Betapa Islam Menyuruh Kita untuk Produktif

Apa hal terberat untuk kita lakukan di dunia ini? Salah satunya adalah bangun pagi. Kita tentu sering sekali merasakan daya tarik yang begitu besar dari sebuah kasur. Saking kuatnya, ia membuat kita enggan untuk mengangkat punggung darinya. Begitu pula dengan daya dorong langit yang masih gelap. Dorogannya amat kuat, sampai-sampai kita tak kuasa untuk membuka mata.

Orang kesehatan bilang, tidur yang paling sehat ialah 8 jam sehari. Jika kita perhatikan kebanyakan orang pada umumnya: orang-orang dewasa yang terbilang sukses dalam pekerjaannya, mereka benar-benar memanfaatkan tidur sebagai sarana untuk istirahat. Demi tubuh yang fit untuk menghadapi pekerjaan keesokan harinya, mereka pun baru bangun jam 6 pagi—atau saat matahari sudah terbit—supaya memiliki tidur yang cukup.

Tapi bagaimana Islam memerintahkan kita dalam hal istirahat di kasur? Allah SWT telah memanggil kita untuk bersujud kepadaNya saat langit masih gelap. Sekitar jam 4-5 subuh umat Islam harus sudah bangun menjalankan harinya, dan segala aktivitas hariannya dimulai dengan berdiri menghadapNya.

“Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barakah dan keberuntungan.” (HR. Thabrani dan Al-Bazzar)

Dimulai pagi hari, Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk mencari rizki. Ini merupakan salah satu hikmah umat Islam diperintahkan untuk bangun sebelum matahari terbit: memulai aktivitas produktif. Mencari nafkah adalah perintah dalam agama Islam dan merupakan amal yang sangat mulia. Ada banyak hadis yang menunjukkan keutamaan bekerja mencari nafkah.

“Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak.” (HR Bukhari)

Bagi umat Islam, memulai aktivitas produktif dengan mencari nafkah dimulai semenjak fajar.

Fatimah Az-Zahra meriwayatkan, “Pada suatu pagi Rasulullah Saw. lewat di depanku dalam keadaan aku sedang berbaring. Sambil membangunkan aku dengan kaki, Baginda berkata, ‘Hai Anakku, bangun, saksikanlah rizki Tuhanmu dan janganlah engkau menjadi orang yang lalai, sebab Allah membagikan rizki kepada manusia di waktu fajar mulai menyingsing hingga matahari terbit,” (HR. Baihaqi)

Bekerja mencari rizki wajib untuk dilakukan, namun ia adalah urusan dunia. Karena itulah, bukankah akan indah jika kita memulai aktivitas dunia kita dengan bersujud dan bertawakal kepadaNya?

Pentingnya untuk bangun pagi untuk segera beraktivitas produktif juga tergambarkan dalam hadis berikut:

“Seusai shalat fajar (subuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki.” (HR. Thabrani)

Seusai susah payah bangun sebelum matahari terbit untuk menunaikan solat subuh, tentu hal yang paling enak dilakukan adalah tidur kembali, bukan? Jam masih menunjukkan jam 5 atau setengah 6, sedangkan jam masuk kerja ialah jam 8…masih ada waktu untuk istirahat kembali sejenak.

Namun, bukan itulah yang diajarkan oleh Islam. Umat Islam sangat diperintahkan untuk produktif, menggunakan waktunya yang hanya 24 jam dalam sehari untuk beribadah dan bekerja. Umat Islam yang benar-benar beriman tidak menggunakan istirahat sebagai waktu untuk bermalas-malasan. Tempat tidur hanya didekati untuk mengisi kembali energi untuk beramal kembali keesokan harinya.

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rizki yang Kami berikan.” (As-Sajdah: 15-16)

Orang-orang yang (benar-benar) beriman senantiasa menggunakan waktunya untuk beribadah kepadaNya dan menjemput rejeki dariNya. Kemudian, setelah rejeki itu didapat, digunakan untuk menafkahkannya.

Bukan untuk bermewah-mewahan. Tidak seperti orang-orang kekinian, yaitu bekerja keras kemudian menggunakan hasil jerih payahnya hanya untuk berbelanja dan berlibur, menikmati kemalasan dalam kemewahannya.

Ath-Thabarani meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata, “Tatkala kami (para sahabat) duduk-duduk di sisi Rasulullah Saw, tiba-tiba ada seorang pemuda yang keluar dari jalan bukit. Ketika kami memperhatikannya, maka kami pun berkata, ‘Kalau saja pemuda ini menggunakan kekuatan dan masa mudanya untuk jihad di jalan Allah!’ Mendengar ucapan para sahabat itu, Rasulullah Saw bersabda, ‘Memangnya jihad di jalan Allah itu hanya yang terbunuh (dalam perang) saja? Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya, maka dia di jalan Allah, siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan Allah, tapi siapa yang bekerja untuk bermewah-mewahan (memperbanyak harta) maka dia di jalan thaghut.’” (HR Thabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath).

Beginilah Islam mengajarkan kita untuk bekerja. Hasil dari pekerjaan tersebut bukan untuk hal-hal yang berlebihan, yang menimbulkan kecemburuan sosial dan kesenjangan. Hasil dari ibadah kita dalam bentuk bekerja ialah untuk berbagi: memberi penghidupan kepada orang tua, keluarga, dan menafkahkannya untuk orang-orang yang membutuhkan. Selain itu, bekerja dan berpenghasilan adalah untuk menjaga kehormatan seorang muslim agar tidak meminta-minta.

“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri, sedang Nabi Daud Alaihissalam juga makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR Bukhari)

Allah pun memerintahkan hambaNya agar setelah selesai solat untuk kembali bekerja…

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al Jumu’ah: 10)

…dan bila telah selesai satu pekerjaan, bukan bermalas-malasan dan bersantai-santai ria, namun

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Asy Syarh: 7)

Islam adalah rahmat alam semesta. Ia bersifat syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna). Tidak hanya sebuah ajaran untuk berkutat dalam hal-hal ritual, ataupun melulu di dalam masjid tanpa mengenal dunia luar. Seorang muslim yang benar-benar menjalankan ajaran yang dibawa Rasulullah saw. akan bersungguh-sungguh melaksanakan pekerjaannya. Bukan adalah kaya atau hidup mapan alasan ia bekerja keras, namun untuk memakmurkan bumi, sebagaimana Allah berfirman,

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah: 30)

Tidak heran jika Islam menyimpan sejarah yang sangat manis. Kerajaan Persia yang telah berdiri dan berjaya ratusan tahun akhirnya runtuh istananya hanya puluhan tahun setelah Islam turun. Bukan hal yang mengejutkan pula Bagdad menjadi kota paling maju di planet kala dipimpin Harun Ar-Rasyid. Begitu pula kota Cordoba ketika ia dikenal sebagai kota seni dan sains. Juga Konstantinopel yang dikenal sebagai benteng yang tak mungkin dijatuhkan, menjadi kota yang damai dan penuh toleransi saat Muhammad Al Fatih menginjakkan kakinya.

Itu adalah karena Islam sejak awal memang mengajarkan umatnya untuk bekerja dan produktif.

