[FOTO] Terpercik Dinginnya Butir Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep, Lombok Utara

20150524_121553Wisata pantai merupakan keunggulan dari pulau Lombok. Pulau yang hanya berukuran 5.435 m2 ini memiliki pesona pesisir yang tak kalah indah dibanding pulau Dewata. Selain tempat-tempat yang sudah banyak dikenal, seperti pantai senggigi, kuta, dan tanjung ann, masih banyak pasir putih dan laut biru yang minim popularitas namun sungguh memukau.

Tapi keindahan Lombok tidak hanya itu. Ada satu objek yang begitu terkenal dan tak pernah sepi dari kunjungan turis lokal bahkan asing. Yap, dia adalah gunung Rinjani. Memang benar-benar suatu keunikan bahwa di pulau yang ukurannya tak seberapa ini tertancap gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia (setelah gunung Kerinci di Jambi). Berita mengenai keelokan sang gunung beserta kalderanya sudah tak asing lagi di telinga dunia. Gunung yang terletak di tengah-tengah pulau Lombok sebelah utara ini membuat atraksi Lombok tak semata didominasi oleh pantai. Di daerah pegunungan Rinjani, di sekitar pinggang sang gunung, mengalir deras bermacam-macam air terjun nan menakjubkan.

Jumlah air terjun di Lombok sangat banyak dan mayoritas berada di daerah utara. Jelajah seluruh air terjun di daerah utara bisa menjadi program perjalanan tersendiri. Namun, jika Anda berkunjung ke Lombok menggunakan biro travel, besar kemungkinan Anda akan diantar ke air terjun yang sangat populer—mungkin juga yang paling banyak dikunjungi—yaitu Sendang Gile dan Tiu Kelep.

Kedua air terjun ini berada di satu lokasi, dengan Tiu Kelep berada di atas Sendang Gile. Air yang terjatuh dari Tiu Kelep kemudian mengalir dalam sungai hingga terjatuh kembali sebagai Sendang Gile. Berposisi lebih rendah, Sendang Gile memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter, sedangkan kakaknya, Tiu Kelep, menderu melewati tebing berketinggian kurang lebih 45 meter.

Konon, dahulu kala seorang pangeran berlari dari kejaran seekor singa gila dan ia bersembunyi di balik air terjun. Legenda tersebut pun menjadi asal-usul nama Sendang Gile. Sedangkan “Tiu” merupakan bahasa sasak (bahasa daerah Lombok) yang berarti “kolam” dan “Kelep” berarti “terbang”. Kolam terbang? Diberi nama demikian karena sang air terjun begitu perkasanya hingga menerbangkan buih-buih membasahi sekitarnya layaknya gerimis. Di tempat jatuhnya Tiu Kelep pun terdapat kolam yang tidak begitu dalam, seukuran pinggang, yang cukup aman apabila pengunjung hendak berenang.

Sedang Gile dan Tiu Kelep terletak di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Tengah. Senaru sendiri merupakan salah gerbang pendakian ke gunung Rinjani. Mengenai perjalanan ke Rinjani, saya menyarankan untuk berangkat tidak melalui desa ini melainkan melalui Sembalun (cerita perjalanan ke Rinjani bisa dilihat di sini). Dikenal sebagai desa wisata, Senaru memiliki banyak penginapan, tempat informasi bagi turis yang ingin naik RInjani, dan tempat makan.

Waktu yang dibutuhkan dari Mataram-Desa Senaru kurang lebih 2,5-3 jam. Untuk masuk Senaru, pengunjung akan dikenakan biaya karcis masuk sebesar 10 ribu. Gerbang menuju air terjun tidak jauh dari lokasi parkir kendaraan. Ketika turun, akan ada orang-orang yang menawarkan untuk menjadi guide. Sebenarnya jalur ke Sendang Gile dan Tiu Kelep tidaklah sulit dan jalan setapaknya sangat jelas sehingga tidak pakai pemandu pun tidak masalah. Pengunjung mesti membayar kembali karcis 10 ribu/orang untuk dapat masuk area air terjun.

20150524_105225

Tempat Pembelian Karcis Masuk

Tempat Pembelian Karcis Masuk

Air terjun yang pertama kali akan dijumpai adalah Sendang Gile. Untuk ke sana, pengunjung harus berjalan kaki kurang lebih selama 7 menit. Jalanan berupa turunan dengan dasarnya sudah diaspal.

Jalanan Turun

Jalanan Turun

Tepat sebelum tiba di Sendang Gile, pejalan akan menuruni tangga-tangga dan kemudian menjumpai pertigaan, dengan jalan turun ke bawah menuju Sendang Gile dan belok kanan ke arah Tiu Kelep. Turunlah terlebih dulu karena ketika berada di sana berarti Sendang Gile sudah di depan mata.

Pertigaan. Lurus untuk Ke Sendang Gile, Belok Kanan untuk Ke Tiu Kelep

Pertigaan. Lurus untuk Ke Sendang Gile, Belok Kanan untuk Ke Tiu Kelep

Sendang Gile memang tidak memiliki kolam, tapi sering terlihat orang-orang bermain-main di bawahnya. Pada hari libur, ada beberapa orang yang buka lapak jualan makanan. JIka terik matahari tak terhalang awan, mudah sekali untuk menemukan lengkungan pelangi. Bagian tengah dari air terjun ini pun tertutupi oleh dedaunan tumbuhan paku.

Air Terjun Sendang Gile

Air Terjun Sendang Gile

20150524_110425

20150524_110517

20150524_110550

20150524_110705

20150524_110933

Terlihat Lengkungan Pelangi

Terlihat Lengkungan Pelangi

Okay, saatnya melanjutkan perjalanan ke Tiu Kelep. Dibutuhkan 15 menit berjalan kaki untuk menujunya dari Sendang Gile. Untuk ke sana, berjalanlah naik tangga kembali untuk kemudian berbelok kiri di pertigaan.

Jika jalanan sebelumnya telah diaspal, jalur menuju Tiu Kelep dibiarkan murni tanah dan berkerikil. Tak perlu khawatir tersesat karena jalan setapak telah terbentuk dengan jelas.

Jembatan Penyeberangan Lembah

Jembatan Penyeberangan Lembah

Berjalan Menyusuri Kanal Air

Berjalan Menyusuri Kanal Air

Tak lama, pejalan akan menemui sungai yang cukup lebar. Ia berasal dari Tiu Kelep untuk mengalir ke arah Sendang Gile. Sungai harus diseberangi dan pengunjung tak perlu ragu karena arusnya tak terlalu deras dan pejalan masih dapat berdiri dengan mantap di sungai tersebut. Lepaslah alas kaki untuk menyeberanginya agar aman. Perhatikan juga ketika melepas dan menyimpan alas kaki agar tidak terjatuh dan hanyut. Sekali saja terbawa arus, alas kaki atau barang Anda akan terseret sungai begitu cepat menuju hilirnya, dan Anda pun hanya bisa mengucapkan selamat tinggal. Simpan juga barang-barang elektronik dengan aman. Tinggi sungai tidak mencapai lutut sehingga realtif aman menyimpannya di dalam saku.

20150524_113153

Bersiap Menyeberangi Sungai

Bersiap Menyeberangi Sungai

Menyeberangi Sungai

Menyeberangi Sungai

Setidaknya pengunjung mesti menyeberangi sungai sebanyak 2 kali. Sensasi menyeberangi sungai di tengah hutan membuat wisata air terjun ini terasa menyenangkan :).

Sungai Lagi

Sungai Lagi

Menyeberangi Sungai Lagi

Menyeberangi Sungai Lagi

Berjalan Bernuansakan Hutan

Berjalan Bernuansakan Hutan

Saat Tiu Kelep mulai terlihat, pengunjung dapat mulai merasakan percikan buih-buih air membentur badan. Seolah terbang, butir-butir yang dipancarkan Tiu Kelep dihembuskan angin membasahi sekitarnya. Karena itu, ketika mendatangi Tiu Kelep, bersiap-siaplah untuk basah dan bila perlu bawa pakaian ganti.

Akhirnya Sampai di Tiu Kelep

Akhirnya Sampai di Tiu Kelep

Tiu Kelep terjun ke dasar yang membentuk kolam. Jika mau, pengunjung dapat berendam dan berenang namun jangan terkejut dengan suhu airnya yang dingin. Terkadang area Tiu Kelep dapat tertutupi oleh kabut jika titik-titik air tersebut sedang melayang rendah. Kolam Tiu Kelep yang langsung mengalir membentuk sungai membuat tempat tersebut penuh dengan genangan air, sehingga jagalah sepatu dan barang-barang berharga Anda agar tidak kebasahan.

