[FOTO] Seperti Kura-Kura, Menatap Desir Ombak Pantai Sungkun, Lombok Timur

DSCN0443

Bibir selatan pulau Lombok masih menyimpan eksotismenya. Seolah-olah sedang menjaga miliknya yang berharga, pantai-pantai dengan pasir jernih dan laut biru pekat masih ia sembunyikan. Bukankah untuk memperoleh keindahan, sering manusia harus berjuang dan berkorban? Mungkin itulah yang hendak diajarkan oleh pulau Lombok.

Salah satu pantai yang masih bersih dan murni ialah pantai sungkun, atau biasa disebut juga dengan pantai kura-kura. Masih belum banyak ia dikunjungi. Lokasinya pun sulit diakses, membuat perjalanan untuk menempuhnya terasa semakin menggairahkan. Jangankan saranda dan fasilitas penunjuang rekreasi, papan petunjuk menujunya saja masih pelit untuk menampakkan diri.

Ada beberapa jalur yang bisa dilalui untuk mencapai pantai tersebut. Pantai ini terletak di desa Pemongkong, kecamatan Jerowaru, kabupaten Lombok Timur, propinsi NTB. Untuk mencapainya, ambillah jalan menuju Lombok Timur, kemudian ke arah Keruak. Di Keruak, belok ke arah kecamatan Jerowaru. Di Jeroawu sebenarnya banyak pantai yang bagus dan masih sepi. Salah satu yang terkenal ialah pantai Pink. Butir-butir alga dicampur dengan percikan air dan sinar matahari membuat pasirnya terlihat berwarna pink.

Setelah berbelok ke arah Jerowaru, ikuti papan petunjuk ke arah pantai Pink/pantai Kaliantan/pantai Surga. Kita bisa ke pantai Sungkun melalui jalur Kaliantan atau Surga. Pengguna mobil hanya bisa mencapainya melalui jalur pantai Surga. Saya pribadi belum pernah melalui pantai Kaliantan. Teman yang pernah mencoba ke Sungkun melalui Kaliantan bercerita bahwa jalan di sana benar-benar jelek dan hanya bisa dilalui oleh sepeda motor.

Ikuti Petunjuk ke Arah Panti Surga

Ikuti Petunjuk ke Arah Pantai Surga

Ikuti papan jalan ke arah pantai Surga. Ikuti jalan raya beraspal, dan di sebelah kiri akan terlihat kantor Desa Ekas. Tak jauh di depan akan ada pertigaan dengan ke kanan berupa jalan berkerikil. Ambil jalan ke kanan itu dan nikmati jalanan yang rusak. Kita pun akan diminta berhati-hati akan melalui turunan pasir yang cukup curam. Persis setelah turunan ada penginapan yang cukup dikenal warga lokal yang bernama “Planet on The Heaven”. Ambillah jalan lurus terus.

Setelah Melewati Kantor Desa Ekas, Belok Kanan untuk ke Jalanan Berkerikil

Setelah Melewati Kantor Desa Ekas, Belok Kanan untuk ke Jalanan Berkerikil

Beginilah Penampakan Jalan ke Pantai-Pantai di Lombok Timur

Beginilah Penampakan Jalan ke Pantai-Pantai di Lombok Timur

(catatan: jika tidak berbelok kanan ke arah pantai Surga, bisa juga melalui jalan lurus terus; terus hingga ke ujung dunia. Di ujung sana akan ditemui pantai juga (kami menamakannya “Pantai Ujung Dunia” karena berada di ujung). Pantai Ujung Dunia pula memiliki pemandangan yang menarik dengan bukit-bukit yang membentang. Sebelum pantai tersebut ada belokan kecil ke kanan. Ambillah belok kanan dan ikut jalan berpasir-batu dan menanjak, terus hingga jalannya menurun. Setelah turun, ada pertigaan–pertigaan dengan jalan yang ke arah pantai surga. Beloklah ke kiri. Atau, jika ingin menikmati pantai Ujung Dunia terlebih dulu, jalan ke Sungkun juga bisa dilalui dengan melewati jalan berbukit pantai Ujung Dunia. Setelah menanjak layaknya mobil off-road, ambil jalan ke kanan.)

Setelah melewati penginapan Planet, tak jauh akan ada jalan kecil belok ke kanan. Belokan ke dua (yang jalannya sempit dan berupa tanah) merupakan arah ke pantai Surga. Ambillah jalan lurus terus, menanjak, untuk ke Sungkun. Berhati-hatilah terutama yang menggunakan mobil karena tanjakan tersebut beralaskan pasir. Jika hujan sepertinya jalan tersebut akan sangat licin dan saya tidak tahu apakah memungkinkan untuk dilewati atau tidak. Setelah menanjak, jalan menurun. Gunakanlah gigi rendah (gigi 1) untuk keamanan.

Pertigaan, dengan Belok Kanan ke Pantai Surga. Ambillah Jalan Lurus untuk ke Sungkun

Pertigaan, dengan Belok Kanan ke Pantai Surga. Ambillah Jalan Lurus untuk ke Sungkun

Setelah ambil turun jalan akan menjadi datar lurus, lalu akan ada pertigaan. Di pertigaan, menempel di batang pohon, ada papan kecil bertuliskan “Pantai Kura-Kura” dengan tanda panah ke kanan. Ambillah ke kanan.

Pertigaan. Belok Kanan untuk Sampai di Sungkun

Pertigaan. Belok Kanan untuk Sampai di Sungkun

Tak lama kemudian, pantai Sungkun dengan hallmark berupa pulau kecil berbentuk seperti kura-kura di tengah laut.

Voila! Sampai juga di Sungkun

Voila! Sampai juga di Sungkun

DSCN0450

Pulau Berbentuk Kura-Kura yang Merupakan Khas dari Pantai Sungkun

DSCN0408

DSCN0414

DSCN0410

Bukit Sebelah Utara

Bersama kura-kura raksasa

Pantai Sungkun cukup luas dengan di sebelah utara dan selatan terdapat tebing membentuk bukit. Jika mau, bukit tersebut dapat dinaiki. Jalut ke bukit utara cukup terjal namun memungkinkan untuk dilalui. Di atas bukit, kita akan bisa melihat pemandangan ombak yang menderu ke arah pasir pantai dari atas. Pulau kura-kura pun terlihat jelas.

Jalan terjal ke bukit sebelah utara

Jalan terjal ke bukit sebelah utara

Pemandangan dari atas bukit

Pemandangan dari atas bukit

Pemandangan dari atas bukit

Pemandangan dari atas bukit

Selfie in front of a giant turtle :)

Selfie in front of a giant turtle :)

Bukit sebelah selatan juga (sepertinya) memungkinkan untuk dinaiki, dan mungkin jalurnya lebih mudah. Untuk ke sana mesti berjalan cukup jau dari bukit selatan. Jika punya tenaga dan waktu cukup luang, puaskanlah rasa penasaran dengan menaikinya.

Sedikit catatan, jika ke pantai ini di hari libur, biasanya ada orang-orang nongkrong yang akan menghampiri wisatawan. Mereka akan memalak “uang kebersihan pantai” sebesar 20 ribu atau 30 ribu. Fenomena tersebut memang sangat menjengkelkan. Meski demikian, tetap kemegahan pantai Sungkun benar-benar menyenangkan untuk dinikmati, walau harus melewati panasnya matahari Lombok selatan dan perjalanan yang sangat jauh nan rusak.

Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , | Leave a comment

Paranoid Belajar dan Long Life Learning

Terus Menerus Belajar Merupakan Tuntutan bagi Setiap Dokter agar Dapat Memberikan Pelayanan Terbaik

Suatu siang hari di hari libur di pertengahan tahun 2009, beberapa mahasiswa FK Unpad tengah berkumpul di ruang kuliah. Mereka sedang tidak kuliah, tentu saja, karena hari libur. Waktu libur banyak digunakan untuk kegiatan-kegiatan kemahasiswaan; itulah yang sedang kami lakukan saat itu.

Saya tidak ingat persis ketika itu sedang kegiatan apa—semacam pelatihan manajemen dan organisasi untuk pengurus senat mahasiswa. Kegiatan dilakukan di hari Sabtu-Minggu—menginap—dan di hari Minggu siang, saya ikut duduk berkumpul dengan para panitia dan peserta di auditorium kuliah tersebut. Di tengah-tengah pembicaraan, salah satu pengurus senat senior mengangkat tangan dan berkata (kurang lebih), “Mahasiswa FK sekarang sedang mengalami paranoid belajar. Walaupun sudah berkali-kali buka buku, tetap saja dirasa tidak pernah cukup. Hal ini membuat mereka agak enggan untuk ikut kegiatan kemahasiswaan dan memilih hanya untuk belajar.”

Kegiatan Belajar yang “Tidak Pernah Cukup”

Jumlah pengurus senat yang ikut pelatihan tersebut memanglah tidak banyak—mungkin kurang dari setengah total pengurusnya. Wajar, karena saat itu sedang menjelang musim ujian. Sebagaimana suasana kampus pada umumnya, masa-masa dekat ujian merupakan waktu yang paling suram. Khusus bagi mahasiswa FK Unpad, terdapat ujian presentasi kasus di hadapan dua penguji yang bobotnya sebesar 40% dari seluruh nilai. Jika nilai ujian tersebut jatuh, maka jatuhlah seluruh nilai di semester tersebut.

Bagi orang-orang luar, mahasiswa FK mungkin dianggap tidak membaur, menutup diri, dan eksklusif. Setiap kali saya bertanya ke mahasiswa FK dari universitas lain apakah mereka dicap “eksklusif” oleh mahasiswa dari fakultas lain, jawabannya adalah iya. Buku tebal, kuliah yang padat, dan “tiada hari tanpa belajar” mungkin identik dengan mahasiswa FK. Terlebih kurikulum yang diterapkan saat ini adalah problem based learning (PBL) yang menuntut mahasiswa untuk banyak belajar sendiri ketimbang menerima kuliah.

Berkali-kali buka buku, baca slide materi kuliah, membuat tugas; rasanya ada saja yang kurang. Ketika mendapat suatu tugas untuk mempresentasikan suatu materi, lalu mendiskusikannya ke teman-teman satu kelompok tutorial, hal tersebut tidaklah cukup. Sulitnya untuk mengerti materi yang disampaikan oleh teman atau yang disampaikan sendiri adalah satu hal. Hal lain adalah banyak informasi yang telah disampaikan ternyata tidaklah cukup sebagai bekal untuk menghadapi ujian nanti. Rasanya banyak sekali, bahkan tak ada habisnya, materi yang belum dipelajari namun sepertinya akan keluar di waktu ujian.

Mungkin faktor kurikulum PBL yang meminta mahasiswa untuk mencari informasi dan belajar sendiri membuat seolah kaburnya batasan yang perlu dipelajari. Terlebih, para dosen selalu berpesan kepada mahasiswa untuk tak pernah puas dalam mencari tahu, dan menekankan bahwa tak ada batasan ruang lingkup materi untuk dipelajari. Hal ini rasanya sangat berbeda dibanding masa sekolah yang sang guru memberikan batasan bahan ujian kepada para mahasiswa.

Namun Dokter Sangat Dituntut untuk Terus Belajar

Tapi memang sistem pendidikan yang diterima ketika kuliah dahulu tidaklah salah—bahkan sangat benar. Ini benar-benar disadari ketika saya sudah bekerja menjadi dokter (walau saat ini masih sebatas dokter internship). Ilmu kedokteran benar-benar tidak memiliki batasan. Tidak ada template yang benar-benar baku saat menangani pasien. Walau ada guideline, ada keadaan tertentu yang membuatnya tidak bisa diaplikasikan. Kondisi penyakit banyak yang tidak khas sesuai dengan di buku. Banyak pula suatu penyakit yang “menyamar” sehingga terlihat seperti penyakit lain. Terlebih, kondisi-kondisi medis yang pernah dipelajari ketika kuliah hanyalah secuil dari kasus-kasus nyata yang ditemukan.

Saat ngobrol dengan dokter-dokter internship lulusan universitas lain, banyak istilah medis atau penyakit atau guideline penatalaksanaan yang saya baru dengar. Begitu pun sebaliknya, ada informasi yang saya ketahui namun mereka baru mendengarnya (walau lebih banyak yang saya tidak tahu karena waktu kuliah dulu sering skip :p). Teori-teori yang ada di buku tidak semuanya dilakukan di lapangan nyata, apalagi di rumah sakit daerah yang ketersediaan peralatan medis tidak selengkap di kota besar. Tiap rumah sakit atau dokter spesialis juga punya kebiasaan atau pilihan yang berbeda antara satu dengan yang lain dalam menghadapi kasus yang sama.

Ketika pertama kali mulai bekerja di rumah sakit, maka keadaannya bisa ditebak: saya banyak bingung, banyak salah dalam penanganan, banyak dikritik oleh rekan kerja yang lain, dan juga kondisi pamungkas TIBO (tiba-tiba bodoh). Beruntung, status saya masih dokter internship: walau sudah dianggap dokter yang kompeten, masih diberikan pendampingan atau bimbingan oleh dokter-dokter umum senior dan spesialis.

Banyaknya kebingungan dan ketidaktahuan saat bekerja ini melahirkan kembali kegelisahan dahulu yang disebut dengan paranoid. Selesainya kuliah kedokteran selama 5-6 tahun tidak berarti bahwa proses belajar sudah selesai. Sebaliknya, dengan banyak bertemu dan menangani pasien langsung oleh diri sendiri semakin menyadarkan untuk terus dan tak pernah habisnya belajar. Apalagi yang ditangani bukan mesin, bukanlah benda mati, juga bukan makhluk bernyawa bernama hewan, melainkan manusia.

Saya pernah membaca buku karangan seorang professor dari FK Unpad yang berjudul “Playing God”.  Buku yang berisikan pengalaman-pengalaman berharga ini memiliki bagian yang menyebutkan bahwa sang professor kebingungan dalam menangani seorang pasien karena kondisinya yang rumit. Professor itu pun harus “mengurung diri di perpustakaan” dan “membuka berbagai literatur”. Ya, bahkan seorang dokter dengan gelar akademis tertinggi pun masih harus membuka literatur untuk menangani kasus yang sulit.

Setelah berada di lapangan inilah saya benar-benar memahami apa yang disebut dengan long life learning. Saya pun mulai mengangguk ketika dahulu dosen meminta untuk tidak pernah puas mencari tahu dan tidak memiliki batasan dalam belajar.

