RAWA KEPUTUSASAAN

Setelah sekian lama tak menulis, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengenang kembali salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup. Saya sudah lama tidak terlibat dalam segala kegiatan Wanadri. Selepas PDW, ada program pendidikan lanjutan yang disebut dengan mamud (masa bimbingan anggota muda) kurang lebih selama 2 tahun.

Sekitar 3 bulan pertama kegiatan mamud saya ikuti. Pendidikan Gunung Hutan 2 dan 3 (saya absen Gunung Hutan 1 karena agenda akademik) masih ingat dalam ingatan. Bagaimana membaca topografi, menghitung sudut, menentukan titik-titik cek poin di peta, hingga membuat ROP (Rencana Operasi) dalam sebuah proposal perjalanan. Apa daya memori manusia tidaklah bersifat kekal, dan perlahan-lahan itu semua memudar. Yah, pilihan adalah pilihan. Tidak ada pilihan bodoh, kecuali pilihan yang disesali.

PDW berlangsung kurang lebih sebulan. Dua minggu pertama merupakan tahap basic di tanah pendidikan Situ Lembang. Setelah itu memasuki tahap medan operasi, yaitu ORAD-tebing terjal selama 2 hari, longmarch kereta api 1 hari, rawa laut 2 hari, longmarch jalan raya 2 hari 1 malam, dan sisanya tahap gunung hutan termasuk survival. Sekilas tahap survival pernah saya kenangkan dalam tulisan di blog ini. Sangat berkesan. Namun, menurut saya pribadi, tahap rawa laut merupakan tahap terberat dan tersulit.

PDW 2012 bukanlah PDW yang pertama kali saya ikut. Tahun 2010 saya juga pernah mengikutinya, namun gugur di tahap ini, rawa laut. Sambil mengorek ingatan yang semakin kabur, keinginan untuk menulis pun ingin saya tumbuhkan lagi.

***

Siang itu terik. Panas, dan juga kering. Namun tidak sempat lagi untuk memikirkannya. Karena kami harus terus berjalan, menelusuri pematang, sambil memanggul ransel yang begitu beratnya.

Tempat itu begitu terbuka. Tampak cakrawala seelurus area pandangan. Beberapa warna hijau terlihat di sisi, namun tidak tinggi, kebanyakan hanya berupa semak-semak. Warna yang dominan saat itu adalah coklat. Tanah bercampur lumpur coklat terlihat di mana-mana, di pematang, di pakaian, di tangan, juga di wajah. Begitu pula tambak-tambak petak yang membentang seluas mata memandang.

Kami berada di medan latihan rawa laut. Latihan ini merupakan bagian dari tahapan medan operasi, setelah sebelumnya melewati tahap basic selama 2 minggu. Tahap ini adalah tahap “terberat”: pakaian dan sepatu menjadi berat karena lumpur, terlebih ransel.

Walau telah melewati 2 minggu pertama PDW, tapi itu tidaklah menjadi penambah semangat bagiku. Tahun 2010 itu, langkah yang ada adalah langkah gontai, pandangan yang ada adalah pandangan yang buram, semangat yang ada adalah keputusasaan, pikiran yang ada adalah ingin pulang.

Berat! Ransel ini begitu berat! Sepertinya banyak sekali air yang masuk ke ransel, dampak dari packing yang asal-asalan. Dapat dirasakan lilitan saraf di bahu terjepit. Di medan ini, siswa diwajibkan memakai pelampung. Namun, mengenakan ransel di atas pelampung sangat sangat tidak nyaman, dan seolah menambah beban saraf bahu.

Perlahan, sensasi di ujung-ujung jari menghilang. Lengan terasa lemas untuk diayunkan.

“Tuan! Cepat jalannya, Tuan!”

Kapan berhenti untuk istirahat? Rasanya ingin duduk, melepas ransel, dan mengayun-ayunkan tangan.

“Tuan! Hei, Tuan! Rapatkan barisan dengan yang depan, Tuan!”

Jauh. Pematang masih jauh membentang. Tidak kuat lagi memanggul ransel sialan ini. Ingin kubuang! Benda brengsek ini kubuang saja!

“TUAANNN!!!”

Aku oleng. Bergoyang ke kanan, kemudian ke kiri. Pelatih itu cuman menggampar sekali, namun begitu kerasnya. Beberapa detik kemudian, setelah berdiri dengan stabil, terdengar suaraku sendiri yang berteriak, “Pelatih, saya ingin pulang, Pelatih…!”

***

“Tuan Sayyid, kamu mau pulang lagi, Tuan!!?”

Tahun itu 2012. Aku berjalan, pelan. Di dalam kolam tambak yang penuh lumpur bagaikan rawa, semua siswa hanya bisa berjalan pelan. Tidaklah mungkin berjalan tegap gagah, karena hanya akan membuatmu terhisap ke kegelapan. Terlihat, seluruh siswa, termasuk pelatih, melaju menggunakan kedua lututnya.

Lutut kanan kubawa ke depan. Badan menjadi sedikit oleng karena terbawa oleh ransel yang berat. Kemudian, lutut kiri menyusul ke depan. Lalu lutut kanan, kemudian lutut kiri lagi.

Seperempat hari pertama rawa laut digunakan untuk navigasi rawa. Awalnya aku berpikir, bagaimana mungkin bernavigasi di rawa yang sama sekali tidak ada titik ekstrem seperti puncak gunung atau bukit? Yang ada di sini hanyalah bentangan kolam tambak dan pematang, membentuk petak-petak rawa yang terjemur oleh terik matahari. Mungkin ada teori khususnya untuk bernavigasi di tanah yang datar, tapi itu tidak diajarkan di pendidikan dasar. Di hari itu, pelatih langsung memberi koordinat titik awal dan titik akhir, sehingga tugas siswa hanya memplotting di peta dan membidikkan kompas ke sudut tujuan.

