wanadri

Apa yang Membuat Tulisan Diminati untuk Dibaca?

tulis

Mungkin itu adalah pertanyaan yang berada di setiap benak yang hendak menulis. Memang tujuan merangkai kata tidaklah selalu untuk dibaca oleh orang lain: bisa saja sekedar mengekspresikan diri. Namun sebuah tulisan akan lebih berarti jika dibaca oleh orang—terlebih banyak orang—bukan?

Saat ini saya sedang diamanahi sebagai bidang publikasi tim Ekspedisi Arus Deras Wanadri yang akan menggelar petualangannya di Sungai Kluet, Aceh Selatan. Tugas utama bukanlah mendesain sarana-sarana publikasi semacam spanduk atau baligo—itu dipegang oleh bidang lain—melainkan menulis!

Yak, jika kita akan melakukan sebuah kegiatan besar, sebegitu besarnya hingga membutuhkan kerja besar dan waktu lama, sepertinya akan lebih elok kalau dipublikasikan. Bukan sekedar untuk berbangga diri, namun untuk menyampaikan pesan kepada orang luar tentang esensi sebuah ekspedisi dan petualangan. Lagipula, kegiatan semacam ini merupakan ‘ruh utama’ Wanadri: banyak masyarakat mengenal perhimpunan tentu dari kegiatan petualangan seperti ini.

Mencatat aktivitas tim sehari-hari, mendokumentasikan proses menuju ekspedisi, dan tentu saja menulis catatan perjalanan di setiap latihan adalah tugas utama si kunyuk publikasi ini. Namun ada misi besar buat si kunyuk, yaitu membuat sebuah buku!

Umumnya, menulis buku merupakan sebuah karya yang amat dibanggakan. Betapa banyak orang yang berusaha berkarya dengan merangkaikan tulisan dalam bentuk buku. Sekarang membuat buku pun dipermudah: banyak tumbuh percetakan yang mau menerbitkan buku-buku self-published. Untuk mensosialisasikannya ke masyarakat caranya juga amat variatif. Melalui self-published, penulis tidak harus terikat kontrak dengan penerbit, cukup mencetak sendiri sejumlah yang diinginkan, kemudian melakukan self-marketing. Tawarkan saja ke beberapa toko buku, uang pun masuk jika ada yang berminat dengan buku indie tersebut. Atau cara marketing sekarang amat banyak: mengiklankan buku melalui berbagai media dan menawarkannya ke orang-orang terdekat hingga terjauh.

Wah, terbayang jika buku ekspedisi ini berhasil terbit. Tidak hanya itu, tapi juga tersampaikan ke masyarakat, atau bahkan nongol di toko buku! Terlebih lagi menulis belumlah menjadi budaya di Wanadri. Hanya sedikit perjalanan yang berhasil didokumentasikan ke dalam bentuk buku: bahkan ekspedisi 7 Summit yang membentangkan merah-putih di luar negeri saja belum ada bukunya! Sebuah cita-cita bagi si kunyuk, yang diiyakan oleh seluruh personel. Iya iya saja, tapi tetap tugas ini hanya dibebankan ke satu orang kunyuk ini. Akan menjadi kebanggaan, bukan hanya pribadi, tapi juga tim ekspedisi.

Membuat sebuah buku ekspedisi tentu bisa macam-macam jenisnya. Bisa saja seperti sebuah laporan kegiatan, atau semacam galeri foto dengan sedikit kata-kata keterangan. Hmm, tapi apakah yang bisa membuat orang-orang tertarik untuk membaca buku ekspedisi ini?

Yah, apakah yang membuat orang-orang rela meengorbankan waktu mereka yang berharga hanya demi membaca tulisan?

“Secara teori, ada beberapa faktor, misalkan faktor kedekatan. Kalau kamu menulis kegiatan di Aceh, tentu akan menarik minat orang-orang Aceh,” kata kang Nondi. Akang tua ini bukanlah anggota Wanadri, namun cukup dekat dengan para anggota—terutama para senior—dan banyak memberikan kontribusi bagi perhimpunan.

“Selain itu, kalau ingin memasarkan buku, kamu juga harus menentukan segmen pasar. Apakah cukup terbatas kepada para penggiat alam terbuka, atau untuk umum? Nah, dengan menentukan segmen seperti ini, kamu bisa menentukan tulisan semacam apa yang akan diangkat,” lanjut beliau.

Kalau ingin menjangkau orang-orang umum, tulisan macam apa yang akan menarik minat mereka?

Berdasarkan pengamatan pribadi, orang kebayakan pada masa ini cenderung senang membaca hal-hal yang bersifat inspiratif. Tengok saja apa yang sering diviralkan di berbagai medsos. Selain berita, yang sering dishare berulang kali ialah hal-hal yang menumbuhkan inspirasi.

Apakah hal yang bisa menginspirasi?

“Menurut saya, Kang, tulisan yang umumnya menginspirasi ialah yang berupa cerita. Kisah pengalaman pribadi atau seseorang yang dapat menyentuh sisi emosi pembaca, atau bahkan cerita rekaan yang bisa diambil hikmahnya.”

“Nah, itu! Orang-orang saat ini membutuhkan cerita. Terlebih kalau inspirasi itu dapat diterapkan dalam kehidupan harian,” sambar kang Nondi sambil mengacungkan telunjuknya. “Rekamlah kegiatan ekspedisi kalian dalam bentuk cerita. Jangan hanya sekedar laporan—itu membosankan. Kalian bisa menceritakan hal-hal teknis, tapi angkatlah dalam bahasa yang populer.”

Mengapakah orang pada umumnya membutuh kisah inspiratif? Apakah dari setiap keseharian yang dijalani tidak ada inspirasi yang diambil? Sedang matikah radar mereka—begitu kang Nondi menyebutnya—yang berfungsi menangkap segala fenomena yang ada untuk diambil pelajarannya? Atau, memang saat ini rutinitas telah menjadi jebakan yang begitu menjenuhkan?

Mungkin itulah yang membuat novel-novel—baik kisah nyata atau rekaan—begitu laris di pasaran. Sedang dibutuhkan kisah yang mampu membangkitkan gairah, mendebarkan jantung begitu asyiknya, hingga menitikkan air mata sentimentil. Inspirasi adalah hal begitu dibutuhkan, dan lebih terasa renyah untuk dicerna jika dalam bentuk cerita. Baik itu fiksi atau nyata, sang penutur ceritalah yang memberi warna hitam-putihnya rutinitas.

Apalah manfaat sebuah perjalanan, jika tidak menghasilkan kisah untuk didongengkan? Jika hanya untuk disimpan, yang membuat diri sendiri tertawa geli ketika mengingatnya, tentu sangatlah disayangkan. Mereka butuh cerita-cerita yang begitu mengasyikkan dan mendebarkan, hingga mampu mengurangi waktu tidur mereka hanya untuk menyimak. Perjalanan tanpa sebuah cerita itu percuma, begitu kata seorang senior Wanadri.

Menceritakan perjalanan ekspedisi layaknya dongeng adalah sebuah tugas yang cukup menantang. Menantang? Ya, karena ekspedisi merupakan bentangan yang luas, dan tidak mungkin pengamatan si kunyuk seorang mampu menjangkau seluruhnya. Mampu menceritakan kembali apa yang diceritakan orang, kata kang Nondi, adalah hal yang sangat dituntut bagi pencerita.

Tapi, apakah cerita ekspedisi ini adalah hal yang sangat ingin didengar? Entah, karena manusia sendiri terkadang tidak mengetahui apa yang diinginkan hingga hal tersebut muncul di hadapan. Yang jelas, akan sangat berharga jika perjalanan yang memakan waktu hampir 2 bulan dan membutuhkan persiapan 6 bulan ini diangkat menjadi sebuah cerita.

Categories: merenung, pembelajaran, wanadri | 3 Comments

RAWA KEPUTUSASAAN

Setelah sekian lama tak menulis, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengenang kembali salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup. Saya sudah lama tidak terlibat dalam segala kegiatan Wanadri. Selepas PDW, ada program pendidikan lanjutan yang disebut dengan mamud (masa bimbingan anggota muda) kurang lebih selama 2 tahun.