Mari mengevaluasi diri. Seorang yang (benar-benar) beriman adalah orang yang paling bekerja keras di lingkungan kerjanya. Jika di tempat kerja atau sekolah atau kampus kita termasuk orang yang tidak maksimal dan totalitas, mungkin perlu diperbaiki solat kita, baca quran kita, mengaji kita…bahwa ketaatan seorang muslim dalam beribadah semestinya berdampak dalam produktivitas kesehariannya,.

Categories: merenung | Leave a comment

Bintuni, Kan Setahun Ku Di Sini

20160127_143302

Mengapa harus ke Papua?

Berulang kali pertanyaan tersebut diajukan. Sudah dari lama saya memutuskan ingin bekerja sebagai dokter PTT (pegawai tidak tetap) selama setahun di pulau paling timur nusantara ini. Walaupun cukup berat menjelaskan alasannya, terutama ke keluarga, kenyataannya sudah satu bulan saya berada di Papua.

Kota tempat saya bekerja ialah Kabupaten Teluk Bintuni. Tidak ada penerbangan langsung menuju Papua dari Tangerang (dari bandara Soekarno Hatta yang ada di Tangerang). Untuk menuju Bintuni, pertama terbang dulu tujuan Manokwari. Dari Manokwari menuju Bintuni terdapat dua pilihan: menggunakan pesawat perintis—Susi Air—atau melewati jalur darat menggunakan mobil double gearbox seperti Toyota Hilux.

Penerbangan paling cepat ke Manokwari dari Tangerang ialah pesawat Sriwijaya Air yang terbang jam 22.20 menuju Makassar. Di bandara Sultan Hasanuddin, transit hanya sekitar satu setengah jam, dan penerbangan dilanjutkan langsung ke Manokwari dan sampai di sana menurut jadwal sekitar jam 7 pagi WIT.

20151227_080230

Bandar Udara Rendani, Manokwari

Saya sendiri memilih menggunakan Garuda Indonesia karena kepercayaan orang tua yang lebih kepadanya. Garuda transit lebih lama di Makassar, sekitar 3 jam. Kemudian penerbangan pun tidak langsung ke Manokwari tapi transit sebentar di Sorong sekitar 20 menit (transit tanpa turun pesawat). Akhirnya saya menapakkan kaki di tanah Papua, tepatnya Manokwari, hari Minggu, 27 Desember 2015 jam 8 pagi waktu setempat.

Menuju Bintuni dengan menggunakan pesawat tentu lebih cepat. Waktu yang diperlukan hanya sekitar 20-30 menit jika lewat jalur udara. Namun, pengguna pesawat perintis harus rela menari-nari di udara selama penerbangan karena ukurannya yang kecil membuatnya gampang digoyang angin . Walaupun lebih lama—sekitar 8-9 jam—setidaknya dengan jalur darat saya bisa tidur lebih nyenyak.

Sayangnya tidak banyak yang bisa diceritakan tentang perjalanan saya dari Manokwari menuju Bintuni menggunakan mobil double gearbox 4×4. Entah kenapa saya selalu sulit dan hampir tidak bisa tidur jika terbang. Penerbangan yang larut dan lama, dari Tangerang jam 9 malam WIB dan baru mendarat sekitar jam 8 pagi WIT, membuat saya ngantuk berat. Alhasil, hampir selama perjalanan darat itu saya tertidur.

Manusia tidak bisa menggunakan mobil biasa untuk ke Bintuni dari Manokwari. Di awal-awal jalan memang mulus beraspal, namun di tengah-tengah hingga menjelang tujuan jalannya benar-benar hancur dan menanjak. Hilux yang digunakan berkali-kali harus mengatur gearboxnya yang ada dua supaya bisa menanjak di atas jalan tanah berkawah—mobil biasa tentu tidak akan kuat melewatinya, Perjalanan akan menjadi semakin sulit jika hujan.

Orang-orang bilang selama perjalanan bisa melihat pemandangan yang cukup memukau—hamparan laut dan gunug. Sayang, semua bagian itu terlewatkan. Sebagian besar perjalanan yang saya lihat–saat melek–didominasi oleh hutan di sebelah kiri-kanan jalan. Hutan yang masih alami tak tersentuh manusia karena pembangunan di Papua masih sangat minim.

Setiba di Bintuni langit sudah gelap. Tujuan saya ialah mess dinas kesehatan. Ia adalah rumah tinggal yang disediakan untuk dokter-dokter kontrak di RS maupun puskesmas. Mess terletak di Km 5—begitu orang-orang di sini menyebutnya—terletak di dalam komplek dinas kesehatan bagian belakang.

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Mess Dokter, Belakang Dinas Kesehatan

Ada 5 kamar tidur dan dua kamar mandi di mess, juga ada dapur dengan peralatan masaknya yang lengkap. Kamar-kamar itu juga diisi oleh dokter-dokter puskesmas, walau mereka lebih sering tinggal di puskesmasnya. Hal ini karena perjalanan ke puskesmas cukup jauh. Ada yang bisa mencapainya dengan jalur darat, namun banyak juga yang mesti digoyang-goyang ombak di atas kapal. Bukan berarti puskesmas tersebut berada di pulau; ia terletak di daratan utama juga namun tidak ada akses darat ke sana. Kadang-kadang dokter puskesmas datang dan menginap di mess untuk sekedar “refreshing”—ada tv kabel di mess—sekitar sekali dalam satu atau dua dalambulan. Jika dokter puskesmas tidak ada, hanya saya dan tiga dokter lainnya yang menghuni mess.

Di pagi hari esoknya, saya lebih bisa melihat jelas seperti apa “kota” Bintuni. Hanya ada satu jalan raya; membentang lurus dari ujung ke ujung. Kadang-kadang ada jalan arteri yang kecil dan tidak semulus aspal jalan raya. Di kiri-kanan jalan raya membentang pohon-pohon hutan tropis; di satu sisi terdapat laut, di sisi lainnya menuju hutan belantara.

Satu Jalan Raya Lurus di Bintuni

Satu Jalan Raya Lurus dari Ujung ke Ujung

Kanan dan Kiri Jalan Berupa Hutan Belantara

Kanan dan Kiri Jalan Berupa Hutan Belantara

Tidak banyak pembangunan dan jarak antarbangunan cukup jauh. Contoh saja dinas kesehatan dan rumah sakit berjarak 2 km, yang sepanjang jalan di antaranya hampir tidak ada bangunan kecuali warung-warung kecil. Di atas udara, kita bisa melihat pulau Papua yang kebanyakan berupa hutan belantara. Jarak antar satu kota dengan lainnya cukup jauh dan di antaranya hanya ada hutan–jalan hanya terlihat sedikit dan sangat kecil. Memang ini bagus untuk direnungkan: sudah puluhan tahun Papua Barat bergabung dengan Indonesia, tapi tetap saja kebanyakan isinya masih berupa hutan.

Rumah sakit berada di Km 7—kalau orang sini menyebutnya “ke arah atas”. Disebut demikian karena jika terus berjalan melewati rumah sakit, jalan akan membawa ke arah perbukitan. Arah sebaliknya dari rumah sakit, yaitu Km 0 dan setelahnya (sy tidak tahu disebutnya apa, tapi sepertinya bukan Km -1, Km -2, dst) ialah menuju “kota”. Jika mau ke “kota”, orang-orang akan menyebutnya “ke bawah”. Setelah melewati kota, jalan raya cenderung kosong dan tidak ada bangunan ke arah permukiman transmigran, yang orang di sini menyebutnya “SP”. Katanya, ada 5 SP dari paling jauh hingga paling dekat kota.

