, negara, bahkan ekonomi bukalah hal yg terpisah. Islam mengatur berekonomi sebagaimana ia mengatur solat. Islam mengatur bernegara sebagaimana ia mengatur berhaji. Dalam kitab fiqh, selalu ada pembahasan mengenai bernegara.

4. Ia bilang, jika Islam diterapkan dalam pemerintahan,tidak semuanya kan menerima. Namun sayangnya, sejarah menorehkan tinta emas mengenai pemerintahan Islam. Kita sering dengar pemerintahan yg berbasiskan Islam, selain sangat menjamin kerukunan beragama, juga membawa ke kemajuan dan kesejahteraan. Salah satu contoh ialah Andalusia. Cordoba saat itu dikenal sbg pusat ilmu pengetahuan. Di Granada, ada jembatan batu yg sangat megah, yg menghubungkan dgn La Mesquita. Saat Ratu Isabella dan kawan2nya menginvasi ke sana, mereka heran, bagaimana mungkin bisa membangun jembatan yg begitu megah di zaman itu? Kedamaian pun berakhir ketika ratu itu mengambil alih Andalusia. Di spanyol, ada lembah yg diberi nama “Anjing Terjatuh”, karena lembah itu merupakan tempat orang-orang muslim dijatuhkan ke jurang pasca invasi Isabella….(kisah ini diceritakan sendiri oleh orang Spanyol).

5. Kita perlu memahami “politisasi agama”, yg berarti benar-benar menjadikan agama sbg senjata politik. Sy beri contoh seorang yg sebelumnya ga pake jilbab, namun pake jilbab saat ada agenda politik, lalu dilepas setelah agendanya selesai. Siapa dia? Ga perlu disebut, krn bukan untuk mencari kambing hitam. Yg dikritisi bukanlah pelakunya, melainkan kelakuannya. Hal ini berbeda dgn “Islamisasi politik”, yg berarti mencelupkan warna islami ke dlm pemerintahan.

6. Di twit ini, sangat sangat sangat banyak pernyataan bahwa pks “memaksakan ajaran mereka”. PKS disebut memaksakan “keadilan distributif ala Islam”. Pertanyaannya, sejak kapan pks memaksa? Apakah pks di parlemen pernah memaksakan pemberlakuan syariat Islam? Pernah memaksa utk memotong tangan bagi pencuri? Apakah gubernur jawa barat Ahmad Heryawan atau gubernur sumatera utara Gatot Pujo pernah memaksakan syariat islam di peraturan pemerintahnya?Bagaimana mungkin pks memaksakan kehendak mereka, padahal masuk ke dalam Islam saja ga ada paksaan, karena Allah berfirman, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (Al Baqarah: 256) (atas dasar ayat Al Quran ini pula kita tidak bisa membenarkan tindakan ISIS)

7. Ada apa dengan “keadilan distributif ala islam”? Pernahkah orang ini mempelajari ttg keadilan distributif tersebut? Distribusi di sini sangat berbeda dengan distribusi komunis. Islam mengenal hak kepemilikan. Setiap orang berhak atas harta yang diperoleh dengan jerih payahnya. Distributif ala Islam memastikan bahwa harta kekayaan tidak menumpuk di orang-orang tertentu saja. Karena itulah Islam mewajibkan umatnya berzakat, agar harta juga beredar di orang-orang yang membutuhkan. Islam juga melarang harta ditumpuk tanpa ada pemanfaatan, melainkan harta harus terus berputar, supaya terus termanfaatkan. Adakah yang salah dengan keadilan distributif ini? Mengapa orang ini mempermasalahkan? Apakah orang ini menentang “keadilan distributif” karena mendukung ekonomi kapitalis ala negara liberal? Entahlah.

8. PKS juga dianggap menyebarkan paham universal internasionalis. Dia pun mengatakan Indonesia tidak bisa disamakan dengan dunia luar. Pernahkan pks menginginkan Indonesia sama dengan dunia luar? Dalam acara-acara resmi pks, tidak jarang menampilkan tarian dan budaya tradisional. Apakah pernah ada usaha pks menghilangkan budaya-budaya tradisional dan menggantinya dengan budaya arab? Para kader dan politisi pks jarang (atau mungkin ada yg ga pernah) memakai baju gamis ketika berkegiatan. Selain menggunakan kata-kata seperti “ana, antum” dalam kondisi terbatas, kader partai juga tidak canggung memakai kata “gua, elu”. Apa maksud dari pernyataan orang ini “menyamakan Indonesia dengan dunia luar”?

9. Dia menyatakan bahwa paham yang menginginkan Indonesia menjadi Negara Islam harus dibersihkan. Mendiskusikan Negara Islam sangatlah panjang. Namun, negara Islam bukanlah berarti mengganti identitas Indonesia menjadi “Negara Islam Indonesia”, melainkan tetap sebagai “Negara Kesatuan Republik Indonesia” yang diberkahi oleh Allah melalui penerapan ajaran-ajaran Islam yang sama sekali tidak merugikan siapa pun termasuk nonmuslim. M. Natsir, dalam pidatonya di sidang konstituante, menerangkan bahwa Islam sama sekali tidak merusak apa yang telah tertulis dalam Pancasila, malah melengkapinya. Jika diterapkan, M. Natsir menambahkan, tidak akan sedikit pun merugikan dan mengurangi hak kaum minoritas, sebaliknya malah menguntungkan. Perlu dicatat, parpol yang berazaskan Islam tidaklah melanggar konstitusi. Usaha parpol atau pihak untuk mewarnai pemerintahan dengan nilai-nilai Islam selama tidak melanggar konstitusi negara (sebenarnya tidak akan pernah melanggar karena tidak bertentangan) adalah dibolehkan. Karena itu, jika ada pihak yang ingin membersihkan paham ini maka itu menunjukkan mereka sebenarnya tidak siap berdemokrasi.

10. Prof Sahetapy menjelaskan bahwa “siapa pun yang menentang pemahaman pks, maka oleh kader pks disebut sebagai antiIslam”. Wah, ini tuduhan yang sangat serius. Pernahkah ada kader pks yang demikian? Apakah orang-orang muslim yang tidak memilih pks berarti antiIslam? Tidak setuju dengan apa yang disampaikan pks disebut antiIslam? Benar-benar ide yang sangat konyol. Tidak pernah sekalipun ada ajaran semacam ini. Gerakan-gerakan dakwah yang tidak sepaham bahkan menentang pks ada banyak. Namun tidak pernah pks mencaci dan menyebut mereka musuh, melainkan mereka dipanggil sebagai “saudara seiman yang berbeda jalan”.

11. Orang yang memberikan klarifikasi atas tuduhan yang diberikan kepada pks maka akan disebut “membela mati-matian pks”. Yahh, hal ini sudah sangat umum. Setiap kader partai yang membela dan mengklarifikasi partainya akan disebut ”membela mati-matian” dan “fanatik buta”. Hal yang sama juga pernah diarahkan ketika para dokter turun aksi ke jalan menuntut keadilan atas dokter Ayu. Sy menulis klarifikasi ini pun mungkin akan disebut “membela mati-matian pks”, heheh.

12. Di twit no. 63, disebut partai lain yang melawan pks sesungguhnya melawan ideologi komunis. Ideologi islam yang dibawa pks disamakan dengan komunis. Padahal, tidak sedikitpun apa yang dibawa pks seperti ajaran komunis yang telah disebutkan di atas. Setiap kader berhak atas harta yg diperolehnya. Komunis secara politik berarti hanya mengakui satu partai, yaitu partai komunis. PKS sendiri berkoalisi. Adakah pks tidak mengakui eksistensi partai lain dan menganggap HANYA partainya yang benar sendiri? Bukankah pks berkoalisi? Orang ini jg bilang pks adalah komunis agamis. Padahal tokoh komunis, Stalin, mengatakan agama hanyalah takhayul yg menghambat produktivitas. Tokoh komunis Cina jg membuat pernyataan terkenal “religion is a poison”.