Menumbuhkan Pembiasaan

Lamanya waktu studi untuk menjadi dokter dan bagi residen untuk menjadi dokter spesialis juga mulai bisa dimengerti. Rata-rata untuk menjadi dokter spesialis, dibutuhkan sekolah selama 5 tahun; waktu yang sangat lama bila dibandingkan dengan sekolah magister selama 2 tahun dan doktor selama 4 tahun. Ibu saya, seorang dokter spesialis anak, bilang bahwa sekolah spesialis itu lama karena untuk menumbuhkan “pembiasaan”.

Seorang dokter umum yang sudah lama bekerja di rumah sakit terbiasa untuk menangani pasien sesuai dengan guideline rumah sakit tersebut. Pekerjaan juga akan menuntutnya untuk membuka kembali literatur dan berkonsultasi ke dokter spesialis. Jam terbang yang tinggi dan ilmu yang terus-menerus dipakai membuatnya terbiasa untuk bekerja dengan cepat. Hal yang berbeda terjadi bagi dokter baru yang baru saja lulus dari universitas. Pengalaman praktek yang minim membuatnya butuh untuk beradaptasi.

Karena hal inilah saya merasa program “dokter internship” sangat bermanfaat. Tujuan dari program ini adalah untuk “pemahiran” bagi dokter-dokter yang baru saja lulus. Selama masa sekolah kebanyakan dokter baru belum pernah memegang dan menangani pasien sendiri, sehingga minim pengalaman. Melalui program internship, dokter-dokter baru memulai pengalamannya dengan pendampingan dokter senior. Ini menepis anggapan sebagian orang bahwa program internship tidaklah diperlukan. Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, seperti terbatasnya anggaran, jumlah wahana yang sedikit dibandingkan dengan jumlah dokter baru, dan gaji dokter internship yang sangat tidak layak, program pemahiran dan pembiasaan ini dapat menjadi bekal yang sangat berharga untuk bekerja secara benar-benar mandiri kelak.

Membedakan Paranoid Belajar dengan Long Life Learning

Walaupun terbiasa, kebutuhan untuk terus membuka buku dan belajar tidak bisa dinafikan. Ilmu kedokteran tidaklah bersifat kaku melainkan terus berkembang. Ada banyak kondisi medis yang sifatnya belum banyak diketahui. Begitu pun pengobatan untuk beberapa penyakit yang hingga saat ini belum menemukan standar yang memuaskan. Penelitian di bidang keodokteran terus dikembangkan agar dapat memberikan pelayanan yang maksimal. Setiap dokter wajib untuk meng-update ilmu pengetahuannya dengan mengikuti simposium atau workshop yang memaparkan informasi dan ilmu berdasarkan penelitian terbaru.

Keikutsertaan dalam kegiatan ilmiah ini menjadi syarat bagi setiap dokter agar dapat memperpanjang surat tanda registrasinya. Inilah mengapa pendidikan kedokteran disebut dengan long life learning.

Karena bersifat seumur hidup, terus belajar dan menggali ilmu pengetahuan bukan hanya merupakan kewajiban tapi juga “kebutuhan”. Karena kebutuhan, diperlukan sebuah pengaturan agar kegiatan belajar bersama kebutuhan-kebutuhan yang lain, seperti makan, tidur, rekreasi, dan berkeluarga, dapat terpenuhi. Kita bisa melihat seorang yang disebut berhasil dalam hidupnya ialah yang mampu mengelola kebutuhan hidupnya sehingga terpenuhi dan mengontrol dirinya dari keinginan-keinginanan yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Proses learning perlu dikelola sedemikian rupa agar tidak bersifat sporadis sehingga hasil pembelajaran yang didapat menjadi optimal.

Kemampuan untuk mengorganisasi kebutuhan tersebut dengan baik akan membedakan seorang yang paranoid belajar dengan long life learning. Penderita paranoid belajar akan menganggap bahwa proses belajar merupakan sebuah paksaan yang bersifat menyakitkan, berbeda dengan long life learner yang menyadarinya sebagai kebutuhan. Seorang yang belajar karena keterpaksaan dan karena kebutuhan tentu akan memiliki output yang berbeda.

Long life learning sangatlah dibutuhkan bagi manusia, terutama bagi para dokter agar dapat menjalankan profesinya dengan baik. Kebutuhan ini perlu ditanamkan sejak masa mahasiswa—saya pun menjadi sadar mengapa ketika kuliah dulu lebih banyak ditekankan untuk belajar sendiri ketimbang diberi kuliah. Jika mampu mengubah sudut pandang paranoid belajar menjadi long life learning, maka tidak perlu khawatir para pengurus organisasi senat mahasiswa meninggalkan amanahnya walaupun sedang dalam masa menjelang ujian.

Categories: gumaman, pembelajaran | Leave a comment

Bertuhan Atas Dasar Iman atau Tradisi?

Pada malam itu, tampak banyak orang berbahagia. Jalan diisi oleh orang-orang pawai membawa obor dan bedug. Gema takbir menghiasi langit. Suasana di malam itu memang seharusnya dihiasi oleh aura kebahagiaan. Tak terkecuali bagi dokter yang sedang jaga IGD.

Yahh, hari apa pun, kondisi apa pun, pelayanan gawat darurat tetap harus diberikan. Istilah “tidak ada hari libur bagi tenaga kesehatan” sangat cocok menggambarkan malam itu. Ekspektasi awal, pasien yang datang akan sedikit. Maklum, pada malam atau hari lebaran, orang-orang enggan ke rumah sakit. Jika mereka sedang sakit, banyak yang menunda pergi ke RS karena ingin menikmati ketupat di rumah dulu. Begitu pula pasien-pasien di bangsal (ruang rawat inap), kebanyakan minta pulang atas permintaan sendiri alias pulang paksa.

Tapi ternyata tidak demikian. Berbondong-bondong pasien terus berdatangan. “Serangan” ini berlanjut hingga esok harinya. Jika biasanya jumlah pasien satu shift (7 jam) hanya 15 orang, kini jumlahnya mencapai 25 orang. Kasus yang banyak muncul pada waktu itu bisa ditebak: cedera kepala ringan. Kondisi cedera tersebut umum ditemukan pada korban kecelekaan lalu lintas, pengendara motor, tidak memakai helm, ugal-ugalan, dan/atau mabok.

Rasanya benar-benar miris, di malam hari raya, banyak yang ugal-ugalan bahkan mabok. Dan ini tidak hanya di RS tempat saya bekerja saja. Keluhan yang sama juga disuarakan di RS-RS lainnya. Entah maksud orang-orang ini ingin ikut “berhari raya” atau sekedar ikut-ikutan meramaikan malam itu—meramaikan yang membuat resah. Saya pun ragu orang-orang ini berpuasa Ramadan.

Hari raya adalah selebrasi yang diperintahkan oleh agama. Tuhan memerintahkan umat Islam untuk merayakannya dengan makan dan haram untuk berpuasa. Namun, dengan memandang kejadian seperti ini, saya menjadi bertanya, atas dasar apa kita merayakan hari raya? Apakah memang atas dasar keimanan, yaitu perintah dari Allah SWT, atau sekedar budaya atau tradisi?

