Pulau 1000 Masjid, Tapi…

Apa yang terlintas dalam pikiran ketika mendengar kata pulau Lombok? Setidaknya bagi kebanyakan orang, pulau ini identik dengan tempat wisata, jalan-jalan, honeymoon, dan sejenisnya. Lombok pun bisa dikatakan destinasi wisata terpopuler kedua setelah Bali.

Umumnya biro Travel akan membawa para turis ke pantai Senggigi. Walau pantai ini tidak begitu bagus, lokasinya yang bersebarangan dengan Bali membuatnya cukup populer, dan yang terpenting adalah di sana banyak fasilitas seperti hotel dan tempat makan. Dan tentu saja, tempat yang menjadi primadona tidak lain tidak bukan ialah Gili Trawangan. Gili (pulau) yang berlokasi di Lombok utara ini ukurannya sangatlah kecil, namun sepenuhnya merupakan lokasi wisata. Lokasi lain yang biasanya dikunjungi juga ialah pantai-pantai di Lombok Tengah seperti Selong Belanak, Kuta, Mawun, dll. Selain pantai, wisata air terjun nan indah juga dapat dinikmati, seperti Sindang Gila dan Tiu Kelep.

Itu adalah beberapa tempat yang banyak dikunjungi oleh turis, baik lokal maupun asing. Jika mau, masih banyak keindahan alam di pulau ini yang patut untuk dinikmati. Tiga hari bukanlah waktu yang cukup untuk menikmati eksotisnya pulau Lombok. Hanya saja, tidak semua lokasi wisata telah memiliki sarana yang layak. Banyak objek yang sebenarnya lebih nikmat untuk dikagumi selain yang berada di Lombok barat atau utara, namun akses jalan yang buruk dan promosi yang kurang membuat kepopulerannya tengggelam.

Intinya, Lombok adalah keindahan yang dianugerahkan olehNya. Jika dimanfaatkan dengan baik sebagai potensi ekonomi, kesejahteraan hidup masyarakatnya dapat meningkatkan. Tiap tahun jumlah turis yang menyambanginya terus bertambah, dan kepopulerannya di level internasional hampir menyamai Bali.

Mungkin tidak begitu banyak yang tahu kondisi di dalamnya. Maklum, yang banyak kita ketahui terkait pulau ini kebanyakan mengenai wisatanya, namun tidak banyak bercerita tentang masyarakat, budaya, dan sosial

Oleh masyarakat lokal, Lombok memiliki sebutan “Pulau 1000 Masjid”. Jika diperhatikan, hampir semua masjid yang ada di pulau Lombok—terutama di Lombok Timur—ukurannya begitu besar. Sulit menemukan masjid berukuran kecil yang biasanya kita temukan di pinggir-pinggir jalan di pulau Jawa. Ya, masjid berukuran besar dan berpenampakan megah merupakan khas dari pulau ini. Jumlahnya pun begitu berlimpah. Hanya berselang beberapa ratus meter kita bisa menemukan bagunan berkubah menjulang tinggi. Hampir tiap desa, atau bahkan mungkin dusun, memiliki masjid kebanggaannya. Daerah boleh kumuh, rumah-rumah boleh kecil, sampah-sampah boleh berserakan di jalanan, namun tetap, masjid megah harus tegak.

Masjid Agung Lombok Timur

Masjid Agung Lombok Timur

Masjid di Keluarahan Pancor, Lombok Timur

Masjid di Kelurahan Pancor, Lombok Timur

Masjid di Kelurahan Kelayu, Lombok Timur

Masjid di Kelurahan Kelayu, Lombok Timur

Namun selain “Pulau 1000 Masjid”, ia memiliki julukan lain yang ironis, yaitu “1001 Maling”. Bagaimana kondisi kesejahteraan pulau Lombok, atau Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada umumnya?

Bali, sebagai destinasi wisata utama di Indonesia, tentu memiliki pemasukan yang besar dari industri pariwisata yang dikelolanya. Kepopulerannya bahkan mengalahkan Indonesia sendiri—kita tentu tahu anekdot bahwa orang asing lebih tahu Bali ketimbang Indonesia. Memang penulis tidak banyak tahu kondisi lebih mendetil mengenai kesejahterannya, tapi setidaknya Bali terus melakukan pembangunan layaknya area megapolitan seperti Jakarta.