Medan rawa laut hari pertama kebanyakan kolam yang dalam. Para siswa cukup melepas ransel, meletakkannya di depan untuk dijadikan pelampung, dan menggerakkan kaki seperti menggowes sepeda. Kami pun berenang.

“Nanti kalian kalau lulus PDW, ikut Klub Gowes Wanadri,” ujar seorang pelatih.

“Kalau lulus, hahahah,” timpal pelatih lain.

Akhir dari hari pertama, sekitar jam 2 siang, ialah “langkah kesabaran”, begitu aku menyebutnya. Sekitar 2 jam siswa berjalan mengikuti pelatih menyusuri pematang, entah ke mana. Mungkin terdengar seperti mudah, namun kondisi saat itu ialah kelelahan setelah menyeberangi rawa yang luas. Itu tidak seberapa, yang paling parah adalah bahu yang kesakitan karena harus memanggul ransel yang berat.

Sebelum berangkat ke medan rawa, pelatih memberi arahan cara packing yang benar agar tidak bocor kemasukan air rawa. Kalau biasanya isi ransel cukup dibungkus dengan satu lapis plastik ikan, kali ini dengan dua lapis, bahkan ada yang tiga. Namun, tetap saja, terasa ada air yang masuk ke dalam. Bahkan bercak lumpur yang menumpuk di luar ransel sudah cukup membuatnya menjadi lebih berat berkali lipat.

Aku sedikit membungkukkan badan, menggoyang-goyangkan bahu, dan menggerak-gerakkan ransel agar dinamis. Membiarkan bahu memanggul ransel dengan statis selama berjam-jam hanya akan membuat diri tersiksa.

Kala itu tidaklah saraf bahuku terjepit. Namun, terlihat dua siswa yang terlihat tersiksa. Yang satu mengernyit, menahan sakit di bahunya. Yang satu lagi membuka mulutnya, terengah-engah, dan air matanya mengucur.

Tersiksa. Itulah gambaran kondisi “langkah kesabaran” selama 2-3 jam itu. Rasanya ingin berhenti, duduk, menyandarkan ransel, bahkan melepasnya. Aku memandang ke barisan depan, lalu belakang. Para siswa membungkuk dan menggoyang-goyangkan bahunya, sambil melakukan “zikir”, “Wanadri…Wanadri…Wanadri” dengan suara pelan.

Tiba-tiba, seorang teman reguku di depan terjatuh di atas jembatan bambu. Kakinya tersangkut. Ia mengeran. Aku berusaha mengangkat bambu yang mengait kakinya, namun gagal. Akhirnya ia terbebas setelah dibantu seorang pelatih. Namun, setelah itu ada yang aneh dengannya. Bola matanya ke atas, mulutnya membuka, lidahnya menjulur, dan ia terus berucap, “Wanadri…Wanadri…Wanadri…”

Seorang pelatih berteriak keras di hadapannya, namun terus saja ia berujar, “Wanadri…Wanadri…Wanadri”, seolah tak sadar dengan lingkungannya. Kemudian pelatih itu menyiram wajah siswa itu dengan air. Ucapan “zikir”nya berhenti, bola matanya tak lagi ke atas. Akhirnya, ia pun menjawab dengan keras teriakan pelatih di hadapannya.

 

Hari ke-2 itu neraka sesungguhnya. Itu adalah ancaman pelatih di malam sebelumnya. Memang, tak butuh waktu lama untuk membuktikannya.

Tidak seperti rawa hari pertama yang kebanyakan kolam penuh air, medan yang para siswa lewati hari itu benar-benar lumpur. Ketika mendaratkan lutut, tampak lumpur itu menghisap tubuh kami perlahan. Kalau tidak segera maju, bisa-bisa tertanam. Karena terhisap, berat sekali untuk mengangkat lutut ke depan, ditambah beban ransel yang semakin berat. Tak jarang aku harus merangkak sambil menendang-nendangkan kaki dengan liar agar bisa menyeberang.

Ransel yang berat mendorong tubuh saat mendaratkan lutut. Bila gagal menjaga keseimbangan, yang terjadi adalah jatuh tengkurap, ditindih oleh ransel yang beratnya 20 kg lebih. Itulah yang terjadi pada seorang siswa di sebelah.

“Tolong…tolong…,” rintih siswa tersebut dalam nada putus asa. Ia tidak bisa bangun. Saat itu sebenarnya tiap siswa sangat sibuk untuk membebaskan diri sendiri dari hisapan lumpur. Aku pun hanya mampu memberi saran, “Lepas ranselmu….” Siswa itu melepasnya, dan berhasil bangun. Ia merangkak ke depan sambil menarik-narik ranselnya kesusahan. Aku pun sedikit membantu menariknya.

Setelah berjam-jam kepayahan melewati kesuraman, kami pun dibawa ke suatu tempat yang sepertinya adalah ujung dari padang tambak. Di sebelah utara, terlihat laut yang bergulung saling mengejar. Biasanya, jika menghirup aroma garam dan mendengar desir ombak, yang terbayang adalah pasir pantai. Tapi tidak ada yang semacam itu di sana.

Kami berdiri di atas pematang, memandang ombak. Tak lama, seorang pelatih memberi instruksi, dan kami bergerak mengikuti pelatih yang memimpin rombongan. Seorang pelatih yang berdiri di pinggir pematang tersenyum aneh, dan berkata pelan, “Selamat datang di rawa laut, Tuan.”