Pertanyaan ini membawa kita kembali ke sebuah pertanyaan yang sangat klasik: adakah tempat bagi budaya dan tradisi dalam agama?

Perlu kita pahami bahwa agama bukan sekedar ritual ibadah seperti solat, puasa, dan haji. Ia adalah petunjuk hidup atau way of life yang diturunkan oleh Tuhan agar manusia selamat. Di dalamnya terdapat rambu-rambu yang perlu diperhatikan, mana yang wajib dikerjakan, sunnah dikerjakan, makruh untuk dikerjakan, dan tidak boleh dikerjakan. Adanya aturan-aturan tersebut bukan tanpa alasan: semuanya dimaksudkan agar manusia menempuh jalan yang selamat di dunia yang sementara ini maupuan dunia kekal nanti. Betapa sayangnya Allah pada manusia karena Ia mau memberikan petunjuk jalan agar kita selamat.

Segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan rambu-rambu tersebut adalah hal yang mubah atau boleh, termasuk budaya atau tradisi. Selama ia tidak bertabrakan dengan apa yang dilarang oleh aturan syariat, maka ia sah-sah saja dikerjakan. Islam tidak menafikan suatu kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat secara turun-temurun sehingga menjadi tradisi dan budaya.

Tulisan ini tidak bermaksud memberikan fatwa, apakah budaya ini atau tradisi itu diperbolehkan atau tidak, haram atau tidak; tapi saya ingin merenung: kegiatan keagamaan kita selama ini dijalankan sebagai bentuk keimanan kita kepada Tuhan, atau sekedar mengikuti kebiasaan nenek moyang dan masyarakat sekitar belaka? Juga alasan kita beragama, apakah benar-benar karena iman kepada Allah SWT dan Rasulullah saw., atau karena mengikuti budaya beragama?

Islam turun ke muka bumi untuk semua umat, semua manusia, entah dia di belahan utara, belahan selatan, timur, tengah, atau barat. Jalan hidup ini ditujukan dan sesuai untuk semua manusia planet bumi ini. Begitu pula ia berlaku untuk selamanya, tidak akan ada lagi agama atau wahyu yang turun setelahnya. Tidak seperti agama Yahudi yang hanya ditujukan kepada Bani Israel, kemudian diutus Nabi Isa Al Masih as. untuk menyempurnakan agama kaum Israel tersebut.

Islam bersifat syumul, kamil, dan mutakamil. Syumul berarti menyeluruh, mencakup semua aspek kehidupan, mulai dari bangun tidur, masuk WC, hukum, ekonomi, dan kenegaraan. Kamil berarti sempurna, tidak perlu lagi ada pembaharuan atau revisi. Al Quran sebagai kitab suci umat Islam tidak perlu direvisi atau ada semacam pertemuan para ulama sejagat untuk membuat pembaharuan. Mutakamil yaitu menyempurnakan, Islam menyempurnakan agama yang dibawa oleh para rasul sebelumnya, yang dibawa oleh Musa as., Daud as., dan Isa as.

Tidak perlu ia disesuaikan dengan budaya setempat. Karena itu tidak perlu istilah islam nusantara, islam arab, atau yang lain-lain. Islam hanya satu, yaitu jalan hidup yang diturunkan oleh Allah SWT, disampaikan melalui Rasulullah saw. untuk segenap umat manusia. Jika disesuaikan dengan budaya maasing-masing, maka akan terjadi kebingungan. Islam di belahan bumi sebelah sini berbeda dengan belahan bumi sebelah sana. Jika ini terjadi, itu adalah sebuah kemunduran. Di zaman Rasulullah saw. tidak dikenal istilah “islam muhajirin” atau “islam anshar” atau “islam thaif’” atau “islam persia”. Semua pembeda akibat budaya atau letak geografis disatukan melalui ikatan iman.

Agama yang mengikuti kebudayaan pernah dicetuskan oleh salah satu proklamator negara kita, Ir. Soekarno. Beliau, ketika sidang BPUPKI, mengusulkan tentang dasar negara kepada majelis. Ada lima poin yang disampaikan, dengan poin kelima ialah “Ketuhanan yang Berkebudayaan”. Bahwa berketuhanan, atau memiliki tuhan, adalah bagian dari budaya. Tradisi yang diturunkan secara turun-temurun, yaitu tradisi bertuhan, menjadi landasan masyarakat Indonesia menyembah tuhan. Bahwa bertuhan dan menjalankan hidup beragama tak lebih dari budaya.

Sidang memang berarkhir dengan disahkannya Pancasila, sesuai yang kita kenal sekarang, sebagai dasar negara. Namun, sesuai apa yang Bung Karno bilang, kenyataan bahwa berketuhanan sebagai kebudayaan tidaklah hilang. Praktek dan ritual agama atas nama “Islam” yang kita jumpai saat ini banyak yang berasal dari warisan budaya ketimbang diajarkan Rasulullah saw. Adanya “islam kejawen” adalah salah satu contoh tercampurnya islam dengan budaya, dan gawatnya yang masuk ke dalamnya ialah unsur aqidah, hal yang tidak bisa ditawar dalam Islam. Keadaan ini membuat aktivitas keagamaan semakin buram: apa yang merupakan budaya dikira agama.

Implikasinya, seorang dapat melakukan ritual agama atau berhari raya atas dasar tradisi, bukan karena iman. Seorang solat dengan suatu tata cara tertentu karena tradisi yang diajarkan. Seorang berziarah kubur dengan tata cara tertentu pun karena tradisi turun-temurun. Apakah pernah orang-orang yang menajalankan tradisi ini mencari dalil dari Al Quran dan sunnah, bagaimana tata cara yang benar? Bukankah umat Islam diperintahkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah saw. dalam beribadah?

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 32)

Mungkin keadaan inilah yang membuat dideklarasikannya “islam nusantara” sebagai oposisi dari “islam arab”. Situasi timur tengah yang penuh konflik dan darah, munculnya gerakan khawarij seperti ISIS, serta melekatnya kebudayaan dalam aktivitas beragama hingga sekarang (dan juga tumbuhnya orang-orang liberal alias “JIL”) memicu apa yang disebut dengan islam nusantara ini. Hal ini memperkedil Islam, memecah-belahnya, sehingga ada islam nusantara, islam arab, mungkin juga islam eropa, islam amerika, dll. Padahal, Rasulullah saw. dahulu berjuang mempersatukan hati-hati kaum muslimin untuk meninggalkan dan bernaung di bawah iman.

Persaudaraan atas dasar iman lebih hakiki dan abadi ketimbang persaudaraan atas dasar kesukuan, kebudayaan, warna kulit, bahasa, dan letak geografis. Seorang tidak bisa memilih untuk lahir di mana, suku apa, warna kulit apa. Namun, ia bisa memilih secara sadar dan penuh akal sehat, apakah ia beriman atau tidak.

Jika seorang beragama karena budaya, adakah iman di dalamnya? Adakah ruh dalam tiap gerak sujud kepadaNya? Adakah cintanya kepada Rasulullah saw., dibuktikan dengan mengikuti sunnahnya ketimbang mengikuti tradisi?

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.’ Mereka menjawab, ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (Al Maidah: 104)

Wallahu a’lam.

