Menghubungkan Titik-Titik

Image

Connecting Dots merupakan salah satu permainan anak-anak, sebuah puzzle, yang menghubungkan titik-titik bernomor dengan garis hingga membentuk sebuah gambar. Awalnya, kumpulan titik-titik itu hanya seperti tebaran bulatan-bulatan hitam yang abstrak dan tak berbentuk. Namun setelah titik-titik itu dihubungkan, terbentuklah suatu hal yang bermakna, yang dapat diinterpretasi anak-anak hingga membuat mereka tersenyum.

Mungkin bagi dewasa permainan ini cukup membosankan. Hanya dengan mengikuti arahan nomor-nomor di tiap titik, terbentuklah satu bentuk gambar pasti yang diinginkan oleh sang pembuat. Tapi saya berpikir, bagaimana jika titik-titik itu tidak diberi nomor? Mungkinkah akan terbentuk gambar lain yang bahkan tidak dimaksudkan oleh pembuat? Gambar yang dihasilkan akan terbatas jika hanya membuat garis antar titik-titik yang dibatasi oleh sang pembuat. Lalu, bagaimana jika kita diberi sebuah kertas yang berisi titik-titik yang memenuhi kertas tersebut tanpa nomor? Tentu setiap orang dapat membuat garis antar titik sesuka hati hingga membuat gambar yang amat bervariasi, bukan?

Setidaknya, itulah yang hendak disampaikan oleh Seteve Jobs (1955-2011) dalam pidatonya yang terkenal di Stanford University. Pada tahun 2005, Steve Jobs, yang tidak pernah seumur hidupnya lulus dari universitas, mendapat kesempatan untuk menyampaikan inspirasinya di hadapan para mahasiswa Stanford yang sedang dalam upacara kelulusan.

Image

“Saya amat merasa terhormat,” katanya, “bisa bersama Anda di upacara kelulusan salah satu universitas terkemuka di dunia” “Saya tidak pernah lulus dari kampus,” ia melanjutkan, “Sejujurnya ini merupakan yang terdekat bagi saya dengan kelulusan kampus.”

Jobs menyampaikan 3 hal utama berdasarkan pengalaman pribadinya. Salah satunya adalah cerita ia memutuskan untuk drop out dari Universitas Reed. Ia sama sekali tidak menemukan ketertarikan di kampusnya—yang orang tuanya telah menguras tabungan mereka agar Jobs dapat kuliah di kampus terkemuka itu. Setelah memutuskan untuk mengundurkan diri, ia tidak langsung menghilang begitu saja dari kampus. Dengan statusnya sebagai mahasiswa drop out, ia tidak diwajibkan mengambil mata kuliah yang tidak disukai, dan bisa mengikuti kelas apa saja yang menurutnya menarik.

Pernah ia begitu tertarik dengan kaligarafi yang tertempel pada dinding-dinding kampus. Memandangnya sebagai suatu keindahan, kelas kaligrafi pun diikuti, tempat ia mempelajari jenis tulisa San Serif dan memvariasikan spasi antar huruf. Terdapat keindahan di sana, dan Jobs menyenangi keindahan tersebut.

Apa manfaat kaligrafi bagi kehidupan sehari-hari? Tidak ada saat itu, tidak ada sama sekali kecuali untuk mengagumi keindahan. Namun, berkat kelas tunggal kaligrafi tesebut, Macintosh menjadi komputer pertama dengan tipografi indah. Berkat di-drop out, katanya, lahirlah Mac dengan berbagai bentuk tulisan dan spasi tulisan yang proporsional.

Mengundurkan diri dari kampus, menurutnya, adalah satu titik. Belajar kaligrafi secara bebas juga adalah satu titik, begitu juga dengan upayanya membuat Mac di garasi orang tuanya. Jika tampak dari luar, titik-titik tersebut seperti berjauhan, berseberangan, dan tidak memiliki koneksi sama sekali. Tapi tidak bagi orang yang memiliki pulpen kreativitas: titik-titik itu pun dapat dihubungkan, hingga terciptalah suatu gambar yang indah, yaitu Mac. Menurut Jobs, inilah yang disebut dengan connecting dots.