13. “PKS lebih peduli palestina ketimbang TKI”. Prof Sahetapy udah pernah baca berita ini belum ya? Monggo bagi yg belum baca jg bisa diintip:

Kampanye di Semarang, PKS kumpulkan dana untuk TKI Satinah

PKS Usulkan Pembenahan Perlindungan TKI

PKS dan TKW-TKI di Malaysia

14. Palestina bukan hanya isu milik umat Islam, terlebih hanya milik pks. Dikatakan oleh prof ini bahwa tindakan membenci AS merupakan warisan ajaran Uni Sovyet kepada para partai komunis semenjak perang dingin. Apa hubungannya isu palestina dengan Uni Sovyet dan partai komunis? Memangnya rusia menentang Israel dan terang-terangan membantiu palestina? Dihubung-hubungkan bahwa pki dan pks sama-sama menjadikan AS sebagai musuh bersama Sejak kapan pks menjadikan AS musuh bersama? Bukankah banyak sekali kader pks yang belajar menuntut ilmu ke negeri paman sam sana? Seorang petinggi partai, Nur Mahmudi Ismail (kini walikota Depok), meraih gelah Phd Science Food and Science Technology di Texas A & M University, Amriki. Tidak pernah AS dijadikan sebagai musuh, melainkan kebijakan-kebijakan politik luar negerinya yg merugikan umat. Bukan rahasia lagi bahwa AS merupakan negara penyumbang terbesar ke Israel. Saat PBB mengajukan voting utk pengusutan kejahatan kemanusiaan di Gaza, AS malah menolak. Karena ini, bukan hanya pks yg membenci kebijakan tersebut, melainkan juga para pejuang kemanusiaan di seantero dunia.

15. Demo menentang kekerasan Israel bukan hanya di Indonesia. Kawan-kawan kita di eropa sana akan bisa bercerita panjang lebar tentang aksi  turun ke jalan dan boikot besar-besaran produk Israel. Ini bukan di Indonesia, tp di eropa. Malah dokter-dokter di belgia menolak pasien yahudi (semoga dokter-dokter di Indonesia tidak meniru langkah ini karena dokter telah disumpah untuk menangani pasien tanpa membedakan ras dan agama). Tapi oleh prof ini seolah-olah pks ikut-ikutan pki memusuhi AS dan Israel. Benar-benar pendapat yang aneh. Apa prof ini juga mau mengatakan orang-orang yg peduli dengan palestina di seluruh dunia sebagai kader pks?

16. PKS lebih mementingkan internasional ketimbang nasional. Prof, apa anda pernah melihat kader-kader pks yg turun di bencana Aceh, Padang, dll? Kisah aksi kemanusiaan kader di bencana Aceh sekilas diceritakan di buku “Sepanjang Jalan Dakwah”. Silakan intip kalau penasaran. Terlebih kader yang turun sebagai relawan di berbagai organisasi kemanusiaan. Ga terhitung jumlahnya. Mereka turun tangan walau tidak atas nama pks atau berlabel partai. Masih ingin menyebut mereka turun ke aksi kemanusiaan hanya untuk tujuan kekuasaan? Tidak lain untuk mengaplikasikan ajaran Rasulullah saw. yang sering disampaikan di pengajian rutin mereka: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, Thabrani).

17. Di twit no. 106, disebutkan bahwa zionisme merupakan kekuasaan yang ingin diciptakan AS. Lalu di twit no. 107, “Sayangnya, negara/gerakan yg tdk sepaham dengan imperialis hanyalah komunis…hanya kedua paham ini yg ada”. Twit ini merupakan yang paling mengejutkan. Apa maksudnya? Benarkah twit ini tulisan orang sekelas professor? Orang yg menentang imperialisme AS berarti orang yg berpaham komunis??? Berarti, jika tidak ingin menjadi komunis, kita harus mendukung paham liberalisme dan kapitalisme AS? Apakah semangat gotong royong negara kita sejalan dengan liberalisme dan kapitalisme, yang hanya mengutamakan kepentingan individual? Twit ini menyiratkan bahwa orang ini merupakan pendukung dan pro AS.

18. Twit no. 111 & 112 menuliskan pki tuding pebajabat hidup mewah sebagai orang liberal. Demikian juga pks. Ini dari mana informasinya ya? Kader pks ada banyak macamnya, mulai dari orang-orang kaya, yang didapat dari wirausahanya maupun profesinya, hingga orang yang serba kekurangan. Kader yg hidup dengan fasilitas mewah jumlahnya tidak sedikit. Dalam satu kelompok pengajian rutin, bukan hal yg aneh anggotanya terdiri dari orang yg kaya dan orang yg kesulitan keuangan. Meskipun beda status ekonomi, namun tetap mereka duduk bersebelahan. Malah guru ngajinya yg kekurangan ketimbang anggotanya jg hal yang biasa saja. Cerita anggota kelompok pengajian rutin membantu teman sekelompoknya yg membutuhkan sudah bukan berita asing. InsyaAllah mereka yg hartanya lebih menyadari kewajibannya untuk menyucikan hartanya melalui zakat dan sedekah. Lalu prof ini menuding pks menyebut orang yg hidup mewah sebagai orang liberal?

19. Twit no. 115-117 menuliskan bahwa kebencian terhadap AS merupakan ajaran Uni Sovyet. He! Hehehe! Aneh-aneh aja professor ini. Argumen ini seperti yang dibuat-buat.

20. No. 120: berdasarkan sejarah musuh Indonesia adalah Jepang, Belanda, dan NICA Inggris (maksudnya prof ini mengajak Indonesia—saat ini—memusuhi jepang dan belanda?). No. 123-124: AS yg membebaskan Indonesia dari penjajahan Jepang melalui bom atom (wah, prof, tau ga kalau cerita bom atom bagi rakyat AS sendiri adalah hal yang sangat memalukan? Native speaker asal amriki sendiri yg ngomong begitu. Sekarang prof ingin memasukkan dalam pelajaran sejarah bahwa seolah AS berjasa terhadap kemerdekaan Indonesia?). No. 125-126: pks mengajak memusuhi musuh komunis yaitu AS (apa hubungannya memusuhi kebijakan AS yg ga manusiawi dgn komunis?). No. 128-129: Israel blm pernah berkonfrontsi dgn Indonesia, tp secara misterius Indonesia memusuhi Israel karena agama (prof, suka baca berita? Yg mengecam Israel bukan cmn umat Islam. Bahkan PBB pun turut “mengecam”. Berapa jumlah masyarakat eropa dan negara-negara lain yg mengecam aksi kejahatan Israel? Ah, itu tanyakan aja ke teman prof yg di sana, punya kan?)

21. No. 139: PKS mencap kafir, dajjal, tukang fitnah, togut, musyrik kpd musuh-musuhnya. Musuh-musuh di sini maksudnya Israel dan kebjikan luar negeri AS? Yahh, kalau itu sih bukan cmn pks pak yg ngomong begitu.

22. Di twit selanjutnya dikatakan kemiripan pki dan pks adalah kemampuannya mengorganisasi massa dalam aksi turun ke jalan. Hoo, jadi ente mau nyebut para buruh, guru, dan mahasiswa yg lebih sering turun ke jalan secara terorganisasi sebagai pki?

23. No. 164: GAM mirip Ikhwanul Muslimin (IM), yaitu pergerakan dari senjata ke partai politik. Profesor yg terhormat, pernahkah anda membaca kisah IM di Mesir? Tidak pernah sekalipun IM menggunakan senjata. Mulanya ia adalah organisasi keagamaan yg berkembang menjadi organisasi politik, kemanusiaan, klub olahraga, dll. Yang ada malah kader-kader IM ditembak dan dibantai pemerintah Mesir. Pernah baca berita aksi kader IM dan masyarakat Mesir yg mendemo kudeta penggulingan Mursi, presiden yg terpilih sah secara demokratis? Ada berita mereka berdemo sambil menembakkan senjata? Kok yg sy baca malah mereka yg ga bersenjata ditembaki oleh para tentara ketika solat subuh ya?

24. No. 174-175: terjadi pelonjakan suara luar biasa karena politik identitas pks tahun 1999-2004. Wah prof, kalau hanya mengandalkan identitas berjualan agama, knp hal yg sama ga terjadi di partai Islam lain seperti PPP, PAN, PKB, dan PBNU ya?

25. No. 180-181: yg berseberangan dgn pks siap-siap disebut musuh Islam dan antek asing. Astagfirullah prof! Kapan ada orang pks yg bilang begitu? Organisasi Islam yg berseberangan dan malah ga suka dgn pks ada banyak, tp kok pks ga menyebut mereka antiIslam ya? Mereka malah menyebutnya tetap sebagai saudara. Pernah ada kader pks yg bilang bahwa orang yg ga sepaham dan ga milih pks sebagai antiIslam? Siapa? Kapan? Di mana? Tuduhan anda sangat serius prof!