“Kota” adalah sebutan wilayah yang banyak toko-toko dan warung makan. Toko-toko dan warung yang ada berukuran kecil-kecil. Di kota terdapat pelabuhan tempat kapal-kapal pengangkut barang-barang dari Jawa, juga manusia, berlabuh. Berbagai barang yang dijual di toko dan bahan-bahan makanan kebanyakan berasal dari Jawa. Akibatnya, jika kiriman belum datang, stok barang akan habis dan mesti menunggu kapal untuk mendapat persediaan yang baru.

Pelabuhan Bintuni. Dari Sini Pula Sejawat Saya Naik Kapal untuk ke Puskesmas

Pelabuhan Bintuni. Dari Sini Pula Sejawat Saya Naik Kapal untuk ke Puskesmas

"Kota" Bintuni. Motor yang dengan Pengendara Berhelm Kuning ialah Tukang Ojek. Tarif Ojek Sekali Jalan Rata-Rata 10-15 Ribu

“Kota” Bintuni. Motor dengan Pengendara Berhelm Kuning ialah Ojek. Tarif Ojek Sekali Jalan Rata-Rata 10-15 Ribu

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Masjid Besar di Kota. Karena Banyak Pendatang, Jumlah Masjid Ada Beberapa dan Suara Azan Dikumandangkan dengan Pengeras Suara

Di Bintuni Ada Bandara yaitu Bandara Steenkool. Hanya Pesawat Kecil yang Mendarat di Bandara Kecil Ini. Sore Hari, Saat Sudah Tidak Ada Penerbangan, Landasan Suka Digunakan Sebagai Tempat Joging

Di Bintuni Ada Bandara yaitu Bandara Steenkool. Hanya Pesawat Kecil yang Mendarat di Bandara Kecil Ini. Sore Hari, Saat Sudah Tidak Ada Penerbangan, Landasan Suka Digunakan Sebagai Tempat Joging

Seperti yang kita tahu semua, harga-harga lebih tinggi di Papua. Rata-rata sekali makan sekitar 15-30 ribu. Menu makanan pun tidak variatif; kebanyakan yang jualan ialah orang Jawa Timur yang masak pecel lalapan ayam. Juga ada beberapa warung menjual masakan Makassar seperti coto atau konro karena banyak pendatang dari Makassar.

Rumah Sakit Umum Bintuni ialah rumah sakit tipe D. Bangunannya berupa gedung baru—mungkin baru dibangun sekitar awal tahun 2010. Beberapa alat dan sarananya juga terlihat baru. Yang cukup tidak disangka, alokasi dana untuk pemenuhan sarana rumah sakit cukup tinggi. Baru-baru ini saja RS membeli 4 mesin ventilator, yang satu mesinnya saja setara dengan dua mobil Hilux. Bangunan ICU pun sedang dalam proses pembuatan.

20151227_143426

Papan Tulisan Rumah Sakit Tidak Terlihat dari Depan dan Tertutup Semak. Tulisan “Poliklinik” adalah yang Terlihat Mencolok Saat Melintasinya

20151227_143319

Tidak Seperti Kebanyakan Rumah Sakit, yang Berada di Depan dan Terlihat Jelas ialah Bangunan Poliklinik, Bukan UGD

Meskipun demikian, masih banyak kekurangan di RS. Jumlah pekerja seperti pegawai laboratorium masih kurang sehingga tidak ada petugas lab yang standby 24 jam—jika sore atau malam, mereka bersifat on call untuk pemeriksaan darurat. Begitu juga dengan petugas radiologi. Tenaga dokter juga sebenarnya perlu ditambah. Jumlah dokter umum hanya 7 orang ditambah 3 orang dokter internship yang akan selesai masa tugasnya akhir februari. Tiga dokter internship bertugas di ruangan melakukan follow up pagi. Jika sudah siang, maka hanya ada satu dokter yang jaga satu rumah sakit—UGD, rawat inap, ponek, ruang perinatology—hingga besok paginya. Di waktu siang dan malam, dokter jaga harus melayani pasien yang datang ke UGD. Di tengah-tengahnya, ia bisa saja dipanggil ke rawat inap karena ada pasien yang mengeluh atau dalam kondisi gawat, kemudian dipanggil juga ke ponek karena ada ibu-ibu mau melahirkan. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya orang datang ke UGD sore-sore hanya untuk rawat jalan—tidak enak untuk menolak karena rata-rata rumah mereka jaraknya jauh dari RS. Alhasil, bekerja sebagai dokter PTT di RS Bintuni cukup melelahkan. Maaf ralat: sangat melelahkan.

Dokter spesialis baru ada tiga: dokter bedah umum, anestesi, dan dua dokter kandungan. RS belum memiliki dokter penyakit dalam dan dokter anak. Hingga kini, yang mengisi pos tersebut adalah dokter residen tingkat akhir (sudah selesai stase dan menunggu ujian nasional) yang dalam program pengabdian selama 6 bulan karena mereka penerima beasiswa Kementerian Kesehatan. Dokter penyakit dalam saat ini berasal dari RS Kariadi Universitas Diponegoro dan dokter anak dari RS Soetomo Universitas Airlangga.

Peralatan pun masih kurang. Sebagaimana RS daerah pada umumnya, tidak ada pemeriksaan analisis gas darah. Bahkan pemeriksaan elektrolit pun belum ada. Walaupun saat ini sudah ada ventilator, tidak adanya analisis gas darah dan eletrolit rasanya membuat peran ventilator yang ada tidak maksimal. Apalagi sebentar lagi akan ada ICU.

Setiap senin pagi, diadakan morning report untuk mempresentasikan kasus hari Sabtu. Yang melaporkan ialah dokter jaga di hari weekend tersebut. Di hari Kamis, umumnya dokter umum diminta untuk mempresentasikan kasus rawat inap yang tidak biasa, unik, rumit, dan yang membuat pasien meninggal. Dokter umum juga diberi kewajiban untuk menjadi asisten operasi, apakah operasi bedah atau obgyn—walau sementara ini yang turun sebagai asisten ialah dokter internship. Singkatnya, pekerjaan di RS cukup banyak.

Bosan? Sudah pasti. Terlebih di Bintuni tidak ada hiburan dan tidak ada tempat rekreasi. Yah, karena sudah terlanjur di sini, jalani dan nikmati saja semua aktivitas yang ada.

Mengapa harus ke Papua?

Semenjak awal-awal menjadi mahasiswa, sudah merupakan keinginan kuat untuk ke pulau ini. Alasan utama ialah karena ingin bertualang ke wilayang paling timur Indonesia. Papua dikenal sebagai daerah yang masih tertinggal. Karena itulah, saya ingin melihat-lihat kondisinya, melihat orang-orangnya, dan merasakan menetap di daerah tertinggal. Bekerja di sarana kesehatan yang serba terbatas dan dengan kondisi masyarakat yang kurang terjaga kesehatannya karena di daerah terpencil tentu merupakan tantangan tersendiri.