Para siswa di barisan depan diminta turun. Di sana, aku bisa melihat para siswa yang sepenuhnya berwarna coklat merangkak pelan, sangat pelan. Ransel dilepas dan diletakkan di depan. Mereka berjalan dengan cara mendorong ransel, kemudian menendang-nendang.

Giliranku pun tiba. Kuletakkan ransel di depan, kudorong, lalu dalam posisi merangkak kakiku menendang-nendang. Berhasil maju, beberapa senti. Kudorong lagi ranselku, kumerangkak, dan menendang-nendang. Kembali berhasil maju, sekian senti.

Terengah-tengah, aku mengintip pemandangan di depan melalui kacamataku yang penuh lumpur.

Terkesima.

Itu adalah luas. Rawa hitam yang luas. Ujung depan tidak terlihat, sedangkan ujung belakangnya dekat sekali, tempatku tadi start. Sambil mengedan, aku maju kembali. Mengangkat lutut kanan sambil menimpa ransel. Mengangkat lutut kiri dan kembali menimpa ransel. Berhasil meluncur, beberapa senti saja. Pinggangku sakit. Kaki pegal. Nafas memendek. Pikiran berandai-andai apakah kalori makan siang tadi masih tersisa.

Itu adalah rawa keputusasaan. Tidak tahu rawa ini berujung di mana. Tidak tahu ke mana. Namun, kami harus terus maju, tak ada lagi hal lain yang bisa dilakukan. Percuma minta pertolongan. Setiap siswa sibuk berjuang melewati rawa hitam ini. Bahkan ada juga yang tidak maju-maju.

Tidak tahu berapa lama. Tidak peduli berhasil atau tidak. Hanya satu yang perlu dipikirkan, yaitu melangkah. Dan melangkah. Dan melangkah.

***

Pernahkah kita berada di medan yang begitu luas? Begitu luas. Begitu luas. Begitu luas. Tidak terlihat ujungnya di mana. Tidak terbayangkan tujuannya seperti apa. Namun kita telah berada di tengah-tengah jalannya. Harus ke manakah kita? Apakah kembali? Benar, kembali? Benarkah harus menyesal di tengah jalan? Lalu pulang, sebagai pecundang?

Apakah kita merasa terjebak? Seperti berada di tengah-tengah kemacetan jalan raya? Mau berteriak sekeras apa pun, mau mengumpat-ngumpat sekasar apa pun, tetap tak ada yang bisa dilakukan, kecuali maju. Maju, walau perlahan, begitu pelan. Jika sabar, kelak akan tiba di tujuan juga. Benar begitu, bukan?

Untuk tiba di tujuan, yang dibutuhkan bukanlah kecepatan. Tapi kesabaran.

***

Kenapakah aku ada sini? Di suatu tempat yang entah di mana? Apa pula yang kulakukan? Seharusnya aku berada di sana, Di suatu titik di utara kota Bandung. Sedang belajar, bersama teman-teman kelompok. Membaca materi-materi. Mengikuti bimbingan. Membacakan presentasi kasus.

Tapi nyatanya aku berada di tengah rawa. Sedang merangkak.

Menyesal?

“Tuan Sayyid! Kamu mau pulang lagi di sini, Tuan!!?” teriak seorang pelatih.

Pecundang.

“Pulang saja kamu! 2 tahun lalu kamu pulang di sini kan, Tuan!”

Tahukah rasanya menjadi seorang pecundang?

“Kamu ini! Meninggalkan teman-teman kamu 2 tahun lalu!”

Penuh penyesalan. Saat pulang, tidak ada satu pun yang menyambut. Hanya tertawaan, hinaan, dan sindiran. Memang itulah yang pantas didapat bagi seorang pecundang.

Apa yang dirasakan saat melihat teman-teman yang kau tinggal di tengah latihan pada akhirnya menyanyikan lagu kemenangan? Apa yang dirasakan ketika melihat wajah temanmu pulang dengan wajah penuh kepuasan?

Mimpi apa yang selalu muncul di dalam lelap tidurmu?

Pecundang, mungkin adalah orang terlalu banyak berpikir saat seharusnya hanya fokus memikirkan satu hal. Tidak perlu memikirkan hal yang lain. Fokus saja ke hal yang harus dilakukan saat ini. Ketika berada di tengah-tengah jalan, hanya satu yang perlu dipikirkan: melangkah.

Penyesalan sejati itu adalah ketika memutuskan untuk menyerah dan kemudian menjadi pecundang.

***

Akhirnya memang aku pun tidak sampai garis akhir. Ketika berada di tengah-tengah, seorang pelatih meniup peluit, dan serentak para pelatih lain menginstruksikan kami untuk menepi. “Tuan, cepat menepi, Tuan! Air laut mau pasang, Tuan!” Meskipun sebagian besar menepi, tapi beredar kabar ada 4 atau 5 siswa berhasil mencapai garis finish.

Para siswa dibariskan di pematang, kemudian diinstruksikan mengikuti pelatih. Waktu itu sudah amat sore, mungkin sekitar jam 5. Tujuan dari perjalanan saat itu adalah “pulang” menuju truk angkutan.

Medan rawa laut sudah selesai. Ya. Yang perlu dilewati tinggal “langkah kesabaran”. Memang selama langkah itu kami begitu kelalahan. Berjalan dari ujung rawa menuju ujung satunya lagi setelah merangkak berjam-jam kembali menguji kesabaran.