Air terjun Tiu Kelep terlihat bertingkat dengan air yang jatuh di bagian atas terjun bebas bagaikan melompat indah. Di bagian bawah, air merambat pelan seolah menelusuri dedaunan paku, membuatnya seperti tirai tipis nan lebar.

Pijakan kebanyakan berupa bebatuan berlumut yang licin sehingga penting untuk berhati-hati dalam melangkah agar tidak terpeleset. Hal lain yang perlu diingat adalah jagalah kebersihan dan kelestarian agar kegagahan Tiu Kelep dapat terus dinikmati hingga generasi mendatang.

20150524_120138

20150524_120443

Mengagumi Tiu Kelep

Mengagumi Tiu Kelep

Kolam Tiu Kelep

Kolam Tiu Kelep

Berkali-kali mengambil foto di sana seolah takkan ada puasnya, karena memang keindahan ciptaan Allah SWT takkan pernah berhenti membuat kita bergetar. Ahh, memang banyak sekali alasan bagi kita untuk bertasbih dan memujiNya, bukan? Salah satunya dari kesempurnaan dan keindahan air terjun ini yang tak hentinya memercikkan butir air sebagai tanda salamnya kepada para manusia.

 

Bonus: saat jalan pulang, Anda bisa mencoba berjalan melewati terowongan kanal air yang terletak di jembatan penyeberangan lembah. Air yang mengalir di kanal cukup deras, namun manusia masih bisa berdiri tegak di atasnya. Lepas alas kaki agar ia tidak terbawa hanyut. Senter atau penerangan dapat digunakan karena terowongan tersebut cukup gelap. Pada akhirnya ia akan berakhir di tempat sebelum pertigaan Sendang Gile dan Tiu Kelep.

Terowongan Air

Terowongan Air

20150524_124439

Tempat Tembus Terowongan Air, di Pertigaan Tiu Kelep-Sendang Gile

Tempat Tembus Terowongan Air, di Pertigaan Tiu Kelep-Sendang Gile

Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , , | Leave a comment

[FOTO] Menyelami Keindahan Terumbu Karang nan Perawan di Gili Lampu, Lombok Timur

(catatan: sayang sekali ketika berkunjung ke Gili Lampu saya belum memiliki underwater camera sehingga tidak bisa merekam apa-apa. Semoga dalam waktu dekat saya bisa kembali untuk mengabadikan warna-warni terumbu karangnya yang masih perawan)

 

Pulau Lombok sudah banyak dikenal sebagai daerah wisata. Sebut saja Gili Trawangan, salah satu destinasi wisata yang sangat diincar oleh turis lokal hingga asing. Banyak wahana yang mampu memanjakan di sana, di antaranya ialah snorkeling. Kegiatan ini memang cukup banyak memiliki penggemar dan Lombok yang terkenal akan wisata pantainya tentu menjadi salah satu destinasi snorkeling.

Hanya saja, jika boleh berpendapat, Gili Trawangan bukanlah tempat terbaik untuk menikmati keindahan terumbu karang. Mungkin beberapa tahun lalu—waktu pulau mini tersebut masih sepi pengunjung—beragam warna-warni yang indah masih dapat dilihat. Namun, suasana Gili Trawangan yang tak pernah sepi dari pengunjung ditambah pembangunan sana sini membuat pesona terumbu karangnya berkurang. Jika ingin menikmati keindahan flora dan fauna bawah laut, ada satu tempat yang sangat direkomendasikan di Lombok. Ia adalah “Gili Lampu”.

Lombok sebenarnya masih memiliki banyak tempat yang sangat bagus untuk dikunjungi namun masih sepi pengunjung. Gili Lampu yang berada di Lombok Timur adalah salah satunya. Area timur memang belumlah sepopuler Senggigi di barat dan Gili Trawangan di utara. Ini adalah keuntungan tersendiri karena karang-karang yang ada di Gili Lampu belum  banyak terjamah.

Gili Lampu terletak di Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Awalnya ia merupakan tempat transmigrasi pensiunan tentara angkatan darat, sehingga daerah tersebut disebut “Transad”. Meskipun namanya “gili” (gili berasal dari bahasa sasak yang berarti “pulau”), tapi Gili Lampu bukanlah pulau melainkan sebuah pelabuhan kecil. Kapal-kapal nelayan berbaris di bibirnya, digunakan untuk memancing atau mengantar tamu untuk snorkeling. Selain kegiatan favorit tersebut, Gili Lampu juga menawarkan wahana-wahana lain, namun tetap wahana utama dan yang paling populer ialah wisata bawah laut.

Lama perjalanan dari Mataram – Gili Lampu kurang lebih 2-3 jam. Lombok jarang ada kendaraan umum sehingga untuk mencapainya memang harus menggunakan kendaraan pribadi. Karcis parkir di sana seharga 2.500. Pengunjung akan diberi pilihan lokasi snorkeling. Titik-titik snorkeling di sana ada Petagan, Gili Bidara, dan Gili Kondo. Jika hanya ke Gili Kondo, biaya sewa kapal sebesar 250 ribu. Kalau ingin paket lengkap—snorkeling di Petagan, Gili Bidara, GIli Kondo, dan bonus ke Gili Pasir/Gili Kapal—biayanya sebesar 450 ribu. Harga tersebut belum termasuk sewa alat snorkel dan life vest, yaitu 25 ribu/unit. Sangat direkomendasikan untuk mengambil paket lengkap karena tiap titik menawarkan keindahan yang berbeda. Oh ya, dengan harga segitu pengunjung dapat menyewa kapal sepuasnya tanpa batas waktu.

Selamat Datang di Gili Lampu

Selamat Datang di Gili Lampu

Wahana-Wahana di Gili Lampu

Wahana-Wahana di Gili Lampu

Dermaga Gili Lampu

Dermaga Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Naik Kapal

Naik Kapal

Meluncur Gan

Meluncur Gan

Jarak dari pelabuhan ke tempat snorkeling lumayan jauh. Pertama-tama kapal akan dilajukan melewati hutan mangrove di tengah laut. Tumbuhan berbentuk seperti semak-semak menyembul dari permukaan laut, berderet layaknya berbaris rapi membentuk hutan. Di bawahnya, tenggelam dalam laut yang tidak begitu dalam, tampak rerumputan tegak beridiri. Pengemudi mengarahkan kapal melewati mangrove yang berjajar di kanan dan kiri, seolah sedang menyusuri laut di pinggir hutan hujan tropis :).

Hutang Mangrove di Tengah Laut

Hutang Mangrove di Tengah Laut

Di Bawah Laut Terlihat Rerumputan Tegak

Di Bawah Laut Terlihat Rerumputan Tegak

Berlayar Sembari Disaksikan Pohon-Pohon Mangrove di Kanan Kiri

Berlayar Sembari Disaksikan Pohon-Pohon Mangrove di Kanan Kiri

Jika beruntung, pengunjung dapat dibuat terkesima melihat ikan-ikan kecil melompat-lompat seolah mengepakkan sayap. Sayang kala itu saya tidak sempat mempotretnya.

Titik yang pertama kami kunjungi ialah Gili Kapal. Ia sebenarnya berupa Gosong Pasir, daratan pasir mini yang muncul ke permukaan laut terutama saat terjadi surut. Saat itu kami beruntung karena gosong tersebut tengah menunjukkan wajahnya.

Gili Kapal

Gili Kapal

Daratan Gili Kapal

Daratan Gili Kapal

Pasir dan Batu Karang di Gili Kapal

Pasir dan Batu Karang di Gili Kapal

Selamat Datang di Gili Kapal

Selamat Datang di Gili Kapal

Tak lama, kapal pun menuju lokasi snorkeling pertama, suatu tempat di tengah laut yang disebut “Petagan”. Kelebihan snorkeling di Gili Lampu ialah kekayaan terumbu karangnya akan warna dan masih jernih dari perusakan manusia. Kita benar-benar bisa memuaskan mata meresapi keindahan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Terumbu Karang, Terlihati dari Atas Laut, di Petagan

Terumbu Karang, Terlihati dari Atas Laut, di Petagan

P1030454 P1030455

Mulai Snorkeling

Mulai Snorkeling

Bersiap :)

Bersiap :)

Lokasi selanjutnya ialah Gili Bidara. Sesuai namanya, ia merupakan pulau kecil di seberang Pulau Lombok. Dekat pesisirnya berbaris terumbu karang-terumbu karang yang memukau. Di antara semua lokasi snorkeling di Gili Lampu, Gili Bidara merupakan tempat dengan terumbu karang terindah! Hanya saja perlu kewaspadaan untuk snorkeling di sini. Tempat snorkeling berada di perairan dangkal sehingga mudah bagi pengunjung untuk berdiri, dengan di dasarnya banyak terdapat bulu babi. Duri tegar kehitaman layaknya tombak muram siap menusuk kaki-kaki tanpa perlindungan. Karena itu, penting untuk berhati-hati memilih tempat untuk berdiri atau gunakan sepatu katak (di Gili Lampu juga ada penyewaan sepatu katak, disewakan terpisah dari alat snorkel). Jika tertusuk bulu babi, hancurkan si duri di kaki dengan memukul-mukulnya menggunakan batu hingga hancur, lalu gunakan peniti untuk mengeluarkannya.