Memang Bintuni lebih maju dibandingkan daerah Papua yang lain. Karena letaknya di pesisir, ada banyak pendatang dan transmigran yang tinggal dan menjalankan aktivitas ekonomi. Jika dilihat, kebanyakan penggerak roda ekonomi Bintuni ialah para pendatang,

Tidak bisa dipungkiri juga keinginan saya untuk memiliki SMB (surat masa bakti). Surat sakti ini banyak dicari-cari sebagai senjata untuk daftar sekolah ppds (program pendidikan dokter spesialis) kelak. Saya akui, saya pun menginginkannya. Maklum, tidak ada prestasi, nilai kuliah yang biasa-biasa saja, dan tidak punya kenalan pejabat membuat saya harus bekerja lebih ekstra.

Namun apa pun itu, semua saya syukuri. Ini adalah bagian dari keinginan besar untuk terus melakukan perjalanan. Mimpi untuk mendaki gunung-gunung tinggi bahkan gunung es, walau mulai sedikit memudar, masih ada. Begitu pun keinginan untuk melihat-lihat keadaan, alam, bahasa, dan wajah manusia di berbagai belahan bumi.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al Jumuah: 10)

Yah, yang terpenting, semua ini diniatkan ikhlas karena Allah. Baru sebulan di sini saya sudah mulai merasakan jenuh. Namun saya pun menyadari, jika kelelahan pekerjaan ini dijalankan dengan beban berat di pikiran, maka yang ada adalah rasa tersiksa. Tapi jika pikiran dijernihkan, hati diikhlaskan, semua sebagai bentuk pengabdian kepadaNya, segalanya akan terasa ringan dan dimudahkan. InsyaAllah.

Categories: catatan perjalanan | 3 Comments

Dokter yang Baik Itu Masih Banyak

investigasi tempo

investigasi tempo

Baru-baru ini saya dikejutkan oleh broadcast gambar yang menunjukkan bocoran isi majalah tempo yang akan terbit. Pada konten investigasi, tertulis besar judul “Jejak Suap Resep Obat”.

Broadcast tersebut cukup menyebar luas di kalangan dokter. Entah dari mana asal gambar tersebut, tapi tampaknya benar-benar menunjukkan isi dari majalah tempo yang akan terbit nanti.

Kolom investigasi tersebut berisi kurang lebih tentang maraknya kasus suap atau “gratifikasi” yang dilakukan perusahaan farmasi kepada para dokter dan rumah sakit. Disebutkan bahwa sebuah redaksi majalah tempo memiliki berkas berupa Microsoft excel yang berisi tentang jumlah uang atau servis yang diberikan kepada beberapa dokter dan rumah sakit. Tiap dokter menerima uang antara 5 juta – 1 milyar. Ada juga dokter-dokter yang mendapat servis tertentu seperti pembiayaan nonton balapan F1, pembelian mobil, sponsorship untuk mengikuti symposium atau seminar, dan lain-lain.

Entah dari mana tempo mendapatkan file milik sebuah perusahaan farmasi tersebut, tidak dijelaskan di artikelnya. Tertulis di dokumen itu bahwa sang perusahaan mengeluarkan 131 miliar rupiah selama 3 tahun untuk pemberian uang atau servis yang disebutkan di atas. Artikel tersebut juga menuliskan pernyataan seorang guru besar farmakologi sebuah universitas negeri bahwa biaya untuk menservis dokter mencapai 45% dari harga obat. Akibatnya, harga obat menjadi mahal.

Sebelum artikel ini, sempat beredar juga di media social tulisan sebuah blog mengenai kerja sama antara dokter dengan perusahaan farmasi yang diperantarai oleh orang-orang yang bertugas memberikan informasi suatu produk obat kepada dokter secara langsung, disebut dengan medical representative atau medrep. Perusahaan farmasi melalui medprep menjanjikan servis bagi dokter, apakah itu uang tunai, mobil, sponsor kegiatan symposium, atau yang lainnya dengan syarat sang dokter menuliskan resep obat dari perusahaannya hingga mencapai suatu target tertentu. Jika seorang dokter mendapat uang atau servis senilai sekian, maka dokter tersebut mesti menuliskan resep obat hingga mencapai lima kali lipat biaya servis tersebut.

Artikel tentang ini rencananya akan dimuat di majalah tempo tanggal 8 November 2015. Tidak tahu kenapa tiba-tiba media tersebut mengangkat tema tentang ini. Saya juga sebenarnya bertanya apakah tempo sudah mendapat izin untuk memasang foto-foto dokter yang disebutkan di dalam artikelnya dari pihak terkait.

Benarkah kondisi yang diceritakan tersebut?

Saya sebagai dokter baru tidak bisa memastikannya. Keadaan-keadaan di atas belum pernah dialami.

Memang sebuah rumah sakit banyak dipenuhi oleh para medrep yang bertugas menawarkan suatu produk obat kepada para dokter. Itu adalah tugas mereka. Ketika tengah menjalani program internsip, beberapa kali medrep pun datang kepada saya. Keadaan yang cukup mengherankan bahwa dokter yang masih internsip pun sudah menjadi sasaran para medrep.

Apa yang saya pahami adalah para medrep tersebut sedang menjalani tugas dan mencari nafkah. Sejujurnya apa yang disampaikan oleh mereka tidak menarik minat dan saya agak malas mendengarkannya. Namun saya mengerti, tanda tangan seorang dokter akan sangat bermakna bagi pekerjaan mereka. Sering para dokter ketika didatangi medrep mereka langsung tanda tangan tanpa mendengarkan penjelasan apa-apa terlebih dulu, sekedar untuk membantu para medrep tersebut. Yah, saya meniatkan tanda tangan untuk membantunya, tanpa ada keinginan sama sekali untuk menjalin kerja sama atau kesepakatan dengan pihak-pihak tertentu. Walau, hingga saat ini tidak ada yang datang untuk menawarkan keja sama. Ya tidak apa-apa sih, tidak berminat juga, heheh.

Umumnya Pasien Sendiri yang Minta Diresepkan Obat Bermerk/Paten

Perlu dipahami bahwa ketika seorang dokter meresepkan obat, hal itu dilakukan melalui berbagai pertimbangan. Banyak hal yang harus dipikirkan ketika menulis resep, tidak hanya apakah obat tersebut efektif menyembuhkan. Efek samping dan kontra indikasi juga perlu dipikirkan, terutama bagi pasien-pasien khusus seperti wanita hamil atau yang memiliki riwayat alergi.

Selain itu, salah satu faktor yang perlu dipikirkan juga ialah soal keekonomian. Dokter harus paham kisaran harga suatu obat dan kondisi ekonomi pasien yang dihadapinya. Tentu tidak sopan bila seorang dokter menanyakan penghasilan per bulan pasien. Itulah seni menjadi dokter—kemampuan menilai pasien secara kasar dan komunikasi yang baik harus dimiliki.

Adalah hal yang mustahil jika pasien tidak mampu—yang terlihat secara kasar dari penampilan luar—diresepkan obat paten yang begitu mahal. Apalagi pasien jamkesmas/BPJS. Lembaga jaminan sosial hanya mau membayar klaim obat-obatan yang terdaftar di formularium BPJS.

