Pembunuh 9 Centi

FB_IMG_1435332091203

Rokok Membuat Anda Rileks

Baru-baru ini kita mendengar kabar seorang pejuang kampanye antirokok meninggal dunia dalam usia muda. Seharusnya 27 tahun merupakan masa seseorang berada dalam kondisi produktifnya. Berpenghasilan, mencari nafkah, berkarya untuk negeri, memberi cinta kepada istri dan anaknya, mengabdi kepada orang tua…tapi itu semua pupus. Ia tutup usia, dibunuh—saya lebih memilih menggunakan istilah “dibunuh”—oleh benda yang amat kecil, hanya berukuran 9 centimeter.

Robby Indra Wahyuda

Robby Indra Wahyuda

Robby Indra Wahyuda hanyalah satu dari sekian banyak masyarakat Indonesia yang mengonsumsi rokok sejak kecil. Masih saja ia mengenakan seragam putih dan merah, kepulan-kepulan asap sudah menghiasi bibirnya. Apakah ia adalah satu-satunya? Tentu tidak, karena menurut Komnas Anak setidaknya terdapat 239 ribu anak Indonesia yang berusia di bawah 10 tahun menjadi perokok aktif. Begitu pula ketika Indonesia menjadi pusat perhatian dunia, bukan karena prestasi, namun karena seorang anak usia 2 tahun, Aldi Rizal, sehari-harinya menghabiskan 40 batang rokok.

Apakah perbedaan antara narkotik dengan rokok? Keduanya sama-sama zat adiktif, membuat orang yang mengonsumsinya ketagihan dan ketergantungan luar biasa. Pula keduanya sama-sama membunuh orang yang menikmatinya. Hanya saja narkoba memberikan efek yang cepat: seorang yang sudah ketagihan sudah menunjukkan tanda dan gejala yang mengenaskan yang membuatnya tidak produktif. Sedangkan rokok membuat penggunanya baru merasakan sakit—hingga sakit parah—dan berkurang produktivitasnya rata-rata setelah usia 40 tahunan.

Setelah 40 tahunan? Benarkah itu? Bukankah Robby harus menderita kanker esophagus (kerongkongan) pada usia yang sangat muda, yaitu 26 tahun?

Bukan hal yang aneh ketika Instalasi Gawat Darurat kedatangan seorang pasien laki-laki berusia 30-an dalam keadaan nyeri dada, sesak, hingga menurun kesadarannya. Itu adalah penyakit jantung coroner (PJK), yang dahulu dikenal sebagai penyakit yang diidap oleh manusia usia 40-an. Mungkin kita masih ingat Dodit, seorang komedian sambil berdiri asal Surabaya yang mampu membuat perut kita terkocok akibat lawakan dan muka datarnya. “Baru kali ini, seumur hidup, saya pingsan. Rasanya seperti sakaratul maut,” ujar sang comedian berusia 29 tahun. Rokoklah yang mengakibatkan sumbatan di pembuluh darah jantungnya.

Sialnya korban dari rokok bukan hanya mereka yang aktif mengepul. Seorang lansia harus menderita penyakit paru obstruktif kronis—penyakit yang hampir eksklusif disebabkan oleh asap rokok—padahal ia bukanlah perokok: nasib tidak beruntung membuatnya berada di lingkungan kerja perokok. Kemarin-kemarin juga kita melihat iklah di TV tentang wanita berusia 37 tahun yang dilubangi tenggorokannya dan kehilangan suara akibat menderita kanker pita suara. “Berhentilah merokok, asapmu membunuh orang-orang di sekitarmu,” ucap Ike dengan suara serak nyaris tak terdengar.

Sebutan dari Taufiq Ismail bahwa Indonesia surga bagi perokok tidaklah berlebihan. Ketika dunia mengalami tren penurunan jumlah perokok pada usia > 15 tahun, Indonesia mengalami kenaikan. Berdasarkan data Riskesdas, terjadi kenaikan dari 34,7% (2010) menjadi 36,3% (2013) jumlah anak-anak usia > 15 tahun yang merokok. Sekitar 62,5% dari seluruh perokok pertama kali menjadi perokok aktif pada usia < 19 tahun.

Surga Rokok Murah

Harga rokok di Indonesia sangatlah murah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Jika Singapore menjual rokok senilai 90 ribu-100 ribu per bungkusnya, Indonesia menjualnya hanya seharga 13 ribu-15 ribu. Harga yang murah seperti ini—apalagi di Indonesia rokok dapat dibeli per batang—membuat ia dapat dijangkau oleh masyarakat miskin dan para remaja.

cigs-chart-corrected

Terlebih lagi pabrik-pabrik rokok tak pernah lelah untuk berburu para korban baru: generasi muda. Umumnya masyarakat ketika sudah berusia tua mulai meninggalkan rokok karena terkena getah penyakitnya. Ketika mulai banyak orang-orang meninggalkan rokok, maka industri rokok pun mencari konsumen baru, yaitu anak-anak muda.

Tak heran bila iklan rokok dikemas sedemikian menarik. Gambar yang ditayangkan oleh iklan rokok membentuk persepsi anak-anak muda bahwa merokok adalah sesuatu yang keren, gagah, dan kekinian. Penelitian menunjukkan bahwa 70% remaja menilai positif terhadap iklan rokok. Iklan-iklan yang menyesatkan itu pun membuat 50% remaja perokok merasa lebih pecaya diri seperti yang diiklankan rokok, dan 37% remaja perokok merasa keren seperti yang diiklankan rokok.

IMG-20150513-WA0000

Menanti Komitmen Pemerintah

WHO Global Reports on Trends in Tobacco Smoking pada Maret 2015 melaporkan bahwa terjadi pendurunan konsumsi tembakau di dunia. Pada 2010 terdapat 3,9 milyar manusia usia >15 tahun nonperokok; jika tren penurunan ini terus berlanjut, diproyeksikan di tahun 2025 terjadi peningkatan menjadi 5 milyar.

Bagaimana bisa ketika Indonesia terus mengalami kenaikan konsumen rokok, dunia pada umumnya mengalami penurunan?

Sejak 2003, WHO meluncurkan Konvensi Kerangka Kontrol Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Konvensi ini merupakan perjanjian internasional pertama yang dicanangkan WHO. FCTC memiliki beberapa artikel yang menuntut negara-negara di dunia melakukan upaya menurunkan permintaan dan suplai rokok.

Bagian utama dari konvensi tersebut berada di bagian III dan IV. Bagian III memiliki konten tentang upaya menurunkan permintaan tembakau. Terdiri dari artikel 6-14, bagian ini berisikan tuntutan-tuntutan di antaranya menaikkan cukai rokok, pemasangan gambar peringatan bahaya rokok yang mencakup 50% bungkus rokok, dan pelarangan segala bentuk iklan, promosi, dan sponsorship dari pabrik rokok. Bagian IV, terdiri dari artikel 15-17, bertujuan menurunkan suplai tembakau. Isinya adalah eliminasi perdagangan tembakau illegal, pelarangan penjualan ke anak di bawah umur dan penjualan per batang, dan pemberian bantuan ekonomi atau pekerjaan alternatif bagi petani dan buruh pabrik rokok.