Setelah snorkeling, pengunjung bisa meminta untuk dibawa ke Gili Bidara. Menurut info dari guide yang mengantar kami, Gili Bidara, meskpun berukuran mini, ditempati oleh beberapa nelayan. Terdapat beberapa bangunan rumah di dekat pinggiran pulau. Tanah di atasnya pun digarap oleh penduduk menjadi ladang (saya sempat menanyakan apa yang ditanam di sana, tapi sayangnya si ingatan gampang sekali untuk menghilang ^^”). Memang tidak ada apa-apa di sana, tapi lumayan untuk ambil foto.

Menuju Gili Bidara

Menuju Gili Bidara

Terlihat Beberapa Bangunan Rumah di Gili Bidara

Terlihat Beberapa Bangunan Rumah di Gili Bidara

Menuju Gili Bidara

Menuju Gili Bidara

Selamat Datang di Gili Bidara

Selamat Datang di Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Daratan Gili Bidara

Daratan Gili Bidara

Tanah Digarap di Gili Bidara

Tanah Digarap di Gili Bidara

Gili Kondo merupakan tempat terakhir untuk dikunjungi. Seperti Gili Bidara, ia adalah pulau kecil yang tidak dibuat pembangunan seperti Gili Trawangan, namun ukurannya sedikit lebih besar dan ada saung-saung untuk berteduh. Titik snorkeling Gili Kondo berada tepat di pinggir pesisir. Bisa dibilang warna terumbu karang di sana lebih beragam, hanya saja tidak seluas dan sekaya Gili Bidara.

Terlihat Gili Kondo

Terlihat Gili Kondo

Selamat Datang di Gili Kondo

Selamat Datang di Gili Kondo

P1030520

Katanya Batang Kayu Ini Adalah Trademark dari Gili Kondo

Katanya Batang Kayu Ini Adalah Trademark dari Gili Kondo

P1030530

Tepian Gili Kondo

Tepian Gili Kondo

Asik Nih Kayaknya Kalau Ngecamp  di Sini :)

Asik Nih Kayaknya Kalau Ngecamp di Sini :)

Lokasi Snorkeling Ada Di Pinggir Sini

Lokasi Snorkeling Ada Di Pinggir Sini

Intinya, Gili Lampu, khususnya Gili Bidara, adalah tempat terbaik untuk snorkeling di Pulau Lombok—menurut saya ya, heheh—jauh jika dibandingkan Gili Trawangan. Sayang sekali jika bermain-main ke Lombok namun tidak menyapa terumbu karang di sana yang begitu jernih.

Jika Anda berkunjung ke Gili Lampu, ingatlah bahwa alam bumi bukan hanya milik generasi saat ini. Tentu sayang sekali jika keturunan kita di tahun-tahun berikutnya tidak bisa menikmati keindahannya. Peliharalah kebersihan dan kelestarian pesona terumbu karang di dalamnya. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga segala keindahan yang masih tersisa di bumi ini :).

Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Mengabdi, Menjemput Kematian?

Baru-baru ini ramai di media sosial berita tentang meninggalnya salah satu dokter yang tengah bertugas di Papua. Dunia kedokteran dan kesehatan berduka setelah dr. Dhanny Elya Tangke tidak bertahan menghadapi malaria. Dokter lulusan Universitas Hasanudin tahun 2012 itu sedang menjalani tahun ketiganya mengabdi di distrik Weime, Kabupaten Pegunungan Bintang, Propinsi Papua. Berita kepergiannya menjadi viral di jagat dunia maya dan ucapan belasungkawa mengalir deras.

Indonesia timur memang terkenal sebagai daerah endemis malaria. Tidak hanya di Papua, tapi juga di Maluku bahkan di kepulauan Indonesia tengah seperti NTB dan NTT. Berita semacam ini sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Jumlah dokter yang meninggal dalam tugas tak terhitung dengan berbagai penyebabnya. Selain malaria yang berkomplikasi ke otak, sering terdengar di telinga para dokter tentang gugurnya para sejawat mereka karena kecelakaan dalam tugas seperti tenggelam dan jatuh ke jurang.

Tugas ke daerah terpencil dan sangat terpencil tentu memiliki resiko lebih ketimbang di daerah kota padat. Sarana dan prasarana amatlah kurang, terutama fasilias kesehatan. Seorang yang terkena malaria yang berkomplikasi ke mana-mana tidak bisa ditangani di rumah sakit yang berada di pegunungan, namun harus dirujuk minimal ke rumah sakit rujukan propinsi (RSUP). Perjalanan ke RSUP sendiri membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pada kasus dr, Dhanny, ia terlambat dievakuasi BEBERAPA HARI karena kendala cuaca.

Sangat banyak kasus pasien meninggal dalam perjalanan atau di RS daerah akibat terlambat dirujuk. Ada berapa banyak jumlah pasien meninggal akibat cedera kepala berat? Indonesia salah satu negara dengan angka kejadian cedera kepala berat yang tinggi. Penyebabnya bisa ditebak: banyaknya pengguna sepeda motor yang berkendara semena-mena, tanpa rem, tanpa kaca spion, bonceng 3 hingga 4, dan paling parah tanpa helm. Seorang yang terkena cedera kepala berat harus cepat dinilai melalui pemeriksaan CT-Scan dan SEGERA dievakuasi perdarahan otaknya di meja operasi. Sayangnya, fasilitas CT-Scan hanya ada di RSUP. Sebelum sempat discan pun banyak yang sudah tewas duluan.

Itu adalah sebagian cerita tentang menyedihkannya fasilitas sarana kesehatan kita. Alih-alih pemerintah menyediakan dana untuk meningkatkan sarana kesehatan yang merata, anggaran kesehatan yang tidak mencapai 5% banyak terpakai untuk program Jaminan Kesehatan Nasional atau yang kita kenal sebagai BPJS. Insan kesehatan sudah menyuarakan bahwa premi BPJS terlalu rendah, yang awalnya disarankan oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) sebesar 66 ribu, setelah melewati DPR menjadi 23 ribu. Beberapa waktu lalu pun banyak masukan untuk menaikkan premi, namun lagi-lagi ditolak oleh DPR, dan mereka menyarankan untuk meningkatkan alokasi anggaran dari pemerintah untuk penanggungan BPJS. Memang program jaminan nasional berbasis asuransi ini banyak bermanfaat, namun bisakah terbayangkan alokasi untuk peningkatan kualitas jasa dan fasilitas kesehatan yang terkena dampaknya? Kondisi ini diperparah dengan belum tersebarluasnya kepesertaan BPJS, atau keadaan yang sangat sering dijumpai di RS: sudah sakit baru daftar BPJS. Jangan tanyakan besar jasa para tenaga kesehatan yang melayani jumlah peserta BPJS yang tiap harinya makin meningkat.

Tapi profesi kesehatan ialah pengabdian. Berapa pun besaran jasanya, dokter dan RS tak pernah boleh menolak untuk memberikan pelayanan. Para buruh dapat menurunkan massanya ke tengah jalan jika upah dirasa tak layak, namun dokter dan tenaga kesehatan lainnya tidak seperti demikian. Para dokter telah terikat dengan sumpah yang mereka ucapkan saat dilantik, “Saya aka membaktikan hidup saya demi kepentingan perikemanusiaan”.

Ributnya kondisi di atas tidak menyurutkan semangat pengabdian sebagian dokter untuk menjelajah ke pegunungan atau ke tengah hutan atau ke pualu terpencil. Daerah- daerah demikian tidak hanya minim fasilitas tapi juga tenaga kesehatan terutama dokter. Bertugas ke daerah terpencil tentu mengorbankan banyak hal. Terasing meninggalkan kenyamanan dan kemewahan metropolitan, jauhnya dari rumah dan keluarga, bertemu wajah-wajah asing dengan watak dan budaya yang sangat berbeda, dan berhadapan dengan ganasnya nyamuk anopheles atau jurang terjal atau amukan ombak atau bahkan adu parang dan peluru antarwarga.