Tapi tampaknya Lombok memiliki kondisi yang tidak sama. Area dengan fasilitas yang cukup baik untuk para turis hanyalah berada di area barat, dekat Senggigi, dan Lombok tengah, dekat pantai Kuta. Selebihnya amatlah tidak layak. Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar tentang eksotisnya pantai pink di area timur Pulau Lombok, namun banyak agen perjalanan yang enggan membawa kliennya ke sana karena akses jalan yang menyedihkan. Terlihat bahwa potensi yang ada di keseluruhan pulau Lombok belum begitu termanfaatkan.

Provinsi NTB memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang amat rendah. Indeks yang menilai kualitas pembangunan manusia dari kesehatan, pendidikan, dan pendapatan per kapita menempatkan NTB di posisi kedua dari bawah, sedikit lebih baik dari Papua. Itu pun sebelum tahun 2005 NTB berada di posisi paling buntut.

Ironis sekali. Saat ke Gili Trawangan, saya sempat menyangka bahwa di sana bukanlah Indonesia: mayoritas manusia yang berkeliaran di sana ialah orang asing. Kafe dan hotel hampir selalu ada di setiap meternya. Orang-orang bilang, tiap malam botol miras berserakan di mana-mana, begitu pula kondom. Terlepas dari rendahnya kualitas moral, bisa dibayangkan nominal uang yang beredar tiap harinya di sana? Ini baru GIli Trawangan. Jika keelokan alam yang ada di tiap sudut Lombok dimaksimalkan, tak mustahil ia dapat tumbuh menjadi area megapolitan pula.

Pernah seorang supir asal Bali yang tinggal di Lombok bercerita mengenai julukan ironis tersebut. Sambil tesenyum ia berbagi mengenai sebuah lokasi yang menjadi pusat curanmor. Motor-motor hasil curian dikumpulkan di sana untuk kemudian dijual secara gelap. Pendamping internsip saya di Puskesmas juga bergumam tentang masyarakat di area Lombok Selatan. Daerah selatan begitu keringnya dan masyarakat masih bergantung dari tadah hujan untuk pengairannya. Panen hanya dilakukan setahun sekali. Lalu bagaimana jika musim hujan berakhir? Konon di musim kering orang-orang beralih profesi menjadi maling untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kemudian bagaimana dengan sikap toleransi umat Islam di Lombok? Ini bukan tentang toleransi ke umat beragama lain, karena sejauh ini, alhamdulillah, belum pernah terdengar gesekan dengan nonmuslim. Tapi buruknya toleransi terjadi antara SESAMA umat Islam yang berbeda kelompok. Lombok merupakan tempat lahir dan basis jamaah Islam di Indonesia yang bernama Nahdlatul Wathan (NW). Konon NW ini merupakan pecahan dari NU, didirikan seorang tokoh ulama bernama Tuan Guru Haji Zainul Abdul Majid—kakek gubernur NTB sekarang. Namun karena suatu sebab, organisasi ini pecah menjadi dua, yang satu berbasis di Pancor dan satu lagi di Anjani, Lombok Timur. Saya mendengar bahwa konflik yang terjadi di antara mereka bukan hanya adu fisik, tapi sampai bakar rumah.

Agaknya kita harus berhati-hati terhadap hadis yang menyebutkan bahwa ada orang yang membaca Al Quran dan solat, namun hanya sebatas kerongkongan, tidak pernah sampai ke hati.

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca AlQuran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (HR. Muslim)

“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ancaman di hadis tersebut membuat merinding. Benar-benar buruk nasib orang yang solat dan membaca Al Quran, namun tidak pernah diaplikasikan dan diamalkan. Hanya diucapkan, tanpa menghasilkan buah perbuatan baik. Segala perintah dari Allah dikerjakan dengan taat, tapi ketika ada orang-orang yang bermaksiat dan meresahkan, mereka biarkan.