Komitmen pemerintah merupakan kunci utama suatu negara dapat menyelamatkan rakyatnya dari pembunuhan massal oleh rokok. Cukai yang tinggi akan membuat rokok berharga mahal, sehingga tidak bisa diakses oleh masyarakat miskin—mirisnya rokok paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat miskin ketimbang golongan menengah ke atas—dan anak-anak muda. Kebijakan cukai rokok yang tinggi sukses menurunkan pengguna rokok, menurut data di negara Afrika Selatan. Selain itu, terlindungnya para remaja dari iklan-iklan pembodohan buatan industri rokok menurunkan probabilitas mereka tertarik untuk mencoba-coba. Tak hanya iklan, usaha perusahaan rokok menarik simpati masyarakat dengan memberikan beasiswa pendidikan dan bermurah hart dalam memberikan bantuan dana sponsor juga perlu dicegah agar perusahaan-perusahaan tersebut tidak menunjukkan eksistensinya di masyarakat.

Tingginya Cukai Rokok Efektif Menurunkan Angka Konsumsi Rokok

Tingginya Cukai Rokok Efektif Menurunkan Angka Konsumsi Rokok

Setidaknya ada 180 negara peserta di konvensi ini (terakhir yang bergabung adalah Zimbabwe. Iya, Zimbabwe, negara yang mata uangnya disebut “mata uang sampah” karena mengalami keterpurukan ekonomi) dengan 168 di antaranya sudah menandatanganinya. Anda tak perlu bertanya apakah Indonesia termasuk 180 negara itu atau tidak….

Produksi Tembakau Meningkatkan Pemasukan Negara. Benarkah?

“…mempertimbangkan nasib petani tembakau, pemerintah menerima 110 triliun rupiah dari cukai tembakau dan penerimaan negara 150 triliun rupiah dari PPH dan pajak daerah…” (Dipo Alam, Mensekab Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II)

Setidaknya ada 2 alasan retoris mengapa pabrik tembakau dipertahankan. Pertama ialah rokok salah satu penyumbang pemasukan negara yang besar. Kenyataannya, pada 2004 jumlah pengeluaran akibat tembakau (termasuk untuk kesehatan, pengobatan, dan kematian) ialah sebesar 127,4 triliun rupiah. Pada 2010, negara merugi sebesar 231,7 triliun rupiah akibat rokok.

Kedua ialah untuk melindungi nasib petani tembakau dan buruh pabrik rokok. Hal yang nyata ialah industri rokok sangat buruk dalam pengupahan pekerja. Menurut WHO, upah buruh pabrik rokok ialah yang terendah dibandingkan dengan upah buruh industri seluruh Indonesia. Sebagai perbadingan, pada 2008 upah buruh industri lain rata-rata sebesar 886,5 ribu rupiah, sedangkan upah buruh pabrik rokok hanya 753,4 ribu rupiah.

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LDUI) mengungkapkan penemuan bahwa upah petani tembakau hanya 15-17 ribu rupiah/hari: sangat tidak sebanding dengan resiko pekerjaan mereka terhadap kesehatan. Masih menurut LDUI, mayoritas kondisi petani tembakau tidak terlalu baik dan akses terhadap air minum tidak memadai; untuk menyiasati rendahnya upah, petani turut memperkerjakan anak-anak mereka yang di bawah umur.

Tunggu Apalagi?

WHO menyampaikan data bahwa terdapat 6 juta orang meninggal/tahun akibat rokok, dengan 600 ribu di antaranya merupakan orang-orang nonperokok yang ikut kena musibah akibat lingkungan alias perokok pasif. Jika negara-negara di dunia tidak bertindak, diperkirakan terdapat 8 juta orang meninggal/tahun pada 2030.

Rokok tidak hanya membunuh orang yang menghisapnya, tapi juga orang-orang yang sama sekali tak terlibat dengan rokok namun ikut menghirup asapnya.

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menukarkan HIV-AIDS sesamanya,

Tapi kita tidak ketularan penyakitnya

Duduk kita di sebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,

Kita ketularan penyakitnya

Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS

Begitu tulis Taufiq Ismail dalam gumamannya “Tuhan 9 Centi”.

Negara mengkampanyekan tentang bahaya HIV-AIDS dan semua lapisan masyarakat setuju akan bahayanya. Tapi kenapa untuk rokok yang jauh lebih “menular” ketimbang penyakit tersebut masih ada pihak yang mendukungnya? Semua kepala mengangguk ketika disampaikan bahwa pengedar narkoba pantas dihukum berat hingga mendapat hukuman mati. Tapi kenapa untuk pengedar rokok yang membuat orang-orang usia produktif tewas dan sama-sama membuat ketagihan tidak diberlakukan hal yang sama?

Tidak bisakah pemerintah menyelamatkan nyawa rakyatnya dengan ikut meratifikasi FCTC? Mungkin bukan hanya pemerintah enggan, tapi ada “mafia” yang berusaha agar industri tembakau tumbuh subur di Indonesia. Saat ini DPR tengah membahas RUU Pertembakauan, sebuah RUU yang sangat mendukung industri rokok dan bertolak belakang dengan RUU yang sudah diajukan sebelumnya yaitu RUU Pengendalian Tembakau.

Apa bisa dikata. Akibat lobi para “mafia” tersebut, RUU yang bisa masuk secara ajaib ini, tanpa naskah akademik, pembahasan yang tidak terbuka, menjadi prioritas dalam Prolegnas 2015. Ada yang bilang kalau RUU tersebut disusun oleh orang Sampoerna. Berarti jika disahkan, UU negara kita dibuat oleh pengusaha rokok (???)

Negara kita memang surga tembakau. Seperti yang disampaikan oleh Taufiq Ismail dalam puisinya:

Indonesia adalah surga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Categories: esai, kesehatan, merenung | Tags: , , , | Leave a comment

[FOTO] Terpercik Dinginnya Butir Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep, Lombok Utara

20150524_121553Wisata pantai merupakan keunggulan dari pulau Lombok. Pulau yang hanya berukuran 5.435 m2 ini memiliki pesona pesisir yang tak kalah indah dibanding pulau Dewata. Selain tempat-tempat yang sudah banyak dikenal, seperti pantai senggigi, kuta, dan tanjung ann, masih banyak pasir putih dan laut biru yang minim popularitas namun sungguh memukau.

Tapi keindahan Lombok tidak hanya itu. Ada satu objek yang begitu terkenal dan tak pernah sepi dari kunjungan turis lokal bahkan asing. Yap, dia adalah gunung Rinjani. Memang benar-benar suatu keunikan bahwa di pulau yang ukurannya tak seberapa ini tertancap gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia (setelah gunung Kerinci di Jambi). Berita mengenai keelokan sang gunung beserta kalderanya sudah tak asing lagi di telinga dunia. Gunung yang terletak di tengah-tengah pulau Lombok sebelah utara ini membuat atraksi Lombok tak semata didominasi oleh pantai. Di daerah pegunungan Rinjani, di sekitar pinggang sang gunung, mengalir deras bermacam-macam air terjun nan menakjubkan.