26. No. 183: ketika Qurasih Shihab (QS) mengatakan blablabla tentang nabi Muhammad saw., pks langsung mengeroyok. Setau sy, prof ini adalah nonmuslim. Mohon maaf prof, dengan segala hormat, jika anda memang bukan muslim, sebaiknya tidak usah ikut berkomentar tentang hal ini. Pernah membaca hadis-hadis Rasulullah saw.? Jelas sekali bahwa beliau saw. dalam banyak hadis telah dijamin oleh Allah masuk surga karena rahmat Allah. Dalam video ceramah QS, kita bisa mendengar—dengan sangat jelas—dia mengatakan bahwa Muhammad saw. tidak dijamin masuk surga. Dan dari apa yg sy liat dan dengar, yg memprotes ini bukan hanya kader pks, tp umat muslim secara umum. Terang saja kita memprotes hal ini karena ini berkaitan dengan aqidah yg merupakan fondasi agama. Ucapan QS ini jg didengar oleh banyak masyarakat, sehingga harus segera diluruskan. Alhamdulillah, QS melalui websitenya pun akhirnya mengakui bahwa Rasulullah saw. telah dijamin masuk surga oleh Allah.

27. No. 186: pks membuat agama politik, agama baru (kami berlindung dari fitnah seperti ini. Syahadat kami sama, ajaran kami pun sama, yaitu dari Al Quran dan sunnah, ga ada yang baru. Politik bukan hal yg baru bagi Islam, sebagaimana yg telah dijelaskan). No. 198: musuh AS cmn komunis doang (oh, begitu ya prof? kok kyknya anda membela mati-matian AS?). No. 203: pki dan pks berprinsip berpihak ke yg peluang menang paling besar (loh, kok yg sy dapati itu adalah prinsip semua parpol ya? Kalau pks berprinsip kyk gtu, knp pas pilkada Jakarta kemarin ga dukung Jokowi aja? Pas pemilu jateng, yg merupakan basis merah, dukung Ganjar Pranowo aja? Pas pilpres kemaren jg dukung jokowi aja?). No. 214: pks masuk ke TNI melalui Wiranto dan keluarga Cendana melalui Titiek Soeharto (DUUAAARRR!!!). No. 230: nentang pks secara gamblang, besok dianggap musuh Islam (kami berlindung dari fitnah keji seperti ini). No. 271: media pks salah satunya VoA Islam (VoA Islam media pks? Ga salah prof? Wong pernah ada artikel voa Islam yang mencaci pks. Atau, anda bilang voa Islam sbg media pks krn di media itu banyak tulisan provokatifnya, sehingga ingin menghubungkan pks dgn gerakan teroris? Hmm!)

28. No. 190 dan 291: pks lebih perhatian kepada palestina ketimbang papua. Pernahkah bertemu kader pks di papua? Pernah dengar cerita pengabdian dan dakwah mereka bagaimana? Pernah juga bertemu kader pks yang bekerja sebagai dokter ptt di sana? (sy sendiri jika berkesempatan ingin sekali ptt di papua, insyaAllah)

29. No. 289: salahnya AS ke Indonesia ialah berlawanan dgn paham komunis. Sekali lagi kami tergaskan prof, yg kami musuhi ialah kebijakannya yg merugikan umat Islam, seperti di Irak dan Gaza. Dan yg menentang kebijakan seperti ini bukan cuman pks, tapi jg manusia yg berpkiran jernih. Jadi anda ga perlu membela mati-matian amriki.

30. No. 297: hidup sama rasa sama rata ala pki dijiplak pks. Hal ini sudah dijelaskan, bahwa kondisi kader pks sangat beragam. Tidak pernah ada aturan batasan kekayaan dan hak kepemilikan. Yang ada hanyalah kewajiban berzakat dan bersedekah.

31. No. 308: pks bibit pemberontakan. No. 312: potensi kekerasan tertanam dalam ajaran pks. No. 314: utk melawan musuh, pks menghalalkan jalan kekerasan. Pernah dengar kader pks membuat kerusuhan? Ketika aksi turun ke jalan dan kampanye, penah pks berbuat rusuh dan kekerasan? Sy pernah dengar kampanye parpol yg berakhir rusuh dan tindak kekerasan, tp sepertinya itu bukan pks. Sudah, tidak perlu disebut di sini siapa pelakunya. Yang perlu kita kritisi adalah perilakunya. Mengenai ajaran kekerasan, silakan prof mengikuti pengajian pekanan kami, untuk mengetahui apa saja yg diajarkan. Silakan mengunjungi DPC atau DPD terdekat. Partai membuka pintu bagi nonmuslim sekalipun, karena memang ada pengurus partai yg nonmuslim.

32. Di twit ini berkali-kali sang prof mengklaim dirinya bukan antiIslam. Ya, mungkin dia tidak anti jika umat muslim melakukan ibadah-ibadah ritualnya, seperti solat, puasa, dan haji. Namun, ketika nilai-nilai Islam sudah masuk ke tatanan sosial, resah pun mulai muncul. Terlebih jika Islam masuk ke dunia politik. Jelas sekali orang ini ingin membersihkan pemikiran Islam mewarnai politik. Dan yang ingin memberangus gerakan Islam dalam dunia politik bukanlah hanya seorang ini, melainkan ada banyak. Sangat banyak. Hal ini persis seperti perkataan Muhammad Natsir bertahun-tahun lalu:

Islam beribadah itu akan dibiarkan. Islam berekonomi akan diawasi. Islam berpolitik itu akan dicabut seakar-akarnya

Demikian klarifikasi ini sy buat. Semoga bermanfaat.

Salam hangat.

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Uji Kompetensi Dokter Ilegal?

Pernahkah terbayangkan, jika orang tua kita mendadak jatuh ke lantai dengan bunyi “Duaakk!!” keras, lalu ia kehilangan kesadarannya? Dipanggil tak menyahut, digoyang-goyangkan badannya pun sama saja. Apa yang selanjutnya dilakukan? Ya, tentu saja akan terbirit-birit membawanya ke dokter atau memanggil ambulans agar segera ditangani oleh dokter. Harus cepat! Karena mungkin terlambat sedikit saja, nyawa orang yang kita sayangi akan melayang.

Bekerja dalam hitungan detik yang menentukan nyawa, dokter harus paham setiap keputusan dan tindakan yang diambil. Tidak hanya cepat, tapi juga harus benar! Salah prosedur secara tidak sengaja karena terburu-buru malah bisa mencelakakan pasien.

Di tengah kondisi ini, apa yang keluarga pasien lakukan?

Diam. Hanya melihat para dokter dan tenaga medis bekerja. Mungkin disertai doa penuh harap dan linangan air mata. Karena hanya itu yang bisa dilakukan oleh mereka. Selain memasrahkan kepada Allah, kondisi orang yang tercinta pun diserahkan sepenuhnya kepada dokter yang menanganinya.

Melalui gambaran kondisi ini, bisakan kita membayangkan betapa besarnya tanggung jawab yang dipikul oleh dokter? Yang ditangani secara langsung olehnya ialah nyawa, yang mungkin istilah “nyawa” sendiri masih merupakan misteri. Adalah hak Allah SWT yang menentukan hidup dan mati, namun melalui tangan dokterlah tersampaikan ayat Allah yang berbunyi, “…sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri…” (Ar Ra’d: 11).

Karena itu pula pendidikan kedokteran dikenal oleh masyarakat luar sebagai “pendidikan yang sangat susah” atau “lamanya sekolah kedokteran 6 tahun” (sekarang sekolah kedokteran umum ada yang 5 atau 6 tahun) atau “bukunya tebal-tebal” atau “anak-anak kedokteran kerjaannya belajar melulu”. Tidak bermaksud mebanding-bandingkan profesi karena semuanya ialah mulia jika diniatkan sebagai ibadah kepada Allah. Namun, dokter adalah manusia yang bertanggung jawab mewakili Allah menangani kondisi kesehatan hingga nyawa seseorang.

Pada akhirnya, ilmu kedokteran sangatlah fragile. Di buku-buku teks kedokteran buatan barat yang tebal itu seringkali ditemukan kalimat “The process is not fully understood”. Adalah haram bagi dokter menjanjikan kesembuhan kepada pasien, seperti “Bapak/Ibu, jika mendapat pengobatan ini nanti Bapak/Ibu akan sembuh” melainkan “Bapak/Ibu, saya usahakan yang terbaik untuk kesembuhan Bapak/ibu”. Dokter sekelas professor pun manusia, dan apalah artinya manusia yang ilmunya sangat terbatas di hadapanNya?