Pada akhirnya, tujuan pun terlihat. Sebelum diangkut ke truk, kami “mandi” terlebih dahulu. Berendam di kolam air tawar, menggosok-gosok baju, celana, tangan, dan wajah agar terbebas dari lumpur.

Medan rawa laut telah terlewati. Tidak tahu bagi siswa yang lain, tapi bagiku medan ini dilewati bukan dengan kekuatan, tapi dengan ketabahan.

Ada seorang pemimpin negara yang berujar ketika negaranya sedang perang dengan tetangga. Pasukannya banyak menderita kekalahan, namun dengan percaya diri ia membuat pernyataan yang pantas diabadikan. Bahwa yang akan memenangkan perang bukanlah yang membunuh musuh paling banyak, tapi yang paling bertahan hingga akhir.

Categories: narasi, wanadri | 2 Comments

Memilih yang Dipaksakan, Memaksakan yang Dipilih

Di tengah-tengah ceramah kuliah, seorang dosen bertanya kepada teman yang sedang diam. “Apa alasan kamu jadi dokter?”

Jika mahasiswa kedokteran diberi pertanyaan seperti ini, jawaban yang umum adalah “ingin menolong orang” atau “ingin mendirikan klinik/rumah sakit gratis” atau “ingin mengubah nasib” atau bahkan “diminta oleh orang tua”. Namun sobat saya ini punya jawaban yang berbeda. Ia menjawab, “Karena tidak diterima di jurusan pilihan pertama.”

Sontak ruangan dipenuhi suara tawa, termasuk suara sang dosen. Tidak umum memang jawaban seperti itu. Siapa yang menafikan profesi dokter yang begitu prestisius dan terhormat? Selain memiliki ilmu yang menakjubkan dan penghasilan yang terjamin, profesi jas putih juga sangatlah bergengsi. Begitu banyak orang yang berlomba-lomba masuk fakultas kedokteran. Tidak sedikit pula yang merelakan ratusan juta demi anaknya bisa menjadi dokter.

Tapi tidak bagi teman saya. Kedokteran bukan keinginan utamanya, melainkan arsitektur. Ia bahkan telah mengikuti 3 macam ujian mandiri, namun ditolak semua. Saat SNMPTN, karena khawatir gagal lagi masuk jurusan kesayangannya, ia memilih kedokteran. Alhasil, fakultas kedokteran Unpad adalah bagian dari jalan hidupnya.

Mungkin kita akan menaikkan alis bila mendengar kisah di atas.Terlepas dari ilmu, penghasilan, dan status sosial yang akan diperoleh di masa depan, dunia arsitektur dan kedokteran sangatlah berbeda. Metode belajar dan cara berpikir untuk menyerap materi-materinya pun amatlah tidak sama.

6a00e554e81be38834011570595133970c-800wiKetika SMA, para siswa umumnya memiliki dua pilihan mayor jurusan yang akan diambil, yaitu “ITB atau kedokteran”. Sepengalaman pribadi, sangatlah sedikit yang mengiriskan kedua pilihan tersebut. Orang yang menulis pilihan 1 kedokteran dan pilihan 2 ITB atau sebaliknya sulit ditemukan. Umumnya siswa yang pilihan pertamanya kedokteran, pilihan keduanya adalah kedokteran di universitas lain, atau jurusan semacam kedokteran gigi, farmasi, atau biologi. Begitu juga dengan yang pilihan pertamanya ITB: pilihan keduanya akan jurusan lain di kampus yang sama, atau jurusan yang sejenis di kampus yang berbeda.

Pemilihan cabang ilmu pengetahuan tentu sangat terkait dengan “minat”. Ada juga faktor-faktor lain yang berpengaruh, yaitu faktor orang tua atau keluarga, orientasi masa depan, dll. “Minat” umumnya lahir dari pertanyaan yang terus bermunculan dalam kepala terhadap mata pelajaran tertentu. Rasa penasaran itu kemudian berbuah menjadi rasa senang dan semangat dalam mempelajarinya. Kenapa bisa muncul rasa penasaran hanya pada subjek materi tertentu? Itu dikarenakan masing-masing memiliki kecenderungan tertentu yang berbeda.

ImageSebuah penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada otak perempuan dan laki-laki yang berpengaruh terhadap cara belajar. Otak wanita cenderung mampu mengingat hal-hal yang detil dan rinci. Sebaliknya, otak laki-laki lebih tangkas dalam mengingat konsep dan gambaran umum.

Tidaklah mengherankan bila hampir seluruh penjuru dunia memiliki kesamaan dalam hal peminat jurusan pendidikan. Kedokteran, biologi, dan semacamnya lebih banyak diminati oleh perempuan, sedangkan teknik, matematika, fisika, dan sejenisnya lebih diminati laki-laki. Hal ini mungkin terlihat di ruang kelas sekolah kita. Sebuah kajian empiris di sekolah Amerika bahkan menelurkan hasil bahwa siswa perempuan lebih terbelakang dalam pelajaran matematika dibandingkan siswa laki-laki.

Apa yang dipelajari di cabang ilmu semacam kedokteran atau biologi, seperti yang sedang saya perlajari sekarang, adalah hal-hal detil. Tak bisa dipungkiri bahwa jika ingin menguasai materi, maka hapalan haruslah kuat. Bahkan di fakultas kedokteran sendiri bisa terlihat beberapa perbedaan antara mahasiswa dan mahasiswi. Ketika menjelaskan patofisiologi (mekanisme penyakit), mahasiswa perempuan akan berkutat pada senyawa-senyawa kimia yang terlibat. Bagi mahasiswa laki-laki, proses perjalanan yang menimbulkan gejala penyakitlah yang lebih dikuasai.