Tidak ada iman dan ruh dalam ibadah membuatnya terasa hambar. Seorang solat namun tetap bermaksiat. Hal ini dikarenakan ia hanya melakukan aktivitas fisik ibadah tanpa ada penyertaan hati dan esensi. Jika seorang benar solatnya, maka seharusnya ia terlindungi dari perbuatan keji dan munkar. Bahwa ibadah bukan sekedar gerakan fisik belaka, tapi penyertaan hati dan iman didasari dengan ilmu yang benar, dan efeknya berdampak pada akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin ini yang menjadi rahasia kenapa Islam dahulu berkembang, meraih kejayaannya, dan mensejahterakan masyarakatnya.

Seharusnya itu semua tak lagi perlu terjadi, orang-orang berbondong-bondong masuk IGD karena ugal-ugalan dan mabok di malam hari raya. Kalau setiap dari kita menjalaninya atas dasar iman dan memahami esensinya, akhlak yang baik sudah otomatis terbentuk, dan “rahmat bagi semesta alam” bukan lagi sekedar angan-angan kosong belaka.

Semoga Allah memberi petunjuk dan melindungi kita semua dari kesesatan.

Categories: abstrak, merenung | Tags: , , | Leave a comment

Merayakan Idul Fitri, Merayakan “Hari Kemenangan”

Adalah salah satu dari dua hari raya umat Islam. Hari ini dirayakan tepat setelah umat Islam selesai berpuasa Ramadan. Bagi para sahabat dan ulama salafus salih, akhir Ramadan merupakan momen yang sangat menyedihkan dan penuh air mata. Satu bulan yang sangat mulia, yang di dalamnya penuh dengan keberkahan, tak terasa telah usai dan pergi setidaknya selama satu tahun. Itu pun jika umur masih mencapainya.

Walaupun kepergian Ramadan penuh dengan nuansa kesedihan, namun merayakah hari raya adalah kewajiban. Adalah hal yang sangat umum terjadi di berbagai negara idul fitri dirayakan dengan meriah. Sebagaimana sebuah perayaan, tentu kita harus menghindari sikap berlebih-lebihan. Dikhawatirkan terlalu terbuai dalam perayaan malah menghilangkan esensi dari idul fitri itu sendiri.

Hari Kemenangan?

Lumrah di negeri Indonesia bahwa idul fitri dipahami sebagai “hari kemenangan”. Hal ini dikarenakan masyarakat kita menyebutnya sebagai “idul fitrah”, dan diartikan sebagai “kembali ke fitrah”. Fitrah atau suci, yaitu ketika manusia bersih dari segala dosanya karena telah melaksanakan puasa Ramadan sebulan sebelumnya.

Sudah banyak artikel yang membahas mengenai makna idul fitri. Secara bahasa “iedul fithr” memiliki arti “hari raya makan” atau “hari raya berbuka”. Disebut demikian karena pada hari tersebut umat Islam tidak lagi berpuasa karena Ramadan telah selesai, malah diharamkan untuk berpuasa.

Menghayati Kembali Tujuan Satu Bulan Berpuasa

Tapi jika memang masyarakat kita lebih suka mengartikannya sebagai “hari kemenangan”, maka kita mesti merenungi apa maksud dari kemenangan.

“Menang” di sini diartikan bahwa kita telah mampu menahan diri untuk berpuasa selama sebulan. Mengendalikan diri agar tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa walau hukum asal dari hal-hal tersebut adalah boleh. Ya, merayakan sebuah hari karena kita telah berhasil “mengalahkan diri sendiri” selama sebulan ke belakang.

Jika mengerjakan yang halal saja tidak boleh (yaitu makan, minum, dan berhubungan bagi suami istri), apalagi yang haram? Karena itu mari kita ingat-ingat kembali selama sebulan ini, adakah masih kita berbuat hal yang haram? Meskipun hal yang haram tersebut secara hukum tidak membatalkan puasa (atau hal haram tersebut dilakukan di waktu berbuka), apakah esensi dari berpuasa dan mengalahkan diri sendiri tersebut sampai ke dalam hati kita?

Jika hal-hal seperti ini masih kita lalaikan di bulan Ramadan, apakah pantas bagi kita untuk merayakan hari kemenangan? Atau, jangan-jangan kita hanya ikut-ikutan saja untuk memeriahkan hari raya tersebut?

Kita ingat-ingat kembali juga, apa tujuan kita bersusah payah berpuasa selama sebulan? Kalau kita memikirkannya murni pakai logika, maka berpuasa itu tidak masuk akal. Manusia butuh kalori, butuh sumber energi untuk menjalankan aktivitas sehari-harinya. Kondisi kekurangan energi atau hipoglikemi dalam waktu berjam-jam akan membuat pekerjaan seseorang menjadi tidak efektif. Mungkin itu lah yang ada di dalam pikiran orang-orang tidak beriman yang memang tidak mengerti. Bahkan seorang liberalis dengan angkuhnya bercuit “Mana bisa Allah mewajibkan puasa? Padahal fitrah manusia itu kalau lapar ya makan, kalau haus ya minum.” (naudzubillah).

Orang-orang yang menjalani hidup murni hanya menggunakan logika tidak akan memahami makna iman. Alasan utama umat Islam berpuasa ialah karena diperintahkan oleh Allah. Disebutkan dalam Al Quran secara jelas dan benderang. Namun, Allah memerintahkan makhlukNya untuk berpuasa dengan suatu tujuan.

Apakah tujuan itu?

Ya, tujuan itu adalah agar kita bertaqwa. Pertanyaannya, setelah berpuasa selama sebulan, sudahkah kita menjadi insan yang bertaqwa?

Taqwa memiliki berbagai pengertian. Suatu ketika Umar bin Khatab pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa. Ubay berkata, “Apakah Anda pernah melewati jalan yang banyak durinya?” “Pernah,” jawab Umar. Ubay bertanya kembali, “Bagaimana ketika Anda melewatinya?” Umar menjawab, “Saya sungguh berhati-hati sekali supaya tidak kena duri.” Ubay berkata, “Itulah arti taqwa yang sebenar-benarnya.”

Apakah setelah selesai puasa Ramadan, kita menjadi semakin berhati-hati agar tidak berbuat dosa? Seberapa mampu kita menjaga diri agar senantiasa memilih jalan yang selamat dan tidak tertusuk duri maksiat?

Jika puasa tidak membuat menjadi pribadi yang bertaqwa, apakah kita termasuk yang disebut dalam hadis “Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali lapar dan dahaga.” (HR. At Thabrani)? Astagfirullah…

Mari diingat-ingat kembali tujuan kita berpuasa, lalu mengevaluasi diri. Jika dirasa belum, bahkan terasa masih jauh, maka berusahalah. Berusaha dan bermujahadah/bersungguh-sungguhlah sebelum nyawa mencapai tenggorokan.

Di akhir bulan Ramadan, saatnya kita perbanyak istigfar, perbarui tobat. Entah usia kita masih ada untuk Ramadan tahun depan atau tidak.

Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (Az Zumar: 53)

Pendidikan puasa selama sebulan akan terlihat hasilnya di bulan-bulan berikutnya. Karena, semenjak dikumandangkannya takbir pertanda masuk bulan syawal lah waktunya pembuktian. Apakah dari puasa sebulan yang lalu ada perbaikan yang didapatkan, atau hanya lapar dan haus; itu semua dibuktikan di bulan-bulan berikutnya.