Dokter seperti apa yang masyarakat percaya? Tentu yang berkualitas. Apakah semua dokter di Indonesia memiliki kualitas yang cukup untuk menangani pasien? Saya sendiri sebagai dokter harus menjawab bahwa ya, kami semua berkualitas…jika melewati seluruh proses pendidikan kedokteran dengan baik dan benar.

Jumlah fakultas kedokteran (FK) di Indonesia saat ini mencapai angka 73. Berarti kita harus bersyukur dong, karena jumlah dokter di Indonesia akan meningkat? Semakin banyak dokter berarti semakin banyak pasien yang tertangani, bukan? Sayangnya, pertambahan jumlah FK tidak diikuti dengan penjaminan kualitas. Dari 73, sebanyak 35 FK berakreditasi C (di bawah standar). Kita belum berbicara fasilitas yang memadai untuk mencetak dokter.

Kenapa bisa ada banyak FK bermunculan? Benarkah lahirnya FK dilandasi dengan kebutuhan masyarakat Indonesia akan dokter? Saya tidak suka anggapan bahwa didirikannya FK sebagai cara universitas cari uang. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa FK seringkali jadi sapi perahan di berbagai institusi. Berapa biaya masuk dan semesteran FK saat ini?

Untuk menjamin kesetaraan kualitas dokter di Indonesia, dibuatlah Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). Ujian ini pertama kali dilaksanakan April 2007. Soal ujian disamaratakan—dari paling timur hingga paling barat Indonesia—dengan standar soal mengacu pada Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). Jangan samakan UKDI dengan UN—yang dikeluhkan bahwa UN tidak bisa disamaratakan untuk setiap wilayah—standar soal ujian dokter HARUS SAMA karena akan berhadapan dengan nyawa manusia.

Awalnya UKDI memiliki nilai batas lulus 40-an. Kemudian batas kelulusan UKDI semakin naik—sekarang, batas lulus ialah 66. Ditambah lagi di tahun 2013, UKDI tidak sekedar ujian pilihan ganda (Computerized Based Test = CBT), tapi juga disertai dengan ujian praktek (Objective Structured Clinical Examination = OSCE). Baik ujian CBT maupun OSCE harus lulus jika ingin menjadi dokter di Indonesia.

Berat? Tapi memang begitulah proses yang harus ditempuh jika ingin menjadi orang yang dipercaya untuk memegang nyawa manusia.

Siapa panitia UKDI? Belum ada dasar hukum yang menjelaskan. Undang-Undang Praktek Kedokteran (UU Pradok) tahun 2004 hanya menyebutkan tentang ujian kompetensi sebagai syarat, tidak menyebutkan siapa penyelenggaranya. Kemudian, dibuatlah kesepakatan antara Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI, organisasi profesi dokter), Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia atau AIPKI (AIPKI bisa disebut juga sebagai persatuan FK se-Indonesia), perwakilan FK se-Indonesia, dan Dirjen Dikti. Nota kesepakatan ini tertulis berakhir di tahun 2013, atau di tahun UU Pendidikan Kedokteran (UU Dikdok) terbit.

Namun muncul masalah. UU Dikdok menyebutkan bahwa pelaksana UKDI ialah FK bekerja sama dengan AIPKI dan berkoordinasi dengan IDI. Lalu disebutkan bahwa ketentuan tentang pelaksaannya diatur oleh Peraturan Menteri (Permendikbud). Tahun 2013 telah berakhir tetapi Permendikbud belum keluar juga. Lalu bagaimana dengan ujian tahun 2014?

IDI meminta UKDI ditunda hingga Permendikbud keluar. Tapi mau menunggu sampai kapan? FK dan AIPKI tidak bisa menunggu karena kasihan sekali para calon dokter—yang telah menyelesaikan pendidikannya dan tinggal ujian—harus menganggur menunggu ketidakpastian. Para calon dokter ini akan tetap tercatat sebagao mahasiswa sehingga harus membayar semesteran. Selain itu, para pengangguran ini akan menghambat datangnya mahasiswa baru. Tapi IDI tidak mau tahu, pokoknya harus menunggu.

Di kondisi ketidakpastian inilah, AIPKI tetap menyelenggarakan ujian tanpa melibatkan IDI. Semenjak awal pelaksanaan ujian, memang AIPKI-lah sebagai penyelenggara utama. Mereka yang membuat standarisasi, membuat soalnya, dan menentukan standar kelulusan. Dilangsungkanlah UKDI Februari 2014, tapi PB IDI tidak mau menerima.

IDI pun melayangkan edaran bahwa UKDI yang diselenggarakan AIPKI adalah ILEGAL, dengan alasan tidak sesuai hukum. Akibatnya, Kolegium Dokter Primer Indonesia (KDPI), lembaga di bawah IDI, tidak mau mengeluarkan sertifikat kompetensi (serkom) bagi lulusan Februari 2014. Padahal biasanya setelah lulus UKDI langsung dapat serkom. Serkom adalah sertifikat bagi dokter agar bisa praktek.

image

Menariknya, KDPI di bawah IDI pun membuat ujian tersendiri di bulan Mei. Lulusan UKDI Februari 2014 harus mengikuti ujian kembali buatan KDPI ini jika ingin mendapat serkon. Dasar hukum apa yang membolehkan KDPI membuat ujian? Mereka bilang UU Pradok. Saya baca berkali-kali UU Pradok tapi tidak ditemukan pernyataan bahwa pelaksana UKDI ialah KDPI. IDI menganggap AIPKI melanggar hukum lalu meresponnya dengan pelanggaran hukum pula?

Arogansi. Saya menyebut ini sebagai langkah “pamer kekuasaan”. Tidak apalah tidak ada dasar hukumnya, toh sertifikat kompetensi kami yang punya—mungkin inilah yang ada di kepala mereka.

Ujian seperti apa yang dibuat oleh KDPI? Saya tidak ingin bercerita tentang ujian tersebut yang sangat menggelikan. Yang jelas IDI dan KDPI tidak memiliki kompetensi untuk membuat standar dan soal yang sesuai dengan SKDI. Lagipula, apakah mereka punya panitia yang bisa mengecek jawaban dari sekian banyak peserta? Awalnya dijanjikan pengumuman hasil ujian di tanggal 5 Juni, tapi tiba-tiba diundur menjadi seminggu kemudian. Ah, sudahlah.

Siapa yang salah? AIPKI? Ya, karena ujian bauatannya tidak sah untuk mendapatkan serkom. Namun, AIPKI berhak melaksanakan ujian untuk meluluskan mahasiswa hingga mendapatkan ijazah dokter. Mendikbud? Ya, karena lamban dalam mengeluarkan permen. IDI? Ya! Karena membuat ujian yang jelas-jelas tidak ada dasar hukum dan sikapnya yang arogan.

Lagipula saya ingin bertanya kepada IDI, apa yang membuat mereka menolak UKDI Februari 2014? Hukum? Permendikbud keluar sangat lambat dan saat itu tidak diketahui kapan akan keluarnya. Jika memang demikian, kenapa tidak kembali membuat nota kesepahaman bersama? Apa IDI rela membiarkan sekian banyak para calon dokter menganggur? Apa motivasi mereka? Apakah karena suatu kepentingan politis, sehingga IDI menginginkan standar kelulusan UKDI diturunkan?

IDI memiliki riwayat yang tidak sedap tentang UKDI ini. Ada istilah Uji Kompetensi Retaker Khusus (UKRK), ditujukan bagi mereka yang belum lulus UKDI. UKRK ini diselenggarakan oleh IDI, dengan nilai batas kelulusan di bawah standar UKDI. Pada UKRK I masih sangat banyak yang belum lulus. Dibuatlah UKRK II dengan standar kelulusan yang diturunkan lagi, baru kemudian banyak yang lulus. Inikah kualitas dokter yang diharapkan oleh negeri?

Polemik pun berlanjut. UKDI Mei 2014 yang baru saja diselenggarakan oleh AIPKI kembali tidak diakui oleh IDI. Kemudian, IDI pun hendak membuat ujian tersendiri di bulan Juni yang menjadi penentu keluarnya serkom. Yang mengejutkan, persyaratan ujian Juni ini bukanlah peserta yang telah lulus UKDI Mei, melainkan yang telah mendapat ijazah dokter. Tidak perlu ditutupi, ada beberapa FK yang mau mengeluarkan ijazah dokter meskipun anak didiknya belum lulus UKDI. Artinya, seorang yang belum teruji di UKDI namun diberi hadiah ijazah oleh kampusnya bisa saja mengikuti ujian ini lalu mendapat serkom.