Berbeda dengan dunia teknik, matematika, atau fisika. Hapalan tidaklah terlalu banyak, namun hapalan yang sedikit itu akan diuraikan untuk memecahkan masalah. Di sini, pengusaan konseplah yang dituntut. Ketika membaca soal, mahasiswa laki-laki akan lebih cepat menemukan pemecahan masalah, sedangkan mahasiswa perempuan lebih teliti dalam perhitungan.

Apakah kondisi ini kemudian mengkotak-kotakkan pendidikan antara laki-laki dan perempuan? Toh, kenyataan di lapangan tidak demikian. Tidak sedikit jumlah mahasiswa laki-laki di fakultas kedokteran, begitu pula jumlah mahasiswa perempuan di fakultas teknik. Setiap individu memiliki identitas genetik yang unik dan tidak selalu mengikuti pola di atas. Teman saya yang bermimpi jadi arsitek bisa mengikuti kegiatan perkuliahan di kedokteran dengan lancar. Saya yang lebih senang berhitung ketika sekolah pun bernasib sama.

Ini menandakan bahwa otak memiliki banyak potensi. Tidak sedikit cerita orang yang mengenyam kuliah bukan kesenangannya—karena faktor “paksaan” orang tua dan sebagainya—yang kemudian sukses di jurusan tersebut. Ternyata tubuh ini dapat “dilatih” untuk menyesuaikan diri dengan subjek yang bukan kecenderungannya.

Tentu bukan hanya minat yang menjadi penentu bagi seseorang untuk menentukan pilihan. Ada faktor-faktor lain yang penting untuk dipertimbangkan, contohnya:

a. ingin membanggakan hati orang tua;

 

b. manfaat yang diperoleh dan bisa diaplikasikan dari ilmu tersebut;

 

c. bagaimana jika menyenangi suatu cabang namun ternyata manfaatnya tidak sebanyak cabang lain?

 

d. masalah ekonomi;

 

e. tuntutan sosial; dsb.

persimpangan-jalan-hidupPenting untuk menghitung prioritas dari faktor-faktor di atas, karena pilihan pendidikan akan sangat menentukan pilihan jalan hidup. Saya mendengar salah seorang kawan orang yang sudah kuliah di kampus favorit, namun ia memutuskan berhenti di tahun ke-5 dengan alasan bukan jalannya. Tahun ke-5! Bayangkan, betapa ia tinggal selangkah lagi menyelesaikan pendidikannya. Berapa pula jutaan rupiah yang dikeluarkan demi lima tahun yang sia-sia tersebut?

Apa pun yang menjadi faktor penentu, kita tidak boleh melupakan alasan utama kita menjalani pendidikan. Seharusnya, ya, seharusnya, kita belajar dikarenakan ada tanda tanya. Setelah mendapat jawabannya di institusi pendidikan, kita akan menjawab, “Oooohh….”

man_question_markNamun, di dunia nyata tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan adalah bagaimana cara agar mendapat nilai A. Pendidikan adalah bagaimana agar hidup berhasil di masa mendatang. Pendidikan adalah bagaimana dapat menghidupi keluarga kelak. Itu adalah fakta yang sebaiknya tidak dibantah demi kebaikan saya, Anda, dan mereka.

Kita tidak pernah boleh berhenti bertanya, baik selama menjalani pendidikan maupun setelahnya. Tanda tanya-tanda tanya itulah yang membuat manusia memiliki peradaban seperti sekarang. Tanpa tanda tanya, manusia akan selamanya di zaman batu: berburu hewan untuk sekedar bertahan hidup tanpa mengerti alasannya. Penulis berpendapat, perbedaan masyarakat negara terbelakang dan negara maju adalah perbedaan jumlah tanda tanya dalam kepala dan usaha untuk menemukan jawabannya.

Jika pada akhirnya pilihan saat ini tidak sesuai minat, misalnya karena alasan manfaat yang bisa dihasilkan, tidaklah perlu khawatir. Adalah karunia Allah menciptakan manusia dengan berbagai potensi. Ia adalah makhluk yang mampu beradaptasi dengan zona tidak nyamannya, jika berusaha. Yang terpenting adalah tidak berhenti bertanya-tanya, dan tidak bosan dengan ucapan “Oooohh….”

Juga, tak lupa kita menuntut ilmu untuk memperoleh rahmat dari Sang Pemilik Ilmu.

“Barangsiapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga” (HR.Muslim)

Categories: abstrak, esai | 1 Comment

Sebuah Pelajaran dari PDW 2012 (4): Esensi Upacara

Pagi itu masih berkabut. Suhu dingin khas lembah Situ Lembang merasuk ke kulit-kulit yang tengah berada di sana. Terlihat kulit-kulit itu memerah, mengelupas, diganti dengan kulit yang baru, membentuk keropeng. Kelak kulit-kulit yang kedinginan itu akan tersengat panasnya lembah di siang hari.

Tapi pagi itu masih berkabut. Elang membentangkan sayap di balik kabut itu, mengawasi para siswa yang tengah olahraga pagi. Lapangan berumput yang luas itu sebenarnya adalah lapangan upacara. Namun, di salah satu sudutnya, dapat terlihat para siswa melepas baju olahraga, bersahabat dengan dingin dalam gerakan senam pagi.

Tiba-tiba dengan cepat mereka diminta untuk mengenakan kembali kaos putih mereka. Terburu-buru dan tergesa-gesa pakaian itu dikenakan. Para pelatih kemudian menggiring mereka menuju sisi lapangan yang dekat dengan tiang bendera.