Sekitar 3 bulan pertama kegiatan mamud saya ikuti. Pendidikan Gunung Hutan 2 dan 3 (saya absen Gunung Hutan 1 karena agenda akademik) masih ingat dalam ingatan. Bagaimana membaca topografi, menghitung sudut, menentukan titik-titik cek poin di peta, hingga membuat ROP (Rencana Operasi) dalam sebuah proposal perjalanan. Apa daya memori manusia tidaklah bersifat kekal, dan perlahan-lahan itu semua memudar. Yah, pilihan adalah pilihan. Tidak ada pilihan bodoh, kecuali pilihan yang disesali.

PDW berlangsung kurang lebih sebulan. Dua minggu pertama merupakan tahap basic di tanah pendidikan Situ Lembang. Setelah itu memasuki tahap medan operasi, yaitu ORAD-tebing terjal selama 2 hari, longmarch kereta api 1 hari, rawa laut 2 hari, longmarch jalan raya 2 hari 1 malam, dan sisanya tahap gunung hutan termasuk survival. Sekilas tahap survival pernah saya kenangkan dalam tulisan di blog ini. Sangat berkesan. Namun, menurut saya pribadi, tahap rawa laut merupakan tahap terberat dan tersulit.

PDW 2012 bukanlah PDW yang pertama kali saya ikut. Tahun 2010 saya juga pernah mengikutinya, namun gugur di tahap ini, rawa laut. Sambil mengorek ingatan yang semakin kabur, keinginan untuk menulis pun ingin saya tumbuhkan lagi.

***

Siang itu terik. Panas, dan juga kering. Namun tidak sempat lagi untuk memikirkannya. Karena kami harus terus berjalan, menelusuri pematang, sambil memanggul ransel yang begitu beratnya.

Tempat itu begitu terbuka. Tampak cakrawala seelurus area pandangan. Beberapa warna hijau terlihat di sisi, namun tidak tinggi, kebanyakan hanya berupa semak-semak. Warna yang dominan saat itu adalah coklat. Tanah bercampur lumpur coklat terlihat di mana-mana, di pematang, di pakaian, di tangan, juga di wajah. Begitu pula tambak-tambak petak yang membentang seluas mata memandang.

Kami berada di medan latihan rawa laut. Latihan ini merupakan bagian dari tahapan medan operasi, setelah sebelumnya melewati tahap basic selama 2 minggu. Tahap ini adalah tahap “terberat”: pakaian dan sepatu menjadi berat karena lumpur, terlebih ransel.

Walau telah melewati 2 minggu pertama PDW, tapi itu tidaklah menjadi penambah semangat bagiku. Tahun 2010 itu, langkah yang ada adalah langkah gontai, pandangan yang ada adalah pandangan yang buram, semangat yang ada adalah keputusasaan, pikiran yang ada adalah ingin pulang.

Berat! Ransel ini begitu berat! Sepertinya banyak sekali air yang masuk ke ransel, dampak dari packing yang asal-asalan. Dapat dirasakan lilitan saraf di bahu terjepit. Di medan ini, siswa diwajibkan memakai pelampung. Namun, mengenakan ransel di atas pelampung sangat sangat tidak nyaman, dan seolah menambah beban saraf bahu.

Perlahan, sensasi di ujung-ujung jari menghilang. Lengan terasa lemas untuk diayunkan.

“Tuan! Cepat jalannya, Tuan!”

Kapan berhenti untuk istirahat? Rasanya ingin duduk, melepas ransel, dan mengayun-ayunkan tangan.

“Tuan! Hei, Tuan! Rapatkan barisan dengan yang depan, Tuan!”

Jauh. Pematang masih jauh membentang. Tidak kuat lagi memanggul ransel sialan ini. Ingin kubuang! Benda brengsek ini kubuang saja!

“TUAANNN!!!”

Aku oleng. Bergoyang ke kanan, kemudian ke kiri. Pelatih itu cuman menggampar sekali, namun begitu kerasnya. Beberapa detik kemudian, setelah berdiri dengan stabil, terdengar suaraku sendiri yang berteriak, “Pelatih, saya ingin pulang, Pelatih…!”

***

“Tuan Sayyid, kamu mau pulang lagi, Tuan!!?”

Tahun itu 2012. Aku berjalan, pelan. Di dalam kolam tambak yang penuh lumpur bagaikan rawa, semua siswa hanya bisa berjalan pelan. Tidaklah mungkin berjalan tegap gagah, karena hanya akan membuatmu terhisap ke kegelapan. Terlihat, seluruh siswa, termasuk pelatih, melaju menggunakan kedua lututnya.

Lutut kanan kubawa ke depan. Badan menjadi sedikit oleng karena terbawa oleh ransel yang berat. Kemudian, lutut kiri menyusul ke depan. Lalu lutut kanan, kemudian lutut kiri lagi.

Seperempat hari pertama rawa laut digunakan untuk navigasi rawa. Awalnya aku berpikir, bagaimana mungkin bernavigasi di rawa yang sama sekali tidak ada titik ekstrem seperti puncak gunung atau bukit? Yang ada di sini hanyalah bentangan kolam tambak dan pematang, membentuk petak-petak rawa yang terjemur oleh terik matahari. Mungkin ada teori khususnya untuk bernavigasi di tanah yang datar, tapi itu tidak diajarkan di pendidikan dasar. Di hari itu, pelatih langsung memberi koordinat titik awal dan titik akhir, sehingga tugas siswa hanya memplotting di peta dan membidikkan kompas ke sudut tujuan.

Medan rawa laut hari pertama kebanyakan kolam yang dalam. Para siswa cukup melepas ransel, meletakkannya di depan untuk dijadikan pelampung, dan menggerakkan kaki seperti menggowes sepeda. Kami pun berenang.

“Nanti kalian kalau lulus PDW, ikut Klub Gowes Wanadri,” ujar seorang pelatih.

“Kalau lulus, hahahah,” timpal pelatih lain.

Akhir dari hari pertama, sekitar jam 2 siang, ialah “langkah kesabaran”, begitu aku menyebutnya. Sekitar 2 jam siswa berjalan mengikuti pelatih menyusuri pematang, entah ke mana. Mungkin terdengar seperti mudah, namun kondisi saat itu ialah kelelahan setelah menyeberangi rawa yang luas. Itu tidak seberapa, yang paling parah adalah bahu yang kesakitan karena harus memanggul ransel yang berat.

Sebelum berangkat ke medan rawa, pelatih memberi arahan cara packing yang benar agar tidak bocor kemasukan air rawa. Kalau biasanya isi ransel cukup dibungkus dengan satu lapis plastik ikan, kali ini dengan dua lapis, bahkan ada yang tiga. Namun, tetap saja, terasa ada air yang masuk ke dalam. Bahkan bercak lumpur yang menumpuk di luar ransel sudah cukup membuatnya menjadi lebih berat berkali lipat.

Aku sedikit membungkukkan badan, menggoyang-goyangkan bahu, dan menggerak-gerakkan ransel agar dinamis. Membiarkan bahu memanggul ransel dengan statis selama berjam-jam hanya akan membuat diri tersiksa.

Kala itu tidaklah saraf bahuku terjepit. Namun, terlihat dua siswa yang terlihat tersiksa. Yang satu mengernyit, menahan sakit di bahunya. Yang satu lagi membuka mulutnya, terengah-engah, dan air matanya mengucur.

Tersiksa. Itulah gambaran kondisi “langkah kesabaran” selama 2-3 jam itu. Rasanya ingin berhenti, duduk, menyandarkan ransel, bahkan melepasnya. Aku memandang ke barisan depan, lalu belakang. Para siswa membungkuk dan menggoyang-goyangkan bahunya, sambil melakukan “zikir”, “Wanadri…Wanadri…Wanadri” dengan suara pelan.