Tentu masalah ini bukan hanya milik Lombok semata, tapi juga Indonesia yang merupakan negara dengan umat Islam terbesar di dunia, bahkan negara-negara Islam pada umumnya. Mengapa pada dahulu kala banyak cerita kegemilangan kekhilafahan/kerajaan/negara Islam yang membuat kita terkagum-kagum, tapi kondisi sekarang seperti sebaliknya? Ah, memang pertanyaan klasik. Tapi hadis-hadis di atas setidaknya menjadi perenungan bagi kita. Jika saja seluruh penduduk negeri taat kepada Allah—yang bermula dari masing-masing pribadi—Allah akan menurunkan keberkahannya.

“Dan jika penduduk negeri beriman dan bertaqwa (kepada Allah) sesungguhnya Kami bukakan kepada mereka (pintu-pintu) berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka karena apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-A’raf: 96)

“Kalau di sini banyak masjid besar, seharusnya daerahnya maju dong,” gumam teman saya yang nonmuslim. Miris memang mendengarnya. Tapi saya yakin, jumlah umat Islam yang sadar untuk kembali kepada Al Quran semakin bertambah. InsyaAllah dengan usaha sedikit demi sedikit yang kan semakin banyak, dan dimulai dari diri sendiri, disertai pertolongan dari Allah, kita akan mampu membuktikan kepada dunia bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam.

Categories: esai, merenung | Tags: , | Leave a comment

Imunisasi: Kontroversi (2)

Manfaat Vaksin

Variola ialah penyakit yang sangat menular dan sangat mematikan. Angka mortalitas mencapai 30%. Penyakit ini dipercaya memusnahkan satu generasi peradaban Aztec dan Inca. Ia bertanggung jawab terhadap kematian 400.000 masyarakat Eropa per tahun pada abad ke-18. Pada abad ke-20, terjadi kejadian luar biasa variola di benua Asia dan Afrika.

Tahun 1956, WHO berusaha untuk memusnahkan variola dengan menyebarkan vaksin secara global hingga ke ujung dunia. WHO kemudian mengumumkan bahwa planet bumi telah bersih dari virus variola—sebuah pencapaian yang luar biasa dalam sejarah kedokteran.

bw18

Cacar atau Variola Merupakan Penyakit yang Sangat Mematikan dan Sangat Menular. Kini, Berkat Vaksin, Penyakit Ini Sudah Musnah dari Planet Bumi

Pada tahun 1988, Indonesia menggalakkan program imunisasi nasional dengan tujuan mengeradikasi polio. Seluruh anak usia 0-59 bulan diberikan imunisasi polio 2 tetes tanpa memandang status imunisasinya. Selain itu juga dilakukan surveilan acute flaccid paralysis (lumpuh layuh). Tahun 1995, Indonesia menyandang status bebas polio. Namun, awal Maret 2005 di Jawa Barat muncul kembali kasus polio. Virus polio pun menyebar ke anak-anak yang tidak diimunisasi. Setelah program imunisasi yang dikuatkan kembali, Indonesia kembali meraih sertifikat bebas polio dari WHO pada 27 Maret 2014.

Manfaat vaksin mencegah terjadinya sakit bisa dilihat dari gambar statistik berikut:

Immunization-Vaccine-Effectiveness

Print

Data Statistik yang Menunjukkan Angka Kejadian Sakit Sebelum dan Sesudah Vaksinasi di AS

Bahaya Bila Tidak Mendapat Imunisasi

Difteri merupakan penyakit saluran nafas, bersifat menular, dan dapat dicegah dengan vaksinasi. Gejala yang khas ialah adanya selaput keabuan di dinding belakang mulut atau di tenggorokan. Toksin yang dihasilkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria ini dapat mengakibatkan pembengkakan jaringan lunak di leher, yang mengakibatkan bull neck. Leher yang membengkak ini membuat anak tidak bisa makan dan bernafas, sehingga beresiko tinggi mengalami kematian. Beberapa daerah di Indonesia tengah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri.

diphtheria

Difteri Dicirikan dengan Adanya Selaput di Rongga Mulut Belakang Anak

bull_neck

Bull Neck atau Leher Membengkak yang Merupakan Komplikasi Difteri. Pembengkakan ini dapat membuat anak tidak bisa makan, sulit bernafas, hingga kematian

Penyakit pertussis atau batuk rejan dicirikan dengan serangan batuk yang berat, yang disertai dengan rejan saat menarik nafas (whooping cough). Setelah batuk dapat diikuti dengan muntah. Batuk yang terus menerus akibat bakteri Bordetella pertussis ini dapat mengakibatkan sang anak kekurangan oksigen hingga sesak. Contoh batuk rejan bisa dilihat di link video ini.