Pertanyaannya, bisakah kualitas ujian IDI ini terjamin? Apakah mereka memiliki standar soalnya? Lalu, bagaimana batas kelulusannya? Bisakah kualitasnya dipertanggungjawabkan?

Jumlah calon dokter yang masih belum lulus UKDI sangatlah banyak. Bahkan ada yang telah belasan kali ikut UKDI namun belum lulus juga! Lalu, dari sini muncullah mafia. Berbagai cara ditempuh agar mendapatkan sertifikat kompetensi, meski kualitas belum teruji. Ada info berseliweran tentang cara mendapatkan serkom tanpa harus ikut UKDI, dengan membayar sekian rupiah. Padahal, UKDI-lah yang mampu menjamin kualitas kompetensi dokter!

Mau dibawa ke mana kualitas dokter Indonesia? Terlebih, tahun 2015 kita akan menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN. Kelak yang mudah masuk ke negara kita bukan hanya barang, tapi juga tenaga kerja!

Saya tidak ingin bicara tentang masalah hukum yang dilanggar oleh AIPKI dan IDI, melainkan tentang esensi menjadi dokter itu sendiri.

Tegakah seorang mengaku dokter namun kompetensinya belum teruji? Jika merasa kompeten, kenapa tidak hadapi saja ujian kompetensi dengan penuh percaya diri?

Hanya berbekal ijazah yang dihadiahi oleh fakultasnya, kemudian mengikuti ujian yang belum jelas kualitasnya lalu diberi hak praktek–itukah esensi menjadi dokter? Bila satu dokter tidak kompeten ketahuan malpraktek, yang tercoreng namanya bukan cuma dokter itu atau asal sekolahnya, tapi seluruh dokter di Indonesia! Lalu, media pun memberitakannya–kita sudah cukup lelah dengan berita dr. Ayu–hingga muncullah pandangan-pandangan negatif terhadap dokter Indonesia.

Relakah dokter-dokter di negara ini tidak berkualitas?

Categories: merenung | Tags: , | 15 Comments

Menjadi Kartini

Anda tahu Piccolo? Sebagai orang dengan masa kecil yang bahagia tentu takkan melewatkan kisah Dragon Ball. Makhluk berwarna hijau ini berasal dari Planet Namec. Hal yang unik dari makhluk planet namec ialah caranya bereproduksi, yaitu dengan memuntahkan telor, yang kemudian telor tersebut akan menetas menjadi manusia Planet Namec baru.

Bayangkan jika manusia bumi bereproduksi dengan cara demikian (baca: tanpa proses perkawinan)! Tentu hidup terasa kurang menyenangkan, bukan?

Adalah anugerah Allah, tercipta manusia dalam dua jenis yang berbeda, yaitu laki-laki dan perempuan. Masing-masing jenis memiliki ciri khas dan karakteristik berbeda. Fungsinya sebagai manusia pun tidak sama: sifat khas pada masing-masing genderlah yang membuatnya optimal dalam menjalankan perannya.

Meskipun demikian, bukan hal yang mustahil jika laki-laki mengambil fungsi perempuan dan perempuan mengambil fungsi laki-laki. Namun, sy pribadi melihat, hampir semua (atau semua?) fungsi laki-laki diambil alih oleh perempuan.

Sebagai pencari nafkah? Bukan hal yang aneh di telinga jika seorang istri memiliki penghasilan lebih besar daripada suaminya. Bahkan mungkin kita juga pernah mendengar penghidupan keluarga yang bergantung kepada penghasilan sang istri.

Sebagai pekerja kasar? Pekerja kasar perempuan bisa kita jumpai.

Sebagai pemimpin imperium? Kita mengenal Ratu Victoria, yang pada masa pemerintahannya Inggris begitu digdaya melakukan ekspansi ke berbagai belahan dunia.

Sebagai tukang jotos? Preman? Bodyguard? Ahli beladiri?

Di sisi lain, ada fungsi perempuan yang tidak akan pernah tergantikan oleh laki-laki, yaitu sebagai seorang IBU. Takkan pernah bisa laki-laki mengandung dan menyusu anak. Begitu pula dengan kasih sayang. Adalah fitrah bila anak memiliki kecenderungan dan keterikatan yang lebih kepada ibu. Atau, jika dibandingkan, anak lebih membutuhkan kasih sayang ibu ketimbang ayah—sekali lagi, jika dibadingkan.

Di masa modern ini, sudah lama terjadi pergeseran fungsi seorang ibu. Tidak ada lagi sosok di keluarga yang memberi perhatian penuh dan pendidikan di rumah secara intensif kepada anak. Seringkali fungsi tersebut digantikan oleh PRT.

Tidak sedikit kaum ibu lebih sibuk dengan pekerjaannya ketimbang mengurus anak. Mencari materi dianggap sebagai prioritas utama dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. Dari pagi sampai sore, biarlah anak dipegang oleh PRT, malam harinya baru berinteraksi dengan orang tua—itu pun kalau pulang kerjanya ga kemaleman. Saat beranjak tumbuh, anak sudah mulai bisa mengatur dirinya sendiri. Biarlah ia mengurus urusannya sedangkan sang ibu bekerja makin keras, interaksi baru terjadi jika sang anak membutuhkan uang.

Lebih parah, ada—banyak malahan—ibu yang tidak mau merasakan rasa sakit ketika melahirkan, padahal itu adalah pengorbanan alami seorang ibu. Demi menghindarinya, operasi cesar pun diajukan kepada dokter kandungan. Masyarakat haruslah paham bahwa operasi cesar harus dilakukan berdasarkan indikasi yang benar, semisal gawat janin atau eklamsi (hipertensi & kejang pada ibu hamil). Jika operasi dilakukan tanpa indikasi, maka tindakan tersebut adalah malpraktek.

Semua itu dilakukan atas nama emansipasi dengan tokoh panutannya Raden Adjeng Kartini.

Benarkah Kartini memperjuangkan emansipasi demikian?

Mungkin kita pernah membaca tulisan-tulisan yang mengatakan bahwa pengangkatan Kartini sebagai pahlawan kaum wanita adalah kontroversi. Apa yang sudah Kartini lakukan dibandingkan dengan Cut Nyak Dien—yang turun ke medan perang mengusir penjajah? Di beberapa media bahkan Kartini disebut sebagai propaganda Orde Lama, disukai oleh penjajah Belanda, konspirasi Wahyudi, bla bla bla bla….

Memang betul tokoh-tokoh perempuan seperti Cut Nyak Dien, Keumalahayati, Rohana Kudus, dll sangat pantas diangkat sebagai pahlawan wanita Indonesia. Tapi kenapa hanya Kartini yang dikenang? Hingga sejak bangku SD kita didoktrin tentang tanggal 21 April dan lagu Ibu Kita Kartini.

Terlepas dari alasan pihak pemerintah saat itu, bagi sy pribadi, Kartini ialah tokoh yang sangat pantas mendapat respek besar. Di tahun-tahun sebelumnya memang sy pun berpendapat Kartini tidak pantas menjadi tokoh yang dipanuti negeri ini, hingga beberapa menit lalu membaca surat-suratnya.

Sosok kritis yang mengagumkan! Itulah kesan sy ketika membaca beberapa tulisan-tulisannya. Sy pribadi pun sekarang lebih mengenal beliau sebagai “penguntai kata-kata yang begitu indah”.

Latar belakang kondisi saat itu membuat RA Kartini tidak banyak pilihan. Gelar ningrat membuatnya menikmati pendidikan sekolah, namun itu semua harus putus ketika berusia 12 tahun. “Kelak ketika engkau dewasa Nil, kamu akan menjadi Raden Ayu yang akan disunting atau dinikahi oleh laki-laki keturunan bangsawan yang sederajat dengan kakek atau pun ayahanda kita,” begitu kata kakak laki-lakinya.

Trinil, panggilan akrab Kartini, pun harus mendekam di dalam rumah tanpa merasakan kebebasan dunia luar. Di saat inilah kegelisahan begitu bergejolak, yang akhirnya termuntahkan dalam untaian kata-kata yang begitu indah.

Kesempatan mengenyam pendidikan dasar membuatnya mampu berbahasa Belanda dan bergaul dengan orang-orang Eropa (Belanda) yang sekolah di Jepara. Di tengah pengurungannya, bercarik-carik kertas korespondensi pun mengalir.