Jumlah air terjun di Lombok sangat banyak dan mayoritas berada di daerah utara. Jelajah seluruh air terjun di daerah utara bisa menjadi program perjalanan tersendiri. Namun, jika Anda berkunjung ke Lombok menggunakan biro travel, besar kemungkinan Anda akan diantar ke air terjun yang sangat populer—mungkin juga yang paling banyak dikunjungi—yaitu Sendang Gile dan Tiu Kelep.

Kedua air terjun ini berada di satu lokasi, dengan Tiu Kelep berada di atas Sendang Gile. Air yang terjatuh dari Tiu Kelep kemudian mengalir dalam sungai hingga terjatuh kembali sebagai Sendang Gile. Berposisi lebih rendah, Sendang Gile memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter, sedangkan kakaknya, Tiu Kelep, menderu melewati tebing berketinggian kurang lebih 45 meter.

Konon, dahulu kala seorang pangeran berlari dari kejaran seekor singa gila dan ia bersembunyi di balik air terjun. Legenda tersebut pun menjadi asal-usul nama Sendang Gile. Sedangkan “Tiu” merupakan bahasa sasak (bahasa daerah Lombok) yang berarti “kolam” dan “Kelep” berarti “terbang”. Kolam terbang? Diberi nama demikian karena sang air terjun begitu perkasanya hingga menerbangkan buih-buih membasahi sekitarnya layaknya gerimis. Di tempat jatuhnya Tiu Kelep pun terdapat kolam yang tidak begitu dalam, seukuran pinggang, yang cukup aman apabila pengunjung hendak berenang.

Sedang Gile dan Tiu Kelep terletak di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Tengah. Senaru sendiri merupakan salah gerbang pendakian ke gunung Rinjani. Mengenai perjalanan ke Rinjani, saya menyarankan untuk berangkat tidak melalui desa ini melainkan melalui Sembalun (cerita perjalanan ke Rinjani bisa dilihat di sini). Dikenal sebagai desa wisata, Senaru memiliki banyak penginapan, tempat informasi bagi turis yang ingin naik RInjani, dan tempat makan.

Waktu yang dibutuhkan dari Mataram-Desa Senaru kurang lebih 2,5-3 jam. Untuk masuk Senaru, pengunjung akan dikenakan biaya karcis masuk sebesar 10 ribu. Gerbang menuju air terjun tidak jauh dari lokasi parkir kendaraan. Ketika turun, akan ada orang-orang yang menawarkan untuk menjadi guide. Sebenarnya jalur ke Sendang Gile dan Tiu Kelep tidaklah sulit dan jalan setapaknya sangat jelas sehingga tidak pakai pemandu pun tidak masalah. Pengunjung mesti membayar kembali karcis 10 ribu/orang untuk dapat masuk area air terjun.

20150524_105225

Tempat Pembelian Karcis Masuk

Tempat Pembelian Karcis Masuk

Air terjun yang pertama kali akan dijumpai adalah Sendang Gile. Untuk ke sana, pengunjung harus berjalan kaki kurang lebih selama 7 menit. Jalanan berupa turunan dengan dasarnya sudah diaspal.

Jalanan Turun

Jalanan Turun

Tepat sebelum tiba di Sendang Gile, pejalan akan menuruni tangga-tangga dan kemudian menjumpai pertigaan, dengan jalan turun ke bawah menuju Sendang Gile dan belok kanan ke arah Tiu Kelep. Turunlah terlebih dulu karena ketika berada di sana berarti Sendang Gile sudah di depan mata.

Pertigaan. Lurus untuk Ke Sendang Gile, Belok Kanan untuk Ke Tiu Kelep

Pertigaan. Lurus untuk Ke Sendang Gile, Belok Kanan untuk Ke Tiu Kelep

Sendang Gile memang tidak memiliki kolam, tapi sering terlihat orang-orang bermain-main di bawahnya. Pada hari libur, ada beberapa orang yang buka lapak jualan makanan. JIka terik matahari tak terhalang awan, mudah sekali untuk menemukan lengkungan pelangi. Bagian tengah dari air terjun ini pun tertutupi oleh dedaunan tumbuhan paku.

Air Terjun Sendang Gile

Air Terjun Sendang Gile

20150524_110425

20150524_110517

20150524_110550

20150524_110705

20150524_110933

Terlihat Lengkungan Pelangi

Terlihat Lengkungan Pelangi

Okay, saatnya melanjutkan perjalanan ke Tiu Kelep. Dibutuhkan 15 menit berjalan kaki untuk menujunya dari Sendang Gile. Untuk ke sana, berjalanlah naik tangga kembali untuk kemudian berbelok kiri di pertigaan.

Jika jalanan sebelumnya telah diaspal, jalur menuju Tiu Kelep dibiarkan murni tanah dan berkerikil. Tak perlu khawatir tersesat karena jalan setapak telah terbentuk dengan jelas.

Jembatan Penyeberangan Lembah

Jembatan Penyeberangan Lembah

Berjalan Menyusuri Kanal Air

Berjalan Menyusuri Kanal Air

Tak lama, pejalan akan menemui sungai yang cukup lebar. Ia berasal dari Tiu Kelep untuk mengalir ke arah Sendang Gile. Sungai harus diseberangi dan pengunjung tak perlu ragu karena arusnya tak terlalu deras dan pejalan masih dapat berdiri dengan mantap di sungai tersebut. Lepaslah alas kaki untuk menyeberanginya agar aman. Perhatikan juga ketika melepas dan menyimpan alas kaki agar tidak terjatuh dan hanyut. Sekali saja terbawa arus, alas kaki atau barang Anda akan terseret sungai begitu cepat menuju hilirnya, dan Anda pun hanya bisa mengucapkan selamat tinggal. Simpan juga barang-barang elektronik dengan aman. Tinggi sungai tidak mencapai lutut sehingga realtif aman menyimpannya di dalam saku.

20150524_113153

Bersiap Menyeberangi Sungai

Bersiap Menyeberangi Sungai

Menyeberangi Sungai

Menyeberangi Sungai

Setidaknya pengunjung mesti menyeberangi sungai sebanyak 2 kali. Sensasi menyeberangi sungai di tengah hutan membuat wisata air terjun ini terasa menyenangkan :).

Sungai Lagi

Sungai Lagi

Menyeberangi Sungai Lagi

Menyeberangi Sungai Lagi

Berjalan Bernuansakan Hutan

Berjalan Bernuansakan Hutan

Saat Tiu Kelep mulai terlihat, pengunjung dapat mulai merasakan percikan buih-buih air membentur badan. Seolah terbang, butir-butir yang dipancarkan Tiu Kelep dihembuskan angin membasahi sekitarnya. Karena itu, ketika mendatangi Tiu Kelep, bersiap-siaplah untuk basah dan bila perlu bawa pakaian ganti.

Akhirnya Sampai di Tiu Kelep

Akhirnya Sampai di Tiu Kelep

Tiu Kelep terjun ke dasar yang membentuk kolam. Jika mau, pengunjung dapat berendam dan berenang namun jangan terkejut dengan suhu airnya yang dingin. Terkadang area Tiu Kelep dapat tertutupi oleh kabut jika titik-titik air tersebut sedang melayang rendah. Kolam Tiu Kelep yang langsung mengalir membentuk sungai membuat tempat tersebut penuh dengan genangan air, sehingga jagalah sepatu dan barang-barang berharga Anda agar tidak kebasahan.