Bukan hal yang jarang pasien yang mampu alias menengah ke atas atau sebut saja kaya raya meminta obat paten atau bermerk. Apa jadinya jika orang-orang perlente diberi obat generik? Biasanya mereka kecewa dan minta digantikan dengan yang paten. Atau, setelah keluar dari ruang pemeriksaan muncul gossip seorang dokter yang dianggap tidak kompeten karena meresepkan obat generik. Tidak perlu menjadi kaya untuk menjadi demikian, pasien dengan penghasilan yang pas, jika berkunjung ke dokter spesialis, rata-rata akan meminta obat paten/merk.

Itu adalah kondisi nyata masyarakat saat ini. Diyakini bahwa obat paten dan bermerk lebih efektif menyembuhkan. Kondisi psikologis dapat berperan di sini. Saat mendapat obat paten, pasien merasa yakin akan sembuh, akhirnya pemikiran positif itulah yang mendorong tubuhnya untuk merespon kinerja obat lebih baik. Sebaliknya, prasangka yang buruk ketika mendapat obat generik mendorong dirinya sendiri untuk yakin bahwa ia tidak akan sembuh.

Apakah memang obat paten atau bermerk lebih efektif? Setidaknya pengalaman dan data-data empiris memang menunjukkan obat bermerk dapat lebih superior ketimbang generik.

Pasien Berhak Sepenuhnya Menentukan Pengobatan Atas Dirinya

Jadilah pasien cerdas. Tanyakan kepada dokter penyakit apa yang sedang dialami, apa penyebabnya, apa factor resikonya, apa saja pilihan-pilihan pengobatannya, apa pilihan terbaik, dan bagaimana peluang untuk sembuhnya. Jika Anda menderita penyakit jantung padahal baru berusia 30-an, dokter mungkin akan menyatakan bahwa sang penyakit disebabkan oleh rokok. Maka berhentilah merokok.

Pasien pun berhak meminta kepada dokter bila ingin diresepkan obat generic. Mungkin sang dokter akan mengatakan bahwa obat paten yang diresepkan memiliki nilai efektivitas yang lebih baik. Namun, jika pasien tetap ingin diresepkan obat generic, maka akan diganti saat itu juga. Dokter tidak akan pernah memaksa pasien untuk membeli obat paten/bermerk.

Sebelumnya saya pernah menulis tentang hak-hak pasien ketika berobat ke dokter, silakan jika ingin mampir di sini: Hak Pasien Ketika Berobat :D

Apalagi Saat Ini Kita Hidup di Era BPJS

Sudahkah Anda daftar BPJS?

Sistem Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS menjamin setiap warga negara yang mendaftarkan diri di sistem tersebut untuk mendapatkan pelayanan kesehatan—sesuai dengan prosedur yang diberlakukan oleh BPJS. Sistem asuransi ini seperti subsidi silang—iuran premi dari warga yang berduit mensubsidi warga miskin yang tidak perlu bayar premi namun tetap mendapat pelayanan. Tentu pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk mensubsidi warga miskin.

Ketika sakit, peserta BPJS tidak perlu membayar biaya pemeriksaan, pengobatan, dan obat-obatan. Kesemuanya akan dibayarkan oleh BPJS.

Penting diketahui bahwa BPJS hanya membayar klaim bila sesuai prosedur yang ditetapkan atau bila obat-obatan yang diresepkan sesuai dengan formularium BPJS—yang kebanyakan ialah generik. Contoh, jika seorang pasien ingin melahirkan, dan ia lahir secara normal tanpa ada komplikasi, maka BPJS hanya mau membayarkan jika proses persalinan dilakukan di puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama. Begitu pula jika menderita demam berdarah tanpa adanya komplikasi shock/renjatan, BPJS tidak akan mau membayarkan pasien yang berobat ke rumah sakit atau ke spesialis. Demam berdarah tanpa renjatan dianggap bisa ditangani di puskesmas atau fasilitas yang setara.

Begitu pula dengan obat-obatan. Bila dokter meresepkan obat bermerk yang mahal dan tidak ada di formularium, atau ada namun tidak sesuai indikasi, BPJS tidak akan mau membayarkan. Akibatnya, rumah sakit akan rugi. Sehingga, bagi Anda pasien BPJS, tidak perlu khawatir soal resep obat-obat yang mahal.

Bagaimana penerapan BPJS hingga saat ini?

BPJS selalu merugi. Semenjak sistem diberlakukan, lembaga ini selalu terancam bangkrut. Penyebabnya ada beberapa. Di antaranya adalah banyaknya warga yang mampu dan sedang dalam kondisi sehat tidak mau mendaftar. Kebanyakan peserta sistem ini adalah warga miskin yang ditanggung oleh pemerintah dan mereka yang memiliki penyakit kronis sehingga secara rutin akan terus berobat. Sisanya adalah orang sehat yang hanya mendaftar ketika sakit. Setelah sakitnya sembuh, enggan untuk melanjutkan iuran per bulannya.

Kondisi ini diperparah dengan rendahnya angka premi yang ditetapkan. Jika ingin menaikkan premi demi meningkatkan kualitas pelayanan, masyarakat beserta para anggota dewannya pun protes. Bensin, tariff listrik, tabung gas, dan harga-harga komoditas boleh naik, namun biaya kesehatan dan jasa dokter tidak boleh—karena tugas tenaga kesehatan untuk mengabdi.

Tidak perlu bertanya mengenai kondisi dokter di era BPJS. Pihak yang paling rugi di era ini adalah para dokter bedah. Biaya operasi yang ditanggung oleh BPJS sangat rendah sehingga biaya yang banyak ditekan ialah jasa medis dokter. Tapi tak mengapa. Tugas dokter adalah mengabdi.

Dan banyak suara-suara protes dan tidak puas mengenani sistem jaminan sosial negara kita yang baru berjalan hampir 2 tahun ini. Jika tempo memiliki itikad baik untuk mengupas permasalahan kesehatan di Indonesia, seharusnya mereka banyak menulis tentang BPJS dan JKN.

Dan Dokter yang Baik Itu Masih Banyak

Tak terhitung malah.

Kita mungkin pernah mendengar kisah dokter Lo asal Solo. Ia membuka praktek tanpa sekalipun menetapkan tariff. Setiap pasien dibebaskan untuk membayar sesuai kemampuan. Menurut pengakuan beliau, setiap harinya sekitar 70% pasien tidak membayar karena tidak mampu. (kisah dokter Lo bisa dilihat di sini)

Mungkin kita juga pernah membaca berita tentang meninggalnya seorang dokter yang tengah bertugas di Papua akibat malaria ganas. Ya, kehadirannya seharusnya menyembuhkan orang-orang dari malaria, namun ternyata dokter sendiri tidak bisa menjamin dirinya selamat dari penyakit mematikan itu. Hanya tujuan mulia lah yang membawanya ke provinsi paling timur negara ini. Sebenarnya kontrak kerjanya sudah habis, namun ia memperpanjangnya sendiri karena masih mengabdi di bumi cenderawasih. (silakan cek di sini)

Juga kisah-kisah lainnya. Ketika kuliah, saya pernah mendengar senior yang tewas ketika tengah merujuk pasien karena mobilnya masuk jurang. Juga kisah para dokter yang rela bertugas di daerah-daerah sangat terpencil. Di sana sini banyak cerita, bahwa banyak warga-warga tidak mampu yang membayar jasa dokter dengan hewan ternak atau hasil panen. Dokter pun menerimanya dengan senang hati. Bahkan ketika pasien datang kembali hanya untuk menceritakan bahwa ia telah sembuh, itu seudah menjadi kebahagiaan bagi dokter karena ia berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.