Tiba-tiba, seorang teman reguku di depan terjatuh di atas jembatan bambu. Kakinya tersangkut. Ia mengeran. Aku berusaha mengangkat bambu yang mengait kakinya, namun gagal. Akhirnya ia terbebas setelah dibantu seorang pelatih. Namun, setelah itu ada yang aneh dengannya. Bola matanya ke atas, mulutnya membuka, lidahnya menjulur, dan ia terus berucap, “Wanadri…Wanadri…Wanadri…”

Seorang pelatih berteriak keras di hadapannya, namun terus saja ia berujar, “Wanadri…Wanadri…Wanadri”, seolah tak sadar dengan lingkungannya. Kemudian pelatih itu menyiram wajah siswa itu dengan air. Ucapan “zikir”nya berhenti, bola matanya tak lagi ke atas. Akhirnya, ia pun menjawab dengan keras teriakan pelatih di hadapannya.

 

Hari ke-2 itu neraka sesungguhnya. Itu adalah ancaman pelatih di malam sebelumnya. Memang, tak butuh waktu lama untuk membuktikannya.

Tidak seperti rawa hari pertama yang kebanyakan kolam penuh air, medan yang para siswa lewati hari itu benar-benar lumpur. Ketika mendaratkan lutut, tampak lumpur itu menghisap tubuh kami perlahan. Kalau tidak segera maju, bisa-bisa tertanam. Karena terhisap, berat sekali untuk mengangkat lutut ke depan, ditambah beban ransel yang semakin berat. Tak jarang aku harus merangkak sambil menendang-nendangkan kaki dengan liar agar bisa menyeberang.

Ransel yang berat mendorong tubuh saat mendaratkan lutut. Bila gagal menjaga keseimbangan, yang terjadi adalah jatuh tengkurap, ditindih oleh ransel yang beratnya 20 kg lebih. Itulah yang terjadi pada seorang siswa di sebelah.

“Tolong…tolong…,” rintih siswa tersebut dalam nada putus asa. Ia tidak bisa bangun. Saat itu sebenarnya tiap siswa sangat sibuk untuk membebaskan diri sendiri dari hisapan lumpur. Aku pun hanya mampu memberi saran, “Lepas ranselmu….” Siswa itu melepasnya, dan berhasil bangun. Ia merangkak ke depan sambil menarik-narik ranselnya kesusahan. Aku pun sedikit membantu menariknya.

Setelah berjam-jam kepayahan melewati kesuraman, kami pun dibawa ke suatu tempat yang sepertinya adalah ujung dari padang tambak. Di sebelah utara, terlihat laut yang bergulung saling mengejar. Biasanya, jika menghirup aroma garam dan mendengar desir ombak, yang terbayang adalah pasir pantai. Tapi tidak ada yang semacam itu di sana.

Kami berdiri di atas pematang, memandang ombak. Tak lama, seorang pelatih memberi instruksi, dan kami bergerak mengikuti pelatih yang memimpin rombongan. Seorang pelatih yang berdiri di pinggir pematang tersenyum aneh, dan berkata pelan, “Selamat datang di rawa laut, Tuan.”

Para siswa di barisan depan diminta turun. Di sana, aku bisa melihat para siswa yang sepenuhnya berwarna coklat merangkak pelan, sangat pelan. Ransel dilepas dan diletakkan di depan. Mereka berjalan dengan cara mendorong ransel, kemudian menendang-nendang.

Giliranku pun tiba. Kuletakkan ransel di depan, kudorong, lalu dalam posisi merangkak kakiku menendang-nendang. Berhasil maju, beberapa senti. Kudorong lagi ranselku, kumerangkak, dan menendang-nendang. Kembali berhasil maju, sekian senti.

Terengah-tengah, aku mengintip pemandangan di depan melalui kacamataku yang penuh lumpur.

Terkesima.

Itu adalah luas. Rawa hitam yang luas. Ujung depan tidak terlihat, sedangkan ujung belakangnya dekat sekali, tempatku tadi start. Sambil mengedan, aku maju kembali. Mengangkat lutut kanan sambil menimpa ransel. Mengangkat lutut kiri dan kembali menimpa ransel. Berhasil meluncur, beberapa senti saja. Pinggangku sakit. Kaki pegal. Nafas memendek. Pikiran berandai-andai apakah kalori makan siang tadi masih tersisa.

Itu adalah rawa keputusasaan. Tidak tahu rawa ini berujung di mana. Tidak tahu ke mana. Namun, kami harus terus maju, tak ada lagi hal lain yang bisa dilakukan. Percuma minta pertolongan. Setiap siswa sibuk berjuang melewati rawa hitam ini. Bahkan ada juga yang tidak maju-maju.

Tidak tahu berapa lama. Tidak peduli berhasil atau tidak. Hanya satu yang perlu dipikirkan, yaitu melangkah. Dan melangkah. Dan melangkah.

***

Pernahkah kita berada di medan yang begitu luas? Begitu luas. Begitu luas. Begitu luas. Tidak terlihat ujungnya di mana. Tidak terbayangkan tujuannya seperti apa. Namun kita telah berada di tengah-tengah jalannya. Harus ke manakah kita? Apakah kembali? Benar, kembali? Benarkah harus menyesal di tengah jalan? Lalu pulang, sebagai pecundang?

Apakah kita merasa terjebak? Seperti berada di tengah-tengah kemacetan jalan raya? Mau berteriak sekeras apa pun, mau mengumpat-ngumpat sekasar apa pun, tetap tak ada yang bisa dilakukan, kecuali maju. Maju, walau perlahan, begitu pelan. Jika sabar, kelak akan tiba di tujuan juga. Benar begitu, bukan?

Untuk tiba di tujuan, yang dibutuhkan bukanlah kecepatan. Tapi kesabaran.

***

Kenapakah aku ada sini? Di suatu tempat yang entah di mana? Apa pula yang kulakukan? Seharusnya aku berada di sana, Di suatu titik di utara kota Bandung. Sedang belajar, bersama teman-teman kelompok. Membaca materi-materi. Mengikuti bimbingan. Membacakan presentasi kasus.

Tapi nyatanya aku berada di tengah rawa. Sedang merangkak.

Menyesal?

“Tuan Sayyid! Kamu mau pulang lagi di sini, Tuan!!?” teriak seorang pelatih.

Pecundang.

“Pulang saja kamu! 2 tahun lalu kamu pulang di sini kan, Tuan!”

Tahukah rasanya menjadi seorang pecundang?

“Kamu ini! Meninggalkan teman-teman kamu 2 tahun lalu!”

Penuh penyesalan. Saat pulang, tidak ada satu pun yang menyambut. Hanya tertawaan, hinaan, dan sindiran. Memang itulah yang pantas didapat bagi seorang pecundang.

Apa yang dirasakan saat melihat teman-teman yang kau tinggal di tengah latihan pada akhirnya menyanyikan lagu kemenangan? Apa yang dirasakan ketika melihat wajah temanmu pulang dengan wajah penuh kepuasan?

Mimpi apa yang selalu muncul di dalam lelap tidurmu?

Pecundang, mungkin adalah orang terlalu banyak berpikir saat seharusnya hanya fokus memikirkan satu hal. Tidak perlu memikirkan hal yang lain. Fokus saja ke hal yang harus dilakukan saat ini. Ketika berada di tengah-tengah jalan, hanya satu yang perlu dipikirkan: melangkah.

Penyesalan sejati itu adalah ketika memutuskan untuk menyerah dan kemudian menjadi pecundang.

***

Akhirnya memang aku pun tidak sampai garis akhir. Ketika berada di tengah-tengah, seorang pelatih meniup peluit, dan serentak para pelatih lain menginstruksikan kami untuk menepi. “Tuan, cepat menepi, Tuan! Air laut mau pasang, Tuan!” Meskipun sebagian besar menepi, tapi beredar kabar ada 4 atau 5 siswa berhasil mencapai garis finish.

Para siswa dibariskan di pematang, kemudian diinstruksikan mengikuti pelatih. Waktu itu sudah amat sore, mungkin sekitar jam 5. Tujuan dari perjalanan saat itu adalah “pulang” menuju truk angkutan.