Menggapai Keberkahan Iedul Fithr dengan Melaksanakan Sunnah

Idul fitri adalah untuk dirayakan. Tidak boleh ada yang berpuasa, dan seharusya setiap umat muslim bergembira. Tentu saja dirayakan dalam kadar yang wajar dan tidak berlebihan, apalagi sampai melupakan kewajiban.

Agar kebahagiaan ini bukan sekedar perayaan tapi juga bernilai ibadah, marilah laksanakan hal-hal yang disunnahkan ketika hari raya. Sebaliknya, hal-hal yang mendekatkan diri dari kelalaian mengingat Allah bahkan perbuatan dosa jangan sampai mengotori kemeriahan hari raya umat Islam ini.

  1. Takbir

Ibn Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi saw. keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai solat selesai. Setelah menyelesaikan solat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibn Abi Syaibah)

Takbir tidak harus di masji atau lapangan, tapi bisa dilakukan di mana saja. Disunnahkan bagi laki-laki untuk mengeraskan suaranya ketika bertakbir. Zikir takbir dimulai semenjak terbenam matahari (masuk bulah syawal) hingga solat ied dilaksanakan.

  1. Solat iedul fitri

Solat idul fitri adalah Sunnah muakkadah, bahkan ada ulama yang mewajibkannya. Karena itu, sangat dianjurkan bagi kaum muslimin untuk sola tied

“Rasulullah saw. dahulu keluar di hari idul fitri dan idul adha ke mushalla, yang pertama kali beliau lakukan adalah solat, lalu berpaling dan kemudian berdiri di hadapan manusia sedang mereka duduk di shaf-shaf mereka. Kemudian beliau menasehati dan memberi wasiat kepada mereka serta memberi perintah kepada mereka. Bila beliau ingin mengutus suatu utusan maka beliau utus, atau ingin memerintahkan sesuatu maka beliau perintahkan, lalu beliau pergi.” (HR. Bukhari)

  1. Makan sebelum solat

Disunnahkan untuk makan terlebih dahulu sebelum berangkat sola idul fitri.

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Adalah Rasulullah saw. tidak keluar di hari fitri sebelum beliau makan beberapa kurma. Murajja’ bin Raja’ berkata, ‘Abdullah berkata kepadaku, ‘”Ia mengatakan bahwa Anas berkata kepadanya, “”Nabi memakannya dalam jumlah ganjil.”” (HR. Bukhari)

  1. Berpakaian Rapi dan Berhias

Umar ra. mengambil sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar, lalu ia mendatangi Rasulullah saw., kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, belilah ini dan berhiaslah dengannya untuk hari raya dan menyambut tamu.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya ini adalah pakaian orang yang tidak mendapatkan bagian (di hari kiamat.)” (HR. Bukhari)

Imam AsySyaukani rahimahullah berkata, “Kesimpulannya, disyariatkan berhias pada hari raya dari hadis ini didasari oleh persetujuan nabi tentang berhias di hari raya. Adapun pengingkarannya hanya terbatas pada macam atau jenis pakaiannya, karena ia terbuat dari sutera.”

Yang perlu dicatat di sini ialah berpakaian rapih layaknya menyambut tamu, namun tidak harus berupa pakaian baru. Berhias di sini pun tentu berhias sesuai dengan tuntunan syariat.

  1. Mandi Pagi

Dalam sebuah atsar disebutkan:

Seseorang bertanya kepada Ali ra. tentang mandi, maka Ali berkata, “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Seorang itu berkata, “Tidak. Mandi itu yang benar-benar mandi.” Ali berkata, “Hari jumat, hari arafah, hari idul adha, dan hari idul fitri.” (HR. Al Baihaqi)

  1. Pulang dari Tempat Solat Ied dengan Rute yang Berbeda

Dari Jabir, ia berkata, “Nabi saw. apabila di hari ied beliau mengambil jalan yang berbeda.” (HR Bukhari)

Hikmah dari sunnah ini ialah agar dapat mengucapkan salam dan bersilaturahim dengan orang-orang di sekitar dari rute yang berbeda tersebut, serta untuk syiar Islam.

  1. Mengucapkan Ucapan Selamat Hari Raya

Kebanyakan masyarakat kita mengucapkan “Minal ‘aidin wal faidzin” yang berarti “dari yang kembali dan kemenangan” dan diikutin dengan “mohon maaf lahir dan batin”. Memang sudah menjadi tradisi dan budaya kita untuk maaf-memaafkan di hari idul fitri. Namun ucapan yang dianjurkan sebagaimana yang dilakukan para sahabat dan ulama salafus soleh ialah

Taqabballalhu minna wa minkum (semoga Allah menerima [amal ibadah] dari kami dan dari kalian)

Wallahu a’lam

 

*artikel ini juga dimuat di dakwatuna.com

Categories: merenung | Tags: , , | Leave a comment

Romantisme 10 Malam Terakhir

Sangat dianjurkan bagi setiap muslim untuk meraih malam qadar. Berdasarkan hadis-hadis yang ada, Rasulullah saw. mengindikasikan bahwa malam tersebut berada di malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan di antara malam-malam ganjil tersebut, waktu yang paling besar kemungkinannya ialah malam 25, 27, dan 29.

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malma terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cariah lailatur qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada Sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari)

Sangat dianjurkan untuk beri’tikaf di 10 malam terakhir Ramadhan. Untuk mendapatkan malam qadar memang tidak disyaratkan untuk beri’tikaf, misalnya bagi wanita yang tidak diizinkan untuk I’tikaf oleh suaminya, insyaAllah ia tetap bisa mendapatkan malam kemuliaan dengan menegakkan solat di rumahnya. Meski demikian, bagi yang mampu sangat dianjurkan untuk mengerjakannya.

“Rasulullah saw selalu mengerjakan I’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir Ramadhan, sampai saat beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

I’tikaf merupakan amal ibadah dan momen yang sangat dirindukan. Saat itu ialah ketika orang-orang berkumpul memenuhi masjid, tilawah Al Quran, mengkaji Al Quran, dan berdiri tegak untuk solat. Mungkin tidak ada momen ketika masjid begitu penuh terisi manusia untuk membaca Al Quran dan mengerjakan solat malam selain i’tikaf di 10 malam terakhir.

Saya ingin berbagi pengalaman I’tikaf sepanjang hidup hingga saat ini. Selama berada di Bandung, seingat saya hanya ada 2 masjid yang pernah saya singgahi untuk I’tikaf. Maklum, saya tipe yang kalau sudah nyaman di satu tempat sulit untuk move on. Kedua masjid itu ialah Masjid Habiburrahman yang sudah disebutkan sebelumnya dan Masjid AnNur PT Biofarma.

Menikmati Elegannya Masjid An Nur PT Biofarma

Masjid ini terbilang baru. Saya ingat masjid An Nur mulai fungsional digunakan ketika menjalani program studi profesi dokter (koas) tahun 2012. Ukurannya begitu mencolok untuk masjid sebuah perusahaan, bahkan termasuk masjid megah bila dibandingkan dengan masjid-masjid yang ada di Bandung. Sulit terpikirkan bahwa masjid yang tujuannya digunakan oleh para karyawannya untuk melaksanakan solat di waktu istirahat siang bisa sebesar itu.