Tentang malaria, ada kisah dari seorang senior yang pernah menjadi dokter PTT (pegawai tidak tetap) di Maluku. Umumnya, seorang yang akan datang ke daerah endemis malaria akan minum obat profilaksis (pencegahan). Dari 8 orang yang bertugas di sana, yang pertama kali terkena malaria adalah orang yang minum obat profilaksis! Senior saya sendiri selama PTT setahun sudah dua kali terkena malaria, sekali terkena malaria ringan (jenis malaria vivax) dan sekali malaria ganas (jenis malaria falciparum).

Ia juga bercerita tentang dokter satu almamater angkatan 2001 yang terkena malaria berkomplikasi ke otak (malaria cerebral). Ia dievakuasi ke RS Cipto Mangunkusumo dan berhasil selamat, setelah yang mengantarkannya selama perjalanan tidak bosan-bosannya melakukan resusitasi jantung paru dan menyuntikkan adrenalin.

“Untuk adik-adik yang mau PTT ke daerah endemik, saran saya ga usah repot-repot minum obat profilaksis…pasti kena,” petuah senior saya tersebut. Yang terpenting, menurutnya, yakinkan ada fasilitas pemeriksaan apus darah tepi dan obat malaria di puskesmas. Gejala awal malaria falciparum yang tidak khas, berupa nyeri perut, dikasih obat mag tidak mempan, setelah diberi obat malaria baru hilang. Ketika diperiksa apus darah tepi, positif malaria ganas….

DIGITAL CAMERA

Salah Seorang Dokter PTT Bertugas di Pedalaman Papua (sumber gambar: http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2013/01/15/dedikasi-dokter-di-daerah-terpenil-525430.html)

Itu baru malaria, belum kisah-kisah berbahaya lainnya yang tidak terekam media.

Tidakkah mengabdi itu seolah seperti menjemput kematian sendiri? Jika mengabdi itu memang berbahaya, apakah ia adalah alasan bagi kita untuk menghindarinya? Lalu, jika tidak ada satu pun yang mau mengabdi karena takut mati, masih adakah kata “kemanusiaan” di buku kamus bahasa?

“Hidup hakikatnya adalah perjalanan, dari satu waktu ke waktu lain menuju mati,” begitu seorang tokoh senior Wanadri dan seniman asal Bandung, Abah Iwan, bernyanyi. Jika yang dikhawatirkan adalah kematian, maka solusi terbaik ialah tidak pernah dilahirkan ke dunia. Sejak lahir pun seluruh sel dalam tubuh kita sudah memiliki kode untuk menghancurkan dirinya sendiri jika waktunya tiba. Kematian adalah keniscayaan; yang membedakan adalah bagaimana manusia berada di dalamnya, dalam kehinaan atau kemuliaan.

Adakah berada di kota besar akan mengamankan kita dari kematian? Tidak. Tak satu pun yang mampu lari darinya jika telah ditakdirkan.

“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya akan disempurnakan pahala kalian pada hari kiamat. Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka ia benar-benar telah beruntung. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya” (QS. Ali Imran: 185)

Mengabdi bukanlah menjemput mati, melainkan justru menjemput kehidupan. Awalnya manusia berada di dalam ruangan yang sangat sempit, di dalam rahim sang ibu. Kemudian, sambil menghembuskan nafas ia keluar menuju tempat yang lebih luas, dunia. Di masa kanak-kanak, area kehidupannya hanya berkisar rumah dan sekitarnya. Setelah beranjak dewasa, kehidupannya tumbuh seiring dengan meluasnya tempat hidupnya. Hingga kemudian, nafas-nafas kehidupannya melebar ke sudut-sudut yang terlupakan, terpencil dan jauh dari keramaian manusia, untuk berbagi senyum kehidupan. Jika enggan untuk melakukan perjalanan hingga ke sudut-sudut tersebut, tidakkah kehidupan kan terasa terlalu sempit?

Mengabdi ialah melakukan perjalanan. Langkah demi langkah harus terus dijejakkan. Manusia takkan pernah bisa hidup diam dan tak bergerak. Pepatah Arab mengatakan kehidupan manusia bagaikan air; jika mengalir ia menjadi jernih, namun jika diam dan menggenang ia kan kotor.

Jika mendengar kisah betapa berbahaya dan menantangnya di jalan pengabdian, maka yang muncul seharusnya ialah bukan takut melainkan bertambah semangat. Tentu melakukan perjalanan bukanlah untuk bunuh diri.

Tujuan dari perjalanan ialah “sampai di tujuan dan pulang kembali dengan selamat”. Berhasil atau tidaknya perjalanan sangat ditentukan oleh matangnya persiapan. Prinsipnya ialah “jangan lakukan perjalanan jika tidak memiliki persiapan”. Kadar persiapan tiap perjalanan tentu berbeda. Mendaki gunung es tentu memiliki persiapan yang jauh berbeda ketimbang mendaki gunung non-es. Menempuh rimba selama seminggu butuh persiapan ekstra ketimbang berkemah hanya semalam. Begitu pun ketika bertugas ke pedalaman: lakukan persiapan sebaik mungkin dan gali informasi yang banyak sebelum berangkat.

Ini pula yang membedakan antara “nekat” dan “berani”: orang yang berani berjalan menantang bahaya namun telah memiliki perhitungan, berbeda dengan nekat.

Mungkin kita kan bertanya, menyesalkah dr. Dhanny masuk ke pedalaman Papua setelah ia tahu kondisinya demikian? Tidak ada yang tahu. Tapi saya yakin—maafkan saya yang sok tahu ini—ia tidak menyesal, karena ia sendiri pernah bertutur, “Adalah kegembiraan dan kehormatan bagi saya bila dapat membantu dan melayani masyarakat di daerah terpencil”.

Jasadnya telah mati, seperti kita semua yang juga akan mati. Tapi, apakah jasa-jasa kita juga kan terkenang? Adakah nama kita kan juga mengabadi dan memberi inspirasi? Itulah perbedaannya antara pengabdi dan orang biasa.

Di akhir, saya ingin mengutip lirik “Balada Prajurit” yang diciptakan oleh Abah Iwan, berisi tentang para prajurit yang bertugas demi tanah air. Ya, para dokter yang mengabdi dan profesi apa pun yang mencurahkan pengorbanannya demi bangsa dan negara pada hakikatnya adalah para prajurit tanah air.

BALADA SEORANG PRAJURIT

Bangunlah hai prajurit, Siagakan dirimu

Berlatih tak pernah kenal berhenti

Gembirakan hatimu, Kobarkan semangatmu

Putus asa jauhkan dari dirimu

 

Bertempur pantang mundur

Lebih baik hancur lebur

Bila perlu demi tugas rela gugur

Bagi seorang ksatria kehormatan yang utama

Keringat dan darah siap kukorbankan

 

Gunung-gunung kudaki, Jurang curam kuturuni

Biar siang biar malam tak peduli

Hutan rimba kuarungi, Sungai deras kuseberangi

Biar hujan biar panas tak peduli

 

Sungguh jauh dari rumah, Rasa rindu tak tertahan

Namun tugas bagiku lebih utama

Demi kehormatan bangsa, Demi rakyat yang tercinta

Jiwa raga bila perlu kukorbankan

Bangunlah hai prajurit Siagakan dirimu

Categories: kesehatan, merenung, pembelajaran | Tags: , , , , | Leave a comment

Kebahagiaan yang Sederhana

Tak disangka perjalanan turun ke danau Segara Anak cukup jauh. Awalnya sy berpikir untuk mencapainya dari pelawangan Sembalun cukup berjalan turun menuruni punggungan secara lurus. Tapi ternyata danau itu terletak di sisi yang berlainan. Tidak hanya turun, pendaki pun mesti menyeberangi lembahan-lembahan. Akibatnya, perjalanan terasa jauh karena jaraknya yang panjang.

Kelelahan, seorang teman perjalanan berhenti dan berbicara ke arah sy, “Kang, minta minum.” Setelah dua hingga tiga kali tegukan, ia berujar, “Ahh…di sini air putih aja terasa nikmat ya.”

Yang diminumnya memang hanya air putih—air tawar biasa yang sehari-hari manusia minum dan hampir bisa ditemukan di mana saja—namun baginya kala itu terasa begitu nikmat. Apakah rasanya berbeda? Tidak. Tidak ada yang berbeda, kecuali lokasi dan keadaan saat itu.