Air terjun Tiu Kelep terlihat bertingkat dengan air yang jatuh di bagian atas terjun bebas bagaikan melompat indah. Di bagian bawah, air merambat pelan seolah menelusuri dedaunan paku, membuatnya seperti tirai tipis nan lebar.

Pijakan kebanyakan berupa bebatuan berlumut yang licin sehingga penting untuk berhati-hati dalam melangkah agar tidak terpeleset. Hal lain yang perlu diingat adalah jagalah kebersihan dan kelestarian agar kegagahan Tiu Kelep dapat terus dinikmati hingga generasi mendatang.

20150524_120138

20150524_120443

Mengagumi Tiu Kelep

Mengagumi Tiu Kelep

Kolam Tiu Kelep

Kolam Tiu Kelep

Berkali-kali mengambil foto di sana seolah takkan ada puasnya, karena memang keindahan ciptaan Allah SWT takkan pernah berhenti membuat kita bergetar. Ahh, memang banyak sekali alasan bagi kita untuk bertasbih dan memujiNya, bukan? Salah satunya dari kesempurnaan dan keindahan air terjun ini yang tak hentinya memercikkan butir air sebagai tanda salamnya kepada para manusia.

 

Bonus: saat jalan pulang, Anda bisa mencoba berjalan melewati terowongan kanal air yang terletak di jembatan penyeberangan lembah. Air yang mengalir di kanal cukup deras, namun manusia masih bisa berdiri tegak di atasnya. Lepas alas kaki agar ia tidak terbawa hanyut. Senter atau penerangan dapat digunakan karena terowongan tersebut cukup gelap. Pada akhirnya ia akan berakhir di tempat sebelum pertigaan Sendang Gile dan Tiu Kelep.

Terowongan Air

Terowongan Air

20150524_124439

Tempat Tembus Terowongan Air, di Pertigaan Tiu Kelep-Sendang Gile

Tempat Tembus Terowongan Air, di Pertigaan Tiu Kelep-Sendang Gile

Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , , | Leave a comment

[FOTO] Menyelami Keindahan Terumbu Karang nan Perawan di Gili Lampu, Lombok Timur

(catatan: sayang sekali ketika berkunjung ke Gili Lampu saya belum memiliki underwater camera sehingga tidak bisa merekam apa-apa. Semoga dalam waktu dekat saya bisa kembali untuk mengabadikan warna-warni terumbu karangnya yang masih perawan)

 

Pulau Lombok sudah banyak dikenal sebagai daerah wisata. Sebut saja Gili Trawangan, salah satu destinasi wisata yang sangat diincar oleh turis lokal hingga asing. Banyak wahana yang mampu memanjakan di sana, di antaranya ialah snorkeling. Kegiatan ini memang cukup banyak memiliki penggemar dan Lombok yang terkenal akan wisata pantainya tentu menjadi salah satu destinasi snorkeling.

Hanya saja, jika boleh berpendapat, Gili Trawangan bukanlah tempat terbaik untuk menikmati keindahan terumbu karang. Mungkin beberapa tahun lalu—waktu pulau mini tersebut masih sepi pengunjung—beragam warna-warni yang indah masih dapat dilihat. Namun, suasana Gili Trawangan yang tak pernah sepi dari pengunjung ditambah pembangunan sana sini membuat pesona terumbu karangnya berkurang. Jika ingin menikmati keindahan flora dan fauna bawah laut, ada satu tempat yang sangat direkomendasikan di Lombok. Ia adalah “Gili Lampu”.

Lombok sebenarnya masih memiliki banyak tempat yang sangat bagus untuk dikunjungi namun masih sepi pengunjung. Gili Lampu yang berada di Lombok Timur adalah salah satunya. Area timur memang belumlah sepopuler Senggigi di barat dan Gili Trawangan di utara. Ini adalah keuntungan tersendiri karena karang-karang yang ada di Gili Lampu belum  banyak terjamah.

Gili Lampu terletak di Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Awalnya ia merupakan tempat transmigrasi pensiunan tentara angkatan darat, sehingga daerah tersebut disebut “Transad”. Meskipun namanya “gili” (gili berasal dari bahasa sasak yang berarti “pulau”), tapi Gili Lampu bukanlah pulau melainkan sebuah pelabuhan kecil. Kapal-kapal nelayan berbaris di bibirnya, digunakan untuk memancing atau mengantar tamu untuk snorkeling. Selain kegiatan favorit tersebut, Gili Lampu juga menawarkan wahana-wahana lain, namun tetap wahana utama dan yang paling populer ialah wisata bawah laut.

Lama perjalanan dari Mataram – Gili Lampu kurang lebih 2-3 jam. Lombok jarang ada kendaraan umum sehingga untuk mencapainya memang harus menggunakan kendaraan pribadi. Karcis parkir di sana seharga 2.500. Pengunjung akan diberi pilihan lokasi snorkeling. Titik-titik snorkeling di sana ada Petagan, Gili Bidara, dan Gili Kondo. Jika hanya ke Gili Kondo, biaya sewa kapal sebesar 250 ribu. Kalau ingin paket lengkap—snorkeling di Petagan, Gili Bidara, GIli Kondo, dan bonus ke Gili Pasir/Gili Kapal—biayanya sebesar 450 ribu. Harga tersebut belum termasuk sewa alat snorkel dan life vest, yaitu 25 ribu/unit. Sangat direkomendasikan untuk mengambil paket lengkap karena tiap titik menawarkan keindahan yang berbeda. Oh ya, dengan harga segitu pengunjung dapat menyewa kapal sepuasnya tanpa batas waktu.

Selamat Datang di Gili Lampu

Selamat Datang di Gili Lampu

Wahana-Wahana di Gili Lampu

Wahana-Wahana di Gili Lampu

Dermaga Gili Lampu

Dermaga Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Pasir Pantai Gili Lampu

Naik Kapal

Naik Kapal

Meluncur Gan

Meluncur Gan

Jarak dari pelabuhan ke tempat snorkeling lumayan jauh. Pertama-tama kapal akan dilajukan melewati hutan mangrove di tengah laut. Tumbuhan berbentuk seperti semak-semak menyembul dari permukaan laut, berderet layaknya berbaris rapi membentuk hutan. Di bawahnya, tenggelam dalam laut yang tidak begitu dalam, tampak rerumputan tegak beridiri. Pengemudi mengarahkan kapal melewati mangrove yang berjajar di kanan dan kiri, seolah sedang menyusuri laut di pinggir hutan hujan tropis :).

Hutang Mangrove di Tengah Laut

Hutang Mangrove di Tengah Laut

Di Bawah Laut Terlihat Rerumputan Tegak

Di Bawah Laut Terlihat Rerumputan Tegak

Berlayar Sembari Disaksikan Pohon-Pohon Mangrove di Kanan Kiri

Berlayar Sembari Disaksikan Pohon-Pohon Mangrove di Kanan Kiri

Jika beruntung, pengunjung dapat dibuat terkesima melihat ikan-ikan kecil melompat-lompat seolah mengepakkan sayap. Sayang kala itu saya tidak sempat mempotretnya.

Titik yang pertama kami kunjungi ialah Gili Kapal. Ia sebenarnya berupa Gosong Pasir, daratan pasir mini yang muncul ke permukaan laut terutama saat terjadi surut. Saat itu kami beruntung karena gosong tersebut tengah menunjukkan wajahnya.

Gili Kapal

Gili Kapal

Daratan Gili Kapal

Daratan Gili Kapal

Pasir dan Batu Karang di Gili Kapal

Pasir dan Batu Karang di Gili Kapal

Selamat Datang di Gili Kapal

Selamat Datang di Gili Kapal

Tak lama, kapal pun menuju lokasi snorkeling pertama, suatu tempat di tengah laut yang disebut “Petagan”. Kelebihan snorkeling di Gili Lampu ialah kekayaan terumbu karangnya akan warna dan masih jernih dari perusakan manusia. Kita benar-benar bisa memuaskan mata meresapi keindahan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Terumbu Karang, Terlihati dari Atas Laut, di Petagan

Terumbu Karang, Terlihati dari Atas Laut, di Petagan

P1030454 P1030455

Mulai Snorkeling

Mulai Snorkeling

Bersiap :)

Bersiap :)

Lokasi selanjutnya ialah Gili Bidara. Sesuai namanya, ia merupakan pulau kecil di seberang Pulau Lombok. Dekat pesisirnya berbaris terumbu karang-terumbu karang yang memukau. Di antara semua lokasi snorkeling di Gili Lampu, Gili Bidara merupakan tempat dengan terumbu karang terindah! Hanya saja perlu kewaspadaan untuk snorkeling di sini. Tempat snorkeling berada di perairan dangkal sehingga mudah bagi pengunjung untuk berdiri, dengan di dasarnya banyak terdapat bulu babi. Duri tegar kehitaman layaknya tombak muram siap menusuk kaki-kaki tanpa perlindungan. Karena itu, penting untuk berhati-hati memilih tempat untuk berdiri atau gunakan sepatu katak (di Gili Lampu juga ada penyewaan sepatu katak, disewakan terpisah dari alat snorkel). Jika tertusuk bulu babi, hancurkan si duri di kaki dengan memukul-mukulnya menggunakan batu hingga hancur, lalu gunakan peniti untuk mengeluarkannya.

Setelah snorkeling, pengunjung bisa meminta untuk dibawa ke Gili Bidara. Menurut info dari guide yang mengantar kami, Gili Bidara, meskpun berukuran mini, ditempati oleh beberapa nelayan. Terdapat beberapa bangunan rumah di dekat pinggiran pulau. Tanah di atasnya pun digarap oleh penduduk menjadi ladang (saya sempat menanyakan apa yang ditanam di sana, tapi sayangnya si ingatan gampang sekali untuk menghilang ^^”). Memang tidak ada apa-apa di sana, tapi lumayan untuk ambil foto.

Menuju Gili Bidara

Menuju Gili Bidara

Terlihat Beberapa Bangunan Rumah di Gili Bidara

Terlihat Beberapa Bangunan Rumah di Gili Bidara

Menuju Gili Bidara

Menuju Gili Bidara

Selamat Datang di Gili Bidara

Selamat Datang di Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Bibir Gili Bidara

Daratan Gili Bidara

Daratan Gili Bidara

Tanah Digarap di Gili Bidara

Tanah Digarap di Gili Bidara

Gili Kondo merupakan tempat terakhir untuk dikunjungi. Seperti Gili Bidara, ia adalah pulau kecil yang tidak dibuat pembangunan seperti Gili Trawangan, namun ukurannya sedikit lebih besar dan ada saung-saung untuk berteduh. Titik snorkeling Gili Kondo berada tepat di pinggir pesisir. Bisa dibilang warna terumbu karang di sana lebih beragam, hanya saja tidak seluas dan sekaya Gili Bidara.

Terlihat Gili Kondo

Terlihat Gili Kondo

Selamat Datang di Gili Kondo

Selamat Datang di Gili Kondo

P1030520

Katanya Batang Kayu Ini Adalah Trademark dari Gili Kondo

Katanya Batang Kayu Ini Adalah Trademark dari Gili Kondo

P1030530

Tepian Gili Kondo

Tepian Gili Kondo

Asik Nih Kayaknya Kalau Ngecamp  di Sini :)

Asik Nih Kayaknya Kalau Ngecamp di Sini :)

Lokasi Snorkeling Ada Di Pinggir Sini

Lokasi Snorkeling Ada Di Pinggir Sini

Intinya, Gili Lampu, khususnya Gili Bidara, adalah tempat terbaik untuk snorkeling di Pulau Lombok—menurut saya ya, heheh—jauh jika dibandingkan Gili Trawangan. Sayang sekali jika bermain-main ke Lombok namun tidak menyapa terumbu karang di sana yang begitu jernih.

Jika Anda berkunjung ke Gili Lampu, ingatlah bahwa alam bumi bukan hanya milik generasi saat ini. Tentu sayang sekali jika keturunan kita di tahun-tahun berikutnya tidak bisa menikmati keindahannya. Peliharalah kebersihan dan kelestarian pesona terumbu karang di dalamnya. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga segala keindahan yang masih tersisa di bumi ini :).

Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Mengabdi, Menjemput Kematian?

Baru-baru ini ramai di media sosial berita tentang meninggalnya salah satu dokter yang tengah bertugas di Papua. Dunia kedokteran dan kesehatan berduka setelah dr. Dhanny Elya Tangke tidak bertahan menghadapi malaria. Dokter lulusan Universitas Hasanudin tahun 2012 itu sedang menjalani tahun ketiganya mengabdi di distrik Weime, Kabupaten Pegunungan Bintang, Propinsi Papua. Berita kepergiannya menjadi viral di jagat dunia maya dan ucapan belasungkawa mengalir deras.

Indonesia timur memang terkenal sebagai daerah endemis malaria. Tidak hanya di Papua, tapi juga di Maluku bahkan di kepulauan Indonesia tengah seperti NTB dan NTT. Berita semacam ini sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Jumlah dokter yang meninggal dalam tugas tak terhitung dengan berbagai penyebabnya. Selain malaria yang berkomplikasi ke otak, sering terdengar di telinga para dokter tentang gugurnya para sejawat mereka karena kecelakaan dalam tugas seperti tenggelam dan jatuh ke jurang.

Tugas ke daerah terpencil dan sangat terpencil tentu memiliki resiko lebih ketimbang di daerah kota padat. Sarana dan prasarana amatlah kurang, terutama fasilias kesehatan. Seorang yang terkena malaria yang berkomplikasi ke mana-mana tidak bisa ditangani di rumah sakit yang berada di pegunungan, namun harus dirujuk minimal ke rumah sakit rujukan propinsi (RSUP). Perjalanan ke RSUP sendiri membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pada kasus dr, Dhanny, ia terlambat dievakuasi BEBERAPA HARI karena kendala cuaca.