“Gadis itu kini telah berusia 12,5 tahun. Waktu telah tiba baginya untuk mengucap selamat tinggal pada masa kanak-kanak. Dan meninggalkan bangku sekolah, tempat dimana ia ingin terus tinggal. Meninggalkan sahabat-sahabat Eropah-nya, di tengah mana ia selalu ingin terus berada.

Ia tahu, sangat tahu bahkan, pintu sekolah yang memberinya kesenangan yang tak berkeputusan telah tertutup baginya. Berpisah dengan gurunya yang telah mengucap kata perpisahan yang begitu manis. Berpisah dengan teman-teman yang menjabat tangannya erat-erat dengan air mata berlinangan.

Dengan menangis-nangis ia memohon kepada ayahnya agar diijinkan untuk turut bersama abang-abangnya meneruskan sekolah ke HBS di Semarang. Ia berjanji akan belajar sekuat tenaga agar tidak mengecewakan orang tuanya. Ia berlutut dan menatap wajah ayahnya. Dengan berdebar-debar ia menanti jawab ayahnya yang kemudian dengan penuh kasih sayang membelai rambutnya yang hitam.

‘Tidak!’ jawab ayahnya lirih dan tegas.

Ia terperanjat. Ia tahu apa arti ‘tidak’ dari ayahnya.

Ia berlari. Ia bersembunyi di kolong tempat tidur. Ia hanya ingin sendiri dengan kesedihannya.

Dan menangis tak berkeputusan.

Telah berlalu! Semuanya telah berlalu! Pintu sekolah telah tertutup di belakangnya dan rumah ayah menerimanya dengan penuh kasih sayang. Rumah itu besar. Halamannya pun luas sekali. Tetapi begitu tebal dan tinggi tembok yang mengelilinginya.”

(Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 1899)

 

“Sahabat-sahabat ayah yang berbangsa Eropah – ini saya ketahui lama kemudian – telah dengan susah payah mencoba mempengaruhi orang tuaku agar mengubah keputusannya untuk memingit aku yang begitu muda dan begitu penuh gairah hidup ini. Tapi orang tuaku tetap teguh dengan keputusannya. Dan aku tetap dalam kurunganku. Empat tahun yang panjang telah kutempuh dalam kungkungan empat tembok yang tebal tanpa sedikit pun melihat dunia luar. Bagaimana aku dapat melaluinya, aku tak tahu lagi. Aku hanya tahu bahwa itu MENGERIKAN.”

“Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis2 keluar rumah. Ketika saya berusia 12 tahun lalu saya ditahan di rumah; saya mesti masuk tutupan, saya dikurung di dalam rumah seorang diri sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tiada boleh keluar ke dunia itu lagi bila tiada serta dengan seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya tiada setahu kami.” (Surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar, 25 Mei 1899)

 

“Mengapa kami ditindas? Itu membuat kami memberontak. Mengapa kami harus mundur? Mengapa sayap kami harus dipotong? Tak lain karena tuduhan dan fitnah orang-orang kerdil yang berpandangan picik. Untuk memuaskan orang-orang macam itulah kami harus melepaskan cita-cita kami. Andaikan betul-betul perlu, benar-benar tidak dapat dielakkan, kami akan tunduk. Namun kenyataannya tidak demikian. Segala-galanya berkisar pada pendapat umum. Semua harus dikorbankan untuk itu. Dikatakan: Orang akan bilang ini atau bilang itu, kalau kami lakukan apa yang kami lakukan dengan seluruh jiwa kami. Dan siapakah orang-orang itu? Dan untuk orang-orang macam itu kami harus menekan keinginan kami, harus membunuh cita-cita kami, dan mundur kembali ke alam gelap.” (Kartini, 1901).

 

Ialah kegelisahan sosok kritis yang berontak dengan kebudayaan Jawa saat itu yang membatasi pendidikan bagi kaum hawa. Seolah bernyanyi meskipun tembok yang tinggi menghalangiku, tak satupun yang mempu menghalangiku, tokoh yang dipingit ini pun membaca buku-buku dan surat kabar. Melalui buku-buku itulah Kartini tertarik dengan kemajuan berpikir wanita Eropa. Ia pun mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk ia ajari baca dan tulis.

Kemudian Kartini pun mempelajari istilah emansipasi.

“Bukan hanya suara dari luar saja, suara yang datang dari Eropah yang beradab, yang hidup kembali itu, yang datang masuk ke dalam hati saya, yang jadi sebab saya ingin supaya keadaan yang sekarang ini berubah. Pada masa saya masih kanak-kanak, ketika kata EMANSIPATIE belum ada bunyinya, belum ada artinya bagi telinga saya, serta karangan dan kitab tentang pasal itu masih jauh dari jangkauan saya, telah hidup dalam hati saya suatu keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri. Keadaan sekeliling saya memilukan hati, menerbitkan air mata karena sedih yang tidak terkatakan, keadaan itulah yang membangunkan keinginan hati saya itu. Dan karena suara yang datang dari luar yang tiada putus-putusnya sampai kepada saya, keras makin keras jua, maka bibit yang ada dalam hati saya, yaitu perasaan yang merasakan duka nestapa orang lain yang amat saya kasihi, tumbuhlah, sampai berurat berakar, hidup subur serta dengan rindangnya.” (s.d.a, 25 Mei 1899)

Emansipasi apakah yang diperjuangkan oleh Kartini? Apakah kesetaraan gender, seperti yang sering digembar-gemborkan kaum feminisme?

Berikut adalah surat yang ditujukan kepada Prof. Anton dan Nyonya, 1901

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”

 Kartini juga menulis:

 “Siapakah yang akan menyangkal bahwa wanita memegang peranan penting dalam hal pendidikan moral pada masyarakat. Dialah orang yang sangat tepat pada tempatnya. Ia dapat menyumbang banyak (atau boleh dikatakan terbanyak) untuk meninggikan taraf moral masyarakat. Alam sendirilah yang memberikan tugas itu padanya.

Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anak

Dan bagaimanakah ibu Jawa dapat mendidik anak kalau ia sendiri tidak berpendidikan?”(Kartini, 1903)

 

Di sinilah letak gagal pahamnya (atau sengaja gagal?) kebanyakan orang akan yang diperjuangkan oleh Kartini. Adalah benar kebebasan berpendidikan yang ia keluhkan dalam surat-suratnya, namun, menurutnya, kenapa kaum perempuan harus berpendidikan? Agar menjadi seorang ibu yang memberikan pendidikan moral kepada anak-anaknya.

Kini, pendidikan sudah bebas dikunyah oleh tiap gender. Namun, ada satu poin perjuangan yang kini malah ditinggalkan, yaitu berperan sebagai ibu yang mendidik anaknya.

Mungkin kebanyakan beranggapan, untuk apa sekolah tinggi kalau pada akhirnya hanya kebanyakan di rumah seperti PRT? Kartini sendiri pun menyatakan, bagaimana seorang ibu dapat mendidik anak kalau ia sendiri tidak berpendidikan?

Seorang dosen Teknik Fisika ITB pernah bilang yang kurang lebih isinya, “Buat mahasiswa perempuan, walaupun ada yang berencana menjadi ibu rumah tangga, tetap penting untuk berpendidikan tinggi. Kalau nanti gendong anak, ‘Lucunya kamu, anakku. Senyummu mirip lambang integral.’”

Ibu sy pun sering mengulang pernyataan ini, “Yang menentukan anak pintar itu ibunya. Makanya, kamu carilah jodoh yang pintar sekolahnya.”

Tentu bukanlah hal yang salah jika perempuan bekerja. Bila memiliki manfaat yang bisa diberikan untuk masyarakat, sekaligus menambah penghasilan keluarga, kenapa tidak? Namun, inilah hikmah dalam Islam kenapa kaum laki-laki wajib mencari nafkah sedangkan perempuan tidak wajib. Penghasilan seorang suami wajib diberikan untuk kebutuhan keluarga, sedangkan penghasilan istri adalah hak sepenuhnya untuk digunakan secara pribadi. Mengapa wanita tidak wajib bekerja? Agar memiliki waktu yang cukup untuk mendidik anak. Jika wanita bekerja, mendidik anak tetap merupakan prioritas yang tidak boleh dilupakan.