Kami tengah berada di padang rumput, tengah perjalanan dari pelawangan Sembalun menuju danau Segara Anak—di alam terbuka. Tidak seperti kota, alam tidaklah memiliki fasilitas yang dapat memanjakan manusia. Semuanya serba alami. Untuk memenuhi kebutuhan atau kesenangan, manusia perlu membawa perlengkapan dan perbekalan sendiri dari rumahnya. Atau, jika membutuhkan sesuatu dari alam—misalnya api unggun untuk menghangatkan tubuh atau bahan makanan ketika dalam kondisi survival—usaha lebih perlu dikerahkan. Tidak seperti di kota yang hampir segala kebutuhan bisa dipenuhi sambil duduk, di alam terbuka manusia harus melawan rasa malas untuk bergerak dan bergerak.

Keadaan kami saat itu bisa dikatakan tengah kelelahan. Itu adalah hari ketiga kami berada di area pendakian gunung Rinjani. Hari pertama merupakan hari yang paling melelahkan, 9 jam mendaki hingga ke pelawangan. Hanya sempat tidur 4 jam, kegiatan dilanjutkan dengan summit attack selama 5 jam. Di hari ketiga ini perjalanan dilanjutkan dengan menuruni lembah menuju danau Segara Anak selama 2,5 jam. Ketika kelelahan dan cairan keluar dari tubuh dalam jumlah banyak, seteguk air pun terasa nikmat.

Memang, saat mendaki gunung, tegukan minuman—apalagi minuman manis—dan snack bisa memicu keluarnya hormone kenyamanan. Seringkali di tengah-tengah pendakian muncul keinginan untuk makan macam-macam—nasi padang, ayam goreng, dan sebagainya—makanan yang sebenarnya kalau tengah berada di kota sifatnya biasa saja. Tapi sedikit minuman manis, atau secuil jilatan coklat, bisa membuatmu bergumam, “Aahh…nikmat”. Tentu saja karena di alam terbuka tidak ada apa-apa. Bisa merasakan sedikit saja sesuatu yang berasa benar-benar menyenangkan.

Salah satu kondisi tersulit yang pernah sy rasakan ialah ketika menjalani Pendidikan Dasar Wanadri (PDW). Pendidikan tersebut bisa disebut “pendidikan militer tanpa senjata”, karena tata tertib dan kedisiplinannya terinspirasi dari pelatihan komando. Beberapa anggota senior Wanadri menjalani pendidikan militer ala komando, dan setelah pulang, beliau-beliau menerapkannya dalam PDW. Tidak hanya itu, pendidikan ini membuat para pesertanya berada di hutan selama 28 hari, sangat jauh dari kenyamanan rumah.

Saat awal-awal pendidikan, siswa tidur di dalam barak, yang tentu saja sangat tidak nyaman dibandingkan dengan kasur rumah. Namun setelah 3 hari, siswa diwajibkan membuat bivak untuk istirahat malam. Saat itu sy berpikir betapa nikmat dan bahagianya jika bisa tidur kembali di dalam barak. Kemudian di hari-hari berikutnya, tahap pendidikan beralih ke bivak solo/mandiri—dan saat itu pula sy bergumam betapa nikmatnya jika bisa tidur dalam bivak regu.

Tahap akhir dari pendidikan adalah survival. Di tahap ini semua siswa hanya boleh makan dari bahan-bahan yang ada di alam. Semua perbekalan makanan termasuk snack disita. Bahan bakar pun diambil, sehingga jika mau masak harus mengeluarkan energi lebih: menebas kayu-kayu kering, mengumpulkannya, dan membuat api unggun. Usaha yang lebih berat lagi mesti dikeluarkan ketika bangun tidur jam 4 pagi; tak ada waktu untuk melamun karena harus segera bergerak mengumpulkan kayu untuk membuat api. Makanan yang dimasak sebenarnya cukup variatif: pakis, bonggol pisang, jantung pisang, begonia, rotan, jika beruntung bisa mendapatkan cacing sondari dan kadal. Pelatih sebebarnya cukup berbaik hati karena memberikan garam sebagai bumbu.

Tentu saja di kala itu semua bayangan makanan keluar. Mulai dari yang mewah seperti nasi padang, nasi goreng, ayam goreng, hingga yang sederhana yang sebenarnya dimasak sehari-hari dalam pendidikan sebelum tahap survival seperti dendeng dan ikan asin. Kala itu, kami membayangkan jika bisa makan ikan asin saja, atau bisa minum seteguk energen, rasanya akan sangat, sangat membahagiakan.

Dan memang betul. H-1 akhir pendidikan, di siang hari, tahap survival ditutup dan semua siswa “buka puasa”. Makanan bebuka diberikan oleh pelatih berupa 1 buah pisang, 1 buah tempe bacem, 1 lontong, dan 1 bungkus energen. Yang pertama dimakan ialah buah pisang…bagaimana rasanya? “Allahu Akbar! Eeeennnnnaaaaakkkkkk…!” Itu adalah makanan terenak yang pernah dirasakan dalam seumur hidup sy. Air mata pun mengalir karena bisa merasakan lezatnya buah pisang. Ya, air mata bahagia.

Saat itu adalah masa-masa yang sangat membahagiakan. Benar-benar membahagiakan, walaupun sederhana.

Apa yang membuat seseorang bisa begitu bahagia? Mungkin kita sudah pernah mendengar kisah seorang pemuda yang bertanya ke seorang kakek yang bijaksana: sang pemuda bingung dengan apa yang sebenarnya paling ia inginkan dalam hidup ini. Ketika kepalanya dicerbukan ke dalam air secara paksa oleh sang kakek, si pemuda merintih dan berontak, namun si kakek tetap mendorong kepalanya ke dalam air. Kepala sang pemuda pun dibebaskan, kemudian ia ditanyai, “Apa yang paling kamu inginkan saat itu?” Sang pemuda menjawab bahwa yang paling ia inginkan adalah udara. Ya, hanya udara. Bernafas ialah kegiatan sederhana yang sehari-hari dilakukan ketika berpikir. Namun bagi manusia yang dalam kondisi sesak, bernafas merupakan hal yang paling mampu membuatnya bahagia.

_476928_0978981001406704454.png

Memangkah kebahagiaan itu bersifat relatif? Karena tidak ada satu pun yang berani memberinya definisi secara mutlak. Andai kebahagiaan itu berada di suatu tempat, tentu sudah tidak ada lagi ruang untuk kita karena para manusia dari berbagai belahan dunia akan berebut untuk mendesakinya. Andai kebahagiaan itu bisa dibeli, tentu ia sudah habis karena diborong oleh orang-orang kaya.

Tapi kebahagiaan itu tidak ada di mana-mana; ia ada di dalam hati dan pikiran setiap manusia. Cara berpikir seseorang terhadap kehidupan akan sangat menentukan apakah ia akan bahagia atau tidak. Hati yang jernih dari kerakusan dan ketamakan adalah sumber energi kebahagiaan terbesar yang dimiliki manusia.

Bahagia itu sederhana. Sesederhana seseorang yang mampu mensyukuri apa yang dimilikinya.

Alam terbuka mengajarkan kita tentang kebahagiaan yang sederhana. Hanya dengan meneguk air tawar di bawah teriknya matahari dalam kegersangan padang rumput mampu membuatmu bahagia. Hanya dengan berteduh di bawah tenda atau bivak setelah menempuh keletihan dan hawa dingin mampu membuatmu bahagia. Hal-hal yang sangat sederhana seperti itu saja ternyata bisa memunculkan rasa bahagia.

Tentu kondisi di kota berbeda dengan alam terbuka. Memiliki fasilitas yang nyaman merupakan impian setiap orang. Bekerja keras untuk memperoleh materi memang penting, karena harta dapat memberi kebahagiaan, tapi itu semua hanyalah sarana, bukan esensi. Apalah arti kemewahan bagi seorang yang isi pikirannya hanya ingin terus menambah dan menambah kekayaan. Semua yang dimilikinya, yang bagi sebagian orang hanya angan-angan, tidak mampu memberinya apa-apa.

Karena itulah Islam sangat menganjurkan untuk hidup qana’ah atau serba merasa cukup. Selain mencegah jiwa terkotori oleh ketamakan dunia yang takkan pernah habis, hal itu juga akan memberikan rasa tenang dan bahagia.

Hiduplah dengan sederhana, karena dengan hidup sederhana kita akan mudah untuk merasakan kebahagiaan.

 

 

Alam terbuka mengajarkan kita kebahagiaan yang sederhana
Tinggalkanlah dulu kenyamanan dan kemewahan kota
Yang berbagai makanan lezat nan gemerlap terus mendahaga
Tak pernah puas rasa haus ini seberapa banyak pun dihamburkan harta
Tapi ke mana, ke mana kah apa yang disebut-sebut sebagai bahagia?