Dari ceramah pendiri perusahaan Apple tersebut, setidaknya ada beberapa benang merah yang bisa ditarik:

1. Pelajari dan lakukan hal yang disukai. Jobs meninggalkan kelas yang ia tidak minat sama sekali. Ada passion di tempat lain, yang sepertinya tidak penting, tapi passion tersebut begitu menggairahkan dan ia cintai. Cinta sejatinya tersebut tidak pernah mengkhianatinya, dan memberinya jalan yang begitu inspiratif.

2. Tinggalkan hal yang memang tidak menarik minat. Ada banyak disiplin ilmu dan hal yang bisa dipelajari di abad ini. Ada berapakah cabang ilmu pengetahuan saat ini? Tentu amat banyak. Namun semua hal tersebut ada tidak untuk dipelajari semua. Mempelajari suatu hal yang tidak menarik minat, hingga pada akhirnya menjadi hapalan sekilas dan catatan-catatannya dibuang ke tong sampah, tentu adalah kegiatan sia-sia dan membuang waktu. Sherlock Holmes pernah melontarkan hal yang mirip, bahwa ada banyak yang bisa dipelajari di dunia ini, namun apabila ada hal yang tidak berguna bagi pekerjaan sempat masuk ke otak, maka memori tersebut harus segera dihapus.

3. Membuat titik-titik. Permainan connecting dots membosankan bagi orang dewasa karena begitu simple dan tidak ada tantangan: cukup menarik garis antara titik-titik yang diberi nomor, jadilah gambar satu bentuk yang kaku. Berbeda jika titik-titik itu banyak dan menyebar. Ada banyak garis yang bisa dibuat, gambar yang terbentuk, bahkan bisa dibuat banyak gambar dalam satu kertas. Begitu juga kehidupan.

Roger Pulvers menulis di Times tentang pengamatannya terhadap para pemuda Jepang yang kurang inovatif seperti yang mereka tunjukkan pasca perang dunia II. Alasannya adalah mereka membuat titik yang monoton yang hanya bisa dihubungkan oleh satu garis. Apa yang mereka pelajari begitu sempit dan terjurus pada profesi tertentu saja. Mungkin banyak yang beranggapan bahwa apa yang perlu dipelajari hanyalah hal-hal yang akan membawa ke masa depan yang terjamin. Akhirnya, terjadilah kehidupan monoton dan tidak indah.

Dengan banyak membuat titik-titik dalam kehidupan, maka akan ada banyak garis yang bisa divariasikan. Tinggal gunakan pulpen atau pensil kreativitas, terbentuklah gambar-gambar indah, yang mungkin sebelumnya tidak pernah tebayangkan oleh kita. “Jadilah orang yang tidak karuan dan tidak fokus. Itu akan membawa Anda untuk menemukan potensi personal Anda,” begitu kesimpulan dari Pulvers.

4. Bahwa titik-titik dihubungkan bukan dengan maju ke arah masa depan, tapi dengan menengok masa lalu. Awalnya, titik-titik terbuat seolah secara abstrak dan mengacak. Namun, setelah membuat titik yang cukup banyak dan memenuhi selembar kertas, barulah seseorang dapat menghubungkannya. Mungkin inilah yang banyak dikhawatirkan banyak orang, bahwa mereka khawatir tidak dapat menemukan koneksi antara yang mereka minat pelajari dengan kesuksesan. Akibatnya, hal yang ditekuni pun adalah yang bersifat monoton dan kaku, meskipun bukan itulah minat sesungguhnya. Ada banyak jalan menuju Roma, begitu juga kesuksesan hidup. “Sukses” adalah istilah yang bersifat relatif dan dapat divariasikan. Tidak melulu dimaknakan sebagai pencapaian meraih profesi dengan gaji besar.

Setiap pengalaman hidup adalah satu titik, atau bahkan beberapa titik. Bukan, setiap detik yang dialami pun dapat menjadi titik. Terkadang Tuhan pun memberikan titik yang tidak kita duga sama sekali. Tapi adakah pemberian Tuhan sia-sia? Ia meminta para manusia ciptaanNya untuk kreatif menghubungkan titik-titik itu untuk menjadi gambar yang bahkan mungkin tidak pernah disadari sebelumnya.

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (Ar Ra’d: 11)

About these ads
Categories: esai, pembelajaran | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Menghubungkan Titik-Titik

  1. blog maneh BAJUS kam… tapi paling suka tulisan maneh yang ini.. b*jempol*

    Like

  2. achmadfaris

    Gokill juga Kam,, tulisan ini.. hehe apa kabar brader?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 709 other followers

%d bloggers like this: