Bertuhan Atas Dasar Iman atau Tradisi?

Pada malam itu, tampak banyak orang berbahagia. Jalan diisi oleh orang-orang pawai membawa obor dan bedug. Gema takbir menghiasi langit. Suasana di malam itu memang seharusnya dihiasi oleh aura kebahagiaan. Tak terkecuali bagi dokter yang sedang jaga IGD.

Yahh, hari apa pun, kondisi apa pun, pelayanan gawat darurat tetap harus diberikan. Istilah “tidak ada hari libur bagi tenaga kesehatan” sangat cocok menggambarkan malam itu. Ekspektasi awal, pasien yang datang akan sedikit. Maklum, pada malam atau hari lebaran, orang-orang enggan ke rumah sakit. Jika mereka sedang sakit, banyak yang menunda pergi ke RS karena ingin menikmati ketupat di rumah dulu. Begitu pula pasien-pasien di bangsal (ruang rawat inap), kebanyakan minta pulang atas permintaan sendiri alias pulang paksa.

Tapi ternyata tidak demikian. Berbondong-bondong pasien terus berdatangan. “Serangan” ini berlanjut hingga esok harinya. Jika biasanya jumlah pasien satu shift (7 jam) hanya 15 orang, kini jumlahnya mencapai 25 orang. Kasus yang banyak muncul pada waktu itu bisa ditebak: cedera kepala ringan. Kondisi cedera tersebut umum ditemukan pada korban kecelekaan lalu lintas, pengendara motor, tidak memakai helm, ugal-ugalan, dan/atau mabok.

Rasanya benar-benar miris, di malam hari raya, banyak yang ugal-ugalan bahkan mabok. Dan ini tidak hanya di RS tempat saya bekerja saja. Keluhan yang sama juga disuarakan di RS-RS lainnya. Entah maksud orang-orang ini ingin ikut “berhari raya” atau sekedar ikut-ikutan meramaikan malam itu—meramaikan yang membuat resah. Saya pun ragu orang-orang ini berpuasa Ramadan.

Hari raya adalah selebrasi yang diperintahkan oleh agama. Tuhan memerintahkan umat Islam untuk merayakannya dengan makan dan haram untuk berpuasa. Namun, dengan memandang kejadian seperti ini, saya menjadi bertanya, atas dasar apa kita merayakan hari raya? Apakah memang atas dasar keimanan, yaitu perintah dari Allah SWT, atau sekedar budaya atau tradisi?

Pertanyaan ini membawa kita kembali ke sebuah pertanyaan yang sangat klasik: adakah tempat bagi budaya dan tradisi dalam agama?

Perlu kita pahami bahwa agama bukan sekedar ritual ibadah seperti solat, puasa, dan haji. Ia adalah petunjuk hidup atau way of life yang diturunkan oleh Tuhan agar manusia selamat. Di dalamnya terdapat rambu-rambu yang perlu diperhatikan, mana yang wajib dikerjakan, sunnah dikerjakan, makruh untuk dikerjakan, dan tidak boleh dikerjakan. Adanya aturan-aturan tersebut bukan tanpa alasan: semuanya dimaksudkan agar manusia menempuh jalan yang selamat di dunia yang sementara ini maupuan dunia kekal nanti. Betapa sayangnya Allah pada manusia karena Ia mau memberikan petunjuk jalan agar kita selamat.

Segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan rambu-rambu tersebut adalah hal yang mubah atau boleh, termasuk budaya atau tradisi. Selama ia tidak bertabrakan dengan apa yang dilarang oleh aturan syariat, maka ia sah-sah saja dikerjakan. Islam tidak menafikan suatu kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat secara turun-temurun sehingga menjadi tradisi dan budaya.

Tulisan ini tidak bermaksud memberikan fatwa, apakah budaya ini atau tradisi itu diperbolehkan atau tidak, haram atau tidak; tapi saya ingin merenung: kegiatan keagamaan kita selama ini dijalankan sebagai bentuk keimanan kita kepada Tuhan, atau sekedar mengikuti kebiasaan nenek moyang dan masyarakat sekitar belaka? Juga alasan kita beragama, apakah benar-benar karena iman kepada Allah SWT dan Rasulullah saw., atau karena mengikuti budaya beragama?

Islam turun ke muka bumi untuk semua umat, semua manusia, entah dia di belahan utara, belahan selatan, timur, tengah, atau barat. Jalan hidup ini ditujukan dan sesuai untuk semua manusia planet bumi ini. Begitu pula ia berlaku untuk selamanya, tidak akan ada lagi agama atau wahyu yang turun setelahnya. Tidak seperti agama Yahudi yang hanya ditujukan kepada Bani Israel, kemudian diutus Nabi Isa Al Masih as. untuk menyempurnakan agama kaum Israel tersebut.

Islam bersifat syumul, kamil, dan mutakamil. Syumul berarti menyeluruh, mencakup semua aspek kehidupan, mulai dari bangun tidur, masuk WC, hukum, ekonomi, dan kenegaraan. Kamil berarti sempurna, tidak perlu lagi ada pembaharuan atau revisi. Al Quran sebagai kitab suci umat Islam tidak perlu direvisi atau ada semacam pertemuan para ulama sejagat untuk membuat pembaharuan. Mutakamil yaitu menyempurnakan, Islam menyempurnakan agama yang dibawa oleh para rasul sebelumnya, yang dibawa oleh Musa as., Daud as., dan Isa as.

Tidak perlu ia disesuaikan dengan budaya setempat. Karena itu tidak perlu istilah islam nusantara, islam arab, atau yang lain-lain. Islam hanya satu, yaitu jalan hidup yang diturunkan oleh Allah SWT, disampaikan melalui Rasulullah saw. untuk segenap umat manusia. Jika disesuaikan dengan budaya maasing-masing, maka akan terjadi kebingungan. Islam di belahan bumi sebelah sini berbeda dengan belahan bumi sebelah sana. Jika ini terjadi, itu adalah sebuah kemunduran. Di zaman Rasulullah saw. tidak dikenal istilah “islam muhajirin” atau “islam anshar” atau “islam thaif’” atau “islam persia”. Semua pembeda akibat budaya atau letak geografis disatukan melalui ikatan iman.

Agama yang mengikuti kebudayaan pernah dicetuskan oleh salah satu proklamator negara kita, Ir. Soekarno. Beliau, ketika sidang BPUPKI, mengusulkan tentang dasar negara kepada majelis. Ada lima poin yang disampaikan, dengan poin kelima ialah “Ketuhanan yang Berkebudayaan”. Bahwa berketuhanan, atau memiliki tuhan, adalah bagian dari budaya. Tradisi yang diturunkan secara turun-temurun, yaitu tradisi bertuhan, menjadi landasan masyarakat Indonesia menyembah tuhan. Bahwa bertuhan dan menjalankan hidup beragama tak lebih dari budaya.

Sidang memang berarkhir dengan disahkannya Pancasila, sesuai yang kita kenal sekarang, sebagai dasar negara. Namun, sesuai apa yang Bung Karno bilang, kenyataan bahwa berketuhanan sebagai kebudayaan tidaklah hilang. Praktek dan ritual agama atas nama “Islam” yang kita jumpai saat ini banyak yang berasal dari warisan budaya ketimbang diajarkan Rasulullah saw. Adanya “islam kejawen” adalah salah satu contoh tercampurnya islam dengan budaya, dan gawatnya yang masuk ke dalamnya ialah unsur aqidah, hal yang tidak bisa ditawar dalam Islam. Keadaan ini membuat aktivitas keagamaan semakin buram: apa yang merupakan budaya dikira agama.

Implikasinya, seorang dapat melakukan ritual agama atau berhari raya atas dasar tradisi, bukan karena iman. Seorang solat dengan suatu tata cara tertentu karena tradisi yang diajarkan. Seorang berziarah kubur dengan tata cara tertentu pun karena tradisi turun-temurun. Apakah pernah orang-orang yang menajalankan tradisi ini mencari dalil dari Al Quran dan sunnah, bagaimana tata cara yang benar? Bukankah umat Islam diperintahkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah saw. dalam beribadah?

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 32)

Mungkin keadaan inilah yang membuat dideklarasikannya “islam nusantara” sebagai oposisi dari “islam arab”. Situasi timur tengah yang penuh konflik dan darah, munculnya gerakan khawarij seperti ISIS, serta melekatnya kebudayaan dalam aktivitas beragama hingga sekarang (dan juga tumbuhnya orang-orang liberal alias “JIL”) memicu apa yang disebut dengan islam nusantara ini. Hal ini memperkedil Islam, memecah-belahnya, sehingga ada islam nusantara, islam arab, mungkin juga islam eropa, islam amerika, dll. Padahal, Rasulullah saw. dahulu berjuang mempersatukan hati-hati kaum muslimin untuk meninggalkan dan bernaung di bawah iman.

Persaudaraan atas dasar iman lebih hakiki dan abadi ketimbang persaudaraan atas dasar kesukuan, kebudayaan, warna kulit, bahasa, dan letak geografis. Seorang tidak bisa memilih untuk lahir di mana, suku apa, warna kulit apa. Namun, ia bisa memilih secara sadar dan penuh akal sehat, apakah ia beriman atau tidak.

Jika seorang beragama karena budaya, adakah iman di dalamnya? Adakah ruh dalam tiap gerak sujud kepadaNya? Adakah cintanya kepada Rasulullah saw., dibuktikan dengan mengikuti sunnahnya ketimbang mengikuti tradisi?

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.’ Mereka menjawab, ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (Al Maidah: 104)

Wallahu a’lam.

Tidak ada iman dan ruh dalam ibadah membuatnya terasa hambar. Seorang solat namun tetap bermaksiat. Hal ini dikarenakan ia hanya melakukan aktivitas fisik ibadah tanpa ada penyertaan hati dan esensi. Jika seorang benar solatnya, maka seharusnya ia terlindungi dari perbuatan keji dan munkar. Bahwa ibadah bukan sekedar gerakan fisik belaka, tapi penyertaan hati dan iman didasari dengan ilmu yang benar, dan efeknya berdampak pada akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin ini yang menjadi rahasia kenapa Islam dahulu berkembang, meraih kejayaannya, dan mensejahterakan masyarakatnya.

Seharusnya itu semua tak lagi perlu terjadi, orang-orang berbondong-bondong masuk IGD karena ugal-ugalan dan mabok di malam hari raya. Kalau setiap dari kita menjalaninya atas dasar iman dan memahami esensinya, akhlak yang baik sudah otomatis terbentuk, dan “rahmat bagi semesta alam” bukan lagi sekedar angan-angan kosong belaka.

Semoga Allah memberi petunjuk dan melindungi kita semua dari kesesatan.

Categories: abstrak, merenung | Tags: , , | Leave a comment

Merayakan Idul Fitri, Merayakan “Hari Kemenangan”

Adalah salah satu dari dua hari raya umat Islam. Hari ini dirayakan tepat setelah umat Islam selesai berpuasa Ramadan. Bagi para sahabat dan ulama salafus salih, akhir Ramadan merupakan momen yang sangat menyedihkan dan penuh air mata. Satu bulan yang sangat mulia, yang di dalamnya penuh dengan keberkahan, tak terasa telah usai dan pergi setidaknya selama satu tahun. Itu pun jika umur masih mencapainya.

Walaupun kepergian Ramadan penuh dengan nuansa kesedihan, namun merayakah hari raya adalah kewajiban. Adalah hal yang sangat umum terjadi di berbagai negara idul fitri dirayakan dengan meriah. Sebagaimana sebuah perayaan, tentu kita harus menghindari sikap berlebih-lebihan. Dikhawatirkan terlalu terbuai dalam perayaan malah menghilangkan esensi dari idul fitri itu sendiri.

Hari Kemenangan?

Lumrah di negeri Indonesia bahwa idul fitri dipahami sebagai “hari kemenangan”. Hal ini dikarenakan masyarakat kita menyebutnya sebagai “idul fitrah”, dan diartikan sebagai “kembali ke fitrah”. Fitrah atau suci, yaitu ketika manusia bersih dari segala dosanya karena telah melaksanakan puasa Ramadan sebulan sebelumnya.

Sudah banyak artikel yang membahas mengenai makna idul fitri. Secara bahasa “iedul fithr” memiliki arti “hari raya makan” atau “hari raya berbuka”. Disebut demikian karena pada hari tersebut umat Islam tidak lagi berpuasa karena Ramadan telah selesai, malah diharamkan untuk berpuasa.

Menghayati Kembali Tujuan Satu Bulan Berpuasa

Tapi jika memang masyarakat kita lebih suka mengartikannya sebagai “hari kemenangan”, maka kita mesti merenungi apa maksud dari kemenangan.

“Menang” di sini diartikan bahwa kita telah mampu menahan diri untuk berpuasa selama sebulan. Mengendalikan diri agar tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa walau hukum asal dari hal-hal tersebut adalah boleh. Ya, merayakan sebuah hari karena kita telah berhasil “mengalahkan diri sendiri” selama sebulan ke belakang.

Jika mengerjakan yang halal saja tidak boleh (yaitu makan, minum, dan berhubungan bagi suami istri), apalagi yang haram? Karena itu mari kita ingat-ingat kembali selama sebulan ini, adakah masih kita berbuat hal yang haram? Meskipun hal yang haram tersebut secara hukum tidak membatalkan puasa (atau hal haram tersebut dilakukan di waktu berbuka), apakah esensi dari berpuasa dan mengalahkan diri sendiri tersebut sampai ke dalam hati kita?

Jika hal-hal seperti ini masih kita lalaikan di bulan Ramadan, apakah pantas bagi kita untuk merayakan hari kemenangan? Atau, jangan-jangan kita hanya ikut-ikutan saja untuk memeriahkan hari raya tersebut?

Kita ingat-ingat kembali juga, apa tujuan kita bersusah payah berpuasa selama sebulan? Kalau kita memikirkannya murni pakai logika, maka berpuasa itu tidak masuk akal. Manusia butuh kalori, butuh sumber energi untuk menjalankan aktivitas sehari-harinya. Kondisi kekurangan energi atau hipoglikemi dalam waktu berjam-jam akan membuat pekerjaan seseorang menjadi tidak efektif. Mungkin itu lah yang ada di dalam pikiran orang-orang tidak beriman yang memang tidak mengerti. Bahkan seorang liberalis dengan angkuhnya bercuit “Mana bisa Allah mewajibkan puasa? Padahal fitrah manusia itu kalau lapar ya makan, kalau haus ya minum.” (naudzubillah).

Orang-orang yang menjalani hidup murni hanya menggunakan logika tidak akan memahami makna iman. Alasan utama umat Islam berpuasa ialah karena diperintahkan oleh Allah. Disebutkan dalam Al Quran secara jelas dan benderang. Namun, Allah memerintahkan makhlukNya untuk berpuasa dengan suatu tujuan.

Apakah tujuan itu?

Ya, tujuan itu adalah agar kita bertaqwa. Pertanyaannya, setelah berpuasa selama sebulan, sudahkah kita menjadi insan yang bertaqwa?

Taqwa memiliki berbagai pengertian. Suatu ketika Umar bin Khatab pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa. Ubay berkata, “Apakah Anda pernah melewati jalan yang banyak durinya?” “Pernah,” jawab Umar. Ubay bertanya kembali, “Bagaimana ketika Anda melewatinya?” Umar menjawab, “Saya sungguh berhati-hati sekali supaya tidak kena duri.” Ubay berkata, “Itulah arti taqwa yang sebenar-benarnya.”

Apakah setelah selesai puasa Ramadan, kita menjadi semakin berhati-hati agar tidak berbuat dosa? Seberapa mampu kita menjaga diri agar senantiasa memilih jalan yang selamat dan tidak tertusuk duri maksiat?

Jika puasa tidak membuat menjadi pribadi yang bertaqwa, apakah kita termasuk yang disebut dalam hadis “Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali lapar dan dahaga.” (HR. At Thabrani)? Astagfirullah…

Mari diingat-ingat kembali tujuan kita berpuasa, lalu mengevaluasi diri. Jika dirasa belum, bahkan terasa masih jauh, maka berusahalah. Berusaha dan bermujahadah/bersungguh-sungguhlah sebelum nyawa mencapai tenggorokan.

Di akhir bulan Ramadan, saatnya kita perbanyak istigfar, perbarui tobat. Entah usia kita masih ada untuk Ramadan tahun depan atau tidak.

Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (Az Zumar: 53)

Pendidikan puasa selama sebulan akan terlihat hasilnya di bulan-bulan berikutnya. Karena, semenjak dikumandangkannya takbir pertanda masuk bulan syawal lah waktunya pembuktian. Apakah dari puasa sebulan yang lalu ada perbaikan yang didapatkan, atau hanya lapar dan haus; itu semua dibuktikan di bulan-bulan berikutnya.

Menggapai Keberkahan Iedul Fithr dengan Melaksanakan Sunnah

Idul fitri adalah untuk dirayakan. Tidak boleh ada yang berpuasa, dan seharusya setiap umat muslim bergembira. Tentu saja dirayakan dalam kadar yang wajar dan tidak berlebihan, apalagi sampai melupakan kewajiban.

Agar kebahagiaan ini bukan sekedar perayaan tapi juga bernilai ibadah, marilah laksanakan hal-hal yang disunnahkan ketika hari raya. Sebaliknya, hal-hal yang mendekatkan diri dari kelalaian mengingat Allah bahkan perbuatan dosa jangan sampai mengotori kemeriahan hari raya umat Islam ini.

  1. Takbir

Ibn Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi saw. keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai solat selesai. Setelah menyelesaikan solat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibn Abi Syaibah)

Takbir tidak harus di masji atau lapangan, tapi bisa dilakukan di mana saja. Disunnahkan bagi laki-laki untuk mengeraskan suaranya ketika bertakbir. Zikir takbir dimulai semenjak terbenam matahari (masuk bulah syawal) hingga solat ied dilaksanakan.

  1. Solat iedul fitri

Solat idul fitri adalah Sunnah muakkadah, bahkan ada ulama yang mewajibkannya. Karena itu, sangat dianjurkan bagi kaum muslimin untuk sola tied

“Rasulullah saw. dahulu keluar di hari idul fitri dan idul adha ke mushalla, yang pertama kali beliau lakukan adalah solat, lalu berpaling dan kemudian berdiri di hadapan manusia sedang mereka duduk di shaf-shaf mereka. Kemudian beliau menasehati dan memberi wasiat kepada mereka serta memberi perintah kepada mereka. Bila beliau ingin mengutus suatu utusan maka beliau utus, atau ingin memerintahkan sesuatu maka beliau perintahkan, lalu beliau pergi.” (HR. Bukhari)

  1. Makan sebelum solat

Disunnahkan untuk makan terlebih dahulu sebelum berangkat sola idul fitri.

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Adalah Rasulullah saw. tidak keluar di hari fitri sebelum beliau makan beberapa kurma. Murajja’ bin Raja’ berkata, ‘Abdullah berkata kepadaku, ‘”Ia mengatakan bahwa Anas berkata kepadanya, “”Nabi memakannya dalam jumlah ganjil.”” (HR. Bukhari)

  1. Berpakaian Rapi dan Berhias

Umar ra. mengambil sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar, lalu ia mendatangi Rasulullah saw., kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, belilah ini dan berhiaslah dengannya untuk hari raya dan menyambut tamu.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya ini adalah pakaian orang yang tidak mendapatkan bagian (di hari kiamat.)” (HR. Bukhari)

Imam AsySyaukani rahimahullah berkata, “Kesimpulannya, disyariatkan berhias pada hari raya dari hadis ini didasari oleh persetujuan nabi tentang berhias di hari raya. Adapun pengingkarannya hanya terbatas pada macam atau jenis pakaiannya, karena ia terbuat dari sutera.”

Yang perlu dicatat di sini ialah berpakaian rapih layaknya menyambut tamu, namun tidak harus berupa pakaian baru. Berhias di sini pun tentu berhias sesuai dengan tuntunan syariat.

  1. Mandi Pagi

Dalam sebuah atsar disebutkan:

Seseorang bertanya kepada Ali ra. tentang mandi, maka Ali berkata, “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Seorang itu berkata, “Tidak. Mandi itu yang benar-benar mandi.” Ali berkata, “Hari jumat, hari arafah, hari idul adha, dan hari idul fitri.” (HR. Al Baihaqi)

  1. Pulang dari Tempat Solat Ied dengan Rute yang Berbeda

Dari Jabir, ia berkata, “Nabi saw. apabila di hari ied beliau mengambil jalan yang berbeda.” (HR Bukhari)

Hikmah dari sunnah ini ialah agar dapat mengucapkan salam dan bersilaturahim dengan orang-orang di sekitar dari rute yang berbeda tersebut, serta untuk syiar Islam.

  1. Mengucapkan Ucapan Selamat Hari Raya

Kebanyakan masyarakat kita mengucapkan “Minal ‘aidin wal faidzin” yang berarti “dari yang kembali dan kemenangan” dan diikutin dengan “mohon maaf lahir dan batin”. Memang sudah menjadi tradisi dan budaya kita untuk maaf-memaafkan di hari idul fitri. Namun ucapan yang dianjurkan sebagaimana yang dilakukan para sahabat dan ulama salafus soleh ialah

Taqabballalhu minna wa minkum (semoga Allah menerima [amal ibadah] dari kami dan dari kalian)

Wallahu a’lam

 

*artikel ini juga dimuat di dakwatuna.com

Categories: merenung | Tags: , , | Leave a comment

Romantisme 10 Malam Terakhir

Sangat dianjurkan bagi setiap muslim untuk meraih malam qadar. Berdasarkan hadis-hadis yang ada, Rasulullah saw. mengindikasikan bahwa malam tersebut berada di malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan di antara malam-malam ganjil tersebut, waktu yang paling besar kemungkinannya ialah malam 25, 27, dan 29.

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malma terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cariah lailatur qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada Sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari)

Sangat dianjurkan untuk beri’tikaf di 10 malam terakhir Ramadhan. Untuk mendapatkan malam qadar memang tidak disyaratkan untuk beri’tikaf, misalnya bagi wanita yang tidak diizinkan untuk I’tikaf oleh suaminya, insyaAllah ia tetap bisa mendapatkan malam kemuliaan dengan menegakkan solat di rumahnya. Meski demikian, bagi yang mampu sangat dianjurkan untuk mengerjakannya.

“Rasulullah saw selalu mengerjakan I’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir Ramadhan, sampai saat beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

I’tikaf merupakan amal ibadah dan momen yang sangat dirindukan. Saat itu ialah ketika orang-orang berkumpul memenuhi masjid, tilawah Al Quran, mengkaji Al Quran, dan berdiri tegak untuk solat. Mungkin tidak ada momen ketika masjid begitu penuh terisi manusia untuk membaca Al Quran dan mengerjakan solat malam selain i’tikaf di 10 malam terakhir.

Saya ingin berbagi pengalaman I’tikaf sepanjang hidup hingga saat ini. Selama berada di Bandung, seingat saya hanya ada 2 masjid yang pernah saya singgahi untuk I’tikaf. Maklum, saya tipe yang kalau sudah nyaman di satu tempat sulit untuk move on. Kedua masjid itu ialah Masjid Habiburrahman yang sudah disebutkan sebelumnya dan Masjid AnNur PT Biofarma.

Menikmati Elegannya Masjid An Nur PT Biofarma

Masjid ini terbilang baru. Saya ingat masjid An Nur mulai fungsional digunakan ketika menjalani program studi profesi dokter (koas) tahun 2012. Ukurannya begitu mencolok untuk masjid sebuah perusahaan, bahkan termasuk masjid megah bila dibandingkan dengan masjid-masjid yang ada di Bandung. Sulit terpikirkan bahwa masjid yang tujuannya digunakan oleh para karyawannya untuk melaksanakan solat di waktu istirahat siang bisa sebesar itu.

Masjid An Nur PT Biofarma

Masjid An Nur PT Biofarma

Semenjak awal didirikan, masjid An Nur mulai melaksanakan kegiatan-kegaitan syiar yang sifatnya terbuka untuk umum. Salah satu agenda syiar yang pertama kali dilakukan ialah I’tikaf di tahun 2012. Ketika saya pertama kali I’tikaf, di tahun 2008, masjid yang mengadakan I’tikaf di Bandung belum terlalu banyak. Masjid-masjid tersebut di antaranya ialah Habiburrahman, Salman ITB, Daarut Tauhid, dan Al Hikmah PT Telkom. Ketika An Nur mengadakan I’tikaf untuk pertama kalinya, di tahun 2012, masih banyak yang belum tahu dan pesertanya masih sedikit.

Saya datang di waktu isya. Jamaah mengadakan solat isya, ceramah taraweh, dan solat taraweh seperti biasa. Selesai taraweh, tidak ada acara khusus. Masing-masing peserta I’tikaf mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah masing-masing. Kemudian, waktu tidur pun hampir tiba.

Di saat itulah An Nur mulai memberikan kesan pertamanya. Pihak panitia membagian bantal! Saya yakin belum ada masjid lain yang menyediakan bantal untuk tidur peserta I’tikaf. Sontak seluruh peserta terkejut dan kegirangan.

Bantal untuk peserta i'tikaf

Bantal untuk peserta i’tikaf

Hanya saja, pembagian bantal tersebut hanya dilakukan di I’tikaf tahun 2012. Di tahun-tahun selanjutnya, popularitas An Nur meningkat, peserta semakin membludak; entah bantalnya rusak atau jumlahnya tidak mencukupi, tidak ada lagi bagi-bagi bantal. Syukur saya termasuk salah satu yang pernah menikmati bantal An Nur :D

Peserta mulai bangun sekitar jam 2 atau 3 malam. Pihak panitia mengadakan qiyamulail berjamaah. Saat itu belum ada target bacaan surat sekian juz untuk qiyamulail. Imam membaca surat-surat yang memang tidak memiliki target tertentu. Kini, An Nur rutin mengadakan qiyamulail satu malam satu juz, atau total 10 malam I’tikaf qiyamulail sebanyak 10 juz. Alhamdulillah.

Kejutan selanjutnya pun muncul ketika qiyamulail selesai dilaksanakan. Saat pertama kali I’tikaf di An Nur, saya tidak membawa bekal sahur, berencana untuk pergi keluar cari makan seadanya. Tapi ternyata panitia datang membawa kotak-kotak makanan. Kotak-kotak itu pun dibagikan, dan ternyata di kotak itu bertuliskan “Nasi Pada Simpang Raya”, ada juga yang bertuliskan “McD”! Dibagikan cuma-cuma! Kami semua pun terkekeh dan mengembangkan senyum lebar sembari menikmati santap sahur.

Menu sahur

Menu sahur

Kini penyelenggaraan I’tkaf An Nur semakin terorganisasi dengan baik. Jadwal penceramah taraweh dan tausiyah subuh disusun dengan terencana, tak jarang pula mengundang ustadz kondang di Bandung, semisal ust. Darlis. Bahkan pernah juga An Nur mendatangkan syaikh dari Palestina yang sedang melakukan safari Ramadan. Acara qiyamulail pun diimami oleh santri tahfidz Quran dari Habiburrahman, dan setiap malam seluruh peserta berdiri berjamaah mendengarkan lantunan ayat Al Quran sebanyak 1 juz. Walaupun tidak pernah berdiam di dalam masjid An Nur hingga siang atau sore hari, saya mendengar bahwa di waktu siang dan sore pun diisi dengen aktivitas seperti kajian.

Semakin baiknya pelaksanaan I’tikaf, diisinya dengan aktivitas-aktivitas yang berbobot, berkualitasnya materi tausiyah dan penceramahnya, dan tentu saja buka puasa dan ifthor gratis, membuat kegiatan An Nur Biofarma semakin banyak peminat. Bahkan ada beberapa teman saya yang biasanya beri’tikaf di Habiburrahman beralih ke An Nur.

DKM An Nur Biofarma tidak hanya mengadakana kegiatan di bulan Ramadan. Di bulan-bulan biasa pun terkadang—mungkin program syi’ar bulanan—An Nur mengadakan kajian atau mabit mengundang pengisi-pengisi yang dikenal masyarakat, seperti walikota Bandung atau gubernur Jawa Barat.

Barakallahu para jajaran direksi PT Biofarma yang mau mengalokasikan dana sangat besar untuk masjid dan kegiata syi’ar Islam. Semoga Allah memberikan berkah kepada peusahaan dan para pekerja di dalamnya.

Habiburrahman yang Tak Mungkin Dilupakan

Masjid milik PT DI yang terletak di Bandara Husen Sastranegara Bandung merupakan lokasi I’tikaf primadona. Peserta I’tikaf tidak hanya berasa dari daerah Bandung, tapi juga dari kota-kota Jawa Barat sebelah timur seperti Kuningan dan Cirebon, bahkan seingat saya ada yang dari Sumatera dan Kalimantan! Ya, masjid yang mencetak para hafidz Quran ini merupakan pelopor pelaksana I’tikaf yang mengkhatamkan 30 juz Al Quran dalam qiyamulail-nya.

“Tempat I’tikafnya para ustadz”, begitulah Habiburrahman dikenal.

Saat saya baru masuk ke terasnya, atmosfer sudah dipenuhi oleh suara-suara tilawah; tidak hanya suara orang dewasa, tapi juga suara anak-anak. Karena selalu ramai, lapak dagangan pun banyak digelar di terasnya: ada yang jual buku bacaan islami, mushaf Al Quran, peci-sarung, parfum, cd murottal, dan makanan ringan.

Di teras masjid yang (insyaAllah) diberkahi tersebut juga dapat dilihat lingkaran-lingkaran kecil manusia. Tak jarang anak-anak sekolah berombongan ber’itikaf di sana. Ada juga yang di sela-sela waktu I’tikaf beberapa orang ikhwan dan akhawat mengadakan rapat atau syuro.

Ada juga di tepi sudut sana, seorang atau beberapa mahasiswa Fakultas Kedokteran membuka kertas flip chart, mengerjakan tugas learning objectives. Ada juga yang memegang buku atau kertas-kertas sambil ia memandanginya dengan serius, mempersiapkan diri untuk ujian esok harinya.

Salah satu yang khas dari masjid ini ialah disediakan area untuk mendirikan tenda. Peserta yang beri’tikaf bersama istri dan anak-anaknya banyak membawa dan membangun tenda di teras masjid. Benar-benar seperti bumi perkemahan.

Kamp pengungsi. Itu adalah kesan yang didapat saat melihat ke bagian utama masjid di jam 11 ke atas. Benar-benar berisi kerumunan manusia yang membaringkan diri. Sebelum jam 11, orang-orang melakukan berbagai macam hal di dalam. Kebanyakan sedang tilawah, ada sedang berdiri sambil bersedekap, ada juga yang menyengir sana-sini tengah berbincang hangat.

Suasana i'tikaf Habiburrahman

Suasana i’tikaf Habiburrahman

 

Banyaknya yang i'tikaf di habiburrahman, terutama di malam ganjil

Banyaknya yang i’tikaf di habiburrahman, terutama di malam ganjil

Saat saya ke Habiburrahman di masa mahasiswa, I’tikaf di Habib sudah sepeti reuni dengan teman-teman SMA. Ada saja wajah lama yang ditemui. Menanyakan kabar, apa kesibukannya, sudah menikah atau belum, saya beserta mereka turut serta menyengir dan berbincang.

Masjid Habiburrahman melayani para peserta yang ingin memesan makanan berbuka dan sahur. Tidak seperti An Nur yang memberikan secara gratis, panitia standby sekitar jam 15.30-17.00 untuk menerima pesanan berbuka dan jam 21.00-23.00 untuk melayani pemesanan sahur. Ada 4 macam jenis menu yang disedikan—kadang-kadang 3— dan tiap menu diwakili oleh kupon merah, kuning, biru, dan hijau. Saya ingat kalau kupon merah adalah menu nasi padang dan kupon hijau adalah menu nasi dan sayuran.

Tak perlu khawatir jika tidak sempat memesan makan ke panitia. Di area belakang masjid banyak pedagang kaki lima berjualan.

Panitia mulai mematikan lampu ruangan utama masjid jam 23.00. Para peserta yang masih ingin lanjut tilawah atau ngobrol atau lain-lain akan melanjutkannya di teras. Memang sebaiknya untuk segera tidur, karena para peserta akan dibangunkan jam 00.30, dan qiyamulail dilaksanakan jam 01.00

Itu adalah 3 juz, dan itu adalah berdiri di waktu malam sekitar 3 jam. Imam yang memimpin qiyamulail, ust. Abdul Aziz Abdur Rauf, mengucapkan ayat-ayat Al Quran penuh khidmat. Para makmum di belakang mendengarkan surat-surat panjang yang dibacakan, banyak yang berusaha mengikutinya dengan solat sambil membuka mushaf.

Kesan ketika pertama kali mengkuti QL tersebut ialah kaki pegal, telapak kaki terasa menebal, dan lutut bergetar. Kelopak mata terkadang menutup sedikit lalu membuka, dan mulut membuka lebar menelan oksigen. Setiap malamnya di masjid tersebut ialah begitu melelahkan.

Sekitar jam 4 kurang, witir dilaksanakan. Ketika imam di rakaat pertama membaca “sabbihisma robbikal a’la…” rasanya begitu lega. Maklum, karena di rakaat-rakaat sebelumnya bacaannya begitu panjang dan menguji kesabaran. Saat pertama kali ikut QL di sana, saya berpikir kelelahan telah berakhir di solat witir. Tapi ternyata tidak.

Di rakaat terakhir, saat I’tidal, imam membaca doa qunut. Dan bacaan doa qunut-nya terasa begitu panjang. Benar-benar panjang. Sebenarnya doa yang dibaca bernuansa kesedihan. Para makum yang kebanyakan mengerti bahasa arab turut menangis dengan khusyu. Sedangkan saya yang tidak paham, juga ikut khusyu…khusyu menahan rasa pegal :D.

Qiyamulail dimulai dari juz 1 di malam ke-21, dan berakhir di juz ke-30 pada malam ke-29, walau sekitar setengah juz atau lebih sudah dibacakan ketika taraweh. Di rakaat ke-8 di malam terakhir, ketika imam membaca surat An Naas, muncul keharuan di dalam benak para makmum—terutama bagi mereka yang benar-benar mengikuti I’tikaf dari hari pertama. Ya, akhirnya khatam Al Quran dalam 9 malam tersebut. Selesai membaca surat An Naas, imam melanjutkan dengan membaca doa; doa yang sangat panjang. Benar-benar panjang.

Berfoto dengan ust. Abdul Aziz Abdur Rauf pagi hari setelah QL terakhir, tahun 2011

Berfoto dengan ust. Abdul Aziz Abdur Rauf pagi hari setelah QL terakhir, tahun 2011

Sekarang mulai banyak masjid di Bandung yang mengadakan I’tikaf, tapi Habiburrahman takkan pernah bisa dilupakan. Ia adalah tempat kekhusyu’an, tempat kesabaran, dan tempat penuh kenangan.

Kini, di Selong, Lombok Timur

Sebagai daerah yang didominasi oleh Nahdhatul Wathan (NW, pecahan NU), seperti kebanyakan masjid NU, mereka tidak mengadakan I’tikaf—walau perayaan nuzulul Quran cukup ramai.

Ada dua masjid yang saya ketahui mengadakan I’tikaf, dua-duanya diselenggarakan oleh kader PKS. Para pesertanya pun kebanyakan (atau semuanya?) adalah para kader dan simpatisan PKS. Karena masjid yang dijadikan tempat I’tikaf tidak begitu besar, I’tikaf hanya dilakukan oleh kaum pria.

Lokasi masjid I’tikaf, yang saya dengar, berubah-ubah tiap tahunnya. Tahun ini, lokasi I’tikaf di selong ialah masjid khairu ummah yang berada di komplek DPD PKS Lombok TImur. I’tikaf di sini tidak menyelenggarakan QL berjamaah. Umumnya peserta bangun sekitar jam 3, lalu solat dan tilawah masing-masing.

DPD PKS lombok Timur

DPD PKS lombok Timur

Suasana i'tikaf di masjid khairu ummah

Suasana i’tikaf di masjid khairu ummah

Pemandangan yang menyejukkan 😊

Pemandangan yang menyejukkan 😊

Saya cukup salut dengan penyelenggaraan i’tikaf ini yang menyediakan buka puasa dan sahur gratis. Karena peserta tidak terlalu banyak, panitia membawa box-box yang berisi nasi, lauk, sayur, kerupuk, dll. Tentu saja ketika mengambil makanan—lauk terutama—harus dikira-kira agar seluruh peserta kebagian.

Walau peserta tidak banyak, suasana kekeluargaan benar-benar terasa di masjid yang tidak begitu luas ini.

———————————————————–

Apakah bila I’tikaf dilaksanakan sudah pasti akan mendapat lailatur qadr? Tidak ada yang menjamin. Bahkan seorang yang terbangun dan solat malam di rumahnya pun bisa mendapatkannya, jika Allah menghendaki.

Dapat atau tidaknya malam qadar, kita tidak tahu. Yang harus dilakukan hanyalah mengencangkan ibadah kita. Dan kita tidak boleh melupakana tujuan kita berpuasa Ramadan: bukan untuk ikut-ikutan, bukan untuk menurunkan berat badan, bukan untuk mendapatkan kehausan dan kelaparan; tapi untuk meraih peringkat taqwa.

Sudan sejauh manakah kita melangkah untuk menjadi pribadi bertaqwa semenjak hari pertama Ramadan? Sebesar apa progresnya?

Bulan Ramadan ialah bulan tarbiyyah. Dan layaknya proses pendidikan, hasil dari pendidikan sebulan Ramadan ini bisa dilihat dari bulan-bulan sesudahnya, apakah menjadi pribadi yang lebih berkualitas atau tidak.

Wallahu a’lam

Categories: gumaman, merenung | Tags: , , | Leave a comment

Menyembuhkan Homoseksualitas

Ini bukanlah hal baru. Sudah banyak negara-negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Salah satu negara yang paling awal mengesahkan hal tersebut secara hukum ialah Belanda. Negeri kincir angin sudah membuka pintu bagi pernikahan sesama jenis sejak tahun 2000. Begitu pula Spanyol dan Canada yang meresmikannya pada tahun 2005. Juga negara-negara barat lain seperti Inggris, Perancis, Skotlandia, Portugal, dll.

Di Amerika sendiri pernikahan sesama jenis bukanlah hal asing. Sudah banyak yang melangsungkan peresmian hubungan homoseksual ini walaupun di mata hukum belum sah. Namun, diketuknya palu yang menyatakan bahwa pernikahan tersebut sah secara hukum membawa dampak bukan hanya bagi negeri paman sam tapi sedikitnya juga bagi negara-negara lain, seperti Indonesia.

Respon segera berdatangan menanggapinya, tak ketinggalan Indonesia (termasuk sy sendiri, heheh :P). Masyarakat biasa hingga pejabat DPR dan tokoh agama pun bersuara bahwa Indonesia takkan pernah mengesahkan pernikahan homoseksual. Tapi ternyata masyarakat negara yang mayoritas muslim ini tidak hanya lantang menyampaikan suara kontra; tak sedikit juga yang pro, ada juga yang tidak peduli. Para netizen tanah air sempat dibuat terkejut oleh twit dari selebriti Sherina Munaf yang menyatakan bahwa ia mendukung pernikahan sesama jenis.

Isu LGBT sudahlah lama, tapi adanya momen ini membuat topik yang dulu seru untuk dibahas sempat dibuka lagi: apakah homoseksual itu sesuatu yang normal? Benarkah bahwa mereka “terlahir sebagai gay”? Apakah gay sifatnya diturunkan? Bisakah masyarakat LGBT diterima sebagai orang-orang heteroseksual pada umumnya? Dan, apakah homoseksual bisa disembuhkan? Bertahun-tahun sebelumnya telah dilakukan beberapa penelitian dan dibuat teori-teori yang bersifat ilmiah yang membahas tentang homoseksualitas.

Transgender tidak dimasukkan dalam pembahasan ini. Ada manusia transgender yang terbentuk sejak lahir akibat kelainan susunan kromosom. Contohnya yang mengalami sindroma Klinefelter, yaitu laki-laki yang memiliki buah dada, pinggul lebar seperti wanita, dan rambut kemaluannya seperti rambut kemaluan wanita. Ada juga manusia hermaprodit, yaitu memiliki organ reproduksi laki-laki maupun perempuan. Transgender menurut sy di sini tidak termasuk laki-laki yang menyengajakan diri untuk mirip wanita seperti dengan melakukan operasi, terapi hormone, dll.

Golongan ini dipisahkan karena mereka sudah “terlahir menjadi demikian” karena suatu proses genetika; berbeda dengan gay atau lesbian walau banyak pendukung LGB yang ngotot bahwa mereka pun juga seperti itu semenjak lahir. Setidaknya penelitian-penelitian selama ini tidak pernah membuktikan klaim mereka.

“Terlahir Sebagai Gay” Hanya Mitos

Setidaknya ada 3 studi terkenal yang berusaha untuk mencari penyebab homoseksualitas secara biologis.

Pertama, ialah usaha dari Dr. Simon Levay pada tahun 1991. Ia meneliti suatu struktur otak manusia yang disebut dengan interstitial nuclei of anterior hypothalamus (INAH). Ditemukan bahwa ukuran struktur tersebut pada orang-orang gay lebih kecil daripada laki-laki heteroseksual dan sama dengan ukuran pada wanita. Melalui penemuan ini ia berasumsi bahwa homosexual berhubungan dengan faktor biologis.

Penelitian ini memiliki banyak masalah. Dari 19 gay yang diperiksa, semuanya meninggal karena AIDS. Pada penderita AIDS, level hormone testosteron menurun sehingga lebih dapat disimpulkan bahwa hal tersebut lah yang membuat struktur INAH lebih kecil. Selain itu, penelitian semacam ini tidak bisa direplikasi pada penelitian-penelitian selanjutnya. Pada 2001, Levay pun mengakui bahwa temuannya “tidak membuktikan bahwa homoseksual bersifat genetik”.

Masalah lainnya dari penelitian ini ialah Levay merupakan seorang gay dan penelitian di atas diindikasikan memiliki konflik kepentingan.

Kedua, studi saudara kembar. Penelitian yang cukup populer ini dilakukan oleh Michael Baley dan Richard Pillard. Mereka mempelajari beberapa subjek berupa 56 pasang kembar identik, 54 pasang kembar nonidentik, 142 bersaudara tidak kembar, dan 57 pasang saudara angkat. Hipotesis dari penelitian ini adalah jika homoseksual diwariskan dalam garis keluarga, seharusnya lebih banyak angka saudara kembar identik yang memiliki orientasi seksual sama dibanding saudara  kembar nonidentik dan saudara kandung nonkembar.

Hasil penelitian mereka adalah sebagai berikut:

  • 52% kembar identik laki-laki adalah homoseksual
  • 22% kembar nonidentik laki-laki adalah homoseksual
  • 2% saudara kandung nonkembar laki-laki adalah homoseksual
  • 11% saudara angkat laki-laki adalah homoseksual

Melalui penelitian ini, mereka mengumumkan bahwa orientasi seksual secara substansial adalah genetik. Yang perlu dikritisi dari hasil tersebut adalah tidak 100% kembar identik homoseksual. Jika terdapat gen gay, seharusnya semua kembar identik memiliki orintasi seks yang sama karena kembar identik berbagi gen yang sama. Selain itu, jumlah saudara angkat yang homoseksual lebih besar daripada saudara kandung nonkembar. Neil Reisch dan kolega dalam komentarnya di jurnal Science, “Saudara kandung dan saudara angkat memiliki angka yang hampir sama. Hasil ini menyarankan bahwa tidak ada komponen genetik, tapi lebih ke komponen lingkungan dalam keluarga.”

Ketiga, studi gen gay pada kromoson X. Dr. Dean Hamer melihat bahwa banyak laki-laki gay memiliki relatif gay dari hubungan keluarga ibu, sehinga ia menyimpulkan bahwa gen gay terdapat pada kromosom X. Dari 40 pasangan homoseksual bersaudara, pada 33 pasangan ditemukan DNA yang sesuai  yang disebut dengan q28.

Dr. Hamer menyatakan bahwa eksperimennya menunjukkan gen Xq28 berperan dalam menentukan orientasi seksual. Penting untuk dicatat bahwa penelitian tersebut tidak mengklaim menemukan gen gay.

Salah satu poin kritis penelitian tersebut adalah Dr. Hamer dan kolega tidak memeriksa apakah laki-laki heteroseksual pada keluarga subjek penelitian tersebut memiliki gen yang sama. Eksperimen di atas juga tidak menjelaskan mengapa 7 pasangan sisanya yang homoseksual tidak memiliki “gen gay” tersebut. Komentar juga diajukan ke jurnal Science bahwa penelitian tersebut tidak memiliki grup kontrol (heteroseksual). Juga, penelitian gen Xq28 ini tidak bisa direplikasi pada penelitian selanjutnya. Studi yang melibatkan jumlah sampel yang lebih besar gagal menemukan gen yang berperan dalam orientasi seksual pada posisi Xq28.

Untuk merangkum semuanya, hingga kini belum ada hasil penelitian ilmiah yang menyimpulkan dan membuktikan bahwa homoseksual bersifat genetik.

Penyebab Homoseksual

Ada beberapa teori diajukan yang dianggap sebagai penyebab kondisi orientasi seksual ini.

Teori genetik belum dapat diterima karena belum ditemukannya penelitian yang konsisten, walau para ilmuwan masih menganggap genetika “mungkin” berperan. Yang kedua ialah teori hormonal. Suatu studi menunjukkan proses hormonal, terutama pada masa di dalam kandungan, dapat mengakibatkan otak laki-laki kurang termaskulinisasi. Kondisi tersebut juga berperan dalam memengaruhi identitas gender. Dalam dunia nyata, kita dapat melihat beberapa laki-laki yang tingkah lakunya seperti perempuan atau biasa dikenal sebagai “laki-laki melambai”. Hal tersebut juga dapat memengaruhi orientasi seks seseorang.

Penyebab lainnya ialah faktor psikososial—ini sering dinafikan oleh para pendukung LGB. Angka statistik memaparkan bahwa lebih dari rata-rata lelaki homoseksual memiliki riwayat pelecehan seksual saat masih kanak-kanak oleh orang dewasa. Tomeo dan kolega melaporkan 46% laki-laki homoseksual mengalami pelecehan homoseksual di masa kecil dibandingkan dengan 7% laki-laki heteroseksual. Begitu juga 22% lesbian masa kanak-kanaknya dilecehkan oleh homoseksual dibandingkan dengan 1% perempuan homoseksual.

Pelecehan di sini bisa berupa tindakan seks langsung bisa juga bukan, seperti penyentuhan alat kelamin. Misal, anak laki-laki yang penisnya dipegang atau digenggam oleh laki-laki dewasa, akan menganggapnya sebagai pengalaman seksual pertama yang sangat berkesan. Memori tersebut akan sangat memengaruhi orientasi seksualnya.

Mayoritas seseorang mulai menyadari atau menjadi homoseksual ketika ia menjelang usia remaja. Studi menunjukkan bahwa para remaja tersebut ketika beranjak dewasa berkurang kecenderungannya mengidentifikasi diri mereka sebagai gay. Suatu penelitian di Minnesota melaporkan bahwa sebanyak 25.9% anak-anak usia 12 tahun tidak yakin apakah mereka homoseksual atau heteroseksual. Sebaliknya, hanya 2-3% dewasa yang melabeli diri mereka sebagai homoseksual. Ini artinya, anak-anak di usia pencarian orientasi seksual tersebut dapat menjadi gay apabila para pendukung LGB di sekitarnya memprovokasi mereka dengan mengatakan “homoseksual itu normal” atau “kau memang terlahir sebagai gay”.

Bisakah Homoseksual Disembuhkan?

TIDAK. Itu adalah jawaban yang didapat bila ditanyakan ke psikolog atau dokter jiwa (psikiater). Juga jawaban yang akan kita dapat bila mereka ditanya atau diminta untuk menyembuhkan homoseksual adalah “terapi homoseksual itu menentang etika kedokteran dan tidak diperbolehkan secara etika karena homoseksual BUKANLAH PENYAKIT JIWA. Usaha menyembuhkannya hanya akan membuat pasien menjadi depresi dan mengalami gangguan kecemasan”.

Sudah lama homoseksual ditarik dari klasifikasi penyakit gangguan jiwa. Alasan para psikiater tidak lagi menganggapnya sebagai penyakit ialah semenjak tahun 1973 para pelaku homoseksual tidak lagi mengalami depresi atau gangguan sosial lainnya. Seiring bertambahnya waktu dan opini publik terus mengalir layaknya sungai deras yang menghantam para penghalangnya, kaum gay mulai diterima oleh masyarakat dan bentuk diskriminasi pun perlahan-lahan menghilang. Akibatnya, tidak ada lagi alasan untuk menetapkannya sebagai penyakit karena gay dan lesbian bisa hidup normal layaknya heteroseksual.

Namun, apakah orang homoseksual tidak bisa berubah menjadi heteroseksual? Jawabannya bisa. Ada banyak orang yang mulanya homoseksual kemudian berganti orientasi seksualnya ke lawan jenis. Derajat homoseksual memang beragam: mulai dari “sedikit homoseksual” hingga “homoseksual total”. Semakin tinggi derajat homoseksualitasnya, semakin sulit ia menumbuhkan ketertarikan ke lawan jenis.

Skala Perilaku Seksual Menurut Kinsley

Skala Perilaku Seksual Menurut Kinsley

Usaha terapi untuk memperbaiki orientasi seksual atau “reparative therapy” tidaklah memiliki sejarah yang manis. Tidak sedikit yang melaporkan bahwa pasien yang menjalani reparative therapy mengalami depresi karena gagal dan merasa dirinya tidak diterima oleh masyarakat.

Meskipun demikian, banyak kisah “ex-gay” yang menuturkan bahwa mereka dapat menikah dengan lawan jenis dan memiliki kehidupan keluarga yang normal layaknya masyarakat pada umumnya. Namun, hasilnya variatif. Ada yang total sama sekali meninggalkan homoseksualitasnya, ada yang menikah dengan lawan jenis namun masih “tertarik secara seksual” dengan sesama jenis, ada yang sempat beralih ke heteroseksual namun akhirnya kembali ke kehidupan gay-nya.

Seorang psikolog asal Amerika Serikat, Joseph Nicolosi, menawarkan solusi reparative therapy bagi gay. Dalam websitenya disebutkan tujuannya bukanlah menyembuhkan, melainkan memberikan solusi dan alternatif kepada orang-orang homoseksual yang punya keinginan untuk memiliki kehidupan yang normal. Ia menekankan bahwa seorang yang mengikuti terapi tersebut harus berdasarkan keinginannya sendiri (jika ada anak yang dipaksa oleh orang tuanya untuk mengikuti terapi, makan Nicolosi akan menolaknya). Pasienlah yang menetukan apa tujuan dari terapi tersebut, dan sang psikolog akan berusaha untuk membantunya.

Intinya, belum ada usaha yang memuaskan untuk mengubah orientasi seksual seorang gay. Tidak ada eksperimen lanjutan mengenai ini, karena para dokter dan psikolog menganggap setiap usaha untuk mengubah orientasi seorang gay menjadi heteroseksual adalah pelanggaran etik.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Di situs Salman ITB terdapat artikel yang bercerita tentang seorang “ustadz gay”. Sang ustadz sengaja diundang untuk menceritakan kisahnya sebagai gay dan usahanya hingga bisa menjadi seperti sekarang. Ia sekarang memang telah menikah dengan lawan jenis dan berkeluarga layaknya orang-orang kebanyakan.

Dalam pertemuan tersebut ia menyampaikan bahwa hasrat gay tak pernah bisa hilang dari dirinya meskipun ia telah menikah. Satu hal penting yang ia tekankan ialah “tidak semua hasrat harus dipenuhi”.

Manusia memiliki banyak sekali hasrat, bukan? Seorang laki-laki ketika melihat perempuan cantik tentu memiliki hasrat seksual terhadapnya. Hal itu adalah normal. Namun, apakah hasrat itu harus dipenuhi? Wanita memiliki hasrat yang sangat tinggi menghambur-hamburkan uangnya untuk berbelanja. Apakah hasrat untuk boros harus diikuti? Baru-baru ini para ilmuwan mempublikasikan hal mencengangkan bahwa kecenderungan memerkosa dipengaruhi oleh factor biologis. Jika memang ada “gen memerkosa”, apakah sifat gen tersebut harus dieksekusi, dengan alasan “beginilah Tuhan menciptakan saya”?

Begitu pula dengan homoseksual. Anggaplah ada yang disebut dengan gen gay. Genetika adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Seseorang tidak bisa memilih apakah ia memiliki gen tersebut atau tidak. Namun, seorang dengan gen tersebut bisa memilih, apakah ia akan melakukan tindakan homoseksual atau tidak.

Psikolog dan psikiater mengatakan, penolakan dan tindakan kasar kepada LGB tidak akan menyembuhkan mereka. Hasil dari tindakan responsif tersebut hanya akan membuat depresi dan menumbuhkan keinginan bunuh diri. LGB juga akan berpikir bahwa mereka telah ditolak, sehingga lebih baik terjerumus saja ke dalam homoseksualitas sekalian.

Pendekatan yang dilakukan oleh Joseph Nicolosi dapat kita ikuti. Bahwa yang perlu kita lakukan ialah “membantu” bukan “memaksa”. Kita membuka pintu bagi mereka yang memiliki kecenderungan homoseksual namun merasa menjadi gay bukanlah pilihan hidupnya. Keinginan untuk menjadi normal harus berasal dari diri mereka sendiri, bukan dari luar, bukan dari orang tua, bukan dari teman-temannya. Biarlah ia yang mulai bertanya kepada dirinya sendiri, apakah menjadi gay itu baik dan benar.

Pendekatan pendidikan moral dan terutama agama dapat berperan penting. Sang ustadz gay memutuskan untuk tidak berperilaku homoseksual ialah karena kesadaran agama. Apabila pemahaman agama diberikan dan ditanamkan dengan baik, seorang tersebut pun akan mulai sadar tindakannya salah, bahwa dirinya perlu berubah, hingga dirinya sendirilah yang memutuskan untuk menjadi heteroseksual, tanpa paksaan dan tanpa tekanan.

Dan tentu saja, istilah “mencegah lebih baik daripada mengobati” juga berlaku untuk hal ini. Orang tua berperan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Peran pendidikan dan pengawasan harus melekat pada diri orang tua. Jika tidak, bukan hal yang mustahil pada pendukung LGB lah yang akan mengambil alih peran tersebut dan memberikan “pendidikan” ala mereka kepada anak yang masih mencari orientasi seksual.

Categories: esai, kesehatan | Tags: , , , | 2 Comments

Pembunuh 9 Centi

FB_IMG_1435332091203

Rokok Membuat Anda Rileks

Baru-baru ini kita mendengar kabar seorang pejuang kampanye antirokok meninggal dunia dalam usia muda. Seharusnya 27 tahun merupakan masa seseorang berada dalam kondisi produktifnya. Berpenghasilan, mencari nafkah, berkarya untuk negeri, memberi cinta kepada istri dan anaknya, mengabdi kepada orang tua…tapi itu semua pupus. Ia tutup usia, dibunuh—saya lebih memilih menggunakan istilah “dibunuh”—oleh benda yang amat kecil, hanya berukuran 9 centimeter.

Robby Indra Wahyuda

Robby Indra Wahyuda

Robby Indra Wahyuda hanyalah satu dari sekian banyak masyarakat Indonesia yang mengonsumsi rokok sejak kecil. Masih saja ia mengenakan seragam putih dan merah, kepulan-kepulan asap sudah menghiasi bibirnya. Apakah ia adalah satu-satunya? Tentu tidak, karena menurut Komnas Anak setidaknya terdapat 239 ribu anak Indonesia yang berusia di bawah 10 tahun menjadi perokok aktif. Begitu pula ketika Indonesia menjadi pusat perhatian dunia, bukan karena prestasi, namun karena seorang anak usia 2 tahun, Aldi Rizal, sehari-harinya menghabiskan 40 batang rokok.

Apakah perbedaan antara narkotik dengan rokok? Keduanya sama-sama zat adiktif, membuat orang yang mengonsumsinya ketagihan dan ketergantungan luar biasa. Pula keduanya sama-sama membunuh orang yang menikmatinya. Hanya saja narkoba memberikan efek yang cepat: seorang yang sudah ketagihan sudah menunjukkan tanda dan gejala yang mengenaskan yang membuatnya tidak produktif. Sedangkan rokok membuat penggunanya baru merasakan sakit—hingga sakit parah—dan berkurang produktivitasnya rata-rata setelah usia 40 tahunan.

Setelah 40 tahunan? Benarkah itu? Bukankah Robby harus menderita kanker esophagus (kerongkongan) pada usia yang sangat muda, yaitu 26 tahun?

Bukan hal yang aneh ketika Instalasi Gawat Darurat kedatangan seorang pasien laki-laki berusia 30-an dalam keadaan nyeri dada, sesak, hingga menurun kesadarannya. Itu adalah penyakit jantung coroner (PJK), yang dahulu dikenal sebagai penyakit yang diidap oleh manusia usia 40-an. Mungkin kita masih ingat Dodit, seorang komedian sambil berdiri asal Surabaya yang mampu membuat perut kita terkocok akibat lawakan dan muka datarnya. “Baru kali ini, seumur hidup, saya pingsan. Rasanya seperti sakaratul maut,” ujar sang comedian berusia 29 tahun. Rokoklah yang mengakibatkan sumbatan di pembuluh darah jantungnya.

Sialnya korban dari rokok bukan hanya mereka yang aktif mengepul. Seorang lansia harus menderita penyakit paru obstruktif kronis—penyakit yang hampir eksklusif disebabkan oleh asap rokok—padahal ia bukanlah perokok: nasib tidak beruntung membuatnya berada di lingkungan kerja perokok. Kemarin-kemarin juga kita melihat iklah di TV tentang wanita berusia 37 tahun yang dilubangi tenggorokannya dan kehilangan suara akibat menderita kanker pita suara. “Berhentilah merokok, asapmu membunuh orang-orang di sekitarmu,” ucap Ike dengan suara serak nyaris tak terdengar.

Sebutan dari Taufiq Ismail bahwa Indonesia surga bagi perokok tidaklah berlebihan. Ketika dunia mengalami tren penurunan jumlah perokok pada usia > 15 tahun, Indonesia mengalami kenaikan. Berdasarkan data Riskesdas, terjadi kenaikan dari 34,7% (2010) menjadi 36,3% (2013) jumlah anak-anak usia > 15 tahun yang merokok. Sekitar 62,5% dari seluruh perokok pertama kali menjadi perokok aktif pada usia < 19 tahun.