Sebelum imunisasi, hapir 2 milyar umat manusia mendapat hepatitis B suatu saat dalam hidupnya, dengan 1 juta di antaranya meninggal dunia. Penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B ini menular melalui darah dan cairan kelamin. Orang yang paling beresiko terkena penyakit ini adalah pengguna jarum suntik dan petugas medis. Hepatitis B yang tidak membaik akan menjadi kronis, yang ujungnya berakibat kerusakan sel-sel hati, atau dikenal dengan istilah sirosis. Manifestasi sirosis hati berupa perut bengkak berisi cairan, pembuluh vena yang terlihat jelas di perut, hingga muntah darah. Sirosis hati menghasilkan angka kematian yang tinggi.

Pembesaran Pembuluh Darah Vena akibat Sirosis Hati, yang Bisa Diakibatkan oleh Hepatitis B Kronis. Sirosis Hati Merupakan Penyakit Rumit dengan Harapan Sembuh yang Buruk

Pembesaran Pembuluh Darah Vena akibat Sirosis Hati, yang Bisa Diakibatkan oleh Hepatitis B Kronis. Sirosis Hati Merupakan Penyakit Rumit dengan Harapan Sembuh yang Buruk

Poliomyelitis merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus polio. Virus ini menyerang sistem saraf pusat, yang mengakibatkan kelemahan dan kelumpuhan otot secara permanen. Penyakit ini membuat sang anak cacat seumur hidup.

polio12

Penderita Polio harus Mengalami Cacat Seumur Hidup

Kontroversi Vaksinasi

Semenjak vaksinasi diperkenalkan, sudah ada orang-orang yang menentangnya. Seperti yang telah disebutkan di tulisan bagian ke-1, Inggris dan Eropa menentang vaksinasi yang dibawa oleh Lady Montagu, begitu pun ketika Edward Jenner mempublikasikan vaksin variola.

Gerakan antivaksin mencapai puncaknya ketika tahun 1998 seorang dokter bedah digestif, Andrew Wakefield, merilis penelitiannya tentang Penyakit Radang Panggul, Autisme, dan vaksin MMR (measles/campak, mumps, rubella) di The Lancet. Jurnalnya menyebutkan bahwa ditemukan antigen campak pada usus 12 anak penderita radang panggul, yang kemudian dikaitkan sebagai penyebab autism. Antigen campak yang ditemukan, menurut Wakefield, muncul dari vaksin MMR. Kondisi ini disebutnya sebagai sindroma autistic enterocolitis. Simpulan dari penelitiannya ialah Vaksinasi MMR menyebabkan autism juga penyakit radang panggul.

Publikasi Wakefield langsung disambut hangat oleh kaum antivaksin di Inggris. Para orang tua dari anak penderita austime langsung menyalahkan vaksin sebagai penyebabnya. Tidak hanya sampai di sana, Wakefield pun menyampaikan ceramahnya di AS, yang berpengaruh pada meningkatnya gerakan antivaksin.

Penelitian Wakefield, setelah ditelusuri, ternyata memiliki banyak masalah. Seorang jurnalis dari Inggris, Brian Deer, mengecek pemeriksaan diagnostic dan rekam medis ke-12 anak yang menjadi objek penelitiannya. Investigasinya menyimpulkan bahwa Wakefield “mengganti, salah menginterpretasikan, dan memalsukan” data-data tersebut.