Pun jika pasien berterus terang ia tidak bisa membayar. Apa yang bisa dokter lakukan? Apakah menarik semua pemeriksaan yang telah dilakukan? Atau menuntutnya ke pengadilan karena tidak bisa membayar? Tentu ia dibebaskan dari biaya jasa dokter dan hanya perlu membayar obat. Itu pun tidak perlu dilakukan jika ia terdaftar di jamkesmas atau BPJS.

Apakah mungkin dokter menarik untuk dari pasien yang tidak mampu?

Apa pun Kata Media, Dokter Akan Terus Melayani

Dokter atau tenaga kesehatan atau rumah sakit sering kali dijadikan sebagai peran antagonis di media-media. Ketika ada orang yang tidak bisa dirawat karena tidak memenuhi syarat BPJS, akan diberitakan RS menolak pasien. Dokter yang sudah menjalani prosedur tetap namun tetap tidak bisa menyelematkan pasien akibat kondisi tak terduga, semisal emboli, diberitakan bahwa dokter malpraktik. Pun saat dokter mengeluhkan sistem BPJS yang masih belum baik, dikatakan dokter itu komersil atau hanya ingin mencari untung saja.

Sulit dimengerti mengapa media sering membuat berita tanpa melakukan konfirmasi terlebih dulu. Atau, sudah melakukan konfirmasi tanpa penjelasan yang ditulis hanya sepotong.

Tapi tak mengapa. Pemberitaan-pemberitaan yang ada tak akan membuat dokter pundung. Masih ingat ketika para dokter demo kasus dr. Ayu SpOG? IGD tetap buka. Operasi gawat darurat tetap dilakukan. Ada teman yang bercerita ketika ia tengah mengikuti demonstrasi, ia mendengar seorang dokter yang juga ikut demo menerima telpon dari RS, dan dokter tersebut langsung meluncur ke RS karena ada operasi gawat darurat.

Yap. Karena itu para teman sejawat, biarlah anjing menggonggong namun kita tetap memberikan pelayanan sesuai dengan sumpah yang pernah kita ucapkan :)

Categories: gumaman, kesehatan | Tags: , , , , | 5 Comments

[FOTO] Seperti Kura-Kura, Menatap Desir Ombak Pantai Sungkun, Lombok Timur

DSCN0443

Bibir selatan pulau Lombok masih menyimpan eksotismenya. Seolah-olah sedang menjaga miliknya yang berharga, pantai-pantai dengan pasir jernih dan laut biru pekat masih ia sembunyikan. Bukankah untuk memperoleh keindahan, sering manusia harus berjuang dan berkorban? Mungkin itulah yang hendak diajarkan oleh pulau Lombok.

Salah satu pantai yang masih bersih dan murni ialah pantai sungkun, atau biasa disebut juga dengan pantai kura-kura. Masih belum banyak ia dikunjungi. Lokasinya pun sulit diakses, membuat perjalanan untuk menempuhnya terasa semakin menggairahkan. Jangankan saranda dan fasilitas penunjuang rekreasi, papan petunjuk menujunya saja masih pelit untuk menampakkan diri.

Ada beberapa jalur yang bisa dilalui untuk mencapai pantai tersebut. Pantai ini terletak di desa Pemongkong, kecamatan Jerowaru, kabupaten Lombok Timur, propinsi NTB. Untuk mencapainya, ambillah jalan menuju Lombok Timur, kemudian ke arah Keruak. Di Keruak, belok ke arah kecamatan Jerowaru. Di Jeroawu sebenarnya banyak pantai yang bagus dan masih sepi. Salah satu yang terkenal ialah pantai Pink. Butir-butir alga dicampur dengan percikan air dan sinar matahari membuat pasirnya terlihat berwarna pink.

Setelah berbelok ke arah Jerowaru, ikuti papan petunjuk ke arah pantai Pink/pantai Kaliantan/pantai Surga. Kita bisa ke pantai Sungkun melalui jalur Kaliantan atau Surga. Pengguna mobil hanya bisa mencapainya melalui jalur pantai Surga. Saya pribadi belum pernah melalui pantai Kaliantan. Teman yang pernah mencoba ke Sungkun melalui Kaliantan bercerita bahwa jalan di sana benar-benar jelek dan hanya bisa dilalui oleh sepeda motor.

Ikuti Petunjuk ke Arah Panti Surga

Ikuti Petunjuk ke Arah Pantai Surga

Ikuti papan jalan ke arah pantai Surga. Ikuti jalan raya beraspal, dan di sebelah kiri akan terlihat kantor Desa Ekas. Tak jauh di depan akan ada pertigaan dengan ke kanan berupa jalan berkerikil. Ambil jalan ke kanan itu dan nikmati jalanan yang rusak. Kita pun akan diminta berhati-hati akan melalui turunan pasir yang cukup curam. Persis setelah turunan ada penginapan yang cukup dikenal warga lokal yang bernama “Planet on The Heaven”. Ambillah jalan lurus terus.

Setelah Melewati Kantor Desa Ekas, Belok Kanan untuk ke Jalanan Berkerikil

Setelah Melewati Kantor Desa Ekas, Belok Kanan untuk ke Jalanan Berkerikil

Beginilah Penampakan Jalan ke Pantai-Pantai di Lombok Timur

Beginilah Penampakan Jalan ke Pantai-Pantai di Lombok Timur

(catatan: jika tidak berbelok kanan ke arah pantai Surga, bisa juga melalui jalan lurus terus; terus hingga ke ujung dunia. Di ujung sana akan ditemui pantai juga (kami menamakannya “Pantai Ujung Dunia” karena berada di ujung). Pantai Ujung Dunia pula memiliki pemandangan yang menarik dengan bukit-bukit yang membentang. Sebelum pantai tersebut ada belokan kecil ke kanan. Ambillah belok kanan dan ikut jalan berpasir-batu dan menanjak, terus hingga jalannya menurun. Setelah turun, ada pertigaan–pertigaan dengan jalan yang ke arah pantai surga. Beloklah ke kiri. Atau, jika ingin menikmati pantai Ujung Dunia terlebih dulu, jalan ke Sungkun juga bisa dilalui dengan melewati jalan berbukit pantai Ujung Dunia. Setelah menanjak layaknya mobil off-road, ambil jalan ke kanan.)

Setelah melewati penginapan Planet, tak jauh akan ada jalan kecil belok ke kanan. Belokan ke dua (yang jalannya sempit dan berupa tanah) merupakan arah ke pantai Surga. Ambillah jalan lurus terus, menanjak, untuk ke Sungkun. Berhati-hatilah terutama yang menggunakan mobil karena tanjakan tersebut beralaskan pasir. Jika hujan sepertinya jalan tersebut akan sangat licin dan saya tidak tahu apakah memungkinkan untuk dilewati atau tidak. Setelah menanjak, jalan menurun. Gunakanlah gigi rendah (gigi 1) untuk keamanan.