Bergurulah kepada alam terbuka
Di bawah kegagahan panas mentari yang dipantulkan oleh rel kereta
Di tengah lelah dan letihnya berjalan rendah menyeberangi rawa
Di tepi lemahnya tubuh yang hanya menyantap daun berbumbukan garam tiada selera
Di dalam kondisi tidak menyenangkan itu semua, apa yang bisa membuatmua bahagia?

Hanya seteguk air yang tidak berasa
Air yang mengaliri tenggorokan yang penuh dahaga
Hanya sesederhana itu, di tengah alam terbuka, mampu membuatmu bahagia

11201608_1033329123346132_1174561553870858018_n

Foto PDW 2012

 

Categories: merenung, pembelajaran | Tags: , , , | Leave a comment

[FOTO] Catatatan Perjalanan Gunung Rinjani, Jalur: Berangkat Sembalun-Pulang Sembalun, 23-26 April 2015

Catatan: banyak foto di tulisan ini hasil tangkapan dari kamera digital yang belum di-setting tanggalnya; mohon dimaklumi hasil pengambilan gambar yang amatiran ini ^^’

Gunung Rinjani adalah salah satu gunung terindah di dunia. Danau Segara Anak yang menganga di kalderanya mampu menarik para pendaki maupun wisatawan—lokal dan asing—untuk mengunjunginya. Rinjani memiliki ketinggian 3.726 mdpl (meter di atas permukaan laut), gunung vulkanik tertinggi kedua di Indonesia setelah Kerinci, dan gunung tertinggi nomor 3 di Indonesia, dengan nomor satunya ialah Cartenz Pyramid.

Ada 2 gerbang pendakian utama untuk menuju puncak Rinjani, yaitu Desa Sembalun dan Desa Senaru. Umumnya turis maupun pendaki berangkat melalui gerbang Sembalun. Hal ini bisa dilihat dari peta topografi yang dipampang di kantor sekretariat Taman Nasional Gunung Rinjani. Di jalur desa Sembalun, pos terakhir sebelum puncak ialah pelawangan sembalun. Pendaki bisa langsung menuju puncak dari pos tersebut. Sedangkan bila dari desa Senaru, pos terakhir ialah pelawangan Senaru, dan bila ingin menuju puncak tertinggi, pendaki harus turun dulu ke danau Segara Anak, naik ke pelawangan Sembalun, lalu ke puncak. Tentu sangat tidak efektif dan melelahkan bila naik dari gerbang Senaru.

Senaru banyak digunakan sebagai jalur pulang. Menurut orang yang telah berkali-kali ke Rinjani, perjalanan dari danau Segara Anak ke desa Senaru hanya sekitar 6 jam, jauh lebih singkat jika dibandingkan ke desa Sembalun yang memakan waktu sekitar 9 jam. Hanya saja sayangnya sy dan teman-teman saat naik tidak mengetahui informasi ini, sehingga memilih Sembalun sebagai tujuan jalan pulang.

Pendakian dimulai di hari Kamis, 23 April 2015. Pendaftaran di sekretarian Taman Nasional Gunung Rinjani cukup sederhana. Pengunjung menuliskan nama peserta rombongan ke buku pendaftaran, membayar tiket 5000/hari/orang, dan mendapat label untuk dipasang di ransel. Karena estimasi perjalanan kami selama 4 hari dan jumlah kami 4 orang, kami pun membayar 80 ribu. Bagaimana jika ternyata lebih dari hari yang diperkirakan? Sepertinya tidak dilakukan pengecekan ulang, karena pelaporan ketika sudah selesai mendaki di sekretariat dilakukan seadanya.

Kantor Taman Nasional Gunung Rinjani

Kantor Taman Nasional Gunung Rinjani

Maket peta topografi gunung RInjani, bisa dilihat di Kantor TNGR

Maket peta topografi gunung RInjani, bisa dilihat di Kantor TNGR

Saung di sekretarian TNGR bisa dimanfaatkan sebagai tempat istirahat dan bermalam

Saung di sekretariat TNGR bisa dimanfaatkan sebagai tempat istirahat dan bermalam

Gunung Bukan Tempat Sampah

Gunung Bukan Tempat Sampah

Yang terlihat di gambar ini bukanlah puncak Rinjani

Yang terlihat di gambar ini bukanlah puncak Rinjani

Semenjak di sekretariat kita sudah bisa melihat banyak turis asing, entah dari Amerika, Eropa, atau Asia. Tampaknya turis asing diwajibkan menyewa guide dan porter; sy tidak melihat ada turis asing yang naik tanpa mereka. Pendaki lokal sendiri tidak diwajibkan menyewa porter. Dari informasi yang didengar, biaya sewa satu porter sebesar 200.000/hari, dengan seorang porter membawa beban maksimal 30 kg.

Pendaki bisa menyewa tumpangan mobil pick up seharga 80 ribu untuk menghemat perjalanan selama 30-45 menit. Pengguna porter bahkan—katanya—bisa nyewa kendaraan untuk mempersingkat perjalanan sampai ke pos 1.

Waktu yang dibutuhkan dari titik awal pendakian sampai pos 1 kurang lebih 3 jam. Tak lama dari lokasi start, dapat ditemukan gapura Taman Nasional Gunung Rinjani.

Berpose sebelum berangkat

Berpose sebelum berangkat

Numpang pick-up untuk menghemat perjalanan

Numpang pick-up untuk menghemat perjalanan

Gapura TNGR. Setiap hari banyak turis asing di Rinjani

Gapura TNGR. Setiap hari banyak turis asing di Rinjani

Total ada 4 pos sepanjang perjalanan, dengan pos terakhir ialah pelawangan. Khas jalur sembalun ialah kebanyakan jalan yang dilalui berupa padang rumput. Jika dilihat di peta, dari Sembalun menuju pelawangan pendaki akan menyeberangi punggungan-punggungan dan lembahan-lembahan, setidaknya sampai pos 3. Tidak heran jika jalur yang dilalui berupa naikan dan turunan. Sedangkan jalur Senaru—kata orang-orang—jalurnya berupa hutan rindang. Peta topografi menunjukkan jalur senaru ke pelawangan senaru lebih pendek, namun lurus menanjak.

Pemandangan padang savana sembalun benar-benar menyejukkan untuk diresapi. Hampir tidak adanya pepohonan membuat mata dapat menjangkau hingga ke horizon. Di tengah perjalanan, dapat ditemukan batang-batang tipis bunga lavender terayun-ayun oleh angin.

P1030153 - Copy P1030157 - Copy P1030161 - Copy

Cuaca saat itu didominasi oleh kabut dan hujan—yang tentu saja menghalangi pemandangan. Namun jika cerah, orang-orang bilang panasnya terik matahari di padang rumput bisa cepat membuatmu dehidrasi. Hmm, sy pun berpikir cuaca saat itu perlu disyukuri; walaupun sering menutupi keindahan alamnya, setidaknya tidak membuat kami kepanasan.

Seperti yang sudah sy sebutkan sebelumnya, jalan yang dilalui banyak menyeberangi lembahan. Jembatan-jembatan buatan dibentangkan untuk memfasilitasi turis maupun pendaki. Beberapa kali juga sungai-sungai kering dilewati. Satu hal yang perlu diwaspadai adalah, walaupun terbuka dan cenderung landai, pejalan perlu mewaspadai langkahnya karena banyak kotoran sapi bersilewaran.

Menyeberangi sungai kering

Menyeberangi sungai kering

Belok kiri untuk menuju jembatan

Belok kiri untuk menuju jembatan

Perjalanan dari gerbang Sembalun ke Pelawangan melintasi lembahan-lembahan, sehingga banyak didirikan jembatan

Perjalanan dari gerbang Sembalun ke Pelawangan melintasi lembahan-lembahan, sehingga banyak didirikan jembatan

Ketika tiba di pos 1, kabut sedang menebalkan diri. Ada pos yang bisa digunakan untuk berteduh, walaupun biasanya rame ditempati oleh turis dan pendaki lain. Untuk meneruskan perjalanan ke pos 2, pendaki mesti menemukan jalan setapak ke arah kanan. Waktu yang ditempuh ke pos 2 dari pos 1 sekitar 35 menit.

Pos 1, tertutup kabut

Pos 1, tertutup kabut

Setelah tiba di pos 1, belok kanan untuk menemukan jalan setapak menuju pos 2

Setelah tiba di pos 1, belok kanan untuk menemukan jalan setapak menuju pos 2

Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 masih berupa punggungan dan lembahan landai. Pos 2 cukup luas, dan juga ada bangunan yang beratap. Saat itu jam menunjukkan setengah 12, jam makan siang. Para porter membentangkan tenda, mengeluarkan kompor dan bahan masakan. Wangi aroma makanan mengudara ke mana-mana. Yah, bagi turis yang menyewa porter, tidak hanya barang-barang dibawakan, tapi mereka juga dimasakkan makanan dan dipasangkan tenda. Masakan yang mereka hidangkan pun seperti yang bisa ditemukan di rumah atau warung makan. Bagaimana kualitas makanannya? Ada yang bilang enak, ada yang bilang kurang. Mungkin untung-untungan dapat porter yang jago masak atau tidak.