Sangat banyak kasus pasien meninggal dalam perjalanan atau di RS daerah akibat terlambat dirujuk. Ada berapa banyak jumlah pasien meninggal akibat cedera kepala berat? Indonesia salah satu negara dengan angka kejadian cedera kepala berat yang tinggi. Penyebabnya bisa ditebak: banyaknya pengguna sepeda motor yang berkendara semena-mena, tanpa rem, tanpa kaca spion, bonceng 3 hingga 4, dan paling parah tanpa helm. Seorang yang terkena cedera kepala berat harus cepat dinilai melalui pemeriksaan CT-Scan dan SEGERA dievakuasi perdarahan otaknya di meja operasi. Sayangnya, fasilitas CT-Scan hanya ada di RSUP. Sebelum sempat discan pun banyak yang sudah tewas duluan.

Itu adalah sebagian cerita tentang menyedihkannya fasilitas sarana kesehatan kita. Alih-alih pemerintah menyediakan dana untuk meningkatkan sarana kesehatan yang merata, anggaran kesehatan yang tidak mencapai 5% banyak terpakai untuk program Jaminan Kesehatan Nasional atau yang kita kenal sebagai BPJS. Insan kesehatan sudah menyuarakan bahwa premi BPJS terlalu rendah, yang awalnya disarankan oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) sebesar 66 ribu, setelah melewati DPR menjadi 23 ribu. Beberapa waktu lalu pun banyak masukan untuk menaikkan premi, namun lagi-lagi ditolak oleh DPR, dan mereka menyarankan untuk meningkatkan alokasi anggaran dari pemerintah untuk penanggungan BPJS. Memang program jaminan nasional berbasis asuransi ini banyak bermanfaat, namun bisakah terbayangkan alokasi untuk peningkatan kualitas jasa dan fasilitas kesehatan yang terkena dampaknya? Kondisi ini diperparah dengan belum tersebarluasnya kepesertaan BPJS, atau keadaan yang sangat sering dijumpai di RS: sudah sakit baru daftar BPJS. Jangan tanyakan besar jasa para tenaga kesehatan yang melayani jumlah peserta BPJS yang tiap harinya makin meningkat.

Tapi profesi kesehatan ialah pengabdian. Berapa pun besaran jasanya, dokter dan RS tak pernah boleh menolak untuk memberikan pelayanan. Para buruh dapat menurunkan massanya ke tengah jalan jika upah dirasa tak layak, namun dokter dan tenaga kesehatan lainnya tidak seperti demikian. Para dokter telah terikat dengan sumpah yang mereka ucapkan saat dilantik, “Saya aka membaktikan hidup saya demi kepentingan perikemanusiaan”.

Ributnya kondisi di atas tidak menyurutkan semangat pengabdian sebagian dokter untuk menjelajah ke pegunungan atau ke tengah hutan atau ke pualu terpencil. Daerah- daerah demikian tidak hanya minim fasilitas tapi juga tenaga kesehatan terutama dokter. Bertugas ke daerah terpencil tentu mengorbankan banyak hal. Terasing meninggalkan kenyamanan dan kemewahan metropolitan, jauhnya dari rumah dan keluarga, bertemu wajah-wajah asing dengan watak dan budaya yang sangat berbeda, dan berhadapan dengan ganasnya nyamuk anopheles atau jurang terjal atau amukan ombak atau bahkan adu parang dan peluru antarwarga.

Tentang malaria, ada kisah dari seorang senior yang pernah menjadi dokter PTT (pegawai tidak tetap) di Maluku. Umumnya, seorang yang akan datang ke daerah endemis malaria akan minum obat profilaksis (pencegahan). Dari 8 orang yang bertugas di sana, yang pertama kali terkena malaria adalah orang yang minum obat profilaksis! Senior saya sendiri selama PTT setahun sudah dua kali terkena malaria, sekali terkena malaria ringan (jenis malaria vivax) dan sekali malaria ganas (jenis malaria falciparum).

Ia juga bercerita tentang dokter satu almamater angkatan 2001 yang terkena malaria berkomplikasi ke otak (malaria cerebral). Ia dievakuasi ke RS Cipto Mangunkusumo dan berhasil selamat, setelah yang mengantarkannya selama perjalanan tidak bosan-bosannya melakukan resusitasi jantung paru dan menyuntikkan adrenalin.

“Untuk adik-adik yang mau PTT ke daerah endemik, saran saya ga usah repot-repot minum obat profilaksis…pasti kena,” petuah senior saya tersebut. Yang terpenting, menurutnya, yakinkan ada fasilitas pemeriksaan apus darah tepi dan obat malaria di puskesmas. Gejala awal malaria falciparum yang tidak khas, berupa nyeri perut, dikasih obat mag tidak mempan, setelah diberi obat malaria baru hilang. Ketika diperiksa apus darah tepi, positif malaria ganas….

DIGITAL CAMERA

Salah Seorang Dokter PTT Bertugas di Pedalaman Papua (sumber gambar: http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2013/01/15/dedikasi-dokter-di-daerah-terpenil-525430.html)

Itu baru malaria, belum kisah-kisah berbahaya lainnya yang tidak terekam media.

Tidakkah mengabdi itu seolah seperti menjemput kematian sendiri? Jika mengabdi itu memang berbahaya, apakah ia adalah alasan bagi kita untuk menghindarinya? Lalu, jika tidak ada satu pun yang mau mengabdi karena takut mati, masih adakah kata “kemanusiaan” di buku kamus bahasa?

“Hidup hakikatnya adalah perjalanan, dari satu waktu ke waktu lain menuju mati,” begitu seorang tokoh senior Wanadri dan seniman asal Bandung, Abah Iwan, bernyanyi. Jika yang dikhawatirkan adalah kematian, maka solusi terbaik ialah tidak pernah dilahirkan ke dunia. Sejak lahir pun seluruh sel dalam tubuh kita sudah memiliki kode untuk menghancurkan dirinya sendiri jika waktunya tiba. Kematian adalah keniscayaan; yang membedakan adalah bagaimana manusia berada di dalamnya, dalam kehinaan atau kemuliaan.

Adakah berada di kota besar akan mengamankan kita dari kematian? Tidak. Tak satu pun yang mampu lari darinya jika telah ditakdirkan.

“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya akan disempurnakan pahala kalian pada hari kiamat. Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka ia benar-benar telah beruntung. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya” (QS. Ali Imran: 185)

Mengabdi bukanlah menjemput mati, melainkan justru menjemput kehidupan. Awalnya manusia berada di dalam ruangan yang sangat sempit, di dalam rahim sang ibu. Kemudian, sambil menghembuskan nafas ia keluar menuju tempat yang lebih luas, dunia. Di masa kanak-kanak, area kehidupannya hanya berkisar rumah dan sekitarnya. Setelah beranjak dewasa, kehidupannya tumbuh seiring dengan meluasnya tempat hidupnya. Hingga kemudian, nafas-nafas kehidupannya melebar ke sudut-sudut yang terlupakan, terpencil dan jauh dari keramaian manusia, untuk berbagi senyum kehidupan. Jika enggan untuk melakukan perjalanan hingga ke sudut-sudut tersebut, tidakkah kehidupan kan terasa terlalu sempit?