Di mana-mana dapat ditemukan penyimpangan nilai-nilai kekartinian. Disebutkan para pendaki gunung wanita yang gagah perkasa disebut “Pendaki Kartini” (memang Kartini pernah naik gunung ya?). Begitu juga dengan wanita yang memiliki sederet prestasi yang luar biasa, disebut dengan “Kartini Masa Kini”, padahal belum tentu memiliki kemampuan mendidik anak.

Kemudian, ada satu lagi poin perjuangan Kartini yang hampir tidak pernah disampaikan ke masyarakat luas. Tanggal 21 Juli 1902, Kartini menulis kepada Ny. Van Kol:

Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.”

Mengapa kumpulan surat Kartini diberi judul ”Habis Gelap Terbilah Terang”? Judul ini merupakan gagasan Kartini sendiri. Mr. J.H. Abendanon ialah orang yang membukukan surat-surat Kartini, dan buku itu berjudul ”Dor Duisternis Toot Licht, yang dalam Bahasa Indonesia artinya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.

Penjajah Belanda melarang penerjamahan Al-Quran ke bahasa jawa karena dikhawatirkan akan menumbuhkan pemberontakan. Kondisi ini membuat Kartini tidak memahami agamanya, dan pikirannya yang kritis berontak, “Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca”. Agustus 1902, Kartini pun menulisAku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.”

Hingga Kartini bertemu Kyai Soleh Darat yang mengajarkan tafsir Al-Fatihah. Seketika itu pula, ia kagum dengan keindahan Al-Quran. “Selama ini Al-Fatihah GELAP bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi TERANG-BENDERANG sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”

Kartini mati muda. Empat hari setelah melahirkan anaknya, tepatnya tanggal 17 September 1904, 25 tahun menjadi usia terakhirnya. Sudah sampai mana perkembangan Kartini belajar Islam? Tidak ada keterangan sejarah yang menjelaskan. Pun terjemah Al-Quran yang ditulis oleh Kyai Soleh Darat untuk Kartini hanya sampai surat Ibrahim karena dibatasi oleh usia.

Tanggal 21 April, selain memakai pakaian kebaya dan foto selfie, ada baiknya kaum wanita memperingati tidak hanya jasad, tapi juga hal-hal yang ia perjuangkan. Jika kebebasan berpendidikan sudah tercapai, maka masih ada sisa perjuangan Kartini yang belum tuntas, yaitu mendidik moral anak bangsa dan berupaya memperbaiki citra Islam.

Tiada hal yang lebih menyenangkan ketika berada di kegelapan, selain mendapatkan cahaya. Dan, hanya Allah-lah yang mengeluarkan seorang dari kegelapan menuju cahaya.

”Allah pelindung orang yang beriman. Ia mengeluarkan mereka DARI KEGELAPAN MENUJU CAHAYA…” (Al-Baqarah: 257)

Categories: merenung | Leave a comment

Apa yang Membuat Tulisan Diminati untuk Dibaca?

tulis

Mungkin itu adalah pertanyaan yang berada di setiap benak yang hendak menulis. Memang tujuan merangkai kata tidaklah selalu untuk dibaca oleh orang lain: bisa saja sekedar mengekspresikan diri. Namun sebuah tulisan akan lebih berarti jika dibaca oleh orang—terlebih banyak orang—bukan?

Saat ini saya sedang diamanahi sebagai bidang publikasi tim Ekspedisi Arus Deras Wanadri yang akan menggelar petualangannya di Sungai Kluet, Aceh Selatan. Tugas utama bukanlah mendesain sarana-sarana publikasi semacam spanduk atau baligo—itu dipegang oleh bidang lain—melainkan menulis!

Yak, jika kita akan melakukan sebuah kegiatan besar, sebegitu besarnya hingga membutuhkan kerja besar dan waktu lama, sepertinya akan lebih elok kalau dipublikasikan. Bukan sekedar untuk berbangga diri, namun untuk menyampaikan pesan kepada orang luar tentang esensi sebuah ekspedisi dan petualangan. Lagipula, kegiatan semacam ini merupakan ‘ruh utama’ Wanadri: banyak masyarakat mengenal perhimpunan tentu dari kegiatan petualangan seperti ini.

Mencatat aktivitas tim sehari-hari, mendokumentasikan proses menuju ekspedisi, dan tentu saja menulis catatan perjalanan di setiap latihan adalah tugas utama si kunyuk publikasi ini. Namun ada misi besar buat si kunyuk, yaitu membuat sebuah buku!

Umumnya, menulis buku merupakan sebuah karya yang amat dibanggakan. Betapa banyak orang yang berusaha berkarya dengan merangkaikan tulisan dalam bentuk buku. Sekarang membuat buku pun dipermudah: banyak tumbuh percetakan yang mau menerbitkan buku-buku self-published. Untuk mensosialisasikannya ke masyarakat caranya juga amat variatif. Melalui self-published, penulis tidak harus terikat kontrak dengan penerbit, cukup mencetak sendiri sejumlah yang diinginkan, kemudian melakukan self-marketing. Tawarkan saja ke beberapa toko buku, uang pun masuk jika ada yang berminat dengan buku indie tersebut. Atau cara marketing sekarang amat banyak: mengiklankan buku melalui berbagai media dan menawarkannya ke orang-orang terdekat hingga terjauh.

Wah, terbayang jika buku ekspedisi ini berhasil terbit. Tidak hanya itu, tapi juga tersampaikan ke masyarakat, atau bahkan nongol di toko buku! Terlebih lagi menulis belumlah menjadi budaya di Wanadri. Hanya sedikit perjalanan yang berhasil didokumentasikan ke dalam bentuk buku: bahkan ekspedisi 7 Summit yang membentangkan merah-putih di luar negeri saja belum ada bukunya! Sebuah cita-cita bagi si kunyuk, yang diiyakan oleh seluruh personel. Iya iya saja, tapi tetap tugas ini hanya dibebankan ke satu orang kunyuk ini. Akan menjadi kebanggaan, bukan hanya pribadi, tapi juga tim ekspedisi.

Membuat sebuah buku ekspedisi tentu bisa macam-macam jenisnya. Bisa saja seperti sebuah laporan kegiatan, atau semacam galeri foto dengan sedikit kata-kata keterangan. Hmm, tapi apakah yang bisa membuat orang-orang tertarik untuk membaca buku ekspedisi ini?

Yah, apakah yang membuat orang-orang rela meengorbankan waktu mereka yang berharga hanya demi membaca tulisan?

“Secara teori, ada beberapa faktor, misalkan faktor kedekatan. Kalau kamu menulis kegiatan di Aceh, tentu akan menarik minat orang-orang Aceh,” kata kang Nondi. Akang tua ini bukanlah anggota Wanadri, namun cukup dekat dengan para anggota—terutama para senior—dan banyak memberikan kontribusi bagi perhimpunan.

“Selain itu, kalau ingin memasarkan buku, kamu juga harus menentukan segmen pasar. Apakah cukup terbatas kepada para penggiat alam terbuka, atau untuk umum? Nah, dengan menentukan segmen seperti ini, kamu bisa menentukan tulisan semacam apa yang akan diangkat,” lanjut beliau.

Kalau ingin menjangkau orang-orang umum, tulisan macam apa yang akan menarik minat mereka?

Berdasarkan pengamatan pribadi, orang kebayakan pada masa ini cenderung senang membaca hal-hal yang bersifat inspiratif. Tengok saja apa yang sering diviralkan di berbagai medsos. Selain berita, yang sering dishare berulang kali ialah hal-hal yang menumbuhkan inspirasi.

Apakah hal yang bisa menginspirasi?

“Menurut saya, Kang, tulisan yang umumnya menginspirasi ialah yang berupa cerita. Kisah pengalaman pribadi atau seseorang yang dapat menyentuh sisi emosi pembaca, atau bahkan cerita rekaan yang bisa diambil hikmahnya.”

“Nah, itu! Orang-orang saat ini membutuhkan cerita. Terlebih kalau inspirasi itu dapat diterapkan dalam kehidupan harian,” sambar kang Nondi sambil mengacungkan telunjuknya. “Rekamlah kegiatan ekspedisi kalian dalam bentuk cerita. Jangan hanya sekedar laporan—itu membosankan. Kalian bisa menceritakan hal-hal teknis, tapi angkatlah dalam bahasa yang populer.”