Surga Rokok Murah

Harga rokok di Indonesia sangatlah murah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Jika Singapore menjual rokok senilai 90 ribu-100 ribu per bungkusnya, Indonesia menjualnya hanya seharga 13 ribu-15 ribu. Harga yang murah seperti ini—apalagi di Indonesia rokok dapat dibeli per batang—membuat ia dapat dijangkau oleh masyarakat miskin dan para remaja.

cigs-chart-corrected

Terlebih lagi pabrik-pabrik rokok tak pernah lelah untuk berburu para korban baru: generasi muda. Umumnya masyarakat ketika sudah berusia tua mulai meninggalkan rokok karena terkena getah penyakitnya. Ketika mulai banyak orang-orang meninggalkan rokok, maka industri rokok pun mencari konsumen baru, yaitu anak-anak muda.

Tak heran bila iklan rokok dikemas sedemikian menarik. Gambar yang ditayangkan oleh iklan rokok membentuk persepsi anak-anak muda bahwa merokok adalah sesuatu yang keren, gagah, dan kekinian. Penelitian menunjukkan bahwa 70% remaja menilai positif terhadap iklan rokok. Iklan-iklan yang menyesatkan itu pun membuat 50% remaja perokok merasa lebih pecaya diri seperti yang diiklankan rokok, dan 37% remaja perokok merasa keren seperti yang diiklankan rokok.

IMG-20150513-WA0000

Menanti Komitmen Pemerintah

WHO Global Reports on Trends in Tobacco Smoking pada Maret 2015 melaporkan bahwa terjadi pendurunan konsumsi tembakau di dunia. Pada 2010 terdapat 3,9 milyar manusia usia >15 tahun nonperokok; jika tren penurunan ini terus berlanjut, diproyeksikan di tahun 2025 terjadi peningkatan menjadi 5 milyar.

Bagaimana bisa ketika Indonesia terus mengalami kenaikan konsumen rokok, dunia pada umumnya mengalami penurunan?

Sejak 2003, WHO meluncurkan Konvensi Kerangka Kontrol Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Konvensi ini merupakan perjanjian internasional pertama yang dicanangkan WHO. FCTC memiliki beberapa artikel yang menuntut negara-negara di dunia melakukan upaya menurunkan permintaan dan suplai rokok.

Bagian utama dari konvensi tersebut berada di bagian III dan IV. Bagian III memiliki konten tentang upaya menurunkan permintaan tembakau. Terdiri dari artikel 6-14, bagian ini berisikan tuntutan-tuntutan di antaranya menaikkan cukai rokok, pemasangan gambar peringatan bahaya rokok yang mencakup 50% bungkus rokok, dan pelarangan segala bentuk iklan, promosi, dan sponsorship dari pabrik rokok. Bagian IV, terdiri dari artikel 15-17, bertujuan menurunkan suplai tembakau. Isinya adalah eliminasi perdagangan tembakau illegal, pelarangan penjualan ke anak di bawah umur dan penjualan per batang, dan pemberian bantuan ekonomi atau pekerjaan alternatif bagi petani dan buruh pabrik rokok.

Komitmen pemerintah merupakan kunci utama suatu negara dapat menyelamatkan rakyatnya dari pembunuhan massal oleh rokok. Cukai yang tinggi akan membuat rokok berharga mahal, sehingga tidak bisa diakses oleh masyarakat miskin—mirisnya rokok paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat miskin ketimbang golongan menengah ke atas—dan anak-anak muda. Kebijakan cukai rokok yang tinggi sukses menurunkan pengguna rokok, menurut data di negara Afrika Selatan. Selain itu, terlindungnya para remaja dari iklan-iklan pembodohan buatan industri rokok menurunkan probabilitas mereka tertarik untuk mencoba-coba. Tak hanya iklan, usaha perusahaan rokok menarik simpati masyarakat dengan memberikan beasiswa pendidikan dan bermurah hart dalam memberikan bantuan dana sponsor juga perlu dicegah agar perusahaan-perusahaan tersebut tidak menunjukkan eksistensinya di masyarakat.

Tingginya Cukai Rokok Efektif Menurunkan Angka Konsumsi Rokok

Tingginya Cukai Rokok Efektif Menurunkan Angka Konsumsi Rokok

Setidaknya ada 180 negara peserta di konvensi ini (terakhir yang bergabung adalah Zimbabwe. Iya, Zimbabwe, negara yang mata uangnya disebut “mata uang sampah” karena mengalami keterpurukan ekonomi) dengan 168 di antaranya sudah menandatanganinya. Anda tak perlu bertanya apakah Indonesia termasuk 180 negara itu atau tidak….

Produksi Tembakau Meningkatkan Pemasukan Negara. Benarkah?

“…mempertimbangkan nasib petani tembakau, pemerintah menerima 110 triliun rupiah dari cukai tembakau dan penerimaan negara 150 triliun rupiah dari PPH dan pajak daerah…” (Dipo Alam, Mensekab Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II)

Setidaknya ada 2 alasan retoris mengapa pabrik tembakau dipertahankan. Pertama ialah rokok salah satu penyumbang pemasukan negara yang besar. Kenyataannya, pada 2004 jumlah pengeluaran akibat tembakau (termasuk untuk kesehatan, pengobatan, dan kematian) ialah sebesar 127,4 triliun rupiah. Pada 2010, negara merugi sebesar 231,7 triliun rupiah akibat rokok.

Kedua ialah untuk melindungi nasib petani tembakau dan buruh pabrik rokok. Hal yang nyata ialah industri rokok sangat buruk dalam pengupahan pekerja. Menurut WHO, upah buruh pabrik rokok ialah yang terendah dibandingkan dengan upah buruh industri seluruh Indonesia. Sebagai perbadingan, pada 2008 upah buruh industri lain rata-rata sebesar 886,5 ribu rupiah, sedangkan upah buruh pabrik rokok hanya 753,4 ribu rupiah.

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LDUI) mengungkapkan penemuan bahwa upah petani tembakau hanya 15-17 ribu rupiah/hari: sangat tidak sebanding dengan resiko pekerjaan mereka terhadap kesehatan. Masih menurut LDUI, mayoritas kondisi petani tembakau tidak terlalu baik dan akses terhadap air minum tidak memadai; untuk menyiasati rendahnya upah, petani turut memperkerjakan anak-anak mereka yang di bawah umur.

Tunggu Apalagi?

WHO menyampaikan data bahwa terdapat 6 juta orang meninggal/tahun akibat rokok, dengan 600 ribu di antaranya merupakan orang-orang nonperokok yang ikut kena musibah akibat lingkungan alias perokok pasif. Jika negara-negara di dunia tidak bertindak, diperkirakan terdapat 8 juta orang meninggal/tahun pada 2030.

Rokok tidak hanya membunuh orang yang menghisapnya, tapi juga orang-orang yang sama sekali tak terlibat dengan rokok namun ikut menghirup asapnya.

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menukarkan HIV-AIDS sesamanya,

Tapi kita tidak ketularan penyakitnya

Duduk kita di sebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,

Kita ketularan penyakitnya

Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS

Begitu tulis Taufiq Ismail dalam gumamannya “Tuhan 9 Centi”.

Negara mengkampanyekan tentang bahaya HIV-AIDS dan semua lapisan masyarakat setuju akan bahayanya. Tapi kenapa untuk rokok yang jauh lebih “menular” ketimbang penyakit tersebut masih ada pihak yang mendukungnya? Semua kepala mengangguk ketika disampaikan bahwa pengedar narkoba pantas dihukum berat hingga mendapat hukuman mati. Tapi kenapa untuk pengedar rokok yang membuat orang-orang usia produktif tewas dan sama-sama membuat ketagihan tidak diberlakukan hal yang sama?

Tidak bisakah pemerintah menyelamatkan nyawa rakyatnya dengan ikut meratifikasi FCTC? Mungkin bukan hanya pemerintah enggan, tapi ada “mafia” yang berusaha agar industri tembakau tumbuh subur di Indonesia. Saat ini DPR tengah membahas RUU Pertembakauan, sebuah RUU yang sangat mendukung industri rokok dan bertolak belakang dengan RUU yang sudah diajukan sebelumnya yaitu RUU Pengendalian Tembakau.

Apa bisa dikata. Akibat lobi para “mafia” tersebut, RUU yang bisa masuk secara ajaib ini, tanpa naskah akademik, pembahasan yang tidak terbuka, menjadi prioritas dalam Prolegnas 2015. Ada yang bilang kalau RUU tersebut disusun oleh orang Sampoerna. Berarti jika disahkan, UU negara kita dibuat oleh pengusaha rokok (???)

Negara kita memang surga tembakau. Seperti yang disampaikan oleh Taufiq Ismail dalam puisinya:

Indonesia adalah surga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Categories: esai, kesehatan, merenung | Tags: , , , | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,180 other followers