Mengabdi ialah melakukan perjalanan. Langkah demi langkah harus terus dijejakkan. Manusia takkan pernah bisa hidup diam dan tak bergerak. Pepatah Arab mengatakan kehidupan manusia bagaikan air; jika mengalir ia menjadi jernih, namun jika diam dan menggenang ia kan kotor.

Jika mendengar kisah betapa berbahaya dan menantangnya di jalan pengabdian, maka yang muncul seharusnya ialah bukan takut melainkan bertambah semangat. Tentu melakukan perjalanan bukanlah untuk bunuh diri.

Tujuan dari perjalanan ialah “sampai di tujuan dan pulang kembali dengan selamat”. Berhasil atau tidaknya perjalanan sangat ditentukan oleh matangnya persiapan. Prinsipnya ialah “jangan lakukan perjalanan jika tidak memiliki persiapan”. Kadar persiapan tiap perjalanan tentu berbeda. Mendaki gunung es tentu memiliki persiapan yang jauh berbeda ketimbang mendaki gunung non-es. Menempuh rimba selama seminggu butuh persiapan ekstra ketimbang berkemah hanya semalam. Begitu pun ketika bertugas ke pedalaman: lakukan persiapan sebaik mungkin dan gali informasi yang banyak sebelum berangkat.

Ini pula yang membedakan antara “nekat” dan “berani”: orang yang berani berjalan menantang bahaya namun telah memiliki perhitungan, berbeda dengan nekat.

Mungkin kita kan bertanya, menyesalkah dr. Dhanny masuk ke pedalaman Papua setelah ia tahu kondisinya demikian? Tidak ada yang tahu. Tapi saya yakin—maafkan saya yang sok tahu ini—ia tidak menyesal, karena ia sendiri pernah bertutur, “Adalah kegembiraan dan kehormatan bagi saya bila dapat membantu dan melayani masyarakat di daerah terpencil”.

Jasadnya telah mati, seperti kita semua yang juga akan mati. Tapi, apakah jasa-jasa kita juga kan terkenang? Adakah nama kita kan juga mengabadi dan memberi inspirasi? Itulah perbedaannya antara pengabdi dan orang biasa.

Di akhir, saya ingin mengutip lirik “Balada Prajurit” yang diciptakan oleh Abah Iwan, berisi tentang para prajurit yang bertugas demi tanah air. Ya, para dokter yang mengabdi dan profesi apa pun yang mencurahkan pengorbanannya demi bangsa dan negara pada hakikatnya adalah para prajurit tanah air.

BALADA SEORANG PRAJURIT

Bangunlah hai prajurit, Siagakan dirimu

Berlatih tak pernah kenal berhenti

Gembirakan hatimu, Kobarkan semangatmu

Putus asa jauhkan dari dirimu

 

Bertempur pantang mundur

Lebih baik hancur lebur

Bila perlu demi tugas rela gugur

Bagi seorang ksatria kehormatan yang utama

Keringat dan darah siap kukorbankan

 

Gunung-gunung kudaki, Jurang curam kuturuni

Biar siang biar malam tak peduli

Hutan rimba kuarungi, Sungai deras kuseberangi

Biar hujan biar panas tak peduli

 

Sungguh jauh dari rumah, Rasa rindu tak tertahan

Namun tugas bagiku lebih utama

Demi kehormatan bangsa, Demi rakyat yang tercinta

Jiwa raga bila perlu kukorbankan

Bangunlah hai prajurit Siagakan dirimu

Categories: kesehatan, merenung, pembelajaran | Tags: , , , , | Leave a comment

Kebahagiaan yang Sederhana

Tak disangka perjalanan turun ke danau Segara Anak cukup jauh. Awalnya sy berpikir untuk mencapainya dari pelawangan Sembalun cukup berjalan turun menuruni punggungan secara lurus. Tapi ternyata danau itu terletak di sisi yang berlainan. Tidak hanya turun, pendaki pun mesti menyeberangi lembahan-lembahan. Akibatnya, perjalanan terasa jauh karena jaraknya yang panjang.

Kelelahan, seorang teman perjalanan berhenti dan berbicara ke arah sy, “Kang, minta minum.” Setelah dua hingga tiga kali tegukan, ia berujar, “Ahh…di sini air putih aja terasa nikmat ya.”

Yang diminumnya memang hanya air putih—air tawar biasa yang sehari-hari manusia minum dan hampir bisa ditemukan di mana saja—namun baginya kala itu terasa begitu nikmat. Apakah rasanya berbeda? Tidak. Tidak ada yang berbeda, kecuali lokasi dan keadaan saat itu.

Kami tengah berada di padang rumput, tengah perjalanan dari pelawangan Sembalun menuju danau Segara Anak—di alam terbuka. Tidak seperti kota, alam tidaklah memiliki fasilitas yang dapat memanjakan manusia. Semuanya serba alami. Untuk memenuhi kebutuhan atau kesenangan, manusia perlu membawa perlengkapan dan perbekalan sendiri dari rumahnya. Atau, jika membutuhkan sesuatu dari alam—misalnya api unggun untuk menghangatkan tubuh atau bahan makanan ketika dalam kondisi survival—usaha lebih perlu dikerahkan. Tidak seperti di kota yang hampir segala kebutuhan bisa dipenuhi sambil duduk, di alam terbuka manusia harus melawan rasa malas untuk bergerak dan bergerak.

Keadaan kami saat itu bisa dikatakan tengah kelelahan. Itu adalah hari ketiga kami berada di area pendakian gunung Rinjani. Hari pertama merupakan hari yang paling melelahkan, 9 jam mendaki hingga ke pelawangan. Hanya sempat tidur 4 jam, kegiatan dilanjutkan dengan summit attack selama 5 jam. Di hari ketiga ini perjalanan dilanjutkan dengan menuruni lembah menuju danau Segara Anak selama 2,5 jam. Ketika kelelahan dan cairan keluar dari tubuh dalam jumlah banyak, seteguk air pun terasa nikmat.

Memang, saat mendaki gunung, tegukan minuman—apalagi minuman manis—dan snack bisa memicu keluarnya hormone kenyamanan. Seringkali di tengah-tengah pendakian muncul keinginan untuk makan macam-macam—nasi padang, ayam goreng, dan sebagainya—makanan yang sebenarnya kalau tengah berada di kota sifatnya biasa saja. Tapi sedikit minuman manis, atau secuil jilatan coklat, bisa membuatmu bergumam, “Aahh…nikmat”. Tentu saja karena di alam terbuka tidak ada apa-apa. Bisa merasakan sedikit saja sesuatu yang berasa benar-benar menyenangkan.

Salah satu kondisi tersulit yang pernah sy rasakan ialah ketika menjalani Pendidikan Dasar Wanadri (PDW). Pendidikan tersebut bisa disebut “pendidikan militer tanpa senjata”, karena tata tertib dan kedisiplinannya terinspirasi dari pelatihan komando. Beberapa anggota senior Wanadri menjalani pendidikan militer ala komando, dan setelah pulang, beliau-beliau menerapkannya dalam PDW. Tidak hanya itu, pendidikan ini membuat para pesertanya berada di hutan selama 28 hari, sangat jauh dari kenyamanan rumah.