Medan rawa laut sudah selesai. Ya. Yang perlu dilewati tinggal “langkah kesabaran”. Memang selama langkah itu kami begitu kelalahan. Berjalan dari ujung rawa menuju ujung satunya lagi setelah merangkak berjam-jam kembali menguji kesabaran.

Pada akhirnya, tujuan pun terlihat. Sebelum diangkut ke truk, kami “mandi” terlebih dahulu. Berendam di kolam air tawar, menggosok-gosok baju, celana, tangan, dan wajah agar terbebas dari lumpur.

Medan rawa laut telah terlewati. Tidak tahu bagi siswa yang lain, tapi bagiku medan ini dilewati bukan dengan kekuatan, tapi dengan ketabahan.

Ada seorang pemimpin negara yang berujar ketika negaranya sedang perang dengan tetangga. Pasukannya banyak menderita kekalahan, namun dengan percaya diri ia membuat pernyataan yang pantas diabadikan. Bahwa yang akan memenangkan perang bukanlah yang membunuh musuh paling banyak, tapi yang paling bertahan hingga akhir.

Categories: narasi, wanadri | 5 Comments

Sebuah Pelajaran dari PDW 2012 (4): Esensi Upacara

Pagi itu masih berkabut. Suhu dingin khas lembah Situ Lembang merasuk ke kulit-kulit yang tengah berada di sana. Terlihat kulit-kulit itu memerah, mengelupas, diganti dengan kulit yang baru, membentuk keropeng. Kelak kulit-kulit yang kedinginan itu akan tersengat panasnya lembah di siang hari.

Tapi pagi itu masih berkabut. Elang membentangkan sayap di balik kabut itu, mengawasi para siswa yang tengah olahraga pagi. Lapangan berumput yang luas itu sebenarnya adalah lapangan upacara. Namun, di salah satu sudutnya, dapat terlihat para siswa melepas baju olahraga, bersahabat dengan dingin dalam gerakan senam pagi.

Tiba-tiba dengan cepat mereka diminta untuk mengenakan kembali kaos putih mereka. Terburu-buru dan tergesa-gesa pakaian itu dikenakan. Para pelatih kemudian menggiring mereka menuju sisi lapangan yang dekat dengan tiang bendera.

“Cepat! Cepat! Jangan bikin malu kalian!” bisik seorang pelatih dalam ketegasannya.

“Cepat! Langsung berbaris! Tidak bingung!” Para siswa berlari secepat mungkin, sedikit kebingungan kenapa mereka harus terburu-buru seperti itu. Mereka menoleh ke sebelah kanan: tampak barisan orang berbaju hijau berjalan sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi.

DRUK! DRUK! DRUK! DRUK! DRUK!

Bunyi itu menggema. Buyi itu dihasilkan oleh dentuman sepatu yang kompak seolah menggambarkan kegagahan pasukan Raider yang tengah berlatih di lembah yang sama.

“Berhenti, GRAK!” Spontan bunyi hentakan berhenti pada irama yang sama. Saya bisa melihat mereka berbaris dengan rapi—sangat rapi! Tidak ada sedikitpun ketidaklurusan, tidak ada satu pun gerakan tambahan! Berbeda dengan kami yang selalu dimarahi karena kesulitan membentuk barisan yang lurus.

Itu adalah pukul 6 pagi. Jam upacara pagi atau penaikan bendera yang secara rutin dilaksanakan di Situ Lembang. Tentara Raider memiliki posisi hormat dengan gaya mereka sendiri—posisi yang mereka teriakkan sebagai “hormat senjata”. Kami pun hormat dengan gaya kami sendiri: posisi hormat seperti kebanyakan orang.

Walaupun warna pakaian kami berbeda, walaupun posisi hormat kami berbeda, tapi kami pagi itu tengah menghormati panji yang sama: merah putih.

Upacara memang tidak setiap hari dilakukan selama PDW. Seremoni ini dilaksanakan—seingat saya—di gedung sate tempat upacara pembukaan, di Situ Lembang, di Bantar Caringin, dan di tanah pelantikan Kawah Upas. Protokol upacara saat pembukaan dan pelantikan mungkin mengadopsi protokol ala militer, seperti penggunaan alat musik trompet dan drum. Pada Situ Lembang dan Bantar Caringin, pelaksanaannya hanya  berupa upacara penaikan dan penurunan bendera. Dilakukan setiap jam 6: pagi untuk penaikan dan sore untuk penurunan.

Jika dipikir-pikir, mengapa Wanadri sampai sebegini niatnya menyelenggarakan upacara bendera saat pendidikan? Awalnya saya berpikir, tentu saja, untuk penanaman nasionalisme dan cinta tanah air. Pendidikan dan pelatihan yang tengah dijalani dengan keras harus tetap diniatkan sebagai pengabdian kepada negeri.

Sekitar sebulan setengah seusai PDW, kami diingatkan oleh Abah Iwan akan esensi upacara bendera. Bahwa esensi itu telah lama menghilang dari setiap pelaksanaan upacara. Bahwa kini hanya berupa seremonial, tanpa memahami betul apa maknanya. Bahkan esensi itu tak pernah ditanamkan ketika upacara bendera dilangsungkan tanggal 17 Agustus di Istana Negara.

“Esensi upacara bendera adalah ‘menghargai’,” begitu kata Abah Iwan.

Adalah menghargai komandan upacara meskipun orangnya telah kita kenal. Ketika ia memberi perintah, maka kita harus mengikutinya dengan gerakan yang tegap. Begitu juga kepada inspektur upacara. Walaupun amanat yang disampaikan bukanlah hal yang seru untuk didengar, bahkan membosankan,  tapi tetap kita harus mendegarnya tanpa gerakan tambahan. Itu adalah bentuk sikap kita menghargai mereka.

Yah, memang itulah yang kali ini agak sulit ditemukan: sikap menghargai orang lain. Jika kitalah yang ada di posisi mereka—komandan atau inspektur upacara—tentu kita ingin dihargai dengan cara didengarkan, bukan?

Jika menelusuri lebih dalam lagi, maka sesungguhnya kita tengah menghormati perjuangan para pahlawan terdahulu. Posisi hormat kepada bendera bukanlah bentuk penyembahan kepada selembar kain berwarna merah putih. Namun, hakikatnya kita tengah memberikan posisi hormat kepada mereka yang telah menyumbangkan darah mereka—juga keluarga mereka—untuk kemerdekaan tanah air.

Bagaimanakah bentuk penghargaan kita kepada mereka? Tentu bukanlah dengan memahat patung berwajah mereka atau mengabadikan nama mereka menjadi nama jalan. Tentu saja, dengan meneruskan cita-cita perjuangan mereka. Tentu saja, dengan melanjutkan jejak mereka yaitu berjuang menjadikan negeri ini adil dan sejahtera.

Sayangnya, hal ini tidak pernah ditanamakan di upacara bendera manapun. Alhasil, kegiatan ini hanya menjadi rutinitas atau seremoni yang membosankan.  Alih-alih menumbuhkan semagat perjuangan dalam aktivitas, yang didapat hanyalah rasa lelah setelah berdiri sekian jam di bawah terik matahari.

Hal seperti ini juga sering ditemukan dalam salat. Setelah berkutat dengan pekerjaan atau aktivitas yang memeras stamina fisik maupun otak, Tuhan memanggil melalui azanNya untuk menghadap. Seharusnya, di momen itulah kita menyandarkan segala kejenuhan dan kelelahan kepadaNya. Saat menghadap kepada Tuhan tanpa perantara itulah seharusnya kita mengingat kembali, bahwa semua pekerjaan itu adalah amal yang kita persembahkan kepadaNya. Jika hal seperti ini dipahami, setidaknya sehari minimal lima kali mendapat recharge semangat, sehingga tidak ada tempat untuk jenuh dan malas.