Penelurusan lebih lanjut membuktikan bahwa penelitian Wakefield ini memiliki konflik kepentingan. Sebelum memulai penelitiannya, Wakefield menjadi konsultan seorang pengacara yang ingin menjatuhkan pabrik vaksin. Hasil dari kesepakatan mereka ialah Wakefield akan membuat penelitian yang bertujuan menjatuhkan vaksin MMR. Ke-12 anak objek penelitiannya ternyata adalah anak dari para klien pengacara tersebut. Konflik kepentingan lainnya, setelah publikasi jurnalnya, ia berencana membuat produk “vaksin campak yang lebih aman”.

The Lancet kemudian menarik kembali jurnal Wakefield. British Medical Journal mengumumkan bahwa penelitian Wakefield sebagai “penipuan”. Konsili Kedokteran Inggris mencabut registrasi Wakefield.

andrew wakefield

Andrew Wakefield. Penelitiannya tentang Vaksinasi dan Autisme Terbukti Palsu

Banyak sekali penelitian setelahnya membuktikan bahwa “tidak ada hubungan” atau “statistik tidak menunjukkan signifikan” antara vaksinasi ataupun bahan preservatifnya, thimerosal, dengan autism ataupun penyakit radang panggul. Simpulannya adalah “tidak ada hubungan antara vaksinasi dengan autism”. Namun, penelitian palsu Wakefield hingga sekarang masih dijadikan senjata oleh golongan antivaksin.

Di Indonesia, selain autism, ada jurus-jurus tambahan oleh antivaksin, yaitu “haram” dan “konspirasi yahudi/AS”.

Vaksin di Indonesia diproduksi oleh PT Biofarma, dan sudah mendapatkan fatwa halal oleh MUI. Selain itu, PT Biofarma mensuplai 2/3 kebutuhan vaksin dunia dan mengekspornya ke negara-negara Islam seperti Mesir, Turki, Senegal, Malaysia, dll Indonesia sudah memproduksi vaksin halal: http://www.beritasatu.com/kesehatan/35883-indonesia-sudah-memproduksi-vaksin-halal.html

Pun misalkan dalam proses pembuatan vaksin menggunakan enzim babi sebagai katalisator, berdasarkan kaidah fiqh, insyaAllah vaksin tersebut tetap HALAL. Kajian tentang halal atau tidaknya vaksin bisa dilihat di link berikut: http://rumaysho.com/umum/hukum-vaksinasi-dari-enzim-babi-2025

Vaksin sebagai konspirasi yahudi amatlah tidak benar. Teknik vaksinasi pertama, yaitu variolation, berasal dari Cina. Pada masanya, kekhilafahan Turki Utsmani melakukan program vaksinasi. Di tahun 2015 ini, AS sedang panik karena meningkatnya kalangan antivaksin. Akibatnya adalah tingginya angka kejadian pertussis dan campak. Kini AS tengah berusaha menggiatkan program vaksinasi. Kalaulah vaksin adalah konspirasi yahudi/AS, sudah pasti pemerintah AS tidak akan memvaksinasi anak-anaknya.

Di Indonesia, ada beberapa tokoh antivaksin, yang terkenal di antaranya adalah Ummu Salamah Al Hajjam alias USA (seorang sarjana hukum, herbalis) dan dr. Susilorini, SpPA alias SiPencari Cahaya (dokter spesialis patologi anatomi, dosen FK Unissula). Argumen USA ialah vaksin itu haram, berbahaya, dan konspirasi yahudi; semua argumen ini sudah dibantah. SiPencari Cahaya bukanlah ahli imunologi, namun ia membuat teori sendiri bahwa manusia memiliki imunitas yang cukup dan tidak membutuhkan vaksinasi. Semua teorinya hanyalah ASUMSI, tidak ada bukti ilmiah, bisa dilihat di page Facebook Stop Antivaks. Pada kenyataannya, 90% anak yang terpapar akan terkena campak bila tidak diimunisasi.

FAQs about vaccine

1. Efek Samping Vaksinasi

Terkadang, vaksinasi memilik efek samping, yang dikenal dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). KIPI tidak terjadi pada semua anak, bersifat ringan dan tidak berbahaya, namun kadang membuat resah orang tua. Gejala biasanya berupa anak menjadi panas/demam dan muncul ruam/bentol di bekas suntikan. Demam akan turun dalam waktu 2-3 hari, begitu pun ruam dapat hilang dalam 3-5 hari.