“Cepat! Cepat! Jangan bikin malu kalian!” bisik seorang pelatih dalam ketegasannya.

“Cepat! Langsung berbaris! Tidak bingung!” Para siswa berlari secepat mungkin, sedikit kebingungan kenapa mereka harus terburu-buru seperti itu. Mereka menoleh ke sebelah kanan: tampak barisan orang berbaju hijau berjalan sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi.

DRUK! DRUK! DRUK! DRUK! DRUK!

Bunyi itu menggema. Buyi itu dihasilkan oleh dentuman sepatu yang kompak seolah menggambarkan kegagahan pasukan Raider yang tengah berlatih di lembah yang sama.

“Berhenti, GRAK!” Spontan bunyi hentakan berhenti pada irama yang sama. Saya bisa melihat mereka berbaris dengan rapi—sangat rapi! Tidak ada sedikitpun ketidaklurusan, tidak ada satu pun gerakan tambahan! Berbeda dengan kami yang selalu dimarahi karena kesulitan membentuk barisan yang lurus.

Itu adalah pukul 6 pagi. Jam upacara pagi atau penaikan bendera yang secara rutin dilaksanakan di Situ Lembang. Tentara Raider memiliki posisi hormat dengan gaya mereka sendiri—posisi yang mereka teriakkan sebagai “hormat senjata”. Kami pun hormat dengan gaya kami sendiri: posisi hormat seperti kebanyakan orang.

Walaupun warna pakaian kami berbeda, walaupun posisi hormat kami berbeda, tapi kami pagi itu tengah menghormati panji yang sama: merah putih.

Upacara memang tidak setiap hari dilakukan selama PDW. Seremoni ini dilaksanakan—seingat saya—di gedung sate tempat upacara pembukaan, di Situ Lembang, di Bantar Caringin, dan di tanah pelantikan Kawah Upas. Protokol upacara saat pembukaan dan pelantikan mungkin mengadopsi protokol ala militer, seperti penggunaan alat musik trompet dan drum. Pada Situ Lembang dan Bantar Caringin, pelaksanaannya hanya  berupa upacara penaikan dan penurunan bendera. Dilakukan setiap jam 6: pagi untuk penaikan dan sore untuk penurunan.

Jika dipikir-pikir, mengapa Wanadri sampai sebegini niatnya menyelenggarakan upacara bendera saat pendidikan? Awalnya saya berpikir, tentu saja, untuk penanaman nasionalisme dan cinta tanah air. Pendidikan dan pelatihan yang tengah dijalani dengan keras harus tetap diniatkan sebagai pengabdian kepada negeri.

Sekitar sebulan setengah seusai PDW, kami diingatkan oleh Abah Iwan akan esensi upacara bendera. Bahwa esensi itu telah lama menghilang dari setiap pelaksanaan upacara. Bahwa kini hanya berupa seremonial, tanpa memahami betul apa maknanya. Bahkan esensi itu tak pernah ditanamkan ketika upacara bendera dilangsungkan tanggal 17 Agustus di Istana Negara.

“Esensi upacara bendera adalah ‘menghargai’,” begitu kata Abah Iwan.

Adalah menghargai komandan upacara meskipun orangnya telah kita kenal. Ketika ia memberi perintah, maka kita harus mengikutinya dengan gerakan yang tegap. Begitu juga kepada inspektur upacara. Walaupun amanat yang disampaikan bukanlah hal yang seru untuk didengar, bahkan membosankan,  tapi tetap kita harus mendegarnya tanpa gerakan tambahan. Itu adalah bentuk sikap kita menghargai mereka.

Yah, memang itulah yang kali ini agak sulit ditemukan: sikap menghargai orang lain. Jika kitalah yang ada di posisi mereka—komandan atau inspektur upacara—tentu kita ingin dihargai dengan cara didengarkan, bukan?

Jika menelusuri lebih dalam lagi, maka sesungguhnya kita tengah menghormati perjuangan para pahlawan terdahulu. Posisi hormat kepada bendera bukanlah bentuk penyembahan kepada selembar kain berwarna merah putih. Namun, hakikatnya kita tengah memberikan posisi hormat kepada mereka yang telah menyumbangkan darah mereka—juga keluarga mereka—untuk kemerdekaan tanah air.

Bagaimanakah bentuk penghargaan kita kepada mereka? Tentu bukanlah dengan memahat patung berwajah mereka atau mengabadikan nama mereka menjadi nama jalan. Tentu saja, dengan meneruskan cita-cita perjuangan mereka. Tentu saja, dengan melanjutkan jejak mereka yaitu berjuang menjadikan negeri ini adil dan sejahtera.

Sayangnya, hal ini tidak pernah ditanamakan di upacara bendera manapun. Alhasil, kegiatan ini hanya menjadi rutinitas atau seremoni yang membosankan.  Alih-alih menumbuhkan semagat perjuangan dalam aktivitas, yang didapat hanyalah rasa lelah setelah berdiri sekian jam di bawah terik matahari.

Hal seperti ini juga sering ditemukan dalam salat. Setelah berkutat dengan pekerjaan atau aktivitas yang memeras stamina fisik maupun otak, Tuhan memanggil melalui azanNya untuk menghadap. Seharusnya, di momen itulah kita menyandarkan segala kejenuhan dan kelelahan kepadaNya. Saat menghadap kepada Tuhan tanpa perantara itulah seharusnya kita mengingat kembali, bahwa semua pekerjaan itu adalah amal yang kita persembahkan kepadaNya. Jika hal seperti ini dipahami, setidaknya sehari minimal lima kali mendapat recharge semangat, sehingga tidak ada tempat untuk jenuh dan malas.