Begitu pula pada Pendidikan Dasar Wanadri. Sekeras apa pun pendidikan yang diikuti, para siswa tidak boleh lupa bahwa itu mereka jalani sebagai pengabdian kepada negeri. Orang-orang yang dilahirkan di pendidikan ini harus menjadi orang-orang yang tabah dan tangguh menghadapi berbagai persoalan—seekstrem apa pun persoalan itu. “Tidak mengeluh! Hadapi dengan riang gembira!” Itu adalah kata-kata yang sering kali diulang di setiap PDW. Orang-orang seperti inilah yang dibutuhkan oleh negeri untuk menjadi pemimpin.

Sebagaimana telah tersebutkan dalam “Hakikat Wanadri” nomor satu:

“Wanadri itu mengembara dan menempuh daerah-daerah demi kepentingan tanah air dan ilmu pengetahuan”

Categories: wanadri | 1 Comment

Sebuah Pelajaran dari PDW 2012 (3): Menghargai Hidup

Samar-samar terdengar suara pelatih di kejauhan. Mereka membangunkan para siswa ke sana kemari. Jam yang terpasang di tangan menunjukkan pukul empat lebih, memerintahkan kami untuk bangun di subuh yang dingin. Ini salah satu perjuangan terberat: bangun pagi. Bivak yang basah oleh embun dan suhu yang dingin membuat para siswa enggan melepas sarung bagnya.

Tapi kami tidak boleh berlama-lama. Dua orang harus segera mengumpulkan nyawa dalam hitungan detik, memakai kaos kaki dan sepatu yang basah, dan berkumpul untuk mengambil air. Sisa orang dalam regu bisanya butuh hitungan menit untuk bergerak ke luar bivak. Setelah lamunan yang agak panjang, parafin pun dibakar dan diletakkan di kompor lapangan. Yang paling pertama dimasak tentu adalah air.

“Masak minuman apa nih?” kata saya sambil menuang air ke misting.

“Energen aja, campur milo,” jawaban dari dalam bivak terdengar. “Siap!” Dua bungkus energen dan satu bungkus milo pun kusiapkan.

Sekian menit kemudian dua orang yang tadinya mengambil air kembali. Setelah melempar veldples yang baru saja diisi, mereka langsung memburu energen-milo yang tinggal tersisa setengah misting,

“Keluarin semua lauk yang nyisa. Tempe orek, kentang, ikan asin, dendeng, abon…”

“Yang engga masak langsung ganti baju dan packing ya!”

“Masak air lagi dari veldples yang baru aja diisi!”

Para siswa mulai sibuk dengan rutinitas pagi masing-masing. Sepertinya pagi itu akan berjalan normal layaknya tiap pagi di tahap gunung-hutan. Namun, bunyi yang tidak disangka-sangka mengejutkan kami. Prriiittt…prriiittt…prrriiiiitttt. Sejenak kami menghentikan aktivitas sambil berusaha mengidentifikasi bunyi tersebut—bunyi yang sebenarnya sangat familiar.

“Hei, itu bunyi peluit tiga kali. Berarti…”

“Semua harus kumpul.”

“Masa sih? Sekarang baru kan baru jam 5, dan kita belum makan pagi.”

“Itu panggilan buat danlas mungkin…”

Prriiittt…prriiittt…prrriiiiitttt. Bunyi itu terdengar lagi, diikuti teriakan, “Semua kumpuuulll!!!”

Kami masih bergeming, tidak percaya. Akhirnya teriakan pelatih memecahnya. “Tuan! Segera packing, Tuan! Cepat, Tuan!”

Kami bergerak terburu-buru dengan agak kebingungan. Jelas kami belum makan pagi sama sekali, kecuali beberapa teguk energen. Beberapa di antara kami belum ganti baju, bivak belum dibongkar, barang-barang masih tercecer, dan ransel masih berantakan.

“Tuan! Cepat, Tuan! Kamu segera ganti baju, Tuan! Yang sudah ganti baju bongkar bivak dan packing!” Pagi itu diliputi dengan kepanikan, walau akhirnya kami turun juga menuju tempat berkumpul. Ternyata regu kami termasuk yang cepat, karena masih banyak yang di atas. Kami dapat melihat tidak sedikit siswa yang harus turun sambil jalan jongkok.

Setelah prosesi seremonial—yaitu hukuman—barulah kami tahu bahwa misting tidak akan lagi diisi dengan beras. Harum dendeng atau ikan asin tidak akan lagi tercium di pagi, siang, dan malam. Tidaklah akan lagi memasak energen atau milo sang pemicu hormon endorphin. Karena, “Mulai hari ini kalian masuk tahap Survival!”

“Waaaanaaaaadrrriiiii!”

Menu pagi hari itu adalah yang apa tersedia di lembahan. Lima belas menit dianggap sebagai waktu yang cukup bagi kami untuk “belanja” makanan. Serentak siswa menyerosot ke lembahan, bersenjatakan golok tebas, berburu makanan sebanyak-banyaknya. Lembahan adalah ladang sumber makanan, dan regu saya mendapatkan pakis, batang pohon pisang, buah pisang mentah, batang palem, dan begonia.

Berbeda dengan hari-hari biasa, yang cukup membakar parafin dengan korek, di tahap ini kami harus membuat api unggun untuk memasak. Maklum, tidak hanya bahan makanan, segala bahan bakar telah disita oleh pelatih. Hanya beberapa blok parafin dibagikan oleh pelatih sebagai pemicu api, bukan sebagai bahan bakar utama karena jumlahnya tidak akan cukup.

“Tuan Sayyid! Coba baca tulisan ini,” seorang pelatih menghampiri dan menunjukkan bungkus makanan.

“Biskuit gandum,” saya menjawab pelan. “Baca bawahnya.” “Kaya akan bla…bla…bla.” Kemudian pelatih itu mendorong bungkusan itu. “Coba cium baunya.” Setelah mendekatkan hidung, dan mendengar tawa pelan pelatih, saya kembali berusaha membuat api.

Para siswa membuat “sop”, terdiri dari bahan makanan yang disebutkan barusan berbumbu garam. Karena dimasak menggunakan api yang langsung membakar misting, aroma gosong sedikit tercium. Rasanya?

“(Srrruuppuuuttt) Hmmm…enak, enak…”

“Iya. Enak, enak…(srruupuutt…ssrrruupp). Kayaknya kurang asin, tambah lagi garamnya.”

“Bener, enak…” saya mencoba mengikuti.

Pergerakan di tahap survival tidaklah banyak. Kami berjalan berombongan—survival dinamis—mengikuti pelatih, melintasi punggungan dan lembahan. Jalurnya tidaklah menanjak, cenderung datar dan landai. Seingat saya, selama survival paling lama kami berjalan tidak sampai dua jam. Waktu banyak diisi dengan berhenti untuk berbelanja.

Di hari pertama, jam 14 pelatih sudah memerintah kami untuk mendirikan bivak alam, sebagai tempat perlindungan untuk ransel. Benar. Setelah susah payah membuat bivak, kami langsung disuruh ganti pakaian tidur dan membawa ponco.

“Malam ini kalian akan tidur kalong, tidur di pohon!” kata pelatih pada pukul empat sore. “Lewati malam ini dengan tabah!” pelatih itu menambahkan. Saya pikir kalimat terakhir hanya untuk memhiperbolakan suasana. Ternyata bukan: itu adalah kata-kata motivasi yang diteriakkan dengan tulus.

Tiap regu memiliki pohonnya masing-masing, dengan tingkat kesulitan panjat yang berbeda-beda. Menoleh ke sebelah kanan, saya bisa melihat seorang siswa berbadan kecil memanjat pohon dengan cepatnya seperti monyet. Namun, setelah siswa itu bergatung di dahan tempat tidurnya, orang berikutnya terlihat memanjat dengan kesulitan. Para pelatih meneriakinya dari bawah, tapi kurang membantu. Kemudian ia bergelantungan, dan tangannya tidak kuat menahan tubuhnya lama-lama, jadilah ia terjatuh. “Go****!” teriak seorang pelatih.

Melihat seorang teman terjatuh, saya tidak terlalu peduli karena sedang sibuk mempelajari bagaimana memanjat pohon sendiri. Ketika pelatih bertanya, “Siapa yang tidak bisa memanjat pohon?” spontan saya langsung mengangkat tangan.