2. Efektivitas Vaksinasi

Vaksinasi tidaklah 100%, sebagaimana tidak ada pengobatan yang ada di planet bumi ini menjamin kesembuhan hingga 100%. Efektivitas vaksin adalah berkisar 85-95%, tergantung respon individu. Namun, data objektif/statistik menunjukkan vaksin sangat efektif mencegah penyakit.

3. Kapan Tidak Boleh Divaksin

Demam ringan dan batuk pilek biasa tidaklah menghambat anak untuk divaksin. Kondisi-kondisi umum yang membuat anak tidak boleh divaksin ialah sakit berat (tunggu hingga sembuh), kondisi imunitas yang buruk misalnya penderita kanker darah (leukemia) dan HIV, sedang mengonsumsi obat-obatan penurun imunitas (kortikosteroid) jangka panjang, dan memiliki riwayat alergi terhadap vaksin

Categories: esai, kesehatan | Tags: , , , | Leave a comment

Imunisasi: Sejarah (1)

Orang tua yang baik akan membawa anaknya rutin ke posyandu sejak usia 1 bulan. Kegiatan posyandu amatlah penting untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, salah satunya dengan mengukur berat badan dan tinggi badan anak. Jika anak memiliki tinggi badan dan berat badan yang tidak sesuai dengan umurnya, akan menjadi evaluasi bagi orang tua. Namun selain pengukuran tinggi dan berat badan, ada juga kegiatan yang sangat penting untuk menjaga kesehatan anak, yaitu imunisasi.

Imunisasi sudah merupakan hal yang diketahui oleh masyarakat luas. Ibu-ibu yang berada di kampung terpencil pun membawa anaknya untuk diimunisasi. Pemberian suatu zat kuman yang dilemahkan/dimatikan ini bertujuan memicu daya kekebalan anak yang notabene masih rendah. Peetapan program imunisasi nasional oleh pemerintah, yaitu pemberian imunisasi dasar kepada anak sebelum usia 1 tahun, merupakan tanda bahwa imunisasi sangatlah penting.

Namun, akhir-akhir ini—walau sebenarnya sudah dari zaman dulu—muncul kelompok orang yang menentang imunisasi. Tidak hanya menolak mengimunisasi anaknya, mereka juga menyebarkan paham mereka secara luas. Masa sekarang yang sudah berada di era media social pun mempermudah usaha mereka mengkampanyekan anti-vaksin. Berbagai dalil mereka ajukan, mulai dari imunisasi itu zat beracun dan berbahaya, konspirasi yahudi, haram, dll. Akibatnya, mulai bermunculan penyakit-penyakit menular dan berbahaya yang sebenarnya bisa dicegah karena orang tua enggan mengimunisasi anak-anaknya.

Apakah benar apa yang mereka kampanyekan? Sebegitu benarnyakah sehingga angka-angka kematian akibat tidak diimunisasi tetap menutup mata, telinga, dan hati mereka? Apakah imunisasi memang besar manfaatnya bagi kesehatan dan mencegah kematian?

Ada baiknya kita mengkaji imunisasi atau vaksinasi mulai dari sejarahnya. Semoga sedikit tulisan ini dapat bermanfaat dan memberikan pencerahan.

Pengertian Vaksinasi dan Imunisasi

Vaksinasi dan imunisasi sering kali diartikan sama, namun memiliki pengertian berbeda. Imunisasi ialah proses pemindahan antibody ke dalam tubuh seseorang, sehingga memberikan imunitas secara “pasif”. Vaksinasi adalah pemaparan antigen/materi kuman ke dalam tubuh seseorang, sehingga orang tersebut terangsang untuk membentuk antibody/imunitas. Vaksinasi memberikan imunitas secara “aktif”.

Materi kuman yang diberikan telah dibentuk sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan penyakit, namun memicu tubuh untuk membentuk materi-materi pertahanan tubuh.