Pertigaan, dengan Belok Kanan ke Pantai Surga. Ambillah Jalan Lurus untuk ke Sungkun

Pertigaan, dengan Belok Kanan ke Pantai Surga. Ambillah Jalan Lurus untuk ke Sungkun

Setelah ambil turun jalan akan menjadi datar lurus, lalu akan ada pertigaan. Di pertigaan, menempel di batang pohon, ada papan kecil bertuliskan “Pantai Kura-Kura” dengan tanda panah ke kanan. Ambillah ke kanan.

Pertigaan. Belok Kanan untuk Sampai di Sungkun

Pertigaan. Belok Kanan untuk Sampai di Sungkun

Tak lama kemudian, pantai Sungkun dengan hallmark berupa pulau kecil berbentuk seperti kura-kura di tengah laut.

Voila! Sampai juga di Sungkun

Voila! Sampai juga di Sungkun

DSCN0450

Pulau Berbentuk Kura-Kura yang Merupakan Khas dari Pantai Sungkun

DSCN0408

DSCN0414

DSCN0410

Bukit Sebelah Utara

Bersama kura-kura raksasa

Pantai Sungkun cukup luas dengan di sebelah utara dan selatan terdapat tebing membentuk bukit. Jika mau, bukit tersebut dapat dinaiki. Jalut ke bukit utara cukup terjal namun memungkinkan untuk dilalui. Di atas bukit, kita akan bisa melihat pemandangan ombak yang menderu ke arah pasir pantai dari atas. Pulau kura-kura pun terlihat jelas.

Jalan terjal ke bukit sebelah utara

Jalan terjal ke bukit sebelah utara

Pemandangan dari atas bukit

Pemandangan dari atas bukit

Pemandangan dari atas bukit

Pemandangan dari atas bukit

Selfie in front of a giant turtle :)

Selfie in front of a giant turtle :)

Bukit sebelah selatan juga (sepertinya) memungkinkan untuk dinaiki, dan mungkin jalurnya lebih mudah. Untuk ke sana mesti berjalan cukup jau dari bukit selatan. Jika punya tenaga dan waktu cukup luang, puaskanlah rasa penasaran dengan menaikinya.

Sedikit catatan, jika ke pantai ini di hari libur, biasanya ada orang-orang nongkrong yang akan menghampiri wisatawan. Mereka akan memalak “uang kebersihan pantai” sebesar 20 ribu atau 30 ribu. Fenomena tersebut memang sangat menjengkelkan. Meski demikian, tetap kemegahan pantai Sungkun benar-benar menyenangkan untuk dinikmati, walau harus melewati panasnya matahari Lombok selatan dan perjalanan yang sangat jauh nan rusak.

Categories: catatan perjalanan, Foto | Tags: , , , , | 1 Comment

Paranoid Belajar dan Long Life Learning

Terus Menerus Belajar Merupakan Tuntutan bagi Setiap Dokter agar Dapat Memberikan Pelayanan Terbaik

Suatu siang hari di hari libur di pertengahan tahun 2009, beberapa mahasiswa FK Unpad tengah berkumpul di ruang kuliah. Mereka sedang tidak kuliah, tentu saja, karena hari libur. Waktu libur banyak digunakan untuk kegiatan-kegiatan kemahasiswaan; itulah yang sedang kami lakukan saat itu.

Saya tidak ingat persis ketika itu sedang kegiatan apa—semacam pelatihan manajemen dan organisasi untuk pengurus senat mahasiswa. Kegiatan dilakukan di hari Sabtu-Minggu—menginap—dan di hari Minggu siang, saya ikut duduk berkumpul dengan para panitia dan peserta di auditorium kuliah tersebut. Di tengah-tengah pembicaraan, salah satu pengurus senat senior mengangkat tangan dan berkata (kurang lebih), “Mahasiswa FK sekarang sedang mengalami paranoid belajar. Walaupun sudah berkali-kali buka buku, tetap saja dirasa tidak pernah cukup. Hal ini membuat mereka agak enggan untuk ikut kegiatan kemahasiswaan dan memilih hanya untuk belajar.”

Kegiatan Belajar yang “Tidak Pernah Cukup”

Jumlah pengurus senat yang ikut pelatihan tersebut memanglah tidak banyak—mungkin kurang dari setengah total pengurusnya. Wajar, karena saat itu sedang menjelang musim ujian. Sebagaimana suasana kampus pada umumnya, masa-masa dekat ujian merupakan waktu yang paling suram. Khusus bagi mahasiswa FK Unpad, terdapat ujian presentasi kasus di hadapan dua penguji yang bobotnya sebesar 40% dari seluruh nilai. Jika nilai ujian tersebut jatuh, maka jatuhlah seluruh nilai di semester tersebut.

Bagi orang-orang luar, mahasiswa FK mungkin dianggap tidak membaur, menutup diri, dan eksklusif. Setiap kali saya bertanya ke mahasiswa FK dari universitas lain apakah mereka dicap “eksklusif” oleh mahasiswa dari fakultas lain, jawabannya adalah iya. Buku tebal, kuliah yang padat, dan “tiada hari tanpa belajar” mungkin identik dengan mahasiswa FK. Terlebih kurikulum yang diterapkan saat ini adalah problem based learning (PBL) yang menuntut mahasiswa untuk banyak belajar sendiri ketimbang menerima kuliah.

Berkali-kali buka buku, baca slide materi kuliah, membuat tugas; rasanya ada saja yang kurang. Ketika mendapat suatu tugas untuk mempresentasikan suatu materi, lalu mendiskusikannya ke teman-teman satu kelompok tutorial, hal tersebut tidaklah cukup. Sulitnya untuk mengerti materi yang disampaikan oleh teman atau yang disampaikan sendiri adalah satu hal. Hal lain adalah banyak informasi yang telah disampaikan ternyata tidaklah cukup sebagai bekal untuk menghadapi ujian nanti. Rasanya banyak sekali, bahkan tak ada habisnya, materi yang belum dipelajari namun sepertinya akan keluar di waktu ujian.

Mungkin faktor kurikulum PBL yang meminta mahasiswa untuk mencari informasi dan belajar sendiri membuat seolah kaburnya batasan yang perlu dipelajari. Terlebih, para dosen selalu berpesan kepada mahasiswa untuk tak pernah puas dalam mencari tahu, dan menekankan bahwa tak ada batasan ruang lingkup materi untuk dipelajari. Hal ini rasanya sangat berbeda dibanding masa sekolah yang sang guru memberikan batasan bahan ujian kepada para mahasiswa.

Namun Dokter Sangat Dituntut untuk Terus Belajar

Tapi memang sistem pendidikan yang diterima ketika kuliah dahulu tidaklah salah—bahkan sangat benar. Ini benar-benar disadari ketika saya sudah bekerja menjadi dokter (walau saat ini masih sebatas dokter internship). Ilmu kedokteran benar-benar tidak memiliki batasan. Tidak ada template yang benar-benar baku saat menangani pasien. Walau ada guideline, ada keadaan tertentu yang membuatnya tidak bisa diaplikasikan. Kondisi penyakit banyak yang tidak khas sesuai dengan di buku. Banyak pula suatu penyakit yang “menyamar” sehingga terlihat seperti penyakit lain. Terlebih, kondisi-kondisi medis yang pernah dipelajari ketika kuliah hanyalah secuil dari kasus-kasus nyata yang ditemukan.