Pos 2

Pos 2

Para porter sedang menyiapkan makanan

Para porter sedang menyiapkan makanan

Para porter merupakan penduduk asli desa Sembalun. Menjadi porter ialah mata pencaharian mereka. Mungkin mereka sudah berpuluh atau ratusan kali mendaki Rinjani. Tidak hanya mampu memanggul beban 30 kg dan mendaki dengan kecepatan mengagumkan, pakaian mereka pun amat sederhana. Kaos tipis sudah cukup untuk bertahan dari suhu dingin—bahkan ada juga yang memilih hanya memakai celana pendek. Alas kaki pun hanya sandal jepit, ada pula yang nyeker.

Para porter membawa barang, beralaskan sendal jepit

Para porter membawa barang, beralaskan sendal jepit

Catatan-catatan perjalanan lain menuliskan kalau di pos 2 terdapat sumber air, namun harus jalan cukup jauh untuk mengambilnya. Selain di pos 2, sumber air juga bisa ditemukan di pelawangan Sembalun dan dekat danau Segara Anak. Para porter sendiri–dan juga para pendaki–paling sering mengisi air di pelawangan. Kami pun memutuskan untuk tetap bertahan dengan air yang ada hingga pelawangan nanti.

Perjalanan dari pos 2 ke pos 3—kata porter—membutuhkan waktu sejam,namun kenyataannya kami menempuhnya selama 1,5 jam. Jalanan mulai cenderung menanjak. Sekitar 10 menit sebelum pos 3 ada semacam saung dari besi. Berpikir bahwa pos 3 akan penuh oleh orang-orang, kami pun memutuskan istirahat di sana.

Padang lavender

Padang lavender

Makan siang di saung sebelum pos 3

Makan siang di saung sebelum pos 3

Pos 3 berada di dekat sungai kering. Seberangi sungai kering untuk menuju

Pos 3 berada di dekat sungai kering. Seberangi sungai kering untuk menuju “7 bukit penyesalan”

Istilah yang cukup populer untuk jalan dari pos 3 ke pelawangan sembalun ialah “7 Bukit Penyesalan”. Pernyataan itu untuk menunjukkan jalan yang terus-menerus menanjak. Sebenarnya istilah “bukit” kuranglah tepat, karena medan sepanjang perjalanan ialah punggungan. Jika sebelumnya menyeberangi punggungan dan lembahan landai, sehingga ada jalan naik dan turunnya, saat itu jalan yang ada ialah terus menanjak, dengan sedikit punggungan yang datar sebelum kemudian menanjak lagi.

Perjalanan menuju pelawangan sembalun merupakan yang paling melelahkan juga membosankan karena mulai tiadanya pemandangan yang bisa dilihat. Vegetasi pepohonan mulai muncul, walau tidak sampai membentuk hutan yang rindang. Mulai kelelahan, kami pun banyak berisitirahat. Bahkan ada yang merasa sangat berat untuk melanjutkan perjalanan. Namun, salah seorang dari kami memotivasi, “Manusia tidak akan pernah bisa menaklukkan gunung, namun dengan menaklukkan gunung manusia menaklukkan diri sendiri.”

Terus menanjak

Terus menanjak

Perjalanan yang melelahkan

Perjalanan yang melelahkan

Sekitar 3 jam, kami pun sampai di tanah datar yang luas. Untuk menuju pelawangan pendaki mesti belok kiri, mengikuti jalur setapak, dan 5 menit kemudian pun sampai di area perkemahan pelawangan.

Total waktu tempuh dari titik start sampai pelawangan ialah 9 jam, termasuk waktu isitrahat satu jam. Ketika menegakkan tenda, barulah kami tahu bahwa kebanyakan pendaki—yang membawa beban sendiri tanpa porter—berkemah dulu di pos 3, baru di hari kedua melanjutkan perjalanan dan berkemah di pelawangan.

Akhirnya sampai juga di pelawangan

Akhirnya sampai juga di pelawangan

Mendirikan tenda

Mendirikan tenda

Saat itu kami tidak banyak membuang waktu dan segera beristirahat. Kurang lebih waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak tertinggi dari pelawangan ialah 5 jam. Agar tidak terlalu siang, kami berencana mulai summit attack jam setengah 2. Puncak Rinjani tidak seperti Semeru. Jika di puncak Semeru tidak boleh lebih dari jam 10 karena di atas jam tersebut mulai muncul asap beracun, puncak Rinjani tidaklah memberi batas waktu.

Harapan berangkat jam setengah 2, apa daya sy dan kawan-kawan baru mulai berangkat jam 3. Jika dilihat ke arah puncaknya, jalur summit attack Rinjani lebih panjang dari Semeru. Orang-orang juga bercerita tentang tanah berpasir menuju puncak. Namun, semua mengatakan bahwa pasir Rinjani tidaklah selicin pasir Semeru. Omong-omong tentang Semeru, sy jadi ingat summit attack yang memakan waktu 7 jam, yang sebagian besar waktunya habis oleh rasa lelah karena kaki merosot terus saking licinnya.

Tapi Rinjani tidaklah seperti Semeru. Di tengah-tengah perjalanan, permukaan tanah mulai berupa pasir. Pasirnya memang licin dan bisa membuat kaki merosot, namun di bawahnya masih terdapat tanah yang agak keras dan bisa diinjak. Tapi tetap saja, jika tekniknya salah kaki bisa merosot, dan jika terus-menerus merosot energi akan terkuras percuma.

Di catatan perjalanan ke Semeru, sy sudah menulis tentang teknik mendaki di jalur berpasir. Konsepnya ialah usahakan luas permukaan sepatu yang menginjak pasir sekecil mungkin, sehingga beban tubuh yang menimpa pasir tidak begitu besar. Semakin kecil beban tubuh, semakin kecil pula kemungkinan untuk merosot. Teknik agar bisa seperti ini ialah mendaki dengan menggunakan ujung sepatu atau seperti berjalan jinjit. Cara yang lebih sering dipakai ialah dengan mencangkulkan/menusukkan ujung sepatu ke pasir, kemudian naik dengan tumpuan ujung sepatu tersebut. Teknik ini sangat jitu ketika muncak di Semeru. Karena jika sekali saja merosot, energi dan waktu yang terbuang bisa begitu besar.

Di tengah pendakian, kita bisa melihat sunrise di pinggiran jalan setapak. Memandang garis putih matahari di ketinggian seperti ini seolah sedang mengintip subuh dari jendela pesawat terbang. Banyak pendaki berhenti sejenak untuk berfoto bersama mentari.

Bunga abadi, Edelweis, terdiam bisu menyaksikan para pendaki menuju puncak

Bunga abadi, Edelweis, terdiam bisu menyaksikan para pendaki menuju puncak

Sunrise

Sunrise

Memandangi awan di bawah

Memandangi awan di bawah

Terlihat danau Segara Anak

Terlihat danau Segara Anak

Jalur yang berpasir nan licin

Jalur yang berpasir nan licin

Mendaki terus ke puncak

Mendaki terus ke puncak

Jalur summit attack dilihat dari atas

Jalur summit attack dilihat dari atas

P1030286 - Copy

Sekitar jam 8 pagi akhirnya kami sampai di puncak. Voila! Inilah puncak rinjani, 3.726 meter di atas permukaan laut. Di sebelah kanan, jauh di bawah sana terlihat danau Segara Anak melintang berbentuk bulan sabit. Kawah Rinjani menganga di sebelah kiri puncak.

Cukup lama kami menghabiskan waktu di puncak, hingga jam 11. Kabut yang terus merangkak naik membuat kami mesti menunggu dengan sabar untuk memotret pemandangan. Ini keuntungan dari puncak Rinjani: tidak ada batas waktu. Hingga terik siang pun pendaki masih bisa menikmati puncak.