Sejarah Vaksinasi

Pada 429 BC sejarawan Yunani, Thucydides, mengamati bahwa orang yang survive dari cacar api/variola/small pox tidak akan terinfeksi kembali

Thucydides

Thucydides

Tahun 900 AD, orang Cina diyakini sebagai penemu pertama teknik vaksinasi primitif, yang disebut dengan “variolation”. Tujuannya ialah mencegah dari cacar api dengan cara memaparkan orang sehat dengan jaringan kulit seorang yang terkena cacar api. Jaringan tersebut ditanam di bawah kulit atau dibentuk bubuk untuk dihirup

Pada awal abad ke-18, Turki Usmani (Ottoman) mengembangkan teknik vaksinasi berupa inokulasi. Istri seorang duta besar Inggris untuk Turki Usmani pada tahun tersebut, Lady Mary Wortley Montagu, bercerita mengenai vaksinasi cacar. Pada tahun 1717, ia menulis surat bahwa di Turki setahun sekali setiap musim gugur dilakukan injeksi bahan cacar ke pembuluh vena di tangan atau kaki. Anak yang divaksin tersebut mengalami demam 2 atau 3 hari, yang kemudian di hari ke-8 anak-anak tersebut kembali sehat total. Vaksinasi ini terbukti efektif mencegah cacar dan tidak mengakibatkan kematian, hingga Lady Montagu pun menerapkannya kepada kedua anaknya.

Fig07

Prangko Kerajaan Turki Utsmani yang Menggambarkan Vaksinasi dengan Inokulasi

Memorial_to_Lady_Mary_Wortley_Montague_in_Lichfield_Cathedral

Monumen untuk Mengenang Jasa Lady Montagu yang Membawa Inokulasi sebagai Teknik Imunisasi ke Eropa

Buku 1001 inventions – the Enduring Legacy of Muslim Civilizations terbitan National Geographic menerangkan usaha Lady Montagu membawa teknik vaksinasi ke Inggris mendapat pertentangan. Penolakan ini, dalam surat Lady Montagu, disebutkan karena penyakit menular ini “menguntungkan pemasukan para dokter di Inggris”. Namun, penolakan demi penolakan tidak menyurutkan usahanya, bahkan vaksinasi terus menyebar luas. Pada 1724, barulah vaksinasi diterima oleh Eropa setelah penjeleasan ilmiah di Royal Society oleh Dr. Emmanuel Timoni, yang merupakan dokter keluarga Lady Montagu.

Surat Lady Montagu bisa dilihat di sini.

Pada 1796 barulah Edward Jenner mengenalkan vaksinasi variola dengan menggunakan inokulasi materi cowpox. Jenner kemudian mempublikasikan temuannya. Bahasa latin dari “cow” adalah “vacca”, dan “cowpox” adalah “vaccinia”; Jenner pun menamai teknik ini dengan “vaccination”. Pada tahun 1980, WHO menyatakan virus variola yang mematikan itu telah musnah dari permukaan bumi.

Edward Jenner Mempublikasikan Vaksin Cacar dari Materi Cacar Sapi di Eropa. Ia Kini Dikenal sebagai Bapak Vaksinasi Dunia

Edward Jenner Mempublikasikan Vaksin Cacar dari Materi Cacar Sapi di Eropa. Ia Kini Dikenal sebagai Bapak Vaksinasi Dunia

edward jenner indtroduce innoculation

Edward Jenner Memperkenalkan Inokulasi Vaksin Cacar ke Masyarakat Eropa

Vaksinasi terus berkembang. Pada tahun 1880-an, Louis Pasteur membuat vaksin rabies. Emil von Behring menemukan vaksin difteri dan tetanus. Vaksin mulai menyebar secara global pada tahum 1920-an—walaupun vaksin tersebut masih “kasar”, namun ia berhasil menurunkan angka kematian. Tahun 1955 vaksinasi polio mulai diperkenalkan.

Louis Pasteur, Penemu Vaksin Rabies

Louis Pasteur, Penemu Vaksin Rabies

Vaksinasi terus dikembangkan. Pada tahun 2008, berhasil dibuat vaksin Human Papilloma Virus (HPV) yang menyebabkan kanker leher Rahim.