Mengapakah orang pada umumnya membutuh kisah inspiratif? Apakah dari setiap keseharian yang dijalani tidak ada inspirasi yang diambil? Sedang matikah radar mereka—begitu kang Nondi menyebutnya—yang berfungsi menangkap segala fenomena yang ada untuk diambil pelajarannya? Atau, memang saat ini rutinitas telah menjadi jebakan yang begitu menjenuhkan?

Mungkin itulah yang membuat novel-novel—baik kisah nyata atau rekaan—begitu laris di pasaran. Sedang dibutuhkan kisah yang mampu membangkitkan gairah, mendebarkan jantung begitu asyiknya, hingga menitikkan air mata sentimentil. Inspirasi adalah hal begitu dibutuhkan, dan lebih terasa renyah untuk dicerna jika dalam bentuk cerita. Baik itu fiksi atau nyata, sang penutur ceritalah yang memberi warna hitam-putihnya rutinitas.

Apalah manfaat sebuah perjalanan, jika tidak menghasilkan kisah untuk didongengkan? Jika hanya untuk disimpan, yang membuat diri sendiri tertawa geli ketika mengingatnya, tentu sangatlah disayangkan. Mereka butuh cerita-cerita yang begitu mengasyikkan dan mendebarkan, hingga mampu mengurangi waktu tidur mereka hanya untuk menyimak. Perjalanan tanpa sebuah cerita itu percuma, begitu kata seorang senior Wanadri.

Menceritakan perjalanan ekspedisi layaknya dongeng adalah sebuah tugas yang cukup menantang. Menantang? Ya, karena ekspedisi merupakan bentangan yang luas, dan tidak mungkin pengamatan si kunyuk seorang mampu menjangkau seluruhnya. Mampu menceritakan kembali apa yang diceritakan orang, kata kang Nondi, adalah hal yang sangat dituntut bagi pencerita.

Tapi, apakah cerita ekspedisi ini adalah hal yang sangat ingin didengar? Entah, karena manusia sendiri terkadang tidak mengetahui apa yang diinginkan hingga hal tersebut muncul di hadapan. Yang jelas, akan sangat berharga jika perjalanan yang memakan waktu hampir 2 bulan dan membutuhkan persiapan 6 bulan ini diangkat menjadi sebuah cerita.

Categories: merenung, pembelajaran, wanadri | 2 Comments

Titik Belok

Hidup adalah sebuah perjalanan. Begitu kata banyak orang.

Sebuah perjalanan yang terus berlangsung selama kita hidup. Abah Iwan pernah bilang, “Hidup adalah pengembaraan dari satu waktu ke waktu menuju mati.” Perjalanan ini hanya akan berakhir bila memang telah menemui ajal. Rasulullah saw. pun bersabda, “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari)

Bagaimanakah seseorang ketika akan melakukan perjalanan? Tentu ada banyak yang perlu dipersiapkan dan butuh perencanaan yang benar-benar matang. Mau ke mana? Mau pakai apa? Mau lewat mana? Jalurnya bagaimana? Berapa lama? Kondisi jalan yang akan dilalui bagaimana? Apa saja yang perlu dibawa? Dengan siapa saja kita akan berangkat?

Di akhir-akhir ini, penulis berkesempatan untuk mempelajari kembali tentang manajemen perjalanan. Tentu harus ditentukan dulu tempat apa yang akan dituju. Lalu, kenapa ke sana? Tujuan apa yang hendak dicapai? Apakah kondisi di sana sesuai untuk tujuan saya melakukan perjalanan? Misalkan saya ingin belajar navigasi di medan terbuka, tentu jangan sampai memilihi area yang vegetasinya rapat, tapi pilihlah padang rumput atau sabana atau kebun teh.

Setelah dipertimbangkan betul daerah yang akan dituju, yang perlu dicari selanjutnya adalah peta. Persisnya, lokasi mana yang akan dituju berdasasarkan peta? Secara lebh akurat, berapa koordinatnya? Kemudian, perlu ditentukan jalur mana saja yang akan dijadikan lintasan perjalanan. Melalui peta jugalah bisa tergambarkan kondisi medan yang dilalui. Apakah naik, apakah turun, apakah ada sungai?

Namun ternyata tidak cukup peta. Alat komunikasi pun perlu dioptimalkan untuk mendapatkan data informasi lebih mendetil. Di era informasi yang begitu mudah diakses seperti saat ini, adalah aneh jika data-data tidak digali terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan.

Dari data informasi, akan bisa diperoleh apakah jalur jalan kita tersebut sudah ada jalannya atau belum, apakah ada permukiman di sekitarnya, juga dari lokasi kita saat ini transportasi apa yang bisa digunakan untuk mencapainya dan melalui jalan raya apa.

Setelah perencanaan seperti ini selesai, lanjut ke perencanaan lainnya yaitu ke perbekalan, peralatan, transportasi, dan lain-lain, dan lain-lain.

Memang untuk sebuah perjalanan dibutuhkan perencanaan yang benar-benar terkaji. Tidak mengherankan jika perencanaan jauh lebih lama dbandingkan perjalanan itu sendiri. Namun, terkadang—lebih tepatnya sering—walaupun telah disusun sedemikian rupa, banyak hal-hal yang tidak terduga ketika tengah berada perjalanan sehingga tidak sesuai perencanaa. Atau bahkan harus mengubah rencana di saat itu juga.

Karena perjalanan adalah sesuatu yang “hidup”, tidak seperti seorang programmer yang memasukkan algoritma pemograman ke dalam komputer. Karena itulah otak manusia tidak bisa dibandingkan dengan komputer: ia tidak diciptakan untuk berimprovisasi, hanya menjalankan kode yang dimasukkan ke dalam dirinya.

Salah satu hal yang sangat perlu diperhatikan ketika tengah melakukan perjalanan ialah orientasi. Adalah penting memastikan bahwa kita tengah berada di jalur yang benar, adalah kondisi medan yang tengah dilewati saat ini sesuai dengan yang direncanakan. Caranya orientasi ialah dengan melihat ke kiri dan kanan lalu menyocokkannya dengan gambaran medan yang seharusnya dilewati dalam perencanaan.

Memang terkesan sederhana, tapi percayalah, orientasi merupakan hal yang sering dilewatkan. Ketika tengah berjalan, seseorang kan cenderung terus berjalan tanpa sadar daerah mana yang sedang ia lewati. Dikiranya ia telah berada di jalur yang benar, tanpa sadar mungkin ia telah berbelok di tempat saya salah, atau pergerakannya yang salah, atau jangan-jangan dari titik awal saja sudah salah.

Orientasi sangatlah penting ketika berada di titik belok. Di titik ini orang-orang yang melakukan perjalanan harus benar-benar mampu berorientasi dan yakin bahwa benar mereka telah berada di jalur yang sesuai rencana. Jika gagal berorientasi di titik belok, maka dipastikan perjalanan selanjutnya akan nyasar entah ke mana. Salah belok, sudah tentu tidak akan sampai ke tujuan. Hal yang lebih parah lagi jika tiba di tujuan yang salah namun masih gagal orientasi.

Untuk sebuah perjalanan yang beberapa hari saja membutuhkan perencanaan dan eksekusi yang begitu rinci dan teliti. Sekarang bisa dibayangkan mengenai perjalanan yang begitu besar berupa kehidupan.

Tentu perjalanan kehidupan dibagi menjadi beberapa etape. Kita sering melihat bahwa orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah orang-orang yang berhasil merencanakan hidupnya. Kita juga bisa melihat bahwa orang-orang yang berhasil mencapai tujuan yang diinginkannya ialah—selain kerja keras untuk mencapainya—orang-orang yang sering orientasi bahwa ia berada di jalan yang benar.

Di tengah-tengah perjalanan tentu ada banyak hal yang begitu menggoyahkan hati untuk berbelok. Dan, sepertinya tidak sedikit yang akhirnya berbelok sebelum waktunya.

Orientasilah. Dengan memikirkan kembali tujuan yang hendak dicapai, dan memang tengah berada di jalan yang benar, maka tinggal membutuhkan kesabaran untuk mencapainya. Agar orientasi tidak terlewatkan, hal ini harus sering-sering dilakukan. Memang menambah beban, namun apalah artinya demi sebuah tujuan?

Bagaimana melakukan orientasi? Sama seperti ketika melakukan perjalanan di lapangan. Berhentilah sejenak. Lepas beban seperti ransel kemudian simpan. Lihat rencana yang telah disusun dan lihat sekitar. Dan tentu saja bertanya ke orang-orang sekitar adalah cara yang sangat efektif.

 

Categories: merenung, pembelajaran | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,982 other followers