P1030287 - Copy

Kawah gunung Rinjani

Kawah gunung Rinjani

Kaldera Rinjani yang terisi air membentuk danau berbentuk bulan sabit

Kaldera Rinjani yang terisi air membentuk danau berbentuk bulan sabit

IMG_3945 IMG_3947 IMG_3952 IMG_3960wpid-img_7400723805189.jpeg

Bertemu seorang nenek berambut putih dari Malaysia yang mendaki ke puncak seorang diri

Bertemu seorang nenek berambut putih dari Malaysia yang mendaki ke puncak seorang diri

Jika perjalanan naik membutuhkan waktu sekitar 5 jam, perjalanan turun hanya membutuhkan waktu kurang dari setengahnya, sekitar 2 jam. Hari kedua ini kami putuskan untuk istirahat sepenuhnya. Maklum, hanya sempat tidur 3 jam-an. Apalagi, yang kami dengar, jarang ada pendaki yang langsung berkemah di pelawangan di hari pertama dan malamnya langsung summit attack. Memang sangat melelahkan. Begitu sampai tenda, kami pun terlelap hingga magrib.

Makan malam yang terasa spesial

Makan malam yang terasa spesial

Pemandangan sembalun di pagi hari

Pemandangan pelawangan sembalun di pagi hari

Pemandangan dari pelawangan

Pemandangan dari pelawangan

Danau Segara Anak dilihat dari pelawangan

Danau Segara Anak dilihat dari pelawangan

Hari ketiga direncakan untuk menikmati danau Segara Anak. Jarak dari pelawangan sembalun ke Segara Anak ternyata cukup jauh. Jalurnya bukanlah berupa garis lurus turun langsung ke danau, tapi—seperti jalan naik dari sembalun ke pelawangan—mesti melintasi lembahan-lembahan. Jalanan didominasi oleh bebatuan, sehingga pendaki harus melangkah dengan hati-hati. Di tengah perjalanan, kita bisa menikmati pemandangan yang begitu memukau: jurang lembahan, badan-badang gunung di seberang, dan tentu, danau Segara Anak di kejauhan.

Jalan turun ke Segara Anak berupa bebatuan

Jalan turun ke Segara Anak berupa bebatuan

Rasanya hendak memeluk Segara Anak

Rasanya hendak memeluk Segara Anak

Menyeberangi lembahan dan jembatan

Menyeberangi lembahan dan jembatan

2,5 jam adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tepi danau. Terlihat banyak turis asing maupun pendaki memasang tenda di danau ini. Sebenarnya kami pun ingin bermalam di pinggir danau, namun karena berencana untuk pulang besoknya, yang dibentangkan pun hanya flysheet.

Selain genangan air yang amat luas, hal yang tidak bisa kami lupakan dari Segara Anak adalah sampah! Benar-benar memprihatinkan kondisi kebersihannya. Kalau pelawangan sembalun sudah benar-benar kotor, maka Segara Anak lebih kotor lagi. Begitulah. Menyedihkan benar kondisi alam terbuka kita. Memang manusia bukanlah makhluk yang pandai bersyukur: sudah dikarunai alam yang memesona, rasa terima kasih yang diberikan ialah tumpukan sampah.

Di tengah-tengah danau dapat terlihat pulau kecil dengan gunung yang mengeluarkan asap di puncaknya. “Gunung Baru”, begitu ucap salah satu porter ketika kami menanyakan nama gunung tersebut. Di pelawangan sembalun, pengunjung bisa melihat panel-panel yang menjelaskan proses pembentukan kaldera gunung rinjani secara historis. Adalah kaldera luas yang menaungi Segara Anak terbentuk sekitar abad ke-13. Letusan yang dahsyat mengangakan celah seluas 7×6 km berbentuk elips. Seiring berjalannya waktu, kaldera pun terisi air membentuk danau, dan anak-anak gunung Rinjani pun tumbuh. Hingga sekarang gunung Rinjani beserta anak-anaknya: gunung Barujari, gunung Rombongan, dan gunung Anak Barujari merupakan volcano yang masih aktif.

P1030325 P1030329

Gunung kecil di tengah-tengah danau

Gunung kecil di tengah-tengah danau

Landscape Segara Anak

Landscape Segara Anak

Waktu kami isi dengan memasak, memancing, dan berendam air panas. Ikan berlimpah di danau dan tidaklah terlalu sulit memancingnya. Satu ikan berukuran sedang dan empat ikan berukuran kecil berhasil mengisi kantong plastik kami. Terima kasih kepada rombongan pendaki dari Universitas Mataram (Unram) yang membantu untuk membuat api dan mengajarkan bagaimana membakar ikan. Setelah dikeluarkan isi perutnya dan disisik, mentega dilulurkan di badan ikan, yang kemudian aluminium foil membungkus tubuhnya untuk kemudian dibakar. Akibat api unggun yang tidak begitu sempurna, hanya satu ikan yang berhasil dibakar. Dimakan bersama saos dan kecap, hmmm, nikmat cooyy!

Yeah dapat ikan! Walau ga seberapa ukurannya

Yeah dapat ikan! Walau ga seberapa ukurannya

Mancing mania

Mancing mania

Bakar ikan dengan aluminium foil

Bakar ikan dengan aluminium foil

Ikan bakar Segara Anak :9

Ikan bakar Segara Anak :9

Di dekat danau ada sumber air panas. Dengan berjalan sekitar 5 menit, pendaki bisa melemaskan otot-otot dan melancarkan aliran darah. Searah dengan jalan menuju kolam air panas juga terdapat sumber air. Banyak informasi yang mengatakan kalau air danau segara anak tidak direkomendasikan untuk digunakan, kecuali kalau dimasak dulu. Namun kalau ingin memperoleh air yang langsung bisa diminum, lebih baik mengambilnya di area sumber air.

Kolam air panas di dekat danau Segara Anak

Kolam air panas di dekat danau Segara Anak

Sudah 4 jam waktu dihabiskan di Segara Anak, kami pun berjalan pulang ke pelawangan sembalun. Dari rombongan Unram lah kami tahu kalau waktu tempuh dari danau Segara Anak ke desa Senaru hanya 6 jam. Jika dari pelawangan sembalun menuju danau jalannya berupa penyeberangan lembahan-lembahan, jalan dari danau ke pelawangan senaru berupa tanjakan lurus. Apa daya nasi sudah menjadi bubur: tenda dan peralatan-peralatan lain kami tinggal di pelawangan sembalun. Sebenarnya riskan meniggalkan barang tanpa pengawasan. Dari pendaki lain kami mendengar kalau sering terjadi kehilangan barang-barang elektronik di pelawangan ketika tenda ditinggal. Bahkan ada yang perbekalannya diambil! Wah, mungkin memang sangat merugi kalau kehilangan barang elektronik, tapi kalau sampai tidak punya perbekalan itu akibatnya bisa sangat fatal.

Perjalanan naik kembali ke pelawangan ternyata memakan waktu yang sama dengan turun, yaitu 2,5 jam. Jalan naik dengan medan bebatuan di malam hari perlu kewaspadaan. Karena jalurnya sempit dan tidak sejelas jalan setapak, pendaki mesti memperhatikan jalannya dengan baik. Adanya coretan vandalisme di batu-batuan ironisnya membantu kami menemukan jalan.

Sekitar jam 18.30 kami tiba di pelawangan, tepat dengan waktu terjadinya badai! Entah kenapa waktu itu angin lembah sedang ribut-ributnya. Jam 00.00-01.00 adalah puncaknya badai. Bunyi angin yang berisik bagaikan bunyi ombak yang menderu, tapi saat itu bukanlah di pantai. Flysheet tenda kami hampir terbawa angin dan salah satu frame tenda remuk. Jam 01.00 kami terbangun untuk membenarkan tenda. Suara-suara lain juga terdengar, ada juga suara meminta pertolongan: salah satu penghuni tenda tetangga kami ada yang mengalami hipotermi. Beruntung ada tetangga yang lain bawa tabung oksigen.

Hingga jam 3 pagi kami terjaga, mewaspadai tenda kalau-kalau flysheet­nya lepas lagi atau bahkan roboh. Jam 6 pagi angin lembah masih belum berhenti bertiup, walau sudah lumayan mereda. Posisi tenda kami memang termasuk daerah yang terbuka menghadap lembah, namun berada di punggungan yang agak lebar. Agak sulit dibayangkan bagaimana nasib tenda-tenda turis yang membentang sepanjang punggungan sempit di jalan setapak yang mengarah ke puncak. Saat perjalanan turun kami berpapasan dengan satu keluarga turis asing dari Perancis, dan dari guide­-nya lah kami tahu kalau malam itu ada beberapa tenda yang roboh. Weww, malam itu kami termasuk yang beruntung. Pelajaran yang bisa diambil adalah, jika berkemah, sebaiknya hindari titik yang menghadap langsung ke lembah; carilah daerah yang tertutup oleh bukit atau batu yang bisa melindungi tenda dari angin.

Badai yang masih bertiup perlahan di hari MInggu, 26 Mei 2015 itu pun menjadi perpisahan kami dengan Rinjani.

Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , , , | 2 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,151 other followers