Masjid An Nur PT Biofarma

Masjid An Nur PT Biofarma

Semenjak awal didirikan, masjid An Nur mulai melaksanakan kegiatan-kegaitan syiar yang sifatnya terbuka untuk umum. Salah satu agenda syiar yang pertama kali dilakukan ialah I’tikaf di tahun 2012. Ketika saya pertama kali I’tikaf, di tahun 2008, masjid yang mengadakan I’tikaf di Bandung belum terlalu banyak. Masjid-masjid tersebut di antaranya ialah Habiburrahman, Salman ITB, Daarut Tauhid, dan Al Hikmah PT Telkom. Ketika An Nur mengadakan I’tikaf untuk pertama kalinya, di tahun 2012, masih banyak yang belum tahu dan pesertanya masih sedikit.

Saya datang di waktu isya. Jamaah mengadakan solat isya, ceramah taraweh, dan solat taraweh seperti biasa. Selesai taraweh, tidak ada acara khusus. Masing-masing peserta I’tikaf mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah masing-masing. Kemudian, waktu tidur pun hampir tiba.

Di saat itulah An Nur mulai memberikan kesan pertamanya. Pihak panitia membagian bantal! Saya yakin belum ada masjid lain yang menyediakan bantal untuk tidur peserta I’tikaf. Sontak seluruh peserta terkejut dan kegirangan.

Bantal untuk peserta i'tikaf

Bantal untuk peserta i’tikaf

Hanya saja, pembagian bantal tersebut hanya dilakukan di I’tikaf tahun 2012. Di tahun-tahun selanjutnya, popularitas An Nur meningkat, peserta semakin membludak; entah bantalnya rusak atau jumlahnya tidak mencukupi, tidak ada lagi bagi-bagi bantal. Syukur saya termasuk salah satu yang pernah menikmati bantal An Nur :D

Peserta mulai bangun sekitar jam 2 atau 3 malam. Pihak panitia mengadakan qiyamulail berjamaah. Saat itu belum ada target bacaan surat sekian juz untuk qiyamulail. Imam membaca surat-surat yang memang tidak memiliki target tertentu. Kini, An Nur rutin mengadakan qiyamulail satu malam satu juz, atau total 10 malam I’tikaf qiyamulail sebanyak 10 juz. Alhamdulillah.

Kejutan selanjutnya pun muncul ketika qiyamulail selesai dilaksanakan. Saat pertama kali I’tikaf di An Nur, saya tidak membawa bekal sahur, berencana untuk pergi keluar cari makan seadanya. Tapi ternyata panitia datang membawa kotak-kotak makanan. Kotak-kotak itu pun dibagikan, dan ternyata di kotak itu bertuliskan “Nasi Pada Simpang Raya”, ada juga yang bertuliskan “McD”! Dibagikan cuma-cuma! Kami semua pun terkekeh dan mengembangkan senyum lebar sembari menikmati santap sahur.

Menu sahur

Menu sahur

Kini penyelenggaraan I’tkaf An Nur semakin terorganisasi dengan baik. Jadwal penceramah taraweh dan tausiyah subuh disusun dengan terencana, tak jarang pula mengundang ustadz kondang di Bandung, semisal ust. Darlis. Bahkan pernah juga An Nur mendatangkan syaikh dari Palestina yang sedang melakukan safari Ramadan. Acara qiyamulail pun diimami oleh santri tahfidz Quran dari Habiburrahman, dan setiap malam seluruh peserta berdiri berjamaah mendengarkan lantunan ayat Al Quran sebanyak 1 juz. Walaupun tidak pernah berdiam di dalam masjid An Nur hingga siang atau sore hari, saya mendengar bahwa di waktu siang dan sore pun diisi dengen aktivitas seperti kajian.

Semakin baiknya pelaksanaan I’tikaf, diisinya dengan aktivitas-aktivitas yang berbobot, berkualitasnya materi tausiyah dan penceramahnya, dan tentu saja buka puasa dan ifthor gratis, membuat kegiatan An Nur Biofarma semakin banyak peminat. Bahkan ada beberapa teman saya yang biasanya beri’tikaf di Habiburrahman beralih ke An Nur.

DKM An Nur Biofarma tidak hanya mengadakana kegiatan di bulan Ramadan. Di bulan-bulan biasa pun terkadang—mungkin program syi’ar bulanan—An Nur mengadakan kajian atau mabit mengundang pengisi-pengisi yang dikenal masyarakat, seperti walikota Bandung atau gubernur Jawa Barat.

Barakallahu para jajaran direksi PT Biofarma yang mau mengalokasikan dana sangat besar untuk masjid dan kegiata syi’ar Islam. Semoga Allah memberikan berkah kepada peusahaan dan para pekerja di dalamnya.

Habiburrahman yang Tak Mungkin Dilupakan

Masjid milik PT DI yang terletak di Bandara Husen Sastranegara Bandung merupakan lokasi I’tikaf primadona. Peserta I’tikaf tidak hanya berasa dari daerah Bandung, tapi juga dari kota-kota Jawa Barat sebelah timur seperti Kuningan dan Cirebon, bahkan seingat saya ada yang dari Sumatera dan Kalimantan! Ya, masjid yang mencetak para hafidz Quran ini merupakan pelopor pelaksana I’tikaf yang mengkhatamkan 30 juz Al Quran dalam qiyamulail-nya.

“Tempat I’tikafnya para ustadz”, begitulah Habiburrahman dikenal.

Saat saya baru masuk ke terasnya, atmosfer sudah dipenuhi oleh suara-suara tilawah; tidak hanya suara orang dewasa, tapi juga suara anak-anak. Karena selalu ramai, lapak dagangan pun banyak digelar di terasnya: ada yang jual buku bacaan islami, mushaf Al Quran, peci-sarung, parfum, cd murottal, dan makanan ringan.

Di teras masjid yang (insyaAllah) diberkahi tersebut juga dapat dilihat lingkaran-lingkaran kecil manusia. Tak jarang anak-anak sekolah berombongan ber’itikaf di sana. Ada juga yang di sela-sela waktu I’tikaf beberapa orang ikhwan dan akhawat mengadakan rapat atau syuro.

Ada juga di tepi sudut sana, seorang atau beberapa mahasiswa Fakultas Kedokteran membuka kertas flip chart, mengerjakan tugas learning objectives. Ada juga yang memegang buku atau kertas-kertas sambil ia memandanginya dengan serius, mempersiapkan diri untuk ujian esok harinya.

Salah satu yang khas dari masjid ini ialah disediakan area untuk mendirikan tenda. Peserta yang beri’tikaf bersama istri dan anak-anaknya banyak membawa dan membangun tenda di teras masjid. Benar-benar seperti bumi perkemahan.

Kamp pengungsi. Itu adalah kesan yang didapat saat melihat ke bagian utama masjid di jam 11 ke atas. Benar-benar berisi kerumunan manusia yang membaringkan diri. Sebelum jam 11, orang-orang melakukan berbagai macam hal di dalam. Kebanyakan sedang tilawah, ada sedang berdiri sambil bersedekap, ada juga yang menyengir sana-sini tengah berbincang hangat.