Begitu pula pada Pendidikan Dasar Wanadri. Sekeras apa pun pendidikan yang diikuti, para siswa tidak boleh lupa bahwa itu mereka jalani sebagai pengabdian kepada negeri. Orang-orang yang dilahirkan di pendidikan ini harus menjadi orang-orang yang tabah dan tangguh menghadapi berbagai persoalan—seekstrem apa pun persoalan itu. “Tidak mengeluh! Hadapi dengan riang gembira!” Itu adalah kata-kata yang sering kali diulang di setiap PDW. Orang-orang seperti inilah yang dibutuhkan oleh negeri untuk menjadi pemimpin.

Sebagaimana telah tersebutkan dalam “Hakikat Wanadri” nomor satu:

“Wanadri itu mengembara dan menempuh daerah-daerah demi kepentingan tanah air dan ilmu pengetahuan”

Categories: wanadri | 1 Comment

Tidak Perlu Buka Topengmu

“Aku ingin berhenti!” Rio tiba-tiba berdiri dari kursinya lalu mondar-mandir. “Apa? Berhenti Apa?” Riza yang tengah asyik dengan laptopnya menoleh ke arah sobatnya.

“Tidak pantas, tentu saja! Bukankah telah kusampaikan ini berkali-kali sejak dulu? Mungkin penampilan luarku terlalu mengagumkan…Nah! Itu dia salahnya!” Rio melipat tangannya, menunduk, melihat cermin sejenak, kemudian, mondar-mandir kembali.

Riza akhirnya melepaskan jemari-jemarinya dari keyboard laptop. Seluruh badannya ia putar, punggung ia sandarkan. “Apa masalahmu dengan penampilan luar yang mengagumkan? Itu tidak salah, bukan, selama bukan niat takabur?”

“Tentu saja! Semua kulakukan dengan niat seoptimal dan sebaik mungkin. Tapi, seolah itu hanya sandiwara. Orang-orang pun menaruh harapan yang besar. Huh, padahal mengurus diri sendiri aja masih tidak becus!” Ia meraih kursi di sudur ruangan, kemudian duduk.

“Ah, aku mengerti yang kau rasa.” Riza mengelus-elus kedua telapak tangannya dan tersenyum. “Aku sangat mengenal dirimu, sobat. Kesukaanmu, kesibukanmu, aktivitas sehari-harimu, hal-hal yang tidak biasa darimu, juga kebiasaan-kebiasaan burukmu.” Riza menjauh dari laptopnya dan fokus kepada lawan bicaranya.

“Yah. Memang, aku apa adanya, kau tahu persis. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan wajahku di balik topeng. Kau sudah tahu semuanya.” Rio menepuk pahanya, menunduk.

“Setiap orang memiliki topeng masing-masing.” Mulut Riza sedikit membuka, hal yang biasa ia lakukan ketika berbicara penuh pertimbangan. “Jangan kira aku pun tidak mengenakan topeng di luar sana. Justru, fungsi topeng harus kita syukuri dan maksimalkan.”

Rio sedikit terkejut “Hee? Bukankah itu hanya akan membuat kita menjadi seorang munafik?”

Senyuman Riza makin lebar. Matanya memejam sejenak, menunduk, kemudian menatap sobatnya dengan antusias. “Kau pikir, kita adalah sempurna, selalu melakukan hal dengan benar tanpa salah? Setiap orang punya kesalahan, besar atau kecil, dan aku yakin tiap orang pun punya sisi kebrengsekannya sendiri.”

Rio bersender pada kursinya, mendengarkan dengan serius. “Tidak menyebut sosok seperti Rasulullah saw. dan para sahabat beliau,” Riza melanjutkan, “entah besar atau kecil, tetap saja kesalahan itu bila diketahui orang lain, akan sangat memalukan. Wajarlah jika disembunyikan.”

“Untuk apa disembunyikan? Biarkanlah semua orang tahu betapa brengseknya diriku. Ini supaya tidak ada lagi orang yang berekspektasi lebih. Selama ini, seolah apa yang kulakukan adalah kemunafikan.”

“Walaupun memang kau orang brengsek,” Riza memajukan tubuhnya, tatapan matanya menjadi serius, “tapi itu bukan niat dan keinginanmu, kan? Sebaik aku mengenalmu, sebaik itulah pemahamanku akan keinginanmu untuk melakukan perbaikan. Lagipula, orang-orang di sekitarmu tak akan peduli dengan cerita melankolismu.”

“Setiap orang melakukan kesalahan atau kejahatan. Sama saja. Yang membedakan adalah keberanian mereka untuk menghadapi proses tanggung jawab,” lanjut Riza.

“Ahh…ya,” Rio mematukkan kepalanya ke depan, mencoba merenung.

“Tidak banyak orang berani mengakui kesalahannya, sebagaimana tidak banyak orang berani jujur terhadap dirinya sendiri. Ketika seseorang melepas tanggung jawab, ketika itulah ia merepotkan orang lain. Di sinilah poin utamanya. Kamu mengerti kan?”

Rio mengangguk pelan. “Bahasa kasarnya, ‘Silakan kamu membuat kesalahan atau kejahatan sebesar apa pun, tapi jangan merepotkan orang lain.’ Saat membuat kesalahan, mungkin kau akan merepotkan teman-temanmu. Nah, di sanalah kau harus mengaku, meminta maaf, dan bertanggub jawab kepada mereka.”