Saat mulai memanjat, saya mengira akan bernasib lebih buruk daripada orang yang jatuh tadi. Ternyata tidak, malah mendapat pujian, “Tuh, akhirnya kami bisa manjat juga Tuan Sayyid!”

Tapi malam itu belum berakhir. Masih pukul setengah tujuh, dan saya masih kebingungan membuat jangkar untuk menahan tubuh. Tali temali adalah salah satu materi yang masuk telinga kiri keluar terlinga kiri (baca: mantul).

Pukul delapan, dan saya masih berkeringat berusaha membuat jangkar. Tidak hanya itu, sarung bag saya juga terjatuh. “Tuan Sayyid! Turun kamu! Ambil sarung bag kamu!” Merasa itu adalah salah perintah tergila di PDW, saya menjawab, “Tidak mungkin turun, Pelatih…”

Pukul sembilan: jangkar asal-asalan sukses dibuat. Karena tidak percaya dengan jangkar buatan sendiri, saya memilih tidur sambil memeluk pohon. Sehingga, posisi tidurnya adalah duduk dengan kaki menggelantung. Membiarkan kaki menggantung di udara hingga subuh adalah tidak mungkin! Akhirnya, kedua kaki saya tekuk menginjak pohon sambil duduk: jadilah tidur dalam posisi seperti jongkok. Posisi ini membuat saya harus terbangun tiap 2-4 jam untuk berdiri, meluruskan kaki, kemudian jongkok lagi, merem.

Kekhusyu’an tersebut tiba-tiba diganggu oleh suara pelatih. “Tuan, sarung bag siapa ini, Tuan!”

“Punya saya, Pelatih,” saya menjawab.

“’Saya’ itu siapa!?”

“Sayyid, W 1093.”

“Kamu turun sekarang juga! Ambil sarung bag kamu!”

“Tidak bisa turun, Pelatih.”

“Kalau tidak turun, saya suruh kamu dan teman-teman seregu kamu untuk laporan sampai pagi. Lakukan sekarang!”

Kami pun laporan satu per satu, menyebut nama dan nomor siswa. Satu putaran selesai. “Lanjutkan!” kata pelatih itu. Dua putaran selesai. “Lagi!” Tiga putaran selesai. “Terus, sampai pagiii…” Putaran ke empat selesai. “Ini! Ini! Ambil sarung bag kamu! Kalau ga pakai sarung bag bisa mati kedinginan kamu! Besok pagi regu ini menghadap saya!” Hingga tulisan ini dibuat, saya tidak tahu siapa pelatih misterius tersebut karena regu saya tidak jadi menghadap.

Dalam keadaan duduk jongkok, saya mengerti kenapa malam ini harus dilewati dengan tabah. Gelap, angin yang dingin, sedikit rasa takut kalau-kalau jatuh, dan posisi tidur yang tidak nyaman; ini adalah satu-satunya malam di PDW yang ingin cepat diakhiri. Benar kata pelatih itu, malam tersebut hanya bisa dilewati bukan dengan fisik yang kuat, tapi dengan ketabahan.

Beberapa suara aksesori terdengar malam itu. Pertama adalah suara tangisan perempuan. Ckckck, serem amat gelap-gelap gini ada suara orang nangis. “Hei, kamu kenapa nangis?” suara siswa perempuan mengikuti tangisan itu, diikuti hembusan nafas lega dari hidung saya.

Kedua adalah suara gedebug, diikuti suara beberapa pelatih yang marah-marah, dan teriakan “Wanadri! Wanadri!” dari siswa berbadan gemuk.

Ketiga, suara seorang siswa yang tiba-tiba laporan di tengah malam yang seharusnya sunyi. Seorang pelatih mendekat, “Tuan! Siapa yang suruh laporan, Tuan!” Di waktu itu, para pelatih sebenarnya tengah berkumpul untuk briefing, sehingga tidak mungkin ada pelatih yang meminta laporan. “Tadi ada dua orang pelatih yang meminta saya laporan, Pelatih,”siswa tersebut menjawab.

“Pelatih siapa?”

“Tidak tahu, Pelatih.”

Hening.

Saya kurang tahu kelanjutan ceritanya. Tak lama, para pelatih berkeliaran ke pohon para siswa, membangunkan kami semua, dan memerintahkan kami untuk laporan. Seusai PDW, barulah saya diceritakan kalau pernah ada seorang siswa meninggal ketika tidur pohon gara-gara “berpuasa”/memilih tidak makan di tahap survival.

Hari kedua tidaklah berbeda. Kami berjalan tidak terlalu cepat dalam satu baris, diiringi pelatih yang kadang-kadang berteriak, “Tuan, teriakan ‘Wanadri’nya, Tuan!”, menapaki punggungan, lembahan, dan berhenti untuk berbelanja.

Mulai hari kedua hasil belanjaan siswa mulai variatif. Ada yang berhasil mendapatkan kadal Sedangkan pendapatan regu saya tidak jauh beda: pakis, batang pisang, begonia.

Bicara begonia, awalnya saya agak heran kalau tumbuhan yang suka mengapung di air itu bisa dimakan. Ternyata, tumbuhan yang kata bu guru merupakan hama itu rasanya sangat “lezat” dan menjadi “snack” favorit. Asam-kecut, itu adalah satu-satunya rasa yang kutemukan di hutan. “Jangan terlalu banyak makan begonia, nanti jadi bego-nian!” komentar pelatih.

Selain begonia, ada juga tanaman (atau buah?) honje. Yang ini rasanya sangat amat betul-betul kecut, jauh lebih kecut dibanding jeruk sunkist. Ketika memakannya, lidah dan bibir terasa perih, tapi itu bukan penghalang untuk menikmati rasa.

Air terlihat mendidih, kami pun menyiapkan sendok dan berdoa. Srrruuupppuuuttt. Ketika itu, saya mulai belajar, bahwa makanan di gunung hutan hanya dikenal satu istilah: enak. Tidak dikenal istilah yang lain.

Hari kedua tahap survival bukanlah hari yang akan dilupakan bagi angkatan Elang Kabut-Cantigi. Siang itu hujan, untuk pertama kalinya semenjak PDW 2012 dilangsungkan. Namun, sekalinya hujan, ia langsung deras—sangat deras! Pelatih langsung membariskan kami yang kala itu sedang berbelanja.

“Keluarkan ponco kalian! Topi rimba dikenakan di atas ponco!”

“Tuan, tidak diam, Tuan! Gerak-gerakkan tubuh kalian!”

“Danru, kamu perintahkan anggota kamu untuk terus gerak. Kalau ada anggota kamu yang diam, saya gampar kamu!”

Saya sangat paham bahwa di saat dingin, terutama hujan, tubuh sama sekali tidak boleh diam. Ia harus terus digerakkan, harus ada panas yang dihasilkan, dan pembuluh darah harus diusahakan agar tidak menyempit. Salah satu pembunuh pendaki gunung tersering adalah hipotermi.

Hujan itu begitu derasnya, sampai-sampai pelatih membatalkan perintah membangun bivak alam solo, diganti dengan bivak alam regu. “Semuanya bergerak! Semuanya bekerja! Tidak ada yang diam! Ada yang mencari kayu dan daun, ada yang membangun bivak, ada yang membuat api!”

Menyalakan api di tengah hujan adalah skill tersendiri dalam membuat api. Tapi, karena hujan itu, kami pun diajarkan bagaimana mengerjakannya.

“Keinginan! Yang paling penting dalam survival adalah keinginan untuk bertahan hidup!” teriak pelatih pendamping sambil menarik-narik topi saya.

Setelah mengikuti berbagai instruksi, api pun berkobar menyala. Tidak hanya di sana, tapi juga di dalam hati; benar kata teman bahwa api dapat membangkitkan semangat di tengah dingin seperti itu. “Ini saya dengar di Lampung: kalau kalian bisa membuat api di tengah hujan, berarti sudah bisa mengurus bini dan anak.” Itu adalah pernyataan pelatih yang hingga kini tidak saya lupakan.