Categories: esai, kesehatan | Tags: , , , , , | Leave a comment

Cerita Laut

Pantai Kaliantan

Andai aku mengerti  bahasa laut, mungkin aku akan mendengar mereka bercerita sedih

Tentang deru ombak yang terus mengejar daratan, layaknya sedang mencari kekasih

Mereka tahu tidak kan pernah sampai, tapi mereka telah memahami itu semua

Bahwa ialah yang terbaik, semua apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan mereka

 

Foto: pantai Kaliantan, desa Seriwe, kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur

Categories: gumaman | Leave a comment

Kesedihan

“Kapankah berakhir kesedihan?”

Riza memalingkan kepalanya ke arah sobatnya, “Akhir dari kesedihan?”

“Ya,” Rio berdiri lemas seraya menundukkan kepalanya. “Mengapa harus ada kesedihan? Bukankah hidup di dunia yang penuh tantangan ini saja sudah berat? Begitu banyak pekerjaan, tanggung jawab, dan amanah; kesedihan hanya memperparah semua itu.”

“Ah,” Riza meletakkan gadget yang sedari tadi ia asik dengannya. “Memang tidak ada seorang pun yang mau berada dalam kesedihan. Seseorang bersedih karena terpaksa, tak ada satu pun yang menginginkannya, bukan?”

“Tidakkah hidup itu unik? Terkadang kita merasa begitu gembira, namun bisa segera berganti menjadi sedih. Yang parahnya lagi, manusia amat mudah terpengaruh oleh kondisi emosionalnya. Performa kita untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan akan terhambat kalau sedang dalam kondisi bersedih. Tak perlu tanyakan tentang produktivitas hidup,” balas Rio.

“Jika tidak ada kesedihan,” Riza menyandarkan punggungnya, berposisi duduk santai. “Maka tak akan ada kegembiraan. Bisa kau bayangkan jika hidup ini hanya datar, atau hanya gembira tanpa ada gelombang-gelombang kesedihan yang menghadang? Esensi kegembiraan pun akan hilang. Pernah kan kau merasa begitu bergembira—benar-benar bergembira hingga rasanya mau terbang—setelah kau berhasil melewati kesedihan?”

Rio ikut menyandarkan punggungnya, kepalanya makin tertunduk. “Lagipula, kesedihan menyimpan banyak hikmah. Rasa sedih muncul jika ternyata kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Manusia memiliki berjuta harapan yg setinggi langit. Berbagai usaha dikerahkan untuk mencapainya, apakah sudah maksimal atau belum, dan apakah harapan tersebut realistis atau tidak. Kesedihan akan menjawab itu semua,” Riza melempar senyumnya.

Rio masih terdiam. “Manusia memiliki keinginan, Allah lah yang memberikan hasilnya. Seringkali kita sudah berusaha hingga titik penghabisan, namun kesedihan tetap ada. Mengapa? Saya yakin, yang terjadi ialah apa yang terbaik dari Allah.”

“Lalu, mengapa ada air mata? Tidak cukupkah air hujan membasahi wajah dan pipi kita? Haruskah manusia menangis layaknya awan menurunkan hujan, padahal ia tidak membawa berkah?” tanya Rio.

Riza kembali tersenyum. “Air mata, sobat, adalah nikmat yang harus kita syukuri. Jika kau bersedih, menangislah. Ya, menangislah. Air matamu adalah obat bagi kesedihanmu, kan melegakan hatimu. Air matamu juga yang akan membawamu mengingat Tuhanmu ketika kau bersedih.”

“Kalau memang demikian,” balas Rio. “Apakah kesedihan memang takkan pernah berakhir?”

“Tidak. Kesedihan pun pada akhirnya akan berakhir. Ketika manusia menginjakkan kedua kakinya di lantai surga dan menatap wajah Tuhannya, di sanalah akhir kesedihan. Namun, selama kita masih berada di dunia ini, kesedihan akan terus ada. Dan selama itu pula, sobat,” Riza menepuk halus bahu kanannya sendiri sembari tersenyum lebar. “Bahu ini akan selalu ada sebagai tempat tumpahan air matamu.”

Categories: Rio dan Riza | Leave a comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,116 other followers