“Iya, aku mengerti. Aku tidak akan lari, insyaAllah tidak akan pernah lari dari kenyataan pahit. Tapi, orang-orang tidak akan merasa repot jika semenjak awal mereka tidak menaruh harapan padaku, bukan?”

“Jika atas dasar itu kau melepas harapan-harapan yang mereka letakkan di bahumu, maka kau telah menyusahkan mereka.” Riza menutup laptopnya, mencabut baterai darinya, menggulung-gulungnya, kemudian berdiri. “Menyerah pada kesalahan yang dibuat, kemudian menghilang dari peradaban, benar-benar tingkah laku bocah tengil.”

Ia mengambil tas yang tergeletak di atas meja, membuka resletingnya, dan memasukkan laptop ke dalamnya. “Gunakan akal sehatmu, bukan emosi,” Riza meraba-raba jaket di dalam lemari. “Pikirkan dengan jernih, apakah dengan melepas harapan mereka, apakah dengan membuka topengmu, itu semua akan memecahkan masalah? Bukan! Berbadan tegaplah, bersuara lantanglah! Hadapi proses tanggung jawab—baik itu dihukum, dipermalukan, dihina, atau bahkan ditendang—dengan berani.”

Rio masih terdiam. Pandangannya menunduk, hal yang biasa ia lakukan jika sedang merenung. “Kemudian, setelah prosesi itu selesai, lanjutkan apa yang seharusnya kau kerjakan dengan semangat baru.” Bunyi resleting jaket terdengar. Ransel terpasang di bahu Riza. Ia kemudian menuju helm dan motornya.

“Apakah memang itu yang Tuhan harapkan dari manusia? Terus berjalan ke luar sambil mengenakan topeng, dan membiarkan orang lain tertipu dengan apa yang mereka lihat?” Rio berdiri menyusul Riza di dekat motornya.

“Kau harus terus mengenakan topengmu agar orang-orang di sekitarmu tidak kerepotan dengan kebusukanmu. Dunia tidak akan peduli, tapi kau harus tetap memenuhi kewajiban untuk mereka.” Bunyi deru mesin motor terdengar. Rio pun melihat Riza melangkah mundur bersama motornya. “Yang jelas, Ia memerintahkan agar kita tidak berputus asa. Percayalah padaNya yang mengampuni semua dosa.” Riza mengenakan helm dan memutar gas.

“Ampunan….Jika demikian adalah tobat sambal yang selama ini kulakukan.”

“Tobat sambal atau apa pun namanya itu, insyaAllah Ia tak pernah bosan mengampuni hambaNya, hingga hambaNya sendiri yang bosan bertobat.” Dari balik helmnya, Rio bisa melihat Riza tersenyum, Bersama bunyi mesin yang semakin kecil, ia menjauhi Rio yang masih menundukkan kepalanya.

Categories: Rio dan Riza | Leave a comment

#dulu dan #kini

#dulu aku bermimpi

Bahwa ingin bisa terbang, mengepakkan sayap bersama burung-burung mungil. Aku di atas sana, di langit biru itu: merasakan terpaan angin yang sejuk, bergoyang ke utara dan selatan, begitu juga timur dan barat. Memandang dengan haru biru yang luas, dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik, hingga ke Samudera Atlantik. Kemudian gunung-gunung yang hijau, dipenuhi pohon-pohon yang berdiri perkasa. Apa nama gunung itu? Ahh, aku tak pernah mau peduli, karena aku sedang bermimpi. Menyeringai lebar, tertawa dengan bahasa burung mungil, dan menyanyikan lagu tradisional mereka.

#kini aku bertekad

Agar bisa berjalan dengan tenang dan damai. Melintasi padang rumput, sungai, bukit, dan lembah, menggunakan kakiku, bukan sayap rekaan. Satu, dua, dan tiga melangkah. Tidak lagi ingin terbang, karena tentu akan melewatkan berbagai keindahan di kiri kananku! Aku juga bisa merasakan nikmatnya duduk meluruskan kaki di puncak, ketika telah berjalan berjam-jam mendaki punggungan. Apa nama puncak itu? Ahh, aku tahu namanya, karena tidak lagi bermimpi. Aku telah bangun dari mimpi panjang, kemudian berjalan—atau berlari—untuk menyatakan mimpi-mimpi itu. Menyeringai, tertawa, sambil bernyanyi dengan bahasaku sendiri.

Apakah perbedaan pada keduanya?

Mungkin masa #dulu adalah masa konyol, karena masih begitu polosnya. Tapi tidak. Masa #dulu adalah masa bermimpi. Masa-masa mengumpulkan energi sebanyak-banyaknya untuk bermimpi seindah mungkin.

Dan #kini, adalah masa bangun dari mimpi. Membuka mata, dan berjalan dengan misi menjadikan mimpi-mimpi itu menjadi nyata.

Mimpi #dulu dan #kini tidaklah pernah berbeda. Ia masih sama: menginginkan keindahan. Hanya saja, #dulu masih membayangkan keindahan secara abstrak, dan #kini mampu melukis kembali keabstrakan itu menjadi hal nyata. Bahkan, hal yang jauh lebih indah dapat terungkap setelah kenyataan diamati dengan teliti. #dulu hanya membayangkan lautan, pegunungan, dan pepohonan. #kini bisa merasakan pada rumput, punggungan, lembahan, sungai, dan lainnya.

Berbedakah #dulu dan #kini?

#dulu aku bermimpi, #kini aku berjalan. Masih dengan mimpi yang sama, tidak pernah berubah.

Categories: merenung | Leave a comment

Blog at WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,809 other followers