Saat awal-awal pendidikan, siswa tidur di dalam barak, yang tentu saja sangat tidak nyaman dibandingkan dengan kasur rumah. Namun setelah 3 hari, siswa diwajibkan membuat bivak untuk istirahat malam. Saat itu sy berpikir betapa nikmat dan bahagianya jika bisa tidur kembali di dalam barak. Kemudian di hari-hari berikutnya, tahap pendidikan beralih ke bivak solo/mandiri—dan saat itu pula sy bergumam betapa nikmatnya jika bisa tidur dalam bivak regu.

Tahap akhir dari pendidikan adalah survival. Di tahap ini semua siswa hanya boleh makan dari bahan-bahan yang ada di alam. Semua perbekalan makanan termasuk snack disita. Bahan bakar pun diambil, sehingga jika mau masak harus mengeluarkan energi lebih: menebas kayu-kayu kering, mengumpulkannya, dan membuat api unggun. Usaha yang lebih berat lagi mesti dikeluarkan ketika bangun tidur jam 4 pagi; tak ada waktu untuk melamun karena harus segera bergerak mengumpulkan kayu untuk membuat api. Makanan yang dimasak sebenarnya cukup variatif: pakis, bonggol pisang, jantung pisang, begonia, rotan, jika beruntung bisa mendapatkan cacing sondari dan kadal. Pelatih sebebarnya cukup berbaik hati karena memberikan garam sebagai bumbu.

Tentu saja di kala itu semua bayangan makanan keluar. Mulai dari yang mewah seperti nasi padang, nasi goreng, ayam goreng, hingga yang sederhana yang sebenarnya dimasak sehari-hari dalam pendidikan sebelum tahap survival seperti dendeng dan ikan asin. Kala itu, kami membayangkan jika bisa makan ikan asin saja, atau bisa minum seteguk energen, rasanya akan sangat, sangat membahagiakan.

Dan memang betul. H-1 akhir pendidikan, di siang hari, tahap survival ditutup dan semua siswa “buka puasa”. Makanan bebuka diberikan oleh pelatih berupa 1 buah pisang, 1 buah tempe bacem, 1 lontong, dan 1 bungkus energen. Yang pertama dimakan ialah buah pisang…bagaimana rasanya? “Allahu Akbar! Eeeennnnnaaaaakkkkkk…!” Itu adalah makanan terenak yang pernah dirasakan dalam seumur hidup sy. Air mata pun mengalir karena bisa merasakan lezatnya buah pisang. Ya, air mata bahagia.

Saat itu adalah masa-masa yang sangat membahagiakan. Benar-benar membahagiakan, walaupun sederhana.

Apa yang membuat seseorang bisa begitu bahagia? Mungkin kita sudah pernah mendengar kisah seorang pemuda yang bertanya ke seorang kakek yang bijaksana: sang pemuda bingung dengan apa yang sebenarnya paling ia inginkan dalam hidup ini. Ketika kepalanya dicerbukan ke dalam air secara paksa oleh sang kakek, si pemuda merintih dan berontak, namun si kakek tetap mendorong kepalanya ke dalam air. Kepala sang pemuda pun dibebaskan, kemudian ia ditanyai, “Apa yang paling kamu inginkan saat itu?” Sang pemuda menjawab bahwa yang paling ia inginkan adalah udara. Ya, hanya udara. Bernafas ialah kegiatan sederhana yang sehari-hari dilakukan ketika berpikir. Namun bagi manusia yang dalam kondisi sesak, bernafas merupakan hal yang paling mampu membuatnya bahagia.

_476928_0978981001406704454.png

Memangkah kebahagiaan itu bersifat relatif? Karena tidak ada satu pun yang berani memberinya definisi secara mutlak. Andai kebahagiaan itu berada di suatu tempat, tentu sudah tidak ada lagi ruang untuk kita karena para manusia dari berbagai belahan dunia akan berebut untuk mendesakinya. Andai kebahagiaan itu bisa dibeli, tentu ia sudah habis karena diborong oleh orang-orang kaya.

Tapi kebahagiaan itu tidak ada di mana-mana; ia ada di dalam hati dan pikiran setiap manusia. Cara berpikir seseorang terhadap kehidupan akan sangat menentukan apakah ia akan bahagia atau tidak. Hati yang jernih dari kerakusan dan ketamakan adalah sumber energi kebahagiaan terbesar yang dimiliki manusia.

Bahagia itu sederhana. Sesederhana seseorang yang mampu mensyukuri apa yang dimilikinya.

Alam terbuka mengajarkan kita tentang kebahagiaan yang sederhana. Hanya dengan meneguk air tawar di bawah teriknya matahari dalam kegersangan padang rumput mampu membuatmu bahagia. Hanya dengan berteduh di bawah tenda atau bivak setelah menempuh keletihan dan hawa dingin mampu membuatmu bahagia. Hal-hal yang sangat sederhana seperti itu saja ternyata bisa memunculkan rasa bahagia.

Tentu kondisi di kota berbeda dengan alam terbuka. Memiliki fasilitas yang nyaman merupakan impian setiap orang. Bekerja keras untuk memperoleh materi memang penting, karena harta dapat memberi kebahagiaan, tapi itu semua hanyalah sarana, bukan esensi. Apalah arti kemewahan bagi seorang yang isi pikirannya hanya ingin terus menambah dan menambah kekayaan. Semua yang dimilikinya, yang bagi sebagian orang hanya angan-angan, tidak mampu memberinya apa-apa.

Karena itulah Islam sangat menganjurkan untuk hidup qana’ah atau serba merasa cukup. Selain mencegah jiwa terkotori oleh ketamakan dunia yang takkan pernah habis, hal itu juga akan memberikan rasa tenang dan bahagia.

Hiduplah dengan sederhana, karena dengan hidup sederhana kita akan mudah untuk merasakan kebahagiaan.

 

 

Alam terbuka mengajarkan kita kebahagiaan yang sederhana
Tinggalkanlah dulu kenyamanan dan kemewahan kota
Yang berbagai makanan lezat nan gemerlap terus mendahaga
Tak pernah puas rasa haus ini seberapa banyak pun dihamburkan harta
Tapi ke mana, ke mana kah apa yang disebut-sebut sebagai bahagia?

Bergurulah kepada alam terbuka
Di bawah kegagahan panas mentari yang dipantulkan oleh rel kereta
Di tengah lelah dan letihnya berjalan rendah menyeberangi rawa
Di tepi lemahnya tubuh yang hanya menyantap daun berbumbukan garam tiada selera
Di dalam kondisi tidak menyenangkan itu semua, apa yang bisa membuatmua bahagia?

Hanya seteguk air yang tidak berasa
Air yang mengaliri tenggorokan yang penuh dahaga
Hanya sesederhana itu, di tengah alam terbuka, mampu membuatmu bahagia

11201608_1033329123346132_1174561553870858018_n

Foto PDW 2012

 

Categories: merenung, pembelajaran | Tags: , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,158 other followers