Jam 4 pagi di hari ketiga survival: ampun dinginnya dan ampun basahnya. Tapi kami harus segera bangun dan duduk, dan bergerak. Di tahap survival ini, setelah bangun tidur hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat api. Jika tidak ada api, kami akan kedinginan dan tentu saja tidak bisa masak.

Pakai sepatu, mencari kayu, mengumpulkannya, mengiris-ngirisnya, memotong-motongnya, menyusunnya, menyalakannya. Pagi itu alam telah mengajarkan, bahwa kami harus membunuh rasa malas untuk dapat bertahan hidup.

Hari ketiga adalah hari Jumat. Awal hari diawali dengan survival statis: belanja bahan makanan di sekitar bivak. Saya pun menggenggam golok tebas, mengamati pohon pisang, menebangnya, membelahnya, dan mengambil bagian tengahnya. Batang pisang lagi, pakis lagi, begonia lagi. Kebosanan mulai hadir. Rasanya ingin makan martabak coklat spesial campur keju dekat stasiun Bandung.

“Tuan Sayyid, coba lihat. Ini apa, Tuan?” Seorang pelatih menghampiri api unggun kami.

“Roti bakar, Pelatih.” Ada coklat di dalamnya dan dibakar dengan mentega.

“Coba cium baunya, Tuan. Hahahah.” Saat itu ada yang di dalam kepala tiap siswa adalah bayangan makanan yang ingin dimakan pertama kali begitu PDW usai.

Sop pakis-batang pisang telah mendidih. Sepertinya masih ada getah di airnya, tapi kami harus tetap makan. “Semuanya makan! Tidak boleh ada yang puasa!” Itu adalah instruksi yang diucapkan berulang kali. Sebenarnya adalah ide gila memilih puasa di tahap surival ini. Sudah pasti lemas, tak ada tenaga, dan saya tak berani membayangkan kondisi seperti itu di tengah hutan.

Sekitar jam 11, danlas berkeliling dan mengumumkan bahwa salat jumat akan segera dilaksanakan, dan tiap regu harus menyediakan dua ponco. Itu adalah salat jumat yang ke-4 di PDW, dua hari menjelang pelantikan. Dan, salat jumat adalah satu-satunya waktu di PDW yang dikumandangkan azan.

Sayangnya, kami tidak bisa mengikuti khutbah dengan khusyu. Meskipun khatib tampak bersemangat menyampaikan pesan-pesannya, namun kepala kami terus mematuk-matuk ke bawah.

Ada satu waktu, ketika di tengah-tengah khutbah, sang khatib berdoa. Umumnya jamaah akan menjawab “Amin”. Tapi ada satu siswa yang entah terlalu lelah atau apa, ia menjawab dengan “Wanadri!” Saat itu tak ada satupun yang tertawa, namun beberapa hari kemudian kami terbahak-bahak mengenangnya.

Survival memasuki hari ke-4. Apa saja yang kudapatkan selama itu? Kucoba untuk mengingat itu semua. “Survival bukanlah tentang mencari makanan, melainkan tentang menghargai hidup” Itu adalah perkataan pelatih saat seremoni pembukaan survival.

Menghargai hidup. Suatu hal yang jarang sekali kuperhatikan ketika di tengah kota. Di sini, tengah-tengah belantara ini, hakikatnya kami tengah berjuang untuk bertahan hidup. Bagaimana agar bertahan hidup? Adalah segala yang kami lakukan dalam empat hari ini. Menyiapkan golok, turun ke lembahan, memotong-motong tumbuhan untuk dimasak—bahkan sampai menusuk daka-daka dengan harapan mendapat cacing. Mencari-cari ranting dan kayu, mengupas kulitnya, memotong-motongnya, menyusunnya agar api menyala, sehingga kami bisa memasak. Menebas-nebas dedaunan dan batang kayu, menancapkannya untuk menjadi tiang pancang, menyusunnya agar menjadi atap (sambil berdoa supaya tidak hujan karena bivak yang saya buat berantakan).

Itu semua harus dilakukan walau lapar, walau makanannya itu lagi itu lagi, walau terbayang berbagai macam cemilan dalam khyalan, walau tubuh ini begitu tak bertenaga karena minimnya asupan karbohidrat. Tapi itu semua harus dilakukan walau malas, walau dingin, walau basah kehujanan, walau ingin terus istirahat dan istirahat. Jika tak dilakukan, kami akan mati.

Alam telah mengajarkan bahwa untuk bertahan hidup, kami harus menghargai hidup, dan untuk menghargai hidup, kami tidak boleh malas. Jika malas, kami akan menggigil dalam kedinginan, basah dalam kehujanan, terkapar dalam kelaparan, dan mati dalam kesia-siaan.

Siang hari, kami tiba di lapangan rumput dan berbaris. Seorang pelatih maju ke depan: pelatih yang sama yang membuka tahap survival. Beliau berdiri di hadapan kami, kemudian berteriak, “Dengan ini, tahap survival DITUTUP!”

Bunyi DUUUAARRR!!! membahana di lembah itu, menaikkan asa para siswa untuk terus berteriak, “Wanaadrriiiiiiii!!!”

Kami pun duduk melingkar, mengelilingi bungkusan-bungkusan plastik yang dibawa oleh panitia.Isinya adalah buah pisang—buah pisang asli, bukan batang pisang atau jantung pisang—tempe bacem, lontong, dan energen.

Saya berani bersumpah, buah pisang yang saya makan kala itu adalah makanan terlezat yang pernah kumakan! Begitu pula lontong dan tempe bacemnya. Buyar sudah segala bayangan makanan lezat yang sebelumnya terus dibayangkan.

Alhamdulillah…” kataku sambil memenjamkan mata, menikmati lezatnya buah pisang.

Beberapa menit kemudian, kami bersiap-siap kembali. Ransel dikenakan dan bendera regu diangkat. Perjalanan kami kali ini berupa pendakian punggungan yang lumayan terjal. Saya menengadah, tersenyum, karena tahu bahwa kami sedang menuju tanah pelantikan: kawah upas.

Categories: narasi, pembelajaran, wanadri | 3 Comments

Sebuah Pelajaran dari PDW 2012 (2): Memilih Pemimpin

“Danru, maju ke depan! Tancapkan bendera kalian!”

Orang-orang yang berdiri di barisan paling depan maju beberapa langkah, kemudian menancapkan bendera masing-masing. “Danlas, maju ke depan! Tancapkan benderamu di sini!” Suara yang sama kembali memerintah.

Di saat itu pula saya merasa lega. Waktu menunjukkan sore hari, sekitar pukul empat. Seorang pelatih berdiri di hadapan para siswa PDW 2012 yang tengah berbaris menunggu instruksi. “Sekarang, saya akan membacakan pembagian regu baru. Orang yang paling pertama disebut adalah komandan regu!”

Kemudian terdengar nama-nama diteriakkan. Setiap nama yang disebut oleh pelatih mendapat balasan teriakan “Wanadri!” oleh siswa. Hari ketika saya menjadi danlas (komandan kelas) adalah hari paling pertama di Situ Lembang. Membawa bendera danlas, yang ukuran tongkat dan benderanya lebih besar dibandingkan bendera regu disertai logo PDW 2012, adalah aktivitas danlas. Ia harus menyiapkan para siswa ketika sedang materi kelas, melapor kepada pemateri bahwa siswa mereka siap menerima materi, juga laporan bahwa materi telah selesai. Ia pun memimpin rombongan perwakilan siswa yang mengambil makan dan minum di waktu istirahat. Ia pula yang menggiring perwakilan lainnya yang akan mencuci piring bekas makanan.