Suasana i'tikaf Habiburrahman

Suasana i’tikaf Habiburrahman

 

Banyaknya yang i'tikaf di habiburrahman, terutama di malam ganjil

Banyaknya yang i’tikaf di habiburrahman, terutama di malam ganjil

Saat saya ke Habiburrahman di masa mahasiswa, I’tikaf di Habib sudah sepeti reuni dengan teman-teman SMA. Ada saja wajah lama yang ditemui. Menanyakan kabar, apa kesibukannya, sudah menikah atau belum, saya beserta mereka turut serta menyengir dan berbincang.

Masjid Habiburrahman melayani para peserta yang ingin memesan makanan berbuka dan sahur. Tidak seperti An Nur yang memberikan secara gratis, panitia standby sekitar jam 15.30-17.00 untuk menerima pesanan berbuka dan jam 21.00-23.00 untuk melayani pemesanan sahur. Ada 4 macam jenis menu yang disedikan—kadang-kadang 3— dan tiap menu diwakili oleh kupon merah, kuning, biru, dan hijau. Saya ingat kalau kupon merah adalah menu nasi padang dan kupon hijau adalah menu nasi dan sayuran.

Tak perlu khawatir jika tidak sempat memesan makan ke panitia. Di area belakang masjid banyak pedagang kaki lima berjualan.

Panitia mulai mematikan lampu ruangan utama masjid jam 23.00. Para peserta yang masih ingin lanjut tilawah atau ngobrol atau lain-lain akan melanjutkannya di teras. Memang sebaiknya untuk segera tidur, karena para peserta akan dibangunkan jam 00.30, dan qiyamulail dilaksanakan jam 01.00

Itu adalah 3 juz, dan itu adalah berdiri di waktu malam sekitar 3 jam. Imam yang memimpin qiyamulail, ust. Abdul Aziz Abdur Rauf, mengucapkan ayat-ayat Al Quran penuh khidmat. Para makmum di belakang mendengarkan surat-surat panjang yang dibacakan, banyak yang berusaha mengikutinya dengan solat sambil membuka mushaf.

Kesan ketika pertama kali mengkuti QL tersebut ialah kaki pegal, telapak kaki terasa menebal, dan lutut bergetar. Kelopak mata terkadang menutup sedikit lalu membuka, dan mulut membuka lebar menelan oksigen. Setiap malamnya di masjid tersebut ialah begitu melelahkan.

Sekitar jam 4 kurang, witir dilaksanakan. Ketika imam di rakaat pertama membaca “sabbihisma robbikal a’la…” rasanya begitu lega. Maklum, karena di rakaat-rakaat sebelumnya bacaannya begitu panjang dan menguji kesabaran. Saat pertama kali ikut QL di sana, saya berpikir kelelahan telah berakhir di solat witir. Tapi ternyata tidak.

Di rakaat terakhir, saat I’tidal, imam membaca doa qunut. Dan bacaan doa qunut-nya terasa begitu panjang. Benar-benar panjang. Sebenarnya doa yang dibaca bernuansa kesedihan. Para makum yang kebanyakan mengerti bahasa arab turut menangis dengan khusyu. Sedangkan saya yang tidak paham, juga ikut khusyu…khusyu menahan rasa pegal :D.

Qiyamulail dimulai dari juz 1 di malam ke-21, dan berakhir di juz ke-30 pada malam ke-29, walau sekitar setengah juz atau lebih sudah dibacakan ketika taraweh. Di rakaat ke-8 di malam terakhir, ketika imam membaca surat An Naas, muncul keharuan di dalam benak para makmum—terutama bagi mereka yang benar-benar mengikuti I’tikaf dari hari pertama. Ya, akhirnya khatam Al Quran dalam 9 malam tersebut. Selesai membaca surat An Naas, imam melanjutkan dengan membaca doa; doa yang sangat panjang. Benar-benar panjang.

Berfoto dengan ust. Abdul Aziz Abdur Rauf pagi hari setelah QL terakhir, tahun 2011

Berfoto dengan ust. Abdul Aziz Abdur Rauf pagi hari setelah QL terakhir, tahun 2011

Sekarang mulai banyak masjid di Bandung yang mengadakan I’tikaf, tapi Habiburrahman takkan pernah bisa dilupakan. Ia adalah tempat kekhusyu’an, tempat kesabaran, dan tempat penuh kenangan.

Kini, di Selong, Lombok Timur

Sebagai daerah yang didominasi oleh Nahdhatul Wathan (NW, pecahan NU), seperti kebanyakan masjid NU, mereka tidak mengadakan I’tikaf—walau perayaan nuzulul Quran cukup ramai.

Ada dua masjid yang saya ketahui mengadakan I’tikaf, dua-duanya diselenggarakan oleh kader PKS. Para pesertanya pun kebanyakan (atau semuanya?) adalah para kader dan simpatisan PKS. Karena masjid yang dijadikan tempat I’tikaf tidak begitu besar, I’tikaf hanya dilakukan oleh kaum pria.

Lokasi masjid I’tikaf, yang saya dengar, berubah-ubah tiap tahunnya. Tahun ini, lokasi I’tikaf di selong ialah masjid khairu ummah yang berada di komplek DPD PKS Lombok TImur. I’tikaf di sini tidak menyelenggarakan QL berjamaah. Umumnya peserta bangun sekitar jam 3, lalu solat dan tilawah masing-masing.

DPD PKS lombok Timur

DPD PKS lombok Timur

Suasana i'tikaf di masjid khairu ummah

Suasana i’tikaf di masjid khairu ummah

Pemandangan yang menyejukkan 😊

Pemandangan yang menyejukkan 😊

Saya cukup salut dengan penyelenggaraan i’tikaf ini yang menyediakan buka puasa dan sahur gratis. Karena peserta tidak terlalu banyak, panitia membawa box-box yang berisi nasi, lauk, sayur, kerupuk, dll. Tentu saja ketika mengambil makanan—lauk terutama—harus dikira-kira agar seluruh peserta kebagian.

Walau peserta tidak banyak, suasana kekeluargaan benar-benar terasa di masjid yang tidak begitu luas ini.

———————————————————–

Apakah bila I’tikaf dilaksanakan sudah pasti akan mendapat lailatur qadr? Tidak ada yang menjamin. Bahkan seorang yang terbangun dan solat malam di rumahnya pun bisa mendapatkannya, jika Allah menghendaki.

Dapat atau tidaknya malam qadar, kita tidak tahu. Yang harus dilakukan hanyalah mengencangkan ibadah kita. Dan kita tidak boleh melupakana tujuan kita berpuasa Ramadan: bukan untuk ikut-ikutan, bukan untuk menurunkan berat badan, bukan untuk mendapatkan kehausan dan kelaparan; tapi untuk meraih peringkat taqwa.

Sudan sejauh manakah kita melangkah untuk menjadi pribadi bertaqwa semenjak hari pertama Ramadan? Sebesar apa progresnya?

Bulan Ramadan ialah bulan tarbiyyah. Dan layaknya proses pendidikan, hasil dari pendidikan sebulan Ramadan ini bisa dilihat dari bulan-bulan sesudahnya, apakah menjadi pribadi yang lebih berkualitas atau tidak.

Wallahu a’lam

Categories: gumaman, merenung | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,198 other followers