Saat ngobrol dengan dokter-dokter internship lulusan universitas lain, banyak istilah medis atau penyakit atau guideline penatalaksanaan yang saya baru dengar. Begitu pun sebaliknya, ada informasi yang saya ketahui namun mereka baru mendengarnya (walau lebih banyak yang saya tidak tahu karena waktu kuliah dulu sering skip :p). Teori-teori yang ada di buku tidak semuanya dilakukan di lapangan nyata, apalagi di rumah sakit daerah yang ketersediaan peralatan medis tidak selengkap di kota besar. Tiap rumah sakit atau dokter spesialis juga punya kebiasaan atau pilihan yang berbeda antara satu dengan yang lain dalam menghadapi kasus yang sama.

Ketika pertama kali mulai bekerja di rumah sakit, maka keadaannya bisa ditebak: saya banyak bingung, banyak salah dalam penanganan, banyak dikritik oleh rekan kerja yang lain, dan juga kondisi pamungkas TIBO (tiba-tiba bodoh). Beruntung, status saya masih dokter internship: walau sudah dianggap dokter yang kompeten, masih diberikan pendampingan atau bimbingan oleh dokter-dokter umum senior dan spesialis.

Banyaknya kebingungan dan ketidaktahuan saat bekerja ini melahirkan kembali kegelisahan dahulu yang disebut dengan paranoid. Selesainya kuliah kedokteran selama 5-6 tahun tidak berarti bahwa proses belajar sudah selesai. Sebaliknya, dengan banyak bertemu dan menangani pasien langsung oleh diri sendiri semakin menyadarkan untuk terus dan tak pernah habisnya belajar. Apalagi yang ditangani bukan mesin, bukanlah benda mati, juga bukan makhluk bernyawa bernama hewan, melainkan manusia.

Saya pernah membaca buku karangan seorang professor dari FK Unpad yang berjudul “Playing God”.  Buku yang berisikan pengalaman-pengalaman berharga ini memiliki bagian yang menyebutkan bahwa sang professor kebingungan dalam menangani seorang pasien karena kondisinya yang rumit. Professor itu pun harus “mengurung diri di perpustakaan” dan “membuka berbagai literatur”. Ya, bahkan seorang dokter dengan gelar akademis tertinggi pun masih harus membuka literatur untuk menangani kasus yang sulit.

Setelah berada di lapangan inilah saya benar-benar memahami apa yang disebut dengan long life learning. Saya pun mulai mengangguk ketika dahulu dosen meminta untuk tidak pernah puas mencari tahu dan tidak memiliki batasan dalam belajar.

Menumbuhkan Pembiasaan

Lamanya waktu studi untuk menjadi dokter dan bagi residen untuk menjadi dokter spesialis juga mulai bisa dimengerti. Rata-rata untuk menjadi dokter spesialis, dibutuhkan sekolah selama 5 tahun; waktu yang sangat lama bila dibandingkan dengan sekolah magister selama 2 tahun dan doktor selama 4 tahun. Ibu saya, seorang dokter spesialis anak, bilang bahwa sekolah spesialis itu lama karena untuk menumbuhkan “pembiasaan”.

Seorang dokter umum yang sudah lama bekerja di rumah sakit terbiasa untuk menangani pasien sesuai dengan guideline rumah sakit tersebut. Pekerjaan juga akan menuntutnya untuk membuka kembali literatur dan berkonsultasi ke dokter spesialis. Jam terbang yang tinggi dan ilmu yang terus-menerus dipakai membuatnya terbiasa untuk bekerja dengan cepat. Hal yang berbeda terjadi bagi dokter baru yang baru saja lulus dari universitas. Pengalaman praktek yang minim membuatnya butuh untuk beradaptasi.

Karena hal inilah saya merasa program “dokter internship” sangat bermanfaat. Tujuan dari program ini adalah untuk “pemahiran” bagi dokter-dokter yang baru saja lulus. Selama masa sekolah kebanyakan dokter baru belum pernah memegang dan menangani pasien sendiri, sehingga minim pengalaman. Melalui program internship, dokter-dokter baru memulai pengalamannya dengan pendampingan dokter senior. Ini menepis anggapan sebagian orang bahwa program internship tidaklah diperlukan. Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, seperti terbatasnya anggaran, jumlah wahana yang sedikit dibandingkan dengan jumlah dokter baru, dan gaji dokter internship yang sangat tidak layak, program pemahiran dan pembiasaan ini dapat menjadi bekal yang sangat berharga untuk bekerja secara benar-benar mandiri kelak.

Membedakan Paranoid Belajar dengan Long Life Learning

Walaupun terbiasa, kebutuhan untuk terus membuka buku dan belajar tidak bisa dinafikan. Ilmu kedokteran tidaklah bersifat kaku melainkan terus berkembang. Ada banyak kondisi medis yang sifatnya belum banyak diketahui. Begitu pun pengobatan untuk beberapa penyakit yang hingga saat ini belum menemukan standar yang memuaskan. Penelitian di bidang keodokteran terus dikembangkan agar dapat memberikan pelayanan yang maksimal. Setiap dokter wajib untuk meng-update ilmu pengetahuannya dengan mengikuti simposium atau workshop yang memaparkan informasi dan ilmu berdasarkan penelitian terbaru.

Keikutsertaan dalam kegiatan ilmiah ini menjadi syarat bagi setiap dokter agar dapat memperpanjang surat tanda registrasinya. Inilah mengapa pendidikan kedokteran disebut dengan long life learning.

Karena bersifat seumur hidup, terus belajar dan menggali ilmu pengetahuan bukan hanya merupakan kewajiban tapi juga “kebutuhan”. Karena kebutuhan, diperlukan sebuah pengaturan agar kegiatan belajar bersama kebutuhan-kebutuhan yang lain, seperti makan, tidur, rekreasi, dan berkeluarga, dapat terpenuhi. Kita bisa melihat seorang yang disebut berhasil dalam hidupnya ialah yang mampu mengelola kebutuhan hidupnya sehingga terpenuhi dan mengontrol dirinya dari keinginan-keinginanan yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Proses learning perlu dikelola sedemikian rupa agar tidak bersifat sporadis sehingga hasil pembelajaran yang didapat menjadi optimal.

Kemampuan untuk mengorganisasi kebutuhan tersebut dengan baik akan membedakan seorang yang paranoid belajar dengan long life learning. Penderita paranoid belajar akan menganggap bahwa proses belajar merupakan sebuah paksaan yang bersifat menyakitkan, berbeda dengan long life learner yang menyadarinya sebagai kebutuhan. Seorang yang belajar karena keterpaksaan dan karena kebutuhan tentu akan memiliki output yang berbeda.

Long life learning sangatlah dibutuhkan bagi manusia, terutama bagi para dokter agar dapat menjalankan profesinya dengan baik. Kebutuhan ini perlu ditanamkan sejak masa mahasiswa—saya pun menjadi sadar mengapa ketika kuliah dulu lebih banyak ditekankan untuk belajar sendiri ketimbang diberi kuliah. Jika mampu mengubah sudut pandang paranoid belajar menjadi long life learning, maka tidak perlu khawatir para pengurus organisasi senat mahasiswa meninggalkan amanahnya walaupun sedang dalam masa menjelang ujian.

Categories: gumaman, pembelajaran | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,270 other followers