Peran danlas dirotasikan. Selama di Situ Lembang, rotasi terjadi tiap 2-3 hari. Bisa dikatakan, sayalah danlas yang paling “nyaman”–sebagai danlas hari pertama–dibandingkan yang lain. Tim Tatib (tata tertib) belum terlalu ganas. Maklum, saat itu semua siswa sangat kelelahan setelah longmarch hampir 24 jam tanpa tidur. Begitu tiba di tanah keramat itu, tidak ada waktu istirahat apalagi tidur bagi siswa (beberapa minggu seusai PDW, barulah saya diberi tahu kalau para pelatih pun mengangkat alis mendengar siswa tidak tidur). Kondisi ini pun dipahami oleh para pelatih.

Danlas, sebagai pemimpin utama para siswa, adalah orang yang paling pertama diminta pertanggungjawaban jika ada pelanggaran tata tertib. Tapi, seperti telah disampaikan, untung bagi saya di hari pertama Tatib belum begitu beraksi (walaupun hari itu saya mendapat dua tamparan akibat kesalahan pribadi). Sehingga amatlah wajar jika nafas lega dihembuskan ketika mendengar bahwa akan dilakukan rotasi regu, danru, dan danlas.

Hari kedua pun bergulir, dan saya tidak lagi memegang tongkat danlas Sesuai dugaan, aktivitas danlas di hari-hari berikutnya jauh lebih sibuk dan riweuh daripada hari pertama. Tatib pun mulai menunjukkan tajinya.

Menurut saya, danlas yang kedua inilah yang paling patut “dikasihani”. Shock training baru benar-benar dimulai di hari kedua, saat para siswa sudah tidur nyenyak. Siang itu Tatib mempersoalkan seorang siswa yang tidak jadi ke MCK di tengah malam karena tidak ada yang menemani. Berdasarkan peraturan, jika ada siswa yang mau buang air di atas jam light off—jam 22.30—maka harus buddy system atau tidak sendirian/ditemani. Entah kenapa di malam itu tak ada satupun temannya yang bisa dibangunkan.

Saya tidak ingat berapa kali bunyi “plak” terdengar dari pipi danlas siang itu, sepertinya hampir mencapai angka sepuluh. Dua di antaranya membuat ia terjatuh karena begitu kerasnya.

Kondisi danlas di hari-hari berikutnya tidak jauh berbeda (walau menurut saya tidak separah danlas kedua). Mulai hari ke-4, siswa tidak lagi tidur di barak tentara, melainkan di bivak (tenda yang dibuat dari ponco maupun bahan alam). Dan, tugas danlas lebih ribet lagi. Jika saat di barak para siswa terkonsentrasi di satu tempat, tidak dengan bivak. Walau jarak bivak antar regu tidak terlalu jauh, tapi saat itu total ada 22 regu, dan danlas harus mondar-mandir dari regu satu hingga terakhir. Berlari, di malam hari yang dingin serta pakaian basah, membawa tongkat danlas yang berukuran besar, dan berteriak-teriak.

Prriiittt!! Bunyi peluit terdengar sekali. Teriakan “Danlaaaassss!!!” terdengar menyusul.

“Wanadri!” muncul jawaban.

“Danlas!! Cepat danlas!! Lelet kamu!!”

“Wanadri!”

Ketika danlas sedang berusaha secepat mungkin ke sumber suara, para siswa lain sedang asyik masak dan ganti baju tidur. “Semangat danlas…” beberapa siswa mencoba menyemangati.

“Kalian harus membantu danlas kalian!” begitu perintah tatib yang berkali-kali diulang. Para siswa hanya bisa menjawab “Wanadri!” sambil bernafas lega, karena prosesi hukuman baru saja selesai. Tapi, di pagi itu, lagi-lagi kami telat menyelesaikan makan pagi. Saat pelatih berteriak “Sepuluh hitungan harus sudah berbaris!” dan danlas menambahkan, “Ayo teman-teman semua, berbaris!” sambil lari berkeliling ke tiap regu, masih saja ada yang dengan santainya makan dendeng dan minum Jas Jus. Suara pelatih pun terdengar lagi, “Danlas! Ambil posisi push up (sambil mengenakan ransel) sampai seluruh pasukanmu berbaris!” Hmm, apakah menuruti perintah pemimpin begitu sulitnya?

“Sekarang, saya akan membacakan pembagian regu selanjutnya.” Bisa dikatakan, itu adalah kalimat yang paling melegakan bagi danlas. Sebaliknya, merupakan yang paling menegangkan bagisiswa lain. Bagaimana rasanya ketika danlas menancapkan benderanya? “Rasanya seperti melepas beban berat di pundak,” aku seorang mantan danlas.

Ini adalah prosesi pemilihan pemimpin…yang sangat unik menurut saya. Jika di luar sana orang-orang berebut—bahkan mengusahakan segala cara—untuk menjadi pemimpin, maka tidak di PDW ini. Semua orang akan berdoa agar bukan ia yang menjadi pemimpin. Saat pelatih telah membacakan nama danlas selanjutnya, siswa-siswa lain menghembuskan nafas lega. “Alhamdulillah…” bisik saya dalam hati, begitu tahu saya tidak terpilih lagi sebagai danlas.

Mengapa mereka begitu ingin menghindari amanah sebagai pemimpin? Tentu, karena tanggung jawabnya yang begitu besar. Jika danlas membuat kesalahan, tamparan keras akan membuatnya oleng. Bahkan, jika yang dimpinnya—para siswa—membuat kesalahan, seluruh komnandan regu putra akan diminta untuk menamparnya. Ditampar oleh 20 orang karena kesalahan orang lain, bukan kesalahannya! Bagi saya, yang kala itu menampar danlas karena kesalahan siswa lain, sangatlah menyakitkan.

Selain itu, tugas yang melelahkan benar-benar membuat enggan. Siswa lain pada umumnya sedang santai atau istirahat ketika danlas berlari-lari menjawab panggilan pelatih. Saat malam yang dingin, baju yang basah, tubuh yang kelelahan, dan mata yang mengantuk, kecenderungan manusia yang normal adalah tidak banyak beraktivitas dan segera beristirahat. Namun danlas harus mondar-mandir ke tiap bivak regu siswa dan bersuara lantang.

Karena itu, siapakah orang gila yang berani mengajukan diri untuk menanggung beban itu semua, dengan konsekuensi jika melakukan kesalahan akan mendapat tamparan yang keras,? Di sisi lain, mengapa begitu banyak orang gila di luar yang begitu berhasrat memegang kursi kepemimpinan? Mungkin karena PDW memiliki prosedur yang ketat: jika ada penyelewengan maka hukuman segera menyusul, sedangkan yang lain tidak. Pikiran naifkah, seolah tidak akan ada hukuman bagi mereka yang memimpin tapi menyeleweng dari prosedurnya? Saya salah satu orang yang berkeyakinan, jika hukuman di dunia begitu ringannya, maka hukuman dariNya akan sangat keras—jauh lebih keras daripada hukuman di PDW.

Seharusnya—menurut pandangan penulis—pemimpin ideal lahir bukan karena keringatnya mendapatkan jabatan, tapi karena diamanahkan. Ada maksud apa di balik hasrat seseorang yang begitu berambisi menjadi pemimpin? Jika maksud baik, haruskah ia mengorbankan segala cara demi mencapainya? Jika maksud baik, bukankah semua orang dapat menjadi pemimpin secara alamiah, tanpa harus berambisi menduduki jabatan?

“Kepemimpinan bukan diminta, tapi diberikan. given,” begitu kata Abah Iwan pada suatu malam.

Tapi, bukankah justru negeri ini butuh orang-orang yang tampil sebagai pemimpin? Banyak orang-orang dengan niat tidak tulus berambisi menduduki jabatan negeri ini, bukan? Jika orang-orang baik tidak ingin mengajukan diri sebagai pemimpin, akan selamanya negeri ini dipimpin oleh para bajingan?

Ah ya, soal yang satu ini memang rumit. Namun, seperti ketika PDW, danlas akan mampus jika susah payahnya tidak disupport oleh para siswa lain. Begitu juga di dunia nyata ini. Tampaknya urusan memimpin negeri dengan baik bukanlah sekedar mimpi atau cita-cita per individu, tapi milik kumpulan orang yang memiliki visi sama.

Categories: pembelajaran, wanadri | Leave a